NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Jejak di Bawah Langit Baru

Archive Zero

Bab 19 — Jejak di Bawah Langit Baru

Tiga tahun telah berlalu sejak hari kemenangan besar di dataran selatan.

Elarion kini tidak lagi tampak seperti kota tua yang kaku dan tertutup. Kubah langit buatan yang dulu menjadi penjara itu sudah runtuh sepenuhnya, diganti oleh langit biru alami yang terbentang luas tanpa batas. Di mana dulu hanya ada bangunan beton abu-abu dan jalanan sempit, kini tumbuh taman-taman rimbun, ladang-ladang hijau, dan sungai-sungai kecil yang airnya jernih berkilau di bawah sinar matahari. Penduduk kota hidup dengan gembira, bekerja sama membangun kembali rumah-rumah, sekolah, dan pasar, menciptakan kehidupan yang damai dan makmur di bawah pemerintahan yang adil dan terbuka.

Di atas bukit tertinggi di pinggiran kota, berdiri sebuah bangunan sederhana namun indah, terbuat dari batu putih dan kayu keras, dikelilingi taman bunga yang mekar sepanjang musim. Ini adalah kediaman sekaligus markas kecil bagi tiga orang yang menjadi legenda hidup bagi seluruh warga Elarion.

Sore itu, angin segar berhembus lembut membawa aroma bunga dan rumput. Ren berdiri di teras depan, bersandar pada pagar kayu sambil menatap matahari yang mulai turun ke ufuk barat. Wajahnya kini lebih dewasa, tatapannya lebih tenang dan bijaksana, namun masih tersisa sorot mata yang penuh semangat dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Di dadanya, jubah putih berhiaskan sulaman ungu—tanda pengakuan dari para Pengamat—berkibar pelan tertiup angin.

Di sebelahnya, Anya sedang duduk di bangku batu, tangannya cekatan merangkai karangan bunga liar. Perubahan pada dirinya pun terlihat jelas; dinginnya sifatnya telah meleleh menjadi kelembutan yang tenang, meski aura kekuatan yang hebat masih terasa samar di sekelilingnya. Matanya yang cokelat lembut kini sesekali menatap Ren dengan pandangan yang dalam dan penuh arti.

"Kau diam saja sejak pagi," ucap Anya pelan, suaranya lembut namun memecah keheningan sore itu. Ia meletakkan karangan bunga yang belum selesai, lalu menatap punggung Ren. "Masih memikirkan apa yang dikirimkan Elara kemarin?"

Ren menghela napas panjang, lalu berbalik menghadap gadis itu. Di tangannya, tergulung selembar kertas tebal berisi tulisan tangan Elara, yang dikirimkan lewat burung pesangon khusus dari kota para Pengamat di timur.

"Ya," jawab Ren jujur, matanya menatap gulungan kertas itu. "Dia bilang keseimbangan di dunia mulai terganggu lagi. Bukan lagi karena ambisi penakluk seperti Ignis, tapi karena munculnya fenomena aneh di berbagai penjuru benua. Gunung yang tiba-tiba meletus padahal sudah tidur ribuan tahun, danau yang mendidih tanpa sebab, hutan yang membeku di tengah musim panas... dia bilang kekuatan alam mulai bergerak liar, seolah ada sesuatu yang mengganggu akar sumber energinya."

Dari arah taman belakang, terdengar langkah kaki cepat dan riang. Kai muncul sambil membawa tumpukan buku tebal dan peta-peta besar yang berjejalan di lengannya. Rambutnya sedikit berantakan, kacamatanya sedikit miring, tapi senyum lebar selalu terlukis di wajahnya.

"Dan aku sudah memeriksa semua catatan sejarah yang tersisa!" seru Kai semangat, meletakkan tumpukan bukunya di meja batu di tengah teras. Ia membentangkan sebuah peta raksasa yang menggambarkan seluruh benua, penuh tanda centang, garis, dan lingkaran warna-warni. "Fenomena yang dicatat Elara itu bukan kebetulan, kawan-kawan. Lihatlah pola penyebarannya..."

Kai menunjuk garis putus-putus yang melintasi peta dari utara ke selatan, dari barat ke timur, bertemu di satu titik yang belum ditandai nama tempatnya.

"Semua kejadian aneh itu berpusat ke sini," kata Kai, suaranya menjadi lebih serius. Ia menunjuk titik kosong di tengah benua, di antara pegunungan tinggi dan gurun luas yang belum pernah dijamah manusia. "Wilayah yang disebut dalam legenda sebagai 'Jantung Dunia'. Tempat di mana energi pertama kali muncul dan mengalir ke seluruh penjuru bumi."

Ren mendekat, menatap titik kosong itu lekat-lekat. Ingatannya melayang kembali ke pelajaran yang ia dapatkan dari para Pengamat, tentang asal-usul energi, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab besar yang mereka emban.

"Elara bilang, kalau Jantung Dunia itu terganggu, seluruh aliran energi di dunia akan kacau," gumam Ren pelan. "Elemen-elemen akan lepas kendali, bencana alam akan terjadi di mana-mana, dan pada akhirnya... kehidupan bisa terancam punah lagi, persis seperti ribuan tahun lalu sebelum perang besar."

Anya berdiri dan berjalan mendekati mereka berdua. Tangannya menyentuh peta itu tepat di titik yang ditunjuk Kai.

"Jadi ini alasan kenapa kami dilahirkan dengan kekuatan ini," kata Anya tenang namun tegas. "Ini alasan kenapa kami diberkahi pengetahuan dan kemampuan untuk mengendalikan elemen. Bukan hanya untuk menyelamatkan Elarion... tapi untuk menjaga sumber kehidupan dunia itu sendiri."

Ren mengangkat wajahnya, menatap kedua sahabat terdekatnya itu. Di mata mereka, ia melihat tekad yang sama persis dengan yang ada di hatinya. Tekad yang sama yang membawa mereka melewati bahaya, penderitaan, dan kemenangan di masa lalu.

"Kalian tahu artinya, kan?" tanya Ren pelan, namun suaranya bergetar karena semangat yang kembali membara.

Kai tertawa lebar, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Tentu saja aku tahu! Artinya petualangan besar kedua kita sudah dimulai! Peta baru, tempat baru, rahasia baru, dan kemungkinan menemukan hal-hal yang bahkan tidak terbayangkan akal sehat!"

Ia menunjuk tumpukan barang bawaan yang sudah tersiap rapi di sudut teras—tas-tas berisi perbekalan, alat catatan, senjata sederhana, dan perlengkapan perjalanan.

"Aku sudah menyiapkan segalanya sejak kemarin sore. Kuda-kuda terbaik sudah siap di kandang, peta rute sudah direncanakan, dan aku sudah menghafal semua legenda dan cerita rakyat tentang wilayah tengah benua itu sampai hafal luar kepala!"

Ren menoleh ke arah Anya. Gadis itu tersenyum indah, lalu mengangguk mantap.

"Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Ingat janji kita dulu? Kita akan menjadi penjaga dunia ini sampai napas terakhir kita. Dan aku tidak akan melewatkan kesempatan melihat apa yang tersembunyi di Jantung Dunia itu."

Ren tersenyum lebar, senyum yang melepaskan segala beban dan ketidakpastian. Ia kembali merasa seperti pemuda pemberani yang dulu berani melawan sistem demi kebebasan, hanya kali ini keberaniannya jauh lebih matang dan bertanggung jawab.

"Baiklah kalau begitu," kata Ren tegas, suaranya bergema penuh keyakinan. Ia melangkah ke tengah teras, menatap ke arah gerbang kota, ke arah jalan panjang yang membentang jauh ke tengah benua.

