NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak
Popularitas:250.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Malam semakin larut saat mobil Saga akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Mahendra. Lampu rumah masih menyala terang. Seolah seseorang memang sedang menunggunya pulang.

Begitu Saga turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah, Tatih yang sejak tadi duduk gelisah di ruang tamu langsung berdiri.

“Saga…” Suara wanita itu terdengar lega. Tatih buru-buru mendekati anaknya, tetapi Saga sama sekali tidak menatapnya.

Wajah pria itu dingin dan lelah. Langkahnya tetap berjalan masuk hingga akhirnya berhenti di ruang tamu.

Di sana, Tuan Mahendra masih duduk di sofa sambil memperhatikan putranya diam-diam. Suasana rumah terasa begitu tegang. Tatih mencoba bicara lagi dengan hati-hati.

“Kamu sudah makan? Mama suruh bikinin—”

“Aku mau menikah dengan Sahira.” Kata-kata langsung membuat suasana membeku.

Tatih langsung terdiam dengan mata membesar. “Apa?”

Saga tetap berdiri tegak dengan tatapan serius. “Aku akan nikahin Sahira.”

Suara pria itu tenang tetapi penuh ketegasan.

“Dan aku bakal ngakuin Sahir sebagai anakku di depan siapa pun.”

Tatih langsung menahan napas. Ia tahu cepat atau lambat pembicaraan ini akan datang. Tetapi mendengar langsung dari mulut Saga tetap membuatnya gugup.

“Saga…” suara wanita itu mulai melemah, “kamu yakin?”

Tatapan Saga langsung beralih padanya.

“Lima tahun lalu aku kehilangan mereka karena kebohongan dan campur tangan orang lain.”

Rahang pria itu mengeras. “Sekarang aku nggak mau kehilangan mereka lagi.”

Tatih perlahan menundukkan wajah.

Sementara, Tuan Mahendra yang sejak tadi diam akhirnya berbicara pelan,

“Kalau itu memang keputusan kamu…”

Tatapan pria paruh baya itu hangat menatap anaknya.

“Ayah dukung.”

Saga menoleh pada ayahnya. Tatapan Saga sedikit melunak. Tetapi, di sisi lain, Tatih justru semakin gelisah. Wanita itu sadar tatapan suaminya sejak tadi tertuju tajam padanya.

Seolah memperingatkan agar dirinya tidak mengulang kesalahan lagi. Tatih menggenggam jemarinya sendiri pelan sebelum akhirnya berkata lirih,

“Mama … setuju.”

Saga sedikit terkejut. Tatih mengangkat wajahnya perlahan. Mata wanita itu mulai dipenuhi air mata.

“Mama minta maaf…”

Suara Tatih bergetar penuh penyesalan. “Apa yang Mama lakuin dulu salah.”

Saga langsung diam, Tatih melangkah mendekat pelan.

“Mama nggak pernah tahu kalau Sahira hamil waktu itu…”

Air matanya jatuh perlahan.

“Kalau Mama tahu…” suaranya melemah, “Mama nggak akan biarin cucu Mama tumbuh tanpa ayah.”

Ruangan terasa sunyi beberapa detik, Saga menatap ibunya lama. Rasa kecewa itu masih ada, luka itu juga belum hilang. Tetapi melihat wanita yang selama ini selalu terlihat kuat kini menangis di depannya, Saga perlahan memalingkan wajah sambil menghela napas berat.

“Aku capek, Ma…” Suara pria itu terdengar begitu lelah.

“Aku cuma pengen hidup tenang sama keluarga aku.”

Kalimat itu membuat Tatih kembali menangis pelan. Sementara Tuan Mahendra menatap putranya dengan rasa bersalah yang tidak kalah besar. Karena mereka akhirnya sadar anak mereka selama ini hanya ingin hidup sederhana bersama orang yang dicintainya.

Keesokan paginya, suasana rumah keluarga Mahendra terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.

Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar ruang makan, menerangi meja panjang yang sudah dipenuhi sarapan hangat buatan para pelayan rumah.

Sejak mendengar langsung keinginan anaknya semalam Tatih tidak berani lagi menolak apa pun. Saga turun dari lantai atas dengan pakaian kerja yang rapi. Begitu melihat anaknya datang, Tatih langsung berdiri refleks.

“Mama suruh bikinin sup dulu buat kamu,” ucapnya pelan. “Kamu belum makan malam banyak semalam.”

Saga sedikit terdiam melihat perubahan sikap ibunya. Pria itu tetap duduk tanpa berkata apa-apa. Tuan Mahendra yang sudah lebih dulu berada di meja makan memperhatikan keduanya diam-diam.

Tatih buru-buru mengambilkan makanan untuk Saga sendiri.

“Nanti siang Mama mau ke Bali.”

Saga langsung mengangkat wajahnya. Tatih tersenyum kecil meski terlihat gugup.

“Mama mau ketemu Sahira…” Suara wanita itu pelan. "Dan cucu Mama.”

