NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Menghakimi

Rumah besar keluarga Aditama yang biasanya megah, kini terasa mencekam dengan karangan bunga duka cita yang memenuhi halaman. Di dalam, isak tangis terdengar sayup-sayup di antara, aroma bunga sedap malam yang menusuk.

​Langkah kaki Brian yang tegas terdengar menggema di lantai marmer saat ia memasuki ruang tengah. Semua pelayat menoleh, membisikkan nama sang aktor yang baru saja mendarat dari Ibiza. Namun, mata Brian hanya tertuju pada satu titik sosok wanita yang duduk bersimpuh di samping peti mati Adrian.

​Arumi Safa.

​Wanita itu tampak rapuh wajahnya pucat tanpa riasan, namun kecantikannya yang sederhana justru tetap terpancar. Brian mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia masih ingat betul, Arumi hanyalah teman dari mantan kekasih Adrian. Bagaimana bisa wanita licik ini masuk ke dalam hidup kakaknya dan mendepak kekasih Adrian yang lama, lalu dengan cepat menjadi Nyonya Aditama?

​"Brian..." Suara parau tantenya menyambut, namun Brian tidak bergeming. Ia melangkah mendekati Arumi.

​Arumi mendongak. Matanya yang sembab karena menangis bertemu dengan tatapan kuning kecokelatan Brian yang penuh kebencian. Arumi mencoba berdiri, ingin memberikan penghormatan pada adik iparnya.

​"Brian, kau sudah pul..."

​Brian melewatinya begitu saja tanpa menoleh, meninggalkan Arumi yang mematung dengan hati yang hancur. Di mata Brian, Arumi hanyalah wanita manipulasi, dan kebaikannya hanyalah topeng murahan.

​Sepanjang prosesi pemakaman, Brian Aditama tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia berdiri tegak seperti patung di bawah payung hitam, kacamata gelapnya menyembunyikan sorot mata yang entah apa maknanya. Namun, auranya yang dingin sanggup membuat orang-orang di sekitarnya merasa sesak.

​Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Arumi yang terisak di samping pusara. Baginya, kehadiran wanita itu di sana hanyalah sebuah drama.

​Setelah pelayat terakhir pulang dan menyisakan sunyi yang menyakitkan di ruang utama kediaman Aditama, suasana berubah menjadi kaku. Tante Brian duduk di sofa utama, sementara Arumi duduk dengan kepala tertunduk di hadapan seorang pengacara keluarga yang sudah siap dengan map hitam di tangannya.

​"Karena semua anggota keluarga inti sudah ada di sini, saya akan mulai membacakan wasiat mendiang Tuan Adrian..."

​"Besok," potong Brian singkat. Suara baritonnya memutus kalimat sang pengacara tanpa bantahan.

​"Tapi Brian, ini penting untuk kelangsungan perusahaan," sang Tante mencoba membujuk

​Brian bangkit dari kursinya, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun. "Aku baru saja mendarat dan aku baru saja menguburkan kakakku. Wasiat itu tidak akan lari ke mana-mana. Bicarakan besok pagi pukul sembilan. Jangan ada yang membantah."

​Tanpa menunggu jawaban, Brian melangkah pergi menuju kamarnya di lantai dua.

...***...

​Brian berdiri di balkon kamarnya, menyesap segelas wiski tanpa es. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya, namun pikirannya tetap tajam. Matanya yang kuning kecokelatan kini terfokus pada taman di bawah sana.

​Di bawah lampu taman yang temaram, ia melihat Arumi sedang berbicara dengan sepupunya, seorang pria yang tampak sedang mencoba menenangkan wanita itu dengan menyentuh bahunya.

​Tangan Brian mencengkeram gelas kristalnya lebih kuat. Dari ketinggian itu, tatapan Brian begitu dingin dan dalam, seolah sedang menguliti setiap gerak-gerik Arumi. Dalam benaknya, ia hanya melihat Arumi sebagai wanita yang pandai mencari sandaran baru setelah pelindungnya hilang.

'​Sangat cepat kau mencari pengganti, Arumi,' batin Brian dengan seringai pahit di balik gelasnya.

​Ia tidak akan membiarkan Arumi hidup tenang. Besok, apa pun isi wasiat itu, ia akan memastikan Arumi Safa berlutut di bawah kendalinya.

...***...

​Tepat pukul sembilan pagi, ruang kerja mendiang Adrian sudah dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa dirasakan di kulit. Brian duduk di kursi kebesaran kakaknya, menyilangkan kaki dengan angkuh. matanya menatap tajam ke arah map hitam di atas meja, seolah ingin menembus kertas di dalamnya.

​Arumi duduk di hadapannya, tampak lebih tegar meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

​"Silakan baca," perintah Brian pada pengacara keluarga, suaranya rendah dan penuh otoritas.

​Pengacara itu terbatuk kecil, lalu mulai membacakan poin-poin wasiat. Namun, suasana mendadak membeku saat ia sampai pada bagian terakhir.

