NovelToon NovelToon
Calamity Ex Machina

Calamity Ex Machina

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Manusia Ikan

Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.

​Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1 -BAB 1 -UTUSAN (3)

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun sejak kematian Sang Raja Iblis, Kekaisaran Aurellian kembali mencecap rasa takut yang telah lama sirna. Pemandangan di ibu kota sungguh kacau; jeritan panik membahana saat orang-orang berlari berhamburan, mencari tempat persembunyian dari sosok raksasa di langit yang tak mereka pahami.

Di balkon istana, suasana kaku seperti es. Meski kegentaran melanda hatinya, Kaisar Lysander Thalassia tidak bergeming. Sebagai seorang raja, martabatnya adalah benteng terakhir. Ia menegakkan tubuhnya yang tegap, menatap lurus ke dalam mata mekanis sosok misterius di hadapannya.

​"Siapa kau... dan apa yang kau inginkan?" desis sang Kaisar, suaranya berat dan penuh penekanan.

Utusan itu, Nebula, tidak langsung menjawab. Komponen logam di tubuhnya berdesis pelan, memancarkan cahaya biru samar yang asing. "Kerja sama," jawabnya akhirnya, suaranya datar, tanpa emosi, seperti suara batu yang bergesekan. "Dan kepatuhan atas apa yang akan kukatakan."

Rahang sang Kaisar mengeras. "Itu permintaan yang mustahil. Kekaisaran Aurellian hanya tunduk kepada satu pemimpin. Dan aku adalah pemimpin itu."

Nebula terdiam. Mata mekanisnya berputar pelan, seakan sedang memproses jutaan kalkulasi dan kemungkinan dari penolakan sang Kaisar. Hening yang mencekam menyelimuti balkon, membuat Arta, yang masih mempertahankan perisai sihirnya, menahan napas.

​"Kau bukanlah satu-satunya," ucap Nebula akhirnya, jawabannya menggantung ambigu di udara, memancing tanda tanya besar.

Dia ingin mengarahkan pembicaraan ini ke tempat lain, pikir sang Kaisar waspada. "Apa maksudmu? Dan kenapa kau datang kepada kami?"

Nebula menatap sang Kaisar, lalu ke arah langit. "Jika Anda tidak mengambil keputusan ini dengan tepat, maka planet ini akan menjadi salah satu dari banyaknya peradaban yang hancur dalam waktu dekat."

"Apa yang kau maksud?" seru Kaisar Lysander, amarahnya mulai terpancing. "Tidak ada yang bisa menaklukkan kami, kami adalah Aurellian!"

​Tanpa mengubah nada suaranya, Nebula hanya mengucapkan satu kata. Kata yang mampu meruntuhkan kesombongan sang Kaisar dalam sekejap.

​"Bulan."

​Hening total kembali tercipta. Semua orang yang hadir di balkon itu tahu persis apa yang sedang terjadi di atas sana. Objek misterius itu. Kota yang dilihat Arta.

​"Apakah kau... ada di pihak 'mereka'?" tanya sang Kaisar, suaranya merendah, penuh kecurigaan yang mematikan.

Nebula, entah bagaimana, tampak memahami apa yang dimaksud 'mereka' oleh sang Kaisar. Sudut bibirnya yang mekanis terangkat sedikit, menciptakan senyum kecil yang lebih mirip seringai dingin.

​"Seperti yang kukatakan, aku datang untuk memberikan kalian peringatan dan petunjuk. Aku datang untuk membantu kalian... mengalahkan 'mereka' yang ada di bulan."

Kaisar mengerutkan dahinya, matanya menyipit penuh pertimbangan yang matang. Pikiran politiknya bekerja keras. Bagaimana ia bisa mempercayai sosok yang bahkan bukan makhluk hidup ini?

​"Apa jaminan yang kau berikan, sehingga kami harus percaya padamu?" tanya sang Kaisar, menuntut kejelasan.

​"Informasi. Teknologi. Senjata. Dan hal lainnya yang kalian butuhkan untuk bertahan hidup," jawab Nebula, mendaftar tawaran itu seolah-olah itu adalah inventaris perang.

Sang Kaisar kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya, kali ini wajahnya jauh lebih serius dan waspada. "Maka, keuntungan apa yang kau dapatkan dari kami?"

​"Bukan aku," Nebula menggeleng perlahan. "Tetapi seluruh kehidupan di sini, dan di luar sana, lah yang akan mendapatkan kedamaian dan keamanan dari 'mereka'."

