NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 2: Gadis Bermasalah

Alice POV

Di usiaku yang 5 tahun, aku mulai memahami struktur bangunan di istana ini, Kerajaan Thijam yang dikatakan oleh orang-orang di kalangan bangsawan.

Setelah merepotkan ibuku terus-menerus saat aku masih merangkak dulu, aku memetakan lokasi sekitar. Mulai dari; dapur, aula makan, kamar penginapan, taman, kamp pelatihan, taman bunga, gudang penyimpanan perlengkapan, rumah kaca, galeri, pemandian umum maupun khusus, singgasana, aula utama, semuanya kulakukan untuk mengingat semuanya dengan baik di otakku.

Yah, meskipun beberapa maid menyebutku "gadis merepotkan", "gadis bermasalah" di usiaku yang masih belum bisa berjalan melainkan merangkak membuat mereka kewalahan karena aku selalu lepas dari pandangan mereka begitu mereka lengah.

Bahkan ibu baruku, Luna, ia juga kewalahan mengurus aku karena aku selalu merengek disaat ia meletakkan aku di tempat bayi tanpa bisa bergerak bebas.

Meskipun aku merepotkan ibuku, ia tetap sabar dalam merawatku, putrinya saat aku masih merangkak dulu.

Yah, kalau aku bisa katakan sifat Luna mirip seperti sifatku yang dilihat oleh orang lain yaitu; rendah hati, penolong, penyabar, mudah bersosialisasi, murah senyum, lebih mementingkan orang lain maupun keluarganya ketimbang dirinya.

Ah, kecuali untuk sifat yang terakhir aku tidak memilikinya karena aku belum merasakan cinta dan berkeluarga.

Mungkin aku lebih mendedikasikan diriku pada pekerjaan untuk poin terakhir dari sifat ibuku.

Entah apakah ini kebetulan atau tidak, kurasa ini adalah kesempatan kedua yang tidak bisa aku lewati begitu saja agar aku bisa menjalani kehidupanku yang lebih baik ketimbang kehidupanku yang dulu.

•••••

Di usia 6 tahun, Alice yang diam-diam menyelinap keluar disaat ibunya sibuk dengan menjahit membiarkan putrinya diurus oleh para maid. Akan tetapi, para maid ikut sibuk karena pekerjaan mereka banyak membuat pandangan mereka terlepas dari Alice memudahkan Alice menyelinap ke perpustakaan.

Didalam perpustakaan, Alice yang kebetulan mengambil alat yang mirip seperti troli yang terbuat dari kayu.

Ia mengambil kursi selagi mengambil buku tebal yang diambil dari rak ke troli kayu untuk dikumpulkan lalu meletakkannya diatas meja untuk dibacanya.

Dikarenakan tidak ada siapapun di perpustakaan yang luas yang memiliki lantai dasar dan lantai dua dengan beberapa tanaman hias di jendela panjang berbentuk horizontal yang menyinari tanaman hias tersebut, membuat keheningan dapat membuat Alice bisa fokus membaca dan mempelajari tentang dunia ini.

"Baiklah. Mari mulai dari memahami keluarga kerajaan terlebih dahulu."

Diambil buku filsafat keluarga kerajaan di Kerajaan Thijam, Alice membacanya dengan penuh fokus. Jari-jari kecilnya yang putih membolak-balik halaman demi halaman selagi waktu berlalu selama beberapa jam.

Cuaca yang tadinya memperlihatkan pagi hari berganti ke sore hari karena terlalu fokus membaca, Alice tidak sadar kalau waktunya dihabiskan untuk pengetahuannya.

Sementara itu diluar perpustakaan....

"Dimana putriku? Kenapa ia tidak ada di manapun?"

"Nyonya, tolong bersabar!"

"Mana bisa aku bersabar! Aku takut putriku keluar dari tempat ini tanpa sepengetahuan kalian!"

Luna, ibu dari Alice terlihat panik karena putrinya tidak menghadiri acara makan siang di aula makan membuat ia kebingungan kemana putrinya pergi.

Para maid yang ikut mencari keberadaan Alice, mereka memeriksa seluruh tempat kecuali perpustakaan tanpa menemukan keberadaan Alice dimana pun mereka mencarinya, membuat mereka kewalahan dalam frustasi yang dipenuhi dengan penyesalan dan ketakutan.

Mereka semua takut kalau Yang Mulia Arga akan menghukum mereka karena tidak becus mengurus cucunya tercinta, Alice.

"Kenapa bisa-bisanya ia menghilang?"

"Mana kutahu? Kamu yang tidak bisa menjaganya dengan baik."