​"... dan seluruh saham mayoritas serta aset utama Imperium Aditama akan tetap berada di bawah nama Arumi Safa, dengan syarat Arumi harus tetap menjadi bagian dari keluarga Aditama melalui pernikahan dengan pewaris kedua, Brian Aditama, dalam waktu paling lambat tiga puluh hari setelah kepergian saya."

​Keheningan yang mencekam menyusul.

​Brian tidak meledak marah. Ia justru tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar dingin dan tanpa rasa humor. Ia memajukan tubuhnya, menatap Arumi dengan wajah yang kini berkilat penuh ancaman.

​"Begitu rupanya," desis Brian. "Kau benar-benar pintar, Arumi. Apa yang kau bisikkan pada kakakku sebelum dia meninggal sehingga dia menuliskan kegilaan ini?"

​Arumi mendongak, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas. "Aku tidak tahu apa-apa tentang wasiat ini, Brian. Aku sama terkejutnya denganmu."

​"Jangan berbohong!" Brian bangkit, menumpukan kedua tangannya di meja, mencondongkan wajahnya ke arah Arumi. "Kau menginginkan tahta ini, bukan? Kau ingin tetap menjadi nyonya di rumah ini meski Adrian sudah terkubur?"

​Arumi berdiri, menantang tatapan tajam itu. "Jika kau pikir aku semurah itu, silakan ambil semua hartanya. Aku tidak butuh!"

​"Sayangnya, kau tidak punya pilihan," potong Brian sambil merampas map wasiat itu. "Jika kau menolak, seluruh aset ini akan jatuh ke yayasan amal dan keluarga Aditama akan bangkrut. Kau sudah mengikatku, Arumi. Dan karena kau begitu menginginkan pernikahan ini... aku akan memastikannya menjadi penjara paling indah untukmu."

Setelah mengatakan itu Brian meninggalkan ruangan dengan kemarahan yang tertahan, sunyi kembali mengambil alih. Arumi berpaling pada satu-satunya orang yang ia harap bisa membelanya, Tante Widia Aditama.

​"Tante, tolong katakan sesuatu," bisik Arumi parau. "Tante tahu aku tidak mungkin melakukan itu pada Adrian. Aku mencintainya. Wasiat ini... ini tidak masuk akal."

Widia menghela napas panjang. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa sayang, namun tertutup oleh beban besar nama keluarga.

​"Adrian sangat mencintaimu, Arumi. Dan dia sangat mengenal adiknya," sahut sang tante pelan sembari mengusap jemari Arumi. "Dia tahu Brian adalah pria liar yang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Adrian ingin Brian menetap dan memimpin perusahaan, dan dia hanya mempercayaimu untuk mendampingi Brian."

​"Tapi Brian membenciku, Tante! Menikahinya sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam neraka."

​"Atau mungkin... itu adalah satu-satunya cara agar kau tetap aman di bawah naungan Aditama, Arumi. Di luar sana, musuh bisnis Adrian sudah mulai mengincar posisimu. Pikirkanlah."

​Arumi terdiam. Ia keluar dari ruang kerja itu dengan langkah gontai, hanya untuk menemukan Brian yang ternyata masih menunggunya di lorong remang-remang menuju kamar mereka.

​Brian bersandar di dinding, menyilangkan lengan di depan dadanya yang bidang manik matanya mengikuti setiap gerak-gerik Arumi dengan intensitas yang mengerikan.

​"Sudah selesai mengadu pada Tanteku" sindir Brian.

​Arumi menghentikan langkahnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. "Aku tidak sedang mengadu."

​Brian melangkah maju, memangkas jarak hingga Arumi terpaksa mendongak. Aroma wiski dan tembakau mahal yang samar menguar dari tubuh Brian, menciptakan sensasi yang mengintimidasi indra Arumi.

​"Persiapkan dirimu. Pernikahan akan dilakukan lusa. Secara tertutup," ucap Brian dingin. Jarinya terangkat, menyelipkan sehelai rambut Arumi yang terlepas ke belakang telinga wanita itu. Sentuhannya dingin, namun membuat Arumi meremang.

​"Kenapa lusa? Itu terlalu cepat! Kakakmu baru saja dimakamkan!"

​"Semakin cepat kau menjadi milikku secara hukum, semakin cepat aku bisa mulai memberimu pelajaran tentang bagaimana rasanya menjadi istri seorang Brian Aditama," bisik Brian tepat di depan bibir Arumi. Mata amber nya berkilat dengan kilatan predator yang telah menemukan mangsanya. "Jangan coba-coba melarikan diri, Arumi. Karena ke mana pun kau pergi, pengawal Aditama akan menyeret mu kembali ke kakiku."

​Brian berlalu pergi, meninggalkan Arumi yang mencengkeram dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar antara ketakutan dan sesuatu yang belum bisa ia definisikan.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!