Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Di Istana Kegelapan
Ucapan dari seberang sana benar-benar membuat hati Selena tertegun, sangking sibuknya dia sampai lupa berusaha untuk meminjam uang ke salah satu temannya seperti bulan-bulan sebelumnya ketika ia masih belum pegang uang sama sekali.
"I ... iya Bu. Maaf ya aku lupa," sahut Selena dengan nada getirnya.
"Tolong ya Nak, diusahakan masalahnya Ibu sudah tidak ada pegangan sama sekali, jadi Ibu minta tolong sama kamu ya Nak," ucap Ria seraya memohon.
"Iya Bu, akan aku usahakan," sahut Selena meskipun saat ini ia belum tahu caranya mendapatkan uang di saat masih belum gajian seperti ini.
Telepon sudah dimatikan, tatapan pria itu tajam namun penuh selidik, entah kenapa dia tidak mau melihat wajah gadis itu menahan sedih karena telepon dari ibunya di kampung.
"Berapa yang ibumu butuhkan?" tanya suara bariton itu.
Selena tertegun sambil menundukkan wajahnya, bukan karena apa, akan tetapi jika dia sampai meminta bantuan kepada pria itu sudah pasti dirinya akan susah terlepas dari jeratan sang penguasa kegelapan itu. "Eeeeemb ... maaf saya bisa mencarinya sendiri," tolak Selena dengan halus.
Mata elang itu mulai meliriknya dengan tajam. "Saya tidak menerima penolakan Nona, kau tinggal sebut berapa nominalnya saja, jika tidak ... maka jangan salahkan siapa-siapa jika takdir buruk menimpamu," ucapnya tenang akan tetapi penuh dengan ancaman.
Selena tidak mempunyai pilihan lain hingga pada akhirnya ia mulai menyetujui permintaan pria itu karena memang dirinya tidak bisa melawan di saat kondisi terhimpit seperti ini. "Biasanya aku kirim ibuku 3 juta," sahut Selena dengan tatapan yang menunduk.
"Baiklah kalau begitu berikan nomor rekeningmu," pinta pria itu dengan nada datarnya.
Dengan tangan yang gemetar Selena mulai memberikan nomor rekeningnya kepada pria di hadapannya itu, dan tidak lama kemudian sebuah notifikasi masuk di handphonenya, gadis cantik itu mulai mengecek dan jantungnya semakin syok melihat nominal yang diberi tiga kali lipat yang ia pinta.
"Tuan ... ini terlalu banyak," ucap Selena sambil menoleh ke arah pria itu.
"Sisanya buat kamu, dan jangan pernah tanya lagi, karena saya tidak mau mendengar apapun alasan dari kamu," larang pria itu agar gadis di hadapannya itu tidak banyak bicara.
Mobil masih terus melaju menembus jalanan ibu kota, yang di padati dengan sorot lampu kendaraan, di sini Selena masih duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik punggung pria di hadapannya itu, yang sedari tadi hanya diam tak banyak bicara setelah memberikan uang yang cukup banyak nominalnya itu.
Pria itu masih tetap diam akan tetapi pandangannya tajam, dan sesekali ia tahu kalau gadis di belakangnya itu mencuri-cuti pandang ke arahnya, namun dia tidak mau membahas masalah sepele semacam ini.
'Dasar gadis polos,' gumamnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan tinggi bercat abu gelap, berdiri mencolok di antara gedung-gedung modern. Arsitekturnya berbeda, bergaya klasik dengan pilar kokoh, jendela besar, dan halaman depan yang hanya bisa dimasuki lewat gerbang besi tinggi.
Begitu pintu mobil terbuka, dua pria berjas hitam langsung menundukkan kepala dalam-dalam.
“Don Valente,” suara salah satu dari mereka terdengar penuh hormat, nyaris bergetar.
Selena membeku di tempat ketika suara itu ia dengar sendiri dari salah satu pria ber jas yang menyambut pria di depannya itu, nama itu dulu sangat familiar di kalangan teman-teman fakultas hukum di saat dirinya masih sempat mengenyam bangku kuliah meskipun harus berhenti di tengah jalan karena kendala biaya.
Teman-teman cowoknya dulu sering membicarakan nama itu dengan nada yang sangat lirih seolah tidak mau orang lain ikut mendengarkan, sangking bahayanya nama tersebut dan nama itu sering sekali mendapat julukan sang penguasa kegelapan yang tak tersentuh hukum.