"Huh? Apa maksudmu dengan menyalahkan aku?"

"Tentu saja, kamu tidak bisa menjaganya dengan baik."

"Mari bergelut!"

"Ayo, siapa takut!"

Bahkan ada diantara para maid yang saling menyalahkan satu sama lain diantara maid lain yang kelingkungan dalam kondisi panik dan takut, membuat pemimpin mereka, Annastasia, wanita berambut blunt bob sebahu berwarna pirang muda yang menghela nafas panjang hanya bisa sabar meskipun ekspresinya terlihat datar tanpa emosi.

"Kalian, berhenti bertengkar! Cari ditempat lain! Jika tidak ada, kita bisa meminta bantuan pada para ksatria!"

"Baik!"

Mengikuti perintah dari Annastasia, maid yang sebelumnya bertengkar berhenti berdebat dalam amarah melainkan mencari keberadaan Alice sekali lagi.

"Kira-kira dimana Alice-sama berada?"

Dalam merenung sejenak, satu-satunya yang diingat oleh Annastasia adalah mereka belum mencari ditempat yang belum mereka selidiki yaitu perpustakaan, membuatnya pergi ke tempat tersebut tanpa para maid lain tahu kemana ia pergi.

Begitu memasuki perpustakaan, suasana hening menyelimuti ruangan.

Mata Annastasia berwarna perak mengitari seluruh area perpustakaan tanpa melihat keberadaan Alice didalam perpustakaan.

"Aneh sekali. Kupikir ia berada disini."

Tanpa diketahui oleh Annastasia, Alice yang bersembunyi dibawah meja yang menjadi tempat untuk penjaga perpustakaan, berharap Annastasia tidak kemari.

"Kemana Alice-sama pergi?"

Ada kekhawatiran dibalik nadanya, membuat Alice menyadari kalau ia telah berbuat masalah pada seluruh keluarganya, termasuk para maid yang kelingkungan mencarinya.

Meskipun Alice tidak ingin merepotkan mereka, ia juga tidak bisa keluar begitu saja dari persembunyiannya karena takut diceramahi oleh Annastasia yang menurutnya seperti Guru BP sewaktu Alice dahulu menjadi Nia saat masih masa-masa sekolah dulu.

Langkah kaki terdengar menggema di ruangan perpustakaan yang hening yang perlahan-lahan mendekati meja dimana Alice bersembunyi, membuat jantungnya berdebar-debar karena takut ketahuan oleh Annastasia begitu ia memeriksa dibawah meja ini.

"Alice-sama, keluarlah! Aku tidak akan memarahi mu maupun menceramahi mu."

Tidak ada jawaban melainkan hanya keheningan seolah-olah sejak awal keberadaan Alice tidak ada di perpustakaan ini, membuat Annastasia semakin ragu kalau ia berada disini.

"Alice-sama, jika kamu tidak keluar, ibumu akan semakin khawatir padamu."

Tetap diam selagi mendengar perkataan Annastasia, Alice juga sependapat dengannya.

Ibunya, Luna pasti mengkhawatirkan kondisinya karena tidak terlihat sama sekali dari siang hingga sore hari yang bisa saja membuatnya berpikir kalau putrinya menghilang begitu saja.

Apalagi setelah Alice tahu kalau ia adalah pewaris tahta dari darah kerajaan berikutnya, Keluarga Nishimura, besar kemungkinan pemikiran ibunya, Luna, dan kakeknya, Arga akan berpikiran sama kalau ia diculik oleh seseorang.

Tapi meskipun Alice tidak ingin mereka khawatir padanya, ia tetap tidak ingin keluar dari persembunyian untuk menemui Annastasia karena ia ingin menghabiskan seharian di perpustakaan ini untuk membaca ketimbang dikurung di kamarnya tanpa bisa melakukan apapun.

"....."

Sekilas, ide muncul dalam benak Alice.

Seringai senyuman terlibat diwajahnya seolah-olah ia benar-benar memikirkan ide yang baru saja muncul, memudahkan ia untuk menghabiskan waktu di kamarnya bila dikurung nanti.

"Sip. Akan kulakukan!"

Dua buku yang tidak tebal dimasukkan kedalam tubuh Alice di depan dan belakang, ia keluar dari persembunyian untuk menemui Annastasia.

"Alice-sama, kamu benar-benar ada disini."

"Ya, begitulah."

Mengalihkan pandangan dari Annastasia yang terlihat lega saat mendekatinya, ada rasa bersalah diwajah Alice yang takut menatap ke Annastasia saat ini.

Bukannya marah dan menceramahi Alice, Annastasia justru memeluknya membuat Alice terkejut saat mengetahui ia memeluknya tiba-tiba.

