Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
Bab 14 — Perasaan yang Mulai Tumbuh
Pagi di mansion keluarga Moretti terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar mansion, memantulkan cahaya hangat di lantai marmer putih. Namun suasana rumah itu tetap terasa dingin seperti biasa.
Para pelayan berjalan pelan sambil menundukkan kepala.
Tak ada yang berani berbicara terlalu keras.
Karena semua orang tahu…
Lorenzo Moretti sedang dalam suasana hati buruk sejak semalam.
Di ruang makan utama, Lorenzo duduk sendirian sambil membaca beberapa laporan bisnis. Secangkir kopi hitam berada di samping tangannya, tetapi belum disentuh sama sekali.
Tatapannya fokus.
Dingin.
Dan sulit ditebak.
Marco De Luca masuk sambil membawa map tebal.
“Orang Romano mulai kehilangan beberapa jalur distribusi.”
Lorenzo tidak mengangkat kepala.
“Itu memang seharusnya.”
Marco duduk di kursi depan sambil menghela napas kecil.
“Namun mereka tidak akan diam begitu saja.”
“Aku berharap mereka melawan lebih keras.”
Jawaban Lorenzo terlalu tenang hingga membuat Marco menggeleng pasrah.
Kadang ia benar-benar heran bagaimana pria itu bisa terlihat begitu santai di tengah ancaman perang mafia besar.
“Tapi ada hal lain,” lanjut Marco.
“Katakan.”
“Orang-orang mulai membicarakan gadis desa itu.”
Tatapan Lorenzo akhirnya terangkat perlahan.
Dan hanya dengan satu tatapan itu saja…
suasana ruangan langsung berubah menegangkan.
Marco langsung sadar dirinya menyentuh topik sensitif.
“Mereka penasaran kenapa kau membawanya ke mansion.”
“Biarkan mereka penasaran.”
“Masalahnya,” Marco menyandarkan tubuhnya ke kursi, “musuh bisa memakai gadis itu untuk menyerangmu.”
Lorenzo diam beberapa detik.
Lalu ia menutup dokumen di tangannya perlahan.
“Kalau ada yang menyentuh Amelia…”
Suara pria itu rendah.
Dingin.
“…aku akan membunuh mereka.”
Marco langsung terdiam.
Jawaban itu terdengar terlalu serius.
Dan itu membuatnya semakin yakin—
Amelia mulai menjadi kelemahan Lorenzo.
Sementara itu, di lantai atas mansion…
Amelia baru selesai bersiap setelah dibantu Clara.
Hari ini ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membuat wajahnya terlihat lebih lembut dan manis.
Namun ekspresinya tetap murung.
Ia belum terbiasa tinggal di tempat sebesar ini.
“Nona Amelia terlihat cantik hari ini,” puji Clara sambil tersenyum.
Amelia tersipu kecil.
“Aku masih merasa aneh memakai pakaian seperti ini.”
“Lama-lama Anda akan terbiasa.”
Amelia justru menggeleng pelan.
“Aku tidak ingin terbiasa.”
Clara sedikit terdiam mendengar itu.
Karena jauh di dalam hati, Amelia masih ingin kembali ke kehidupannya yang dulu.
Kehidupan sederhana di desa bersama neneknya.
Dan Clara bisa memahami itu.
“Apa Tuan Lorenzo benar-benar akan membawaku menemui nenek?” tanya Amelia pelan.
“Saya rasa iya.”
“Aku takut dia hanya mengatakannya agar aku tenang.”
Clara tertawa kecil. “Tuan Lorenzo mungkin menakutkan, tapi dia jarang mengingkari janji.”
Amelia menunduk pelan.
Entah kenapa…
semakin lama ia berada di mansion ini, semakin sulit baginya memahami Lorenzo Moretti.
Pria itu dingin dan kejam.
Namun terkadang juga memperhatikannya dengan cara sederhana yang tidak Amelia duga.
Tok tok.
Salah satu pelayan masuk dengan gugup.
“Nona Amelia… Tuan Lorenzo meminta Anda turun.”
Jantung Amelia langsung berdetak sedikit lebih cepat.
“Sekarang?”
Pelayan itu mengangguk.
Amelia menarik napas pelan sebelum akhirnya berjalan keluar kamar.
Koridor mansion terasa sangat sunyi pagi itu.
Dan semakin dekat ia menuju lantai bawah…
semakin tidak tenang perasaannya.
Begitu memasuki ruang makan utama, langkah Amelia langsung melambat.
Lorenzo duduk di ujung meja panjang sambil memandangnya tanpa ekspresi.
Marco yang berada di sana tersenyum kecil.
“Pagi, gadis desa.”
Amelia langsung menunduk sopan.
“Pagi…”
“Duduk.”
Suara Lorenzo tetap datar seperti biasa.
Amelia perlahan duduk beberapa kursi jauh dari Lorenzo.
Hal itu membuat Marco hampir tertawa.
Karena gadis itu jelas menjaga jarak.
Lorenzo memperhatikan itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Aku tidak menggigit.”
Wajah Amelia langsung memerah malu.
Marco benar-benar harus menahan tawanya sekarang.
“A-aku hanya…”
“Kau takut padaku.”
Amelia langsung diam.
Karena itu memang benar.
Namun sebelum suasana menjadi canggung, para pelayan mulai menyajikan sarapan.
Amelia kembali bingung melihat makanan asing di depannya.
Lorenzo menghela napas tipis.
“Gunakan garpu di tangan kiri.”
