NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

posesif

...Happy reading...

Nara melangkah keluar dari gedung fakultas Psikologi dengan napas yang sedikit lega. Tugas presentasi yang sejak pagi mengendap di kepalanya akhirnya selesai juga. Beberapa mahasiswa masih berlalu-lalang di pelataran kampus, namun suasana sudah jauh lebih lengang dibanding siang tadi.

Angin sore berembus pelan, menerbangkan sedikit ujung rok hitam yang ia kenakan. Cardigan merahnya membungkus tubuh ramping itu dengan rapi, kancingnya tertutup sempurna. Rambut panjangnya tergerai, kontras dengan pita kecil yang menghiasi sisi kepalanya. Outfit hari ini sederhana, tapi entah kenapa terasa terlalu mencolok di mata siapa pun yang memperhatikannya.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul 17.00.

Sebentar lagi malam akan datang.

Namun alih-alih langsung pulang, langkah Nara justru berbelok ke arah perpustakaan bawah kampus. Ia ingin membaca sebentar. Sekadar menenangkan pikirannya. Buku-buku psikologi selalu memberinya rasa aman yang aneh—seolah ia bisa memahami perasaan orang lain, meski sering kali tak sanggup memahami dirinya sendiri.

Perpustakaan itu cukup sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang masih bertahan, tenggelam dalam tumpukan buku dan layar laptop. Aroma kertas dan pendingin ruangan menyambutnya begitu pintu kaca tertutup kembali.

Nara berjalan menyusuri rak demi rak dengan langkah santai, matanya menelusuri judul-judul tentang psikologi kepribadian dan trauma emosional. Tangannya meraih satu buku, lalu buku lain.

Tanpa sadar—

Bruk.

“Eh—maaf!” ucap Nara refleks.

Beberapa buku terjatuh ke lantai. Ia berjongkok cepat, memungutnya satu per satu, lalu mengulurkannya pada orang yang ia tabrak.

Namun gerakannya terhenti.

“Reza…?” ucapnya pelan, terkejut.

Reza berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang tak kalah kaget. “Nara?”

“Eh, kamu di sini juga?” tanya Nara, berusaha tersenyum.

“Iya. Lagi cari buku buat presentasi besok,” jawab Reza sambil menerima buku itu. “Biasa, nambah bahan biar gak kelihatan kosong.”

“Oh…” Nara mengangguk kecil. “Kalau gitu aku ke rak sebelah ya.”

“Iya, hati-hati.”

“Dadah.”

“Dah.”

Nara berbalik, berusaha menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa sedikit lebih cepat. Ia menemukan buku yang ia cari, lalu memilih kursi di sudut perpustakaan yang menghadap jendela.

Ia membuka halaman demi halaman, membaca perlahan.

Menit berganti menit.

Kelopak matanya terasa berat.

Tanpa sadar, tangan Nara terlipat di atas meja, kepalanya bersandar di atasnya. Napasnya teratur. Ia tertidur.

---

Sementara itu, di luar kampus—

Raviel berdiri di samping mobil hitamnya, jas rapi masih melekat di tubuh tinggi itu. Tatapannya tajam menelusuri gerbang kampus yang semakin sepi.

Nara seharusnya sudah keluar.

Jadwalnya hari ini selesai.

Namun hingga senja hampir tenggelam, bayangan gadis itu tak kunjung muncul.

Rahang Raviel mengeras.

Dia ke mana.

Gelisah menyusup di dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk ke area kampus. Satu gedung ia periksa. Dua gedung. Tiga.

Kosong.

“Ck,” decaknya pelan.

Satu tempat belum ia datangi.

Perpustakaan.

Langkahnya dipercepat. Begitu pintu kaca terbuka, matanya langsung menangkap sosok yang ia cari—Nara, tertidur di meja dengan wajah pucat yang tampak rapuh.

Namun bukan hanya itu yang ia lihat.

Di hadapan Nara, berdiri seorang pria.

Memperhatikannya.

Tatapan Raviel berubah dingin.

Ia melangkah cepat, berhenti tepat di samping pria itu.

“Pergi,” ucap Raviel datar.

Reza terkejut dan langsung berdiri. “Hah? Maaf, Lo siapa?”

Tatapan Reza menilai penampilan Raviel—jas mahal, aura tenang tapi mengintimidasi. Apa mungkin dia CEO, pikirnya.

“Saya bilang pergi,” ulang Raviel.

“Gak mau,” balas Reza, sedikit menantang. “Gue mau jaga Nara di sini.”

Raviel mendekat setengah langkah. “Pergi atau saya buat kamu menyesal.”

“Gue gak takut,” Reza mendengus. “Yang gue takutin Lo berbuat aneh ke Nara.”

Raviel menatapnya tajam. “Dia calon istri saya. Dan kamu pergi dari sini.”

Reza terdiam.

Calon istri…?

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mundur dan melangkah pergi, kepalanya penuh tanda tanya.

---

Raviel kembali menatap Nara.

Tatapannya melunak.

Seolah dunia berhenti hanya untuk gadis itu.

Tiba-tiba, suara isakan kecil terdengar.

“Hikss…”

Raviel menegang. “Baby?” panggilnya pelan.

“Yah… jangan tinggalin Nara…” gumam Nara dalam tidur.

Napas Raviel tercekat.

“Gak ada yang peduli Nara lagi…”

Dadanya mengeras mendengar itu.

“Kalau ayah pergi… bawa Nara sekalian…”

Amarah bercampur takut menyapu dirinya.

“Baby, Jangan bilang begitu,” bisiknya tegas.

Ia menggendong Nara ala pengantin. Tubuh itu ringan, terlalu ringan. Gadis itu sama sekali tak terbangun—lelah.

Tatapan Raviel jatuh pada rok yang dikenakan Nara.

“Ck… kenapa harus pakai rok,” gumamnya kesal.

Ia membuka jasnya, menutupi paha Nara dengan protektif.

“Aku gak mau pria lain melihatmu.”

Kampus sudah hampir sepenuhnya sepi saat ia melangkah menuju mobil.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!