​Sang Kaisar terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara. Bagaimana mungkin seseorang, atau sesuatu, menawarkan bantuan sebesar itu tanpa meminta imbalan? Atau apakah 'imbalan' yang diminta begitu besar hingga dia tidak berani menyebutkannya? pikir sang Kaisar.

Setelah hening yang cukup lama, Kaisar Lysander menarik napas panjang. "Aku rasa ada banyak hal yang harus kita diskusikan terkait hal ini. Aku menerimamu sebagai tamu negara yang keamanannya dijamin atas namaku."

​"Terima kasih banyak, Yang Mulia Kaisar," Nebula membungkuk hormat, gerakan logamnya terasa patah-patah namun anggun. "Aku harap ini menjadi awal dari kedamaian di seluruh alam semesta."

​Utusan mekanis itu kembali ke kapal terbang kecilnya, melesat naik menuju benda raksasa di langit. Sementara itu, Sang Kaisar berbalik, berjalan cepat kembali ke dalam istana dengan wajah yang diselimuti keraguan besar.

...

​Malam harinya.

​Pertemuan mendadak diadakan kembali di ruang meja bundar yang pengap oleh ketegangan. Satu-satunya yang berbeda kali ini adalah kehadiran sosok misterius bernama Nebula. Kehadirannya membuat suhu di ruangan itu terasa lebih dingin.

​Nebula, dengan suara datarnya yang menghantui, mulai menceritakan sejarah masa lalu. Ia membuka proyeksi hologram yang mengerikan, menampilkan visual dari delapan planet yang sebelumnya adalah peradaban maju. Namun, kedelapan planet itu kini telah hancur lebur, menjadi reruntuhan dingin di luar angkasa.

"Kehancuran mereka," ucap Nebula sambil menunjuk ke arah hologram, "adalah karena 'mereka' yang saat ini sedang membangun markas di bulan kalian."

​Informasi itu menghantam ruangan seperti gada raksasa. Para bangsawan yang sebelumnya berdebat tentang anggaran kini terdiam, wajah mereka sepucat mayat. Ketakutan yang sesungguhnya kini merayap di kulit mereka. 'Mereka' yang ada di bulan bukanlah penjelajah, melainkan penghancur peradaban.

Mereka melihat visual kehancuran yang tak terbayangkan, kehancuran peradaban yang jauh lebih maju dari Aurellian. Satu pertanyaan pun muncul di dalam hati setiap orang di ruangan itu, sebuah pertanyaan yang paling menakutkan:

​Apakah kita mempunyai peluang untuk menang?

1
kutu alien
/Ok/
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
( Author ) Vivi~
like koment ku sudah mampir, btw ceritanya kalau dicermati asik juga ya😭
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
Manusia Ikan 🫪: semangaaat up nyaaaah✨
total 1 replies
kutu alien
/CoolGuy//CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: hehehe
total 1 replies
Human175
ada kapal terbang 🗿
Manusia Ikan 🫪: oh yang kapal kayu kah, iya itu kapal terbang sihir, sebagian terbang pake hukum fisika, dan sebagainya gabungan keduanya😅
total 2 replies
Zetavia
Jan lupaa mampir yahh di novel ku saran dan kritik nyaa
Manusia Ikan 🫪: baiik
total 1 replies
T28J
lah kemana dia?
Manusia Ikan 🫪: ah maksudnya dia lagi mengumpulkan energi yang selaras dengan Aether di planet ini.
total 2 replies
Anomali Pink Hiatus
Darimana bisa tahu kalau bangunannya berumur puluhan ribu tahun.
Manusia Ikan 🫪: :v oke oke
total 3 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
Arven terdiam sesaat saat merasakan resonansi yang familiar dari dunia lain.

“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”

Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”

Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.

“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”

—Arven, Mechanist of Legacy🔥
kutu alien
/Plusone/,/Doge/
alicea0v
"Alice!!! lihat...!!! Golem dan serangga mereka terbuat dari batu mahal!!! kita bisa kaya!!" Xena menunjuk-nunjuk layar sihir pemantau yang mengambang di udara.

"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.

"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.

"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.

"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.

"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.

"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
SANG: Tetap semangat💪👍
total 5 replies
kutu alien
yah habis lagi/Sly/
Manusia Ikan 🫪: cape🥴
total 1 replies
Wawan
Satu iklan buat pelatihan Tebing Tinggi💪
Manusia Ikan 🫪: semangat ya🐥
total 1 replies
penulismisterius
pertempuran yang keren🐳
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat
SANG: Like iklan plus komen💪👍
total 4 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Manusia Ikan 🫪: /Awkward/makacih
total 1 replies
SANG
Mantap habis👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪
SANG
💪👍👍👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
Manusia Ikan 🫪: /Applaud/pastinya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!