Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Rak Buku
Rumah besar keluarga Wijaya di jam dua pagi itu rasanya seperti kuburan mewah. Sepi, dingin, dan setiap langkah kakiku di atas lantai marmer terdengar seperti dentuman jantung yang sedang panik. Aku masih mengenakan gaun biru tua dari pesta tadi, tapi sekarang aku merasa seperti mata-mata amatir yang sedang mempertaruhkan nyawa, bukan lagi seorang tamu undangan.
Pesan misterius di bawah pintu tadi terus terbayang-bayang. Cek CCTV ruang perpustakaan. Masalahnya, bagaimana caranya aku masuk ke ruang kontrol CCTV yang dijaga ketat oleh tim keamanan Bimo? Sambil berjalan mengendap-endap di lorong yang hanya diterangi lampu dinding remang-remang, otak penulisku mulai memutar skenario. Aku tidak butuh ruang kontrol utama. Aku cuma butuh akses ke laptop Panji atau tablet Bimo yang biasanya terhubung dengan sistem keamanan rumah.
Tapi keberuntunganku sepertinya lagi ada di level maksimal. Saat aku melewati koridor menuju perpustakaan, aku melihat pintu ruangan itu sedikit terbuka. Cahaya lampu dari dalam mengintip keluar.
"Ngapain ada orang di perpustakaan jam segini?" bisikku pelan.
Aku mendekat dengan sangat hati-hati, menahan napas supaya tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Saat aku mengintip lewat celah pintu, jantungku hampir copot. Bukan Panji, bukan juga Bimo. Di sana, di depan rak buku raksasa yang berisi koleksi hukum dan bisnis, berdiri Clara.
Mantan tunangan Bimo yang tadi menghinaku di pesta itu sedang sibuk menggeledah sesuatu di antara tumpukan buku. Wajahnya yang biasanya terlihat angkuh sekarang tampak penuh kecemasan. Dia memegang sebuah perangkat kecil—sepertinya alat penyadap—dan sedang berusaha menyelipkannya di balik bingkai foto keluarga besar Wijaya.
Gila, pikirku. Jadi selama ini Clara yang menanam 'telinga' di rumah ini?
Tapi itu belum puncaknya. Aku melihat Clara mengeluarkan ponselnya, lalu melakukan panggilan suara. Karena ruangan itu sangat sunyi, suaranya terdengar jelas sampai ke posisiku di balik pintu.
"Iya, sudah kupasang. Bimo nggak akan curiga. Dia terlalu sibuk menyalahkan gadis penulis sampah itu atas skandal di Twitter," ucap Clara dengan nada suara yang sangat puas. "Rencana kita berhasil. Akun Twitter itu sudah bikin publik percaya kalau pernikahan mereka cuma kontrak. Begitu kakeknya membatalkan warisan untuk Bimo, kamu harus siap bergerak."
Aku menutup mulutku dengan tangan agar tidak berteriak. Jadi benar. Akun Twitter itu, bocornya rahasia novelku, semuanya adalah bagian dari rencana besar Clara untuk menjatuhkan Bimo dari posisinya sebagai pewaris tunggal. Dia sengaja memanfaatkan hobiku sebagai penulis untuk menciptakan kekacauan.
Tiba-tiba, aku merasakan hawa dingin di belakang leherku. Sebuah tangan besar membekap mulutku dan tangan lainnya melingkar di pinggangku, menyeret tubuhku menjauh dari pintu perpustakaan menuju kegelapan lorong.
Aku meronta sekuat tenaga, tapi tenaga orang ini jauh lebih kuat. Begitu kami sampai di area yang cukup jauh, dia melepaskanku.
"Berisik banget sih," bisik suara yang sangat kukenal.
Aku berbalik dan menemukan Bimo berdiri di sana, masih dengan kemeja putihnya yang berantakan. Dia menatapku dengan sorot mata lelah tapi tajam.
"Bimo! Kamu lihat tadi? Clara—"
"Aku sudah tahu," potong Bimo tenang. Dia menyodorkan tabletnya ke arahku. Di layarnya, terlihat rekaman CCTV perpustakaan secara real-time. "Aku sudah mengawasinya sejak dia masuk ke rumah ini tadi malam. Kamu pikir sistem keamananku selemah itu sampai dia bisa masuk tanpa terdeteksi?"
Aku melongo. "Kalau kamu sudah tahu, kenapa tadi kamu marah besar sama aku? Sampai mau nuntut aku segala?"
Bimo menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang. "Karena aku butuh reaksi aslimu, Nara. Clara atau siapa pun yang bekerja sama dengannya pasti mengawasimu juga. Kalau aku langsung membela kamu, mereka bakal sadar kalau aku sudah tahu rencana mereka. Aku harus membuat mereka percaya kalau hubungan kita hancur gara-gara skandal itu."
Aku merasa seperti baru saja ditabrak truk narasi. Pria ini... dia menjadikan aku umpan dalam sandiwara di dalam sandiwara.
"Jadi, ancaman tuntutan hukum itu?"