"Malam ini kita istirahat. Besok pagi-pagi sekali, saat matahari baru terbit... kita berangkat. Tujuan kita: Jantung Dunia. Misi kita: Menemukan penyebab gangguan keseimbangan, dan menyelamatkan dunia sekali lagi."

Namun, saat Ren hendak masuk ke dalam rumah untuk bersiap, ia melihat sekelompok kecil orang berjalan naik ke bukit menuju kediaman mereka. Di depan rombongan itu, berjalan seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun, rambutnya hitam legam, matanya berwarna merah cerah namun lembut, dan di dadanya ia mengenakan lencana khas warga Elarion.

Itu adalah Dika, salah satu anak yatim piatu yang dulu mereka selamatkan saat pertempuran di dataran selatan. Sejak saat itu, anak itu tumbuh di bawah asuhan warga kota, dan sering datang ke kediaman mereka untuk belajar dan membantu apa saja.

Dika berhenti di depan teras, membungkuk hormat pada mereka bertiga, napasnya sedikit terengah karena berlari.

"Tuan Ren, Nona Anya, Tuan Kai..." sapa Dika sopan namun bersemangat. "Warga kota tahu rencana keberangkatan kalian besok. Kami... kami semua berkumpul di alun-alun. Kami ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan... dan kami ingin memberikan sesuatu sebelum kalian pergi."

Ren terkejut. Ia menatap Kai dan Anya yang sama bingungnya, lalu mengangguk pada Dika.

"Baiklah, Dika. Kami ikut denganmu."

Mereka pun berjalan turun bukit, diikuti Dika dan rombongan warga yang datang bersamanya. Semakin dekat ke alun-alun utama kota, semakin banyak warga yang bergabung, sampai akhirnya ribuan orang berbaris rapi di alun-alun luas itu, tempat di mana dulu sorak-sorai kemenangan berkumandang.

Di tengah alun-alun, sudah berdiri sebuah kereta perjalanan besar yang indah, terbuat dari kayu jati berukir halus, ditarik oleh empat ekor tunggangan cepat—makhluk energi yang sama dengan yang diberikan para Pengamat dulu, namun lebih besar dan lebih kuat. Kereta itu dicat dengan warna-warna cerah, dan di setiap sisinya tertulis kalimat emas: Penjaga Keseimbangan, Harapan Dunia.

Di depan kereta itu, pemimpin kota yang dipilih oleh rakyat sendiri—seorang mantan pedagang bijak bernama Pak Harun—melangkah maju membawa sebuah kotak kayu indah.

"Anak-anakku... sahabat kami... penyelamat kami," ucap Pak Harun lantang, suaranya penuh haru. "Tiga tahun lalu, kalian memberi kami kebebasan dan masa depan. Hari ini, kalian kembali meninggalkan kami demi melindungi bukan hanya Elarion, tapi seluruh dunia. Kami sedih harus berpisah, tapi kami juga bangga... karena kami tahu, dari kota kecil inilah lahir pelindung terhebat yang pernah dimiliki bumi ini."

Pak Harun membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, tergeletak tiga buah jubah perjalanan yang indah dan kokoh, serta tiga buah lencana berbentuk lingkaran dengan simbol mata terbuka di tengahnya, namun kali ini dikelilingi oleh ukiran bunga dan daun—simbol persatuan antara para Pengamat dan rakyat biasa.

"Kami tidak bisa ikut berjuang bersama kalian," lanjut Pak Harun. "Tapi kami berikan ini sebagai tanda bahwa hati kami selalu bersama kalian. Di mana pun kalian berada, ingatlah bahwa di sini, di Elarion, ada rumah yang selalu menunggu kepulangan kalian. Dan ingatlah... setiap langkah kalian adalah langkah kami juga."

Ren menerima jubah dan lencana itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca melihat ribuan wajah warga yang penuh kasih sayang dan kepercayaan. Ia tidak merasa seperti pahlawan besar, ia hanya merasa seperti anak biasa yang sangat beruntung memiliki keluarga sebesar ini.