Jantung Saga langsung berdetak pelan mendengar itu. Tatih menundukkan wajah sebelum kembali berkata lirih,

“Mama tahu mungkin Sahira masih takut sama Mama.”

Air matanya mulai berkumpul lagi.

“Tapi Mama pengen minta maaf langsung.”

Suasana meja makan langsung hening. Tuan Mahendra akhirnya menghela napas kecil lalu berkata,

“Itu memang yang seharusnya kamu lakukan.”

Tatih mengangguk pelan.

Sementara Saga hanya diam menatap ibunya. Ia tidak menyangka wanita yang selama ini paling menolak Sahira justru kini ingin datang sendiri ke Bali.

Tatih kemudian kembali bicara hati-hati,

“Kalau kamu benar-benar mau nikahin Sahira…” Tatapannya perlahan bertemu dengan Saga.

“Mama nggak akan halangin lagi.”

Saga merasa beban besar di dadanya sedikit berkurang. Meski luka masa lalu belum benar-benar hilang, setidaknya sekarang, keluarganya mulai mencoba menerima perempuan dan anak yang paling berharga dalam hidupnya.

Setelah sarapan pagi selesai, Saga berdiri dari kursinya sambil merapikan jas dokternya.

Hari itu adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah beberapa hari cuti yang terasa seperti perjalanan panjang dalam hidupnya.

Meski matanya masih menyimpan lelah, ada ketenangan yang perlahan kembali setelah akhirnya menemukan Sahira dan Sahir.

“Aku berangkat dulu.” Saga mengambil kunci mobilnya.

Tuan Mahendra langsung mengangguk pelan, sementara Tatih berdiri mengantarnya sampai depan ruang makan seperti takut anaknya pergi tiba-tiba lagi.

“Hati-hati di jalan,” ucap wanita itu lembut.

Saga menatap ibunya beberapa detik lalu mengangguk kecil.

“Iya, Ma.”

Tatih sampai sedikit terdiam mendengar jawaban itu. Sudah lama sekali Saga tidak menjawabnya selembut itu. Beberapa menit kemudian, mobil Saga keluar dari halaman rumah menuju rumah sakit.

Di perjalanan Pria itu tak bisa menyembunyikan senyumnya sendiri. Tangannya beberapa kali membuka layar ponsel sebelum akhirnya menekan nama Sahira.

Panggilan tersambung cukup cepat. Tetapi, yang terdengar justru suara kecil yang sangat dikenalnya.

[Hallo?]

Seketika senyum Saga melebar tanpa sadar.

“Sahir?”

[Iya!] suara bocah itu langsung terdengar semangat. [Ayah!]

Hati Saga kembali menghangat hanya karena satu panggilan sederhana itu.

[Ayah lagi apa?] tanya Sahir polos.

“Ayah lagi di jalan mau kerja.”

[Oh…] Nada suara Sahir langsung berubah sedih.

[Kok kelja terus sih…]

Saga sampai tertawa kecil mendengarnya.

“Kalau ayah nggak kerja nanti Sahir makan apa?”

[Ada ibu.] Jawaban polos itu langsung membuat Saga terkekeh pelan.

Di seberang sana terdengar suara langkah kecil dan bunyi kursi bergeser.

[Ayah tahu nggak,] Sahir mulai bercerita semangat, [tadi Sahel bangun pagi sendili.]

“Wah hebat.”

[Iya dong.]

Saga tersenyum sepanjang mendengarnya mengoceh.

Sementara di dapur kecil rumah itu, Sahira yang sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh saat mendengar suara anaknya.

“Sahir, sama siapa?”

“Ayah!”

Jantung Sahira langsung berdetak lebih cepat. Wanita itu buru-buru berjalan keluar sambil mengusap tangan yang masih basah oleh air. Dan benar saja Sahir sedang duduk di sofa sambil memegang ponsel dengan wajah ceria.

“Ayah bilang Sahel hebat.”

Saga yang mendengar suara langkah Sahira langsung tersenyum kecil.

“Sahira…”

Suara pria itu terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya. Sahira langsung diam beberapa detik sebelum akhirnya mengambil ponsel itu perlahan.

[Halo…]

“Udah sarapan?” Pertanyaan sederhana itu entah kenapa membuat hati Sahira terasa hangat.

[Belum,] jawabnya pelan. [Aku lagi siapin buat Sahir.]

Saga tersenyum kecil sambil menyetir.

“Aku kangen kalian.”

Wajah Sahira langsung memanas. Sementara di sampingnya, Sahir malah ikut berseru keras,

[Sahel juga kangen ayah!]

Tawa Saga langsung terdengar dari seberang sana. Meski dipisahkan jarak Jakarta dan Bali suasana pagi itu terasa seperti keluarga kecil yang utuh.

Senyum kecil masih menghiasi wajah Saga sepanjang mendengar suara Sahir yang terus mengoceh dari seberang sana.

Mobil pria itu melaju tenang di jalanan pagi Jakarta, sementara hatinya terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.

[Ayah nanti pulang kelja capek ndak?] tanya Sahir polos.

