NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duduk Sama Rendah, Canggung Sama Tinggi

Mau tidak mau, pintu apartemen itu akhirnya terbuka untuk Rian. Arini—setelah lari pontang-panting selama lima menit ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyisir rambut cepolnya agar lebih manusiawi—kini duduk bersila di karpet ruang tengah. Di depannya, dua mangkuk sup ayam hangat yang dibawa Rian sudah tersaji.

Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk.

Bagi Arini, situasi ini sangat tidak sehat untuk kesehatan jantungnya. Namun, jika dilihat dari luar, Rian tampak sangat tenang. Cowok itu menyendok supnya dengan santai, sesekali meniupnya perlahan, seolah-olah makan siang di apartemen manajernya adalah rutinitas mingguan.

Padahal, itu hanya bungkus luarnya saja.

Dari dalam isi kepala Rian, kondisinya sebenarnya sudah seperti wahana koridkor hantu: gelap dan bikin senam jantung. “Gila, gue beneran duduk di apartemen Bu Arini? Pake piyama rumahan lagi. Cantik banget, sial... Fokus, Yan! Jangan sampai tangan lu gemeteran pas megang sendok,” batin Rian menjerit histeris. Sikap santainya tak lain adalah tameng darurat agar ia tidak terlihat seperti cowok kuper yang sedang salah tingkah.

Demi menyelamatkan dirinya dari kecanggungan yang makin mencekik, Rian memutuskan membuka suara. "Um... Bu Arini, apartemennya sepi banget ya. Ibu... beneran tinggal sendiri di sini?"

Arini mendongak, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Iya. Sendiri. Lebih tenang kalau pulang kerja."

"Keluarga Ibu semuanya di luar kota?" tanya Rian lagi, mencoba menggali topik yang aman di luar urusan kantor.

Arini mengangguk pelan, menyendok kuah supnya. "Iya. Orang tua dan adik-adik saya semuanya di Garut. Di sana udaranya sejuk, beda jauh sama Jakarta yang bikin stres. Makanya kalau libur panjang, saya pasti pulang ke sana. Di sini saya cuma kerja."

Rian manggut-manggut. "Oh, orang Garut... Pantesan."

"Pantesan apa?" Arini mengernyitkan dahi, menatap Rian selidik.

"Pantesan aslinya geulis—eh, maksudnya, pantesan Ibu suka teh hangat yang pekat. Orang Priangan kan emang suka teh," ralat Rian secepat kilat, merutuki lidahnya yang hampir saja terpeleset memuji Arini dengan bahasa Sunda. Wajah Rian mendadak terasa agak panas.

Arini pura-pura tidak mendengar kata 'geulis' yang sempat lolos tadi, meskipun di dalam hati egonya langsung melonjak kegirangan. "Kamu sendiri? Kenapa gak pulang kampung weekend ini?"

"Ah, saya kan asli sini, Bu. Lagian kalau libur begini, tugas saya ya... memastikan orang-orang terdekat saya gak pingsan sendirian di apartemennya," gurau Rian sambil terkekeh pelan.

Suasana yang tadinya kaku perlahan-lahan mulai mencair. Mereka menghabiskan makanan sambil mengobrol ringan. Arini mulai merasa kenyang, bukan hanya karena supnya, tapi juga karena rasa hangat yang menjalar di dadanya. Rian ternyata adalah pendengar yang baik dan punya selera humor yang pas—tidak berlebihan seperti Bagas.

Setelah mangkuk mereka kosong, Rian merapikan bungkus makanan dan meletakkannya kembali ke dalam plastik. Ia memandangi Arini yang sedang bersandar di sofa mini dekat karpet.

Rian berdehem, mengubah posisinya menjadi agak tegak. Tatapan matanya yang tadi jenaka, mendadak berubah menjadi sangat serius dan lurus menatap sepasang mata Arini.

"Bu Arini..." panggil Rian dengan suara yang agak berat, tidak sesantai tadi.

"Kenapa, Rian?"

Rian diam sejenak, tampak menimbang-nimbang kata-katanya. "Soal gosip di kantor... dan soal saya yang nemenin Ibu lembur sampai terjebak semalaman kemarin. Jujur, saya gak nyesel sama sekali. Malah, saya mikir... mungkin sistem pintu yang rusak itu sebenarnya petunjuk, Bu."

Arini menahan napasnya. "Petunjuk? Maksud kamu?"

Rian memajukan sedikit posisi duduknya, menatap Arini lekat-lekat dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Iya. Petunjuk kalau hubungan kita ini... sepertinya gak cocok kalau cuma sebatas atasan dan bawahan di kantor aja. Saya ngerasa, kita harusnya..."

Kalimat Rian menggantung di udara. Ia sengaja menghentikan ucapannya tepat di kata itu, menyisakan keheningan yang luar biasa tegang di antara mereka. Arah bicaranya terasa sangat menjurus ke sesuatu yang personal dan intim.

Hik!

Belum sempat Rian melanjutkan kalimatnya, sebuah suara nyaring lolos dari tenggorokan Arini. Manajer milenial yang biasanya anggun itu mendadak cegukan parah karena syok dan terlalu tegang menunggu kelanjutan omongan Rian.

Hik!

Arini langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, sementara wajahnya sudah merah padam sampai ke leher, menatap Rian dengan mata membelalak panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!