"Cuma akting. Tapi rasa marahku soal novel itu nyata, Nara," ucap Bimo, suaranya merendah. "Kamu memang tidak membocorkannya, tapi kamu tetap menjadikan hidupku sebagai bahan jualanmu tanpa izin. Itu tetap salah."
Aku menunduk, merasa bersalah yang sangat dalam. "Maaf, Bimo. Aku cuma... aku cuma butuh cerita yang bagus."
"Sekarang kamu punya cerita yang lebih bagus lagi," Bimo berdiri tegak, wajahnya kembali ke mode 'Iblis' yang dingin. "Clara sedang bekerja sama dengan seseorang di dalam perusahaan. Pesan misterius yang kamu dapatkan di bawah pintu itu? Itu dari Panji. Dia memang licik, tapi dia setia pada orang yang membayarnya lebih tinggi. Dan saat ini, akulah orang itu."
Aku mengerjapkan mata. Panji? Jadi asisten yang memeras aku itu sebenarnya sedang menjalankan perintah Bimo untuk mengetesku? Gila, kepalaku rasanya mau pecah. Dunia orang kaya ini jauh lebih rumit daripada draf novel 85 bab yang pernah aku tulis.
"Lalu sekarang kita harus apa?" tanyaku.
"Kita bakal kasih mereka bab penutup yang nggak akan mereka duga," Bimo tersenyum tipis—senyum yang benar-benar mengerikan bagi siapa pun yang jadi musuhnya. "Besok pagi, aku akan mengumumkan kalau aku tetap akan menikahimu dalam waktu dekat, dan kita akan melakukan konferensi pers besar-besaran untuk membantah berita di Twitter itu sebagai fitnah dari kompetitor."
"Tapi gimana dengan novelku? Orang-orang sudah terlanjur baca!"
"Itulah tugasmu, Nara. Kamu bilang kamu penulis yang hebat, kan? Ubah alurnya. Buat plot twist di novelmu yang bilang kalau semua itu cuma taktik marketing atau bagian dari promosi proyek film. Gunakan kemampuanmu untuk mengalihkan opini publik. Kalau kamu berhasil, kontrak kita lanjut. Kalau gagal... kamu tahu sendiri akhirnya."
Aku menarik napas panjang, menatap Bimo dengan semangat baru. "Oke. Kasih aku waktu sampai subuh. Aku bakal bikin internet meledak dengan cara yang berbeda."
Sisa malam itu dihabiskan dengan bekerja keras. Aku duduk di meja kecil di kamarku, ponsel kembali di tangan (setelah diberikan oleh Panji dengan kedipan mata yang menyebalkan). Jariku menari liar di atas layar.
Aku mulai memublikasikan bab-bab baru secara maraton. Aku mengubah karakter 'Alaric'—sosok Bimo di novel—menjadi pahlawan yang sengaja membuat skandal demi melindungi istrinya dari konspirasi keluarga. Aku mencantumkan detail-detail 'fiksi' yang sangat mirip dengan kejadian malam ini, tapi aku kemas sedemikian rupa sehingga pembaca merasa mereka sedang diajak bermain teka-teki.
Di Twitter, aku membuat utas lewat akun anonimku: "Kenapa kalian begitu yakin ini nyata? Apakah kalian tidak sadar kalau kalian baru saja jadi bagian dari kampanye marketing paling jenius tahun ini?"
Strategi itu berhasil. Netizen mulai terbelah. Ada yang merasa tertipu, ada yang kagum dengan 'taktik' tersebut. Nama keluarga Wijaya mulai bersih dari tuduhan 'pernikahan kontrak' yang memalukan, berganti menjadi pembicaraan tentang strategi bisnis yang revolusioner.
Pagi harinya, Bimo berdiri di depan pintu kamarku. Dia melihatku yang sudah terkulai lemas di atas laptop dengan mata panda.
"Saham Wijaya Group naik lima persen pagi ini," ucapnya singkat. "Kerja bagus, Nara."
Aku cuma bisa memberikan jempol lemah. "Jangan lupa bayarannya, Bimo. Ini lembur paling gila sepanjang karierku."
Bimo berjalan mendekat, lalu tanpa diduga, dia meletakkan sebuah cangkir kopi panas di atas mejaku. "Minum ini. Kita harus berangkat ke kantor sekarang. Ada satu orang lagi yang harus kita bereskan sebelum bab ini benar-benar selesai."
"Siapa?"
"Orang yang menyuruh Clara menanam sadap itu. Orang yang selama ini aku panggil... Kakek."
Aku langsung tegak. "Tunggu, apa? Kakekmu sendiri?"
Bimo menatap ke arah jendela, matanya tampak sangat dingin dan hampa. "Di keluarga ini, Nara, kasih sayang adalah mata uang yang paling langka. Dan kakekku adalah bankir yang paling pelit."
Aku terdiam, menyadari bahwa riset novelku ini sudah masuk ke wilayah yang sangat gelap. Ini bukan lagi sekadar sandiwara cinta kontrak. Ini adalah perang dalam istana, dan aku, Nara sang penulis, baru saja mendapatkan tiket baris terdepan untuk melihat kehancurannya.