"Terima kasih..." jawab Ren pelan namun jelas, suaranya terdengar di setiap sudut alun-alun. "Terima kasih atas kepercayaan dan kasih sayang kalian. Kami berjanji... kami akan pulang membawa kabar baik. Kami akan memastikan, dunia ini tetap menjadi tempat yang aman dan indah untuk kita semua."

Malam itu, seluruh kota Elarion merayakan keberangkatan mereka dengan pesta rakyat besar. Ada musik, tarian, makanan lezat, dan cerita-cerita tentang perjalanan masa lalu mereka yang diceritakan ulang oleh para orang tua kepada anak-anak muda. Suasana itu hangat, bahagia, namun juga menyimpan rasa perpisahan yang sedih namun penuh harap.

Keesokan paginya, saat cahaya fajar pertama mulai menyelinap di ufuk timur, Ren, Anya, dan Kai sudah siap di atas kereta perjalanan indah pemberian warga kota. Tunggangan mereka menghentakkan kaki dengan tidak sabar, siap melesat jauh.

Ribuan warga kota kembali berkumpul di gerbang utama, melambaikan tangan, berteriak doa dan salam perpisahan. Dika berlari mendekat, napasnya terengah, wajahnya penuh tekad.

"Tuan Ren... aku berjanji! Suatu hari nanti aku akan menyusul kalian! Aku akan belajar keras, menjadi kuat, dan ikut melindungi dunia juga!" seru anak itu dengan suara lantang.

Ren tersenyum lebar, mengangguk bangga. "Aku tunggu hari itu, Dika. Jadilah anak yang hebat, dan jaga Elarion untuk kami sampai kami kembali."

Dengan satu tepukan lembut pada tunggangan depan, kereta itu mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang kota, lalu semakin cepat, melesat menembus jalan tanah yang terbentang luas ke arah timur, menuju pegunungan, menuju kota para Pengamat, dan selanjutnya menuju ke jantung benua yang penuh misteri.

Saat Elarion perlahan menjadi siluet kecil di belakang mereka, Kai berseru riang dari kemudi, suaranya penuh antusiasme.

"Lihatlah itu! Langit lebih biru, udara lebih segar, dan jalan di depan kita tak berujung! Kalian tahu apa artinya ini? Ini bukan akhir dari cerita lama... tapi halaman pertama dari buku yang jauh lebih besar dan jauh lebih hebat!"

Anya duduk di samping Ren, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya, rambutnya terbang indah tertiup udara bebas. Ia menoleh ke arah Ren, matanya bersinar cerah.

"Kau rasa apa yang akan kita temukan di sana, Ren?"

Ren menatap lurus ke depan, ke arah kabut tipis yang menyelimuti cakrawala, ke arah petualangan baru yang menunggu, dan ke arah takdir besar yang kembali memanggil nama mereka. Di dadanya, ketiga permata elemen—ungu keseimbangan, biru es, dan merah api—berdenyut pelan dan harmonis, bersiap untuk bertemu dengan kekuatan-kekuatan besar lainnya yang ada di dunia ini.

Ren tersenyum, senyum yang penuh percaya diri dan keberanian.

"Aku tidak tahu pasti, Anya. Tapi satu hal yang aku yakin... apa pun yang ada di depan sana, apa pun bahaya atau keajaiban yang menunggu... kita akan menghadapinya bersama-sama. Dan bersama kita... kita akan menulis sejarah yang paling indah yang pernah dilihat dunia."

Kereta itu melesat semakin jauh, menghilang di balik bukit hijau, membawa serta harapan seluruh umat manusia, menuju babak baru kisah Archive Zero yang tak terlupakan. Di luar sana, di tengah benua luas, Jantung Dunia berdenyut tidak tenang, menanti kedatangan tiga sahabat yang ditakdirkan untuk menjadi penyeimbang segalanya.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!