“Kalau denger suara Sahir nggak capek lagi.”

[Hehe…] Bocah kecil itu tertawa senang.

Sahira yang berdiri di dekat meja makan hanya bisa menghela napas kecil melihat tingkah anak dan ayah. Suara Saga berubah sedikit lebih serius.

“Sahira…”

Wanita itu langsung kembali fokus.

[Iya?]

Saga terdiam sejenak seolah sedang menyusun kata-kata. Lalu akhirnya pria itu berkata pelan,

“Mungkin beberapa hari lagi … aku sama Mama bakal ke Bali.” Jantung Sahira langsung berdetak lebih cepat.

[Apa?]

“Aku mau jemput kamu sama Sahir.”

Suasana di seberang sana langsung hening beberapa detik. Saga melanjutkan dengan suara lembut namun penuh kesungguhan,

“Aku nggak mau kita terus berjauhan kayak gini.”

Tatapan pria itu lurus ke jalan depan, tetapi pikirannya hanya dipenuhi Sahira dan anak mereka.

“Aku pengen kalian pulang sama aku."

Napas Sahira langsung terasa tertahan. Wanita itu menggenggam ponsel sedikit lebih erat. Sementara Sahir yang masih duduk di sofa langsung berseru semangat,

[Pulang sama ayah?!]

Saga tersenyum mendengar itu.

“Iya.”

[Telus Sahel bisa tidul sama ayah?]

Pertanyaan polos itu membuat hati Saga terasa sesak sekaligus hangat.

“Iya.”

[Bisa pelgi jalan-jalan?]

“Iya.”

[Bisa peluk ayah tiap hali?] Suara bocah itu mulai terdengar penuh harap.

Saga sampai memejamkan matanya sejenak menahan rasa haru.

“Bisa…” Jawabannya terdengar pelan dan serak.

Di sisi lain, Sahira justru mulai gelisah. Wanita itu menunduk pelan.

[Saga…]

“Aku tahu kamu takut.” Pria itu langsung memotong lembut.

“Aku tahu kamu masih khawatir soal Mama.”

Sahira langsung diam. Karena memang itu yang paling membuatnya takut. Saga kembali berkata penuh keyakinan,

“Aku janji kali ini nggak akan ada yang nyakitin kamu lagi.”

Nada suara pria itu begitu serius.

“Dan Mama…” Saga menarik napas pelan, “Mama juga pengen ketemu kamu sama Sahir.”

Jantung Sahira kembali berdebar kencang.

[Apa?]

Saga tersenyum kecil. “Dia mau minta maaf langsung.”

Mata Sahira langsung membesar.

Sementara Sahir yang tidak terlalu mengerti pembicaraan orang dewasa malah kembali berseru polos,

[Nenek mau datang?!]

Saga tertawa kecil.

“Iya.”

[Yeay!] Sahir langsung bertepuk tangan senang.

Sementara Sahira masih diam mematung. Karena semua ini terasa seperti mimpi yang terlalu sulit dipercaya. Lima tahun lalu dia pergi dengan luka dan ketakutan.

Namun, sekarang, orang yang dulu paling menolaknya justru ingin datang menjemput dirinya dan anaknya pulang.

[Aku tunggu,] balasnya pelan, Saga hanya tersenyum sebelum memutuskan panggilan itu.

1
Arwondo Arni
jgn sampai Clara berhasil mencelakai Kel kecil saga
Naufal hanifah
bagus ceritanya, seru
iqha_24
yaa ampuun ..
Retno Harningsih
up
Ita rahmawati
apakah Clara akn berakhir seperti Aldi 😔
Ita rahmawati
waduh bahaya nih Sahira SM sahir di intai demit
Teh Euis Tea
duhh nyonya tatih jgn lama2 di toilet ya Sahira Sahir dlm bahaya ada si Clara tktnya dia bikin ulah
wasiah miska nartim
bener2 sakit
ardiana dili
lanjut
Esther
Bagus Sahira, jangan takut melawan Clara, karena kamu berada di pihak yang benar
Nyonya Gunawan
Nach gtu jgan taunya cma nangis doank,,
sri hastuti
bagau sahira ,lawan jangan takut, sdh waktunya kebenaran diungkap, ssh makan banyak korban si clara yg gila dan psikopat , dasaarrr 😡😡😡
mimief
memang.... sebenarnya pelaku yg kejahatan itu sebenarnya adalah korban sesungguhnya
tapi...tidak merta kita membenarkan apa yg kau perbuat
hidup itu...tentang pilihan bukan??
Naufal Affiq
anak durhaka kamu clara
mimief
kenapa di... selalu terjadi di toilet 😭😭😔
Esther
wah bahaya ini Clara akan beraksi.
mimief
deg...deg.,
deg,..deg😔
Retno Harningsih
up
Nar Sih
jdi deng,,an nunggu acara pernikahan sahira dan saga ,pasti clara gk terima dan bikin ulah
Nar Sih
clara bnr,,sdh gila kayak nya🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!