Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
marah besar
...SELAMAT MEMBACA SEMUANYA SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN NOVEL INI!...
Pintu rumah itu berdiri di hadapan Elinara seperti vonis yang belum dibacakan. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, engselnya berderit setiap kali dibuka—sederhana, tua, dan menyimpan terlalu banyak luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Nara berdiri mematung di depan ambang pintu. Tangannya gemetar di atas gagang, napasnya tertahan. Ia tahu, begitu pintu itu terbuka, tidak ada jalan kembali. Bundanya pasti sudah menunggu sejak semalam. Menunggu uang. Menunggu hasil kerja kerasnya. Menunggu untuk kembali melontarkan kata-kata yang selalu berhasil menghancurkan hatinya.
Ia memejamkan mata, menguatkan diri.
Dengan gerakan pelan, Nara membuka pintu itu.
Belum sempat ia melangkah masuk, sebuah tamparan mendarat keras di pipinya.
Plakk!
Kepalanya terhempas ke samping. Rasa perih menjalar cepat, bercampur dengan rasa panas yang membuat matanya berkunang-kunang.
“DARI MANA SAJA KAMU, NARA?!”
Suara Amara Evelyn menggema di seluruh ruangan. Perempuan berusia empat puluh satu tahun itu berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, mata nyalang penuh amarah yang tidak ditutupi sedikit pun. Sejak semalam ia menunggu, duduk di ruang tamu dengan pikiran yang dipenuhi hitung-hitungan kebutuhan hidup—dan harapan bahwa anaknya akan pulang membawa uang hasil menjual kue.
“Bun—” suara Nara tercekat, tenggorokannya kering.
Belum sempat kalimat itu selesai, tangan Amara sudah mencengkeram lehernya dengan kasar.
“Apa yang kamu lakukan, Nara?!” bentaknya. “Apa kamu tidak pulang semalam karena menjadi jal*ng, hah?!”
Cengkeraman itu semakin kuat. Napas Nara tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Air mata langsung mengalir tanpa bisa ia tahan. Rasa sakit di lehernya membuat kepalanya berdenyut hebat.
“Bunda… Na—” ucapannya terpotong oleh isak.
“Dasar anak tidak tahu diri!” Amara mendengus tajam. Matanya menelusuri wajah Nara, lalu berhenti di leher putrinya. Tanda kemerahan yang belum sepenuhnya hilang membuat ekspresinya berubah menjadi jijik. “Apa bunda bodoh, Nara? Lihat lehermu itu! apakah kamu sekarang beralih jadi wanita murahan, hah?!”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan mana pun.
“Bunda… maafin Nara…” isak Nara, suaranya nyaris tak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena cekikan yang belum dilepas, tetapi karena hatinya runtuh sepenuhnya.
“Bunda sangat kecewa padamu!” bentak Amara. “Bunda sudah menjaga kamu dari kecil, membesarkan kamu susah payah, tapi kamu dengan mudahnya memberikan tubuhmu pada lelaki lain!”
Tangannya mencengkeram lebih erat, membuat Nara nyaris kehilangan keseimbangan. “Katakan pada bunda! Siapa laki-laki yang menidurimu?!”
Air mata Nara jatuh membasahi lantai. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia melepaskan diri dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, bersujud di kaki bundanya.
“Nara nggak tahu, Bun…” tangisnya pecah. “Nara dipaksa… Nara juga nggak mau… maafin Nara karena nggak bisa jaga diri…”
Kata-kata itu keluar terputus-putus, bercampur dengan sesenggukan yang menyayat.
“Bangun!” perintah Amara dingin.
Nara tidak bergerak. Tubuhnya terlalu lelah, jiwanya terlalu hancur.
“SAYA BILANG BANGUN, NARA!”
Teriakan itu membuatnya tersentak. Dengan kaki gemetar, Nara bangkit perlahan, masih menunduk, air matanya belum berhenti mengalir.
Plakkk!
Tamparan kedua mendarat lebih keras.
“Itu balasan untuk anak murahan sepertimu!” ujar Amara kejam tanpa rasa bersalah. “Berikan uang hasil cake kemarin.”
Dengan tangan gemetar, Nara mengeluarkan uang yang sejak tadi ia genggam erat. Uang yang seharusnya membuatnya sedikit lega. Amara merebutnya kasar.
“Sekarang masuk ke kamar. Bersihkan dirimu,” katanya dingin. “Dan jangan pernah mengajak saya bicara lagi.”
Amara berbalik pergi, meninggalkan Nara terduduk di lantai ruang tamu. Tangisnya pecah lebih keras, bahunya bergetar hebat.
Maafin Nara, Bun… Nara bikin bunda kecewa…
Dengan langkah tertatih, Nara berjalan menuju kamarnya. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya diseret oleh rasa bersalah yang bukan miliknya. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung menuju kamar mandi.
Air mengalir deras saat ia membuka keran. Nara menanggalkan pakaiannya dengan tangan gemetar, lalu berdiri di bawah pancuran. Tangannya menggosok kulitnya kasar, berulang kali, seolah ingin menghapus jejak malam yang menghancurkan hidupnya.
Air bercampur air mata.
Ia mengusap lehernya, dadanya, lengannya—semuanya terasa kotor di matanya sendiri. Rasa perih menyengat, tetapi ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu: melupakan.
Namun sekeras apa pun ia menggosok, luka itu tetap ada. Bukan di kulitnya, melainkan jauh di dalam hatinya.
Dan Nara tahu, sejak malam itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.