"Syukurlah kamu baik-baik saja, Alice-sama."

Dari kata-kata Annastasia, Alice bisa mengetahui kalau ada perasaan bersyukur dan lega darinya meskipun ia tidak memperlihatkan emosi di wajahnya.

"Maafkan aku, aku malah merepotkan dirimu dan yang lainnya."

"Tidak masalah. Asalkan kamu baik-baik saja, aku tidak mempermasalahkannya sama sekali."

Tersenyum pada perkataan Annastasia, Alice merasa kalau pemimpin maid didepannya mulai memahami dirinya meskipun ia terkadang menceramahi dirinya dan memarahinya, ia tetap peduli dan perhatian padanya seolah-olah Annastasia adalah ibu keduanya di dunia ini selain dari ibunya, Luna.

"Mari kita kembali ke kamarmu, Alice-sama. Nyonya sangat khawatir padamu."

"Ya."

Membiarkan ia dibawa oleh Annastasia dengan memegang lengannya, Alice hanya mengikutinya tanpa melawan maupun keberatan sama sekali seakan-akan ia menyerah untuk memberontak.

Padahal kenyataannya, ia sudah menyimpan kedua buku yang disembunyikan di bukunya agar bisa menghabiskan waktu di kamarnya yang akan dikurung oleh ibunya untuk membaca buku dari kedua buku yang diambilnya; buku sihir dan buku latihan fisik.

•••••

Begitu menemui ibunya, Luna, Luna memeluk Alice dengan erat seolah-olah lega sekaligus bersyukur kalau putrinya baik-baik saja, tidak diculik maupun hilang dari kerajaan ini.

Alice yang tersenyum kecil membalas pelukan ibunya, membiarkan kehangatan dirasakannya setelah sekian lama ia tidak merasakan kehangatan dari ibunya saat ia masih menjadi Nia dulu.

"Sayang, maafkan Ibu karena tidak memperhatikan mu."

"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf, Bu. Aku pergi begitu saja yang membuat Ibu dan yang lainnya kewalahan mencari aku."

Ibunya yang terkekeh, mengusap-usap rambut Alice dengan lembut tidak menyangka kalau putrinya memahami kesalahan yang dibuatnya membuatnya tidak tega untuk menghukumnya dikunci di kamarnya.

Tak lama kemudian, Arga yang mendekati Luna dan Alice, tatapannya mengarah ke Alice yang terlihat tajam.

"Gawat! Sepertinya aku akan dimarahi oleh Kakek."

Setelah menatap tajam cukup lama, senyuman muncul dibibir Arga yang membuatnya berjongkok selagi mengulurkan tangannya pada Alice untuk mempersilahkan mendekatinya.

"Kakek!"

"Ya ampun, Cucuku Tercinta. Kenapa kau bisa-bisanya merepotkan kami semua? Jika kau butuh sesuatu, kau bisa datang pada Kakekmu."

Alice hanya cekikikan berpura-pura bersikap seperti gadis di usia 6 tahun, ia memeluk tubuh kakeknya selagi Arga mengangkatnya.

"Maafkan aku, Kakek. Tapi, aku tidak mau merepotkan Kakek."

"Tidak masalah. Itu sudah menjadi kewajiban kakek untuk cucu kakek tercinta yaitu dirimu."

Para maid yang berkumpul menyaksikan kejadian hangat yang penuh cinta dari Raja mereka terhadap cucu mereka, Alice, membuat momen mengharukan tersebut melepas stres dari frustasi, panik dan takut akan hukuman yang diterima mereka dari Arga.

Di kejauhan, seorang pria berambut mohawk berwarna hijau tua, sepasang mata berwarna azure, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 174 cm, bertubuh sedang dengan postur tubuh tegap dibalik seragamnya berwarna hitam, dan garis kuning keemasan diantara ujung lengan, kancing pakaian, ujung celana dan atas celananya, memperhatikan Yang Mulia Arga sedang memanjakan cucunya membuatnya menyadari kalau seberapa peduli Arga pada Alice.

"Yah, kurasa lebih baik aku membiarkan Yang Mulia saat ini."

"....."

Saat hendak meninggalkan tempatnya, di kejauhan terlihat seorang anak lelaki yang menatap kearah Alice, gadis kecil berambut butterfly haircut berwarna pirang yang tidak bisa mengalihkan pandangan darinya, membuat penasihat tersebut, Gerald, hanya tersenyum kecil seolah-olah sadar kalau anak lelaki itu jatuh cinta pada pandangan pertama pada Nona Muda, Alice.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!