Amelia langsung gugup.
“Aku tahu…”
“Kau memegangnya terbalik.”
Marco akhirnya tertawa kecil.
Amelia makin malu sampai wajahnya memerah.
“Aku tidak terbiasa makanan seperti ini…”
Lorenzo diam beberapa detik.
Lalu tanpa berkata apa-apa, pria itu memindahkan piring sarapan yang lebih sederhana ke depan Amelia.
“Itu lebih mudah dimakan.”
Amelia sedikit terkejut.
“Terima kasih…”
Tatapan Marco langsung berpindah antara Lorenzo dan Amelia.
Dan semakin lama…
situasi ini terasa semakin menarik baginya.
Setelah sarapan selesai, Lorenzo berdiri sambil mengambil jas hitamnya.
“Kau ikut denganku hari ini.”
Mata Amelia langsung membesar.
“Ke mana?”
“Menemui nenekmu.”
Wajah Amelia langsung berubah cerah.
Benar-benar berbeda dibanding biasanya.
“Benarkah?!”
Lorenzo mengangguk kecil.
Dan tanpa sadar, Amelia tersenyum sangat manis hingga membuat pria itu terdiam sepersekian detik.
Marco yang melihat semuanya langsung menyeringai kecil.
Selesai sudah.
Bosnya benar-benar jatuh hati.
Namun kebahagiaan Amelia tidak berlangsung lama.
Karena di tempat lain…
seseorang sedang memperhatikannya.
Di sebuah ruangan gelap penuh asap rokok, seorang pria tua duduk sambil memandangi foto Amelia di atas meja.
Wajahnya dipenuhi bekas luka.
Matanya tajam dan licik.
“Jadi ini gadis yang dibawa Lorenzo Moretti…” gumamnya pelan.
Salah satu anak buah berdiri di belakangnya.
“Orang-orang kita gagal menangkapnya malam itu.”
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Menarik.”
“Perlu kami habisi gadis itu?”
Pria tersebut menggeleng perlahan.
“Tidak.”
Tatapannya berubah dingin.
“Kalau gadis itu penting bagi Lorenzo…”
Ia menyandarkan tubuhnya pelan sambil tersenyum menyeramkan.
“…maka dia bisa menjadi cara terbaik untuk menghancurkan Lorenzo Moretti.”
Sementara itu, tanpa mengetahui bahaya yang mulai mendekat…
Amelia berdiri di depan cermin kamarnya sambil mencoba menenangkan jantungnya yang terus berdebar.
Ia akan bertemu neneknya lagi.
Dan anehnya…
hal yang paling membuatnya gugup sekarang bukan perjalanan itu.
Melainkan kenyataan bahwa ia akan pergi bersama Lorenzo berdua.
Beberapa menit kemudian, Amelia turun ke halaman depan mansion.
Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di sana. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di sekitar mobil sambil berjaga ketat.
Amelia langsung gugup melihat semua pengamanan itu.
“Kenapa harus sebanyak ini…?” gumamnya pelan.
Marco yang berdiri dekat mobil tertawa kecil.
“Karena bos kami terlalu terkenal.”
“Terkenal atau ditakuti?”
Marco tersenyum lebar. “Keduanya.”
Pintu mobil terbuka perlahan.
Lorenzo keluar dengan jas hitam rapi yang membuat auranya semakin dingin dan berwibawa.
Tatapan Amelia tanpa sadar terpaku beberapa detik.
Pria itu benar-benar tampan.
Namun juga terlalu berbahaya.
“Masuk,” ucap Lorenzo singkat.
Amelia cepat-cepat mengalihkan pandangan lalu masuk ke mobil.
Perjalanan dimulai dalam suasana sunyi.
Amelia duduk dekat jendela sambil memandangi jalanan Palermo.
Sementara Lorenzo duduk di sampingnya dengan tenang sambil membaca pesan di ponselnya.
Namun entah kenapa…
Amelia bisa merasakan keberadaan pria itu dengan sangat jelas.
Jantungnya terasa aneh.
Dan itu membuatnya kesal sendiri.
“Apa nenekku benar-benar baik-baik saja?” tanya Amelia pelan.
Lorenzo menatapnya sekilas.
“Orang-orangku menjaganya.”
“Kenapa kau membantuku sejauh ini?”
Pertanyaan itu membuat Lorenzo diam beberapa detik.
Bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar tahu jawabannya.
Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Karena kau berbeda.”
Amelia sedikit bingung.
“Berbeda bagaimana?”
“Kau belum hancur meski dunia memperlakukanmu dengan buruk.”
Jawaban itu membuat Amelia terdiam.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di lampu merah.
Tiba-tiba seorang anak kecil penjual bunga mendekati mobil mereka.
Anak itu mengetuk kaca pelan sambil membawa beberapa bunga mawar kecil.
Amelia langsung merasa iba.
Namun sebelum ia sempat bicara—
Lorenzo membuka kaca mobil sedikit lalu memberikan beberapa lembar uang besar pada anak itu.
Anak kecil tersebut langsung tersenyum sangat bahagia.
“Terima kasih, Tuan!”
Amelia menatap Lorenzo kaget.
Pria itu kembali menutup kaca mobil tanpa berkata apa-apa.
“Kau ternyata suka membantu orang…”
Lorenzo mendengus pelan.
“Aku hanya tidak suka melihat anak kecil kelaparan.”
Amelia tersenyum kecil tanpa sadar.
Dan senyum sederhana itu kembali membuat Lorenzo merasa aneh pada dirinya sendiri.