NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3 Dimas yang sekarang

Dimas masih berada di dalam cafe itu sampai malam mulai beranjak turun, dia sengaja berlama-lama di dalam cafe tua itu karena dulu cafe itu menyimpan banyak kenangan baginya dan Ratih ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Flashback kenangan di cafe

"Aku mau punya anak dua aja," ucap Ratih pada Dimas.

"Aku maunya yang banyak," kata Dimas sambil tertawa terkekeh menatap Ratih.

"Kamu maunya yang banyak-banyak aja sih Dim," ucap Ratih meninju lengan Dimas dengan manja.

"Biar nanti rumah kita rame kan sayang dengar suara anak-anak yang bermain dan bersenda gurau pasti akan menyenangkan," ucap Dimas.

"Iya iya aku nurut saja apa kata kepala rumah tangga nanti," seloroh Ratih dengan muka cemberut menatap Dimas.

Dimas tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya mengusap-usap kepala Ratih dengan sayang.

Penggalan kenangan itu kembali melintas di hadapan Dimas dan dada Dimas terasa sangat nyeri sekali mengingat itu semua.

Dengan segera Dimas kembali menyeruput Americano nya yang tinggal seteguk saja, lalu dengan segera Dimas beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan cafe tua itu.

Dimas masuk ke dalam mobil miliknya, mobil yang sangat sederhana sekali jika di bandingkan dengan mobil milik Regan.

Dimas mengemudikan mobilnya ke jalanan yang sudah mulai gelap karena malam sudah sangat larut.

Dan tak berapa lama mobil Avanza putih yang di kendarai Dimas itupun sampai di basemen hotel tempat Dimas bermalam.

Setelah memarkir mobilnya di sana Dimas pun berjalan menuju ke dalam hotel tempatnya menginap.

Dimas berjalan masuk ke arah lift dan dengan cekatan dia menekan tombol nomer 5 kamar tempat dia bermalam.

Selang beberapa menit lift itu berhenti dan Dimas segera keluar berjalan menuju ke arah kamarnya.

Sesampainya di dalam kamar, Dimas merebahkan tubuhnya begitu saja di atas kursi sofa yang ada di dalam kamar VIP yang ukurannya lumayan besar itu.

Dimas menyandarkan kepalanya di punggung kursi sofa itu sambil memejamkan matanya sejenak seolah dia ingin beradaptasi sejenak dengan situasi hatinya yang tak karuan saat ini sejak pertemuan dirinya dengan Ratih sang mantan tadi yang tak lekang di hatinya.

Setelah sepuluh tahun lamanya menghilang dari kota kelahirannya kini Dimas kembali lagi dengan membawa secercah harapan untuk hidupnya dan berharap bisa bertemu lagi dengan Ratih wanita yang sangat di sayanginya.

Dia berharap hati Ratih masih sama seperti dulu saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Tapi insiden kecil di cafe yang mempertemukan dirinya dengan Ratih membuat keraguan di hati Dimas karena sikap Ratih yang sepertinya sudah tidak perduli dengan dirinya dan Dimas sangat menyadari itu karena dulu dia memang bersalah telah meninggalkan Ratih begitu saja tanpa pesan apapun.

"Hufff....," Dimas menghembuskan nafas perlahan yang membuat sesak di dadanya.

Tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh sebuah panggilan yang masuk ke dalam handphone nya yang dia letakkan di atas meja sofa tempatnya duduk.

Dimas meraih handphonenya dan terdengar suara yang berkata padanya.

"Pak Dimas, bagaimana dengan hotelnya apakah cukup nyaman?" tanya seseorang yang menelpon dirinya.

"Ya," jawab Dimas.

"Baiklah kalau begitu pak Dimas silahkan istirahat, selamat malam," ucap orang ya g menelpon Dimas.

"Malam," jawab Dimas yang kemudian meletakkan handphonenya kembali ke atas meja sofa itu.

Perusahaan tempat Dimas bekerja di jakarta menugaskan Dimas untuk menjalankan sebuah proyek besar di anak perusahaan yang berlokasi di kota kelahirannya, makanya setelah menghilang sepuluh tahun lalu akhirnya dia kembali lagi ke kotanya kota yang banyak memberikan kenangan indah untuknya dan Ratih.

Dimas masih menyimpan pijar cinta di hatinya untuk Ratih dan berharap semuanya akan kembali seperti dulu lagi.

Tapi kenyataan yang Dimas dapatkan tak seindah angannya, sewaktu dia bertemu dengan Ratih untuk yang pertama kalinya sejak kepergian nya di cafe tua itu terlihat sikap Ratih biasa saja dan terkesan tidak memperdulikan dirinya tapi Dimas berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi ini, makanya dia tetap bertahan untuk tetap melanjutkan pekerjaan nya di kota kelahirannya itu meski orang yang dia cintai sepetinya tidak menginginkan kehadirannya lagi.

"Ting," terdengar suara pesan masuk di ponselnya.

Dimas memperhatikan layar ponselnya yang menyala kemudian dia ambil ponselnya dan membukanya melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.

"Malam pak Dimas, maaf mengganggu istirahat bapak sebentar, sekedar mengingatkan kalau besok pagi bapak bisa langsung meninjau ke perusahaan dan saya akan siapkan sopir untuk menjemput pak Dimas besok pagi di hotel," begitulah bunyi pesan yang masuk ke handphone Dimas.

"Aku berangkat sendiri, tidak usah di jemput," balas Dimas pada orang yang mengirim chat padanya itu.

"Baik pak," jawab orang itu lagi yang kemudian mengakhiri chat mereka.

Dimas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tempat tidur yang sudah di rapikan sebelumnya oleh pegawai hotel tersebut.

Dimas menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan yang beralaskan sprei yang berwarna putih bersih itu.

"Ratih....," ucap Dimas sambil memejamkan matanya yang kemudian dia pun tertidur sambil memeluk kenangan masa lalunya bersama Ratih.

Hari pun berganti pagi dan sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar hotel Dimas lewat kaca jendela kamar yang di tutupi gorden putih tipis.

Dimas memicingkan matanya melihat ke arah jendela sambil perlahan membuka matanya dan segera bangkit dari tempat tidur.

Jam di dinding hotel menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit, Dimas sempat menatap ke arah jam dinding itu dan kemudian dia pun bergegas berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar hotel itu juga.

Selesai mandi Dimas mengenakan kemeja putih lengan panjang di balut dengan jas berwarna coklat tua dan celana berwarna senada dengan jasnya dan juga sepatu hitam mengkilat yang sudah di pakai di kaki nya memancarkan pesona penampilannya sebagai seorang pimpinan cabang sebuah perusahaan yang sedang di pegangnya saat ini.

Dimas turun ke lantai satu dan menuju ke sebuah resto yang ada di hotel tersebut lalu dia mengambil tempat duduk di sana dan mulai memesan makanan untuk sarapannya pagi ini.

"Selamat pagi pak, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan resto itu menghampiri Dimas di tempat duduknya.

Dimas meraih menu makanan yang ada di hotel itu dan mulai membacanya.

"Nasi soto daging dan air mineral satu," ucap Dimas pada pelayan resto itu.

"Baik pak," pelayan itupun pergi menyiapkan pesanan Dimas.

Tak berapa lama pelayan itu kembali lagi sambil membawa baki berisi makanan dan minuman pesanan Dimas.

"Terimakasih," ucap Dimas setelah pelayan itu meletakkan makanan dan minuman di atas meja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!