"Don Valen," gumamnya lirih.
Seketika wajah tegas itu meliriknya dengan tatapan elang yang begitu mencengkam, Don hanya menatapnya sekilas, lalu mulai berbisik. "Sekarang kau tahu berhadapan dengan siapa," ucapnya lirih namun membuat nyali Selena menciut.
Ia melangkah masuk ke dalam gedung, tanpa menoleh lagi. Selena terpaksa mengikuti, meski hatinya terasa ingin melarikan diri.
Interior gedung itu memancarkan kekuasaan. Lantai marmer hitam mengkilap, dinding dihiasi lukisan klasik, dan derap sepatu hitam yang berjalan beriringan dari arah koridor membuat suasana gelap semakin mencengkam. Setiap pria berbadan kekar yang lewat langsung menunduk dalam-dalam begitu melihat Valen.
Selena tertegun melihat semua ini lututnya bergetar, aura itu bukan hanya rasa takut melainkan kepatuhan tanpa syarat, yang dilakukan oleh para pengawal.
Saat ini mereka masuk di dalam ruangan yang begitu luas dan di dominasi dengan warna gelap, di bagian sisi kiri dipenuhi rak buku dan lemari kayu berwarna gelap. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja kayu yang berukuran besar. Ruangan ini nampak seperti ruang kerja, tapi sekaligus seperti pengadilan bagi sang pemilik untuk memberikan hukuman mati bagi siapapun yang melanggar ataupun berkhianat.
Valen mulai melepas jas hitamnya, lalu duduk di kursi kebesarannya sambil menatap wajah gadis itu dengan tatapan tajamnya. "Duduk!" perintahnya dengan nada datar.
Seketika tubuh gadis itu terasa kaku ketika suara serak itu mulai bergema di ruangan ini. Selena terpaksa mengikuti perintah Don Valen meskipun kakinya terasa kaku untuk duduk berhadapan dengan pria bermanik elang itu.
Valen menatap lekat wajah gadis itu, bukan tatapan biasa antara pria dan wanita melainkan sebagai tatapan antara predator pada mangsanya. "Tadi kamu berusaha kabur kan dariku," katanya cukup terdengar tenang, namun mematikan bagi pendengarnya. "Kau tahu apa yang terjadi kepada orang yang berani melawan Don Valen," imbuhnya kembali.
Sementara Selena hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan ...aku tidak akan mengulangi hal serupa," sahut Selena dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kau harus berhenti dari pekerjaan mu itu," perintahnya tanpa bisa dibantah.
Selena cukup terkejut mendengar semua ini. "Tapi Tuan, aku butuh pekerjaan," ucap Selena.
"Jangan membantah," cetus pria itu dengan tatapan elangnya. Dan dengan yang bersamaan seseorang berjas hitam mengetuk pintu ruangan.
"Masuk," perintah Valen.
Tidak lama kemudian seorang pri masuk dengan membawa sebuah berkas yang ditunjukkan kepada Valen. "Don, ini berkas yang anda pinta," ucap pria itu.
"Baiklah, sekarang kau boleh keluar!" perintah Valen.
Suasana terasa mencengkam ketika pria bertubuh tegap itu keluar meninggalkan ruangan ini, Selena mulai menundukkan kembali tatapannya sebelum akhirnya pria itu bersuara lagi.
Valen mulai membuka berkas tersebut dan sedikit menoleh ke arah Selena. "Mulai sekarang kau berada di bawah perlindunganku, jadi tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku."
Selena langsung terperanjat mendengar kata-kata yang terdengar sebagai ancaman dan pengumuman mutlak yang keluar dari mulut pria itu.
"Ta ... tapi Tuan ...," ucapnya dengan nada yang tercekat.
"Aku tidak butuh bantahan dari siapapun, dan aku lebih senang jika kamu pandai menempatkan diri kamu sendiri,"
Selena hanya terdiam, nadanya tercekat sekedar untuk mengeluarkan suara. Dan di saat itulah Selena sadar, kalau saat ini hidupnya benar-benar dibawah tekanan pria itu.
Bersambung ...
Malam ... Tipis aja ya Kak. Dan semoga suka ya.
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf