NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Hutan Kabut dan Bisikan Aneh

Archive Zero

Bab 20 — Hutan Kabut dan Bisikan Aneh

Perjalanan hari-hari awal berjalan mulus dan indah. Mereka melintasi padang rumput luas yang bergelombang seperti lauran hijau, menyeberangi sungai-sungai berair jernih yang memantulkan bayangan awan, dan melewati desa-desa kecil yang penduduknya menyambut mereka dengan ramah, mendengar cerita tentang kota Elarion dengan takjub dan kagum. Setiap kali berhenti, nama mereka semakin dikenal luas; kisah tentang tiga pahlawan yang mengalahkan pasukan besar dan menciptakan kedamaian telah menyebar ke seluruh wilayah selatan, menjadi dongeng yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Namun, semakin jauh mereka melaju ke arah timur, semakin berubah pemandangan di sekeliling mereka.

Dua minggu setelah meninggalkan Elarion, tanah yang rata dan terbuka mulai bergelombang menjadi bukit-bukit berhutan lebat. Pohon-pohon di sini tumbuh sangat rapat, batangnya besar dan tinggi menjulang hingga menutupi sinar matahari, membuat suasana di bawah kanopi daun menjadi redup, sejuk, dan sedikit misterius. Kabut tipis mulai turun dan melayang-layang di antara batang pohon, tidak pernah hilang sepenuhnya, seolah menjadi selimut abadi bagi wilayah ini.

Kai yang duduk di kemudi kereta mengerutkan kening, matanya menatap peta di tangannya yang kini tampak kurang akurat. Ia menoleh ke belakang, ke arah Ren dan Anya yang duduk di kursi penumpang, tampak tenang namun waspada.

"Menurut catatan lama para Pengamat, wilayah ini bernama Hutan Senyap," kata Kai pelan, suaranya sedikit tertahan seolah takut mengganggu keheningan di sekitar. "Dulu tempat ini adalah hutan biasa, tapi sejak seribu tahun lalu, tepat setelah perang besar, kabut selalu ada di sini. Dan ada catatan aneh... konon siapa pun yang masuk terlalu dalam dan tidak tahu jalan, akan berputar-putar selamanya, atau hilang tanpa jejak."

Ren merasakan udara di sekitarnya. Ia bisa merasakan aliran energi di sini berbeda dengan tempat lain. Tidak jahat, tidak berbahaya, tapi... membingungkan. Energi itu berputar-putar, memantul, dan menciptakan ilusi, memutarbalikkan arah mata angin dan rasa arah.

"Kabut ini bukan sekadar uap air," ucap Ren pelan, tangannya menyentuh udara di sampingnya, merasakan butiran energi halus yang melekat di sana. "Ini jaringan alami yang terjalin dari sisa-sisa kekuatan besar masa lalu. Seperti dinding tak terlihat yang menjaga atau menyembunyikan sesuatu di dalam sana."

Anya menegakkan tubuhnya, matanya yang peka menangkap suara-suara halus yang hampir tak terdengar. Suara angin yang berbisik, suara daun yang bergesekan, suara air yang mengalir... tapi ada nada lain yang menyelip di sana. Nada yang berirama, berulang, dan seolah berbicara.

"Kalian dengar itu?" tanya Anya perlahan, menatap ke sela-sela pepohonan yang gelap. "Suara bisikan... seolah ada ribuan orang berbicara serentak di kejauhan, tapi kata-katanya tidak bisa dimengerti."

Ren dan Kai diam, memusatkan pendengaran mereka. Benar saja, di balik suara alam, terdengar suara halus seperti gumaman orang banyak. Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana-mana, memenuhi udara, membuat kepala terasa sedikit pening dan bingung jika terlalu lama mendengarkannya.

"Ini makin menarik," gumam Kai, matanya berkilat karena rasa penasaran, meski tangannya memegang kemudi lebih erat. "Bisikan hutan... salah satu misteri tertua yang tertulis di buku legenda. Konon suara itu adalah sisa ingatan dari ribuan makhluk yang pernah hidup di sini, terperangkap dalam energi alam dan terus berbicara selamanya."

"Atau..." potong Ren, matanya menajam menembus kabut tebal di depan. "...suara itu adalah peringatan. Atau panggilan. Ingat pesan Elara? Gangguan energi terasa paling kuat di wilayah tengah, dan kita sekarang sudah masuk ke zona yang terganggu itu."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati. Kabut semakin tebal, hingga pandangan mereka hanya sejauh beberapa meter saja. Jalur tanah yang mereka lalui semakin sempit dan berkelok, hampir hilang tertutup semak belukar. Tunggangan energi mereka, yang biasanya bergerak dengan tenang dan pasti, kini tampak gelisah, mendengus pelan dan menghentakkan kaki sesekali, seolah enggan melangkah lebih jauh.

"Tenanglah," ucap Anya lembut, mengusap leher tunggangan di sebelahnya, menyalurkan rasa damai dan ketenangan lewat aliran es yang lembut. "Kita aman. Kita tidak berniat buruk pada tempat ini."

Namun, keanehan tidak berhenti hanya pada suara dan kabut.

Saat mereka melewati sebuah celah lebar di antara dua pohon raksasa, Ren tiba-tiba menegakkan badan. Ia melihat sesuatu di sela-sela kabut putih itu. Sesuatu yang berkilau samar, bergerak perlahan di ketinggian dada orang dewasa, mengikuti irama langkah kereta mereka.

"Berhenti sebentar," perintah Ren pelan.

Kai segera mengerem kereta hingga berhenti total. Suara roda yang berputar dan langkah kaki tunggangan yang berhenti membuat suasana menjadi sangat hening, hanya tersisa suara bisikan halus yang semakin jelas terdengar.

Ren turun dari kereta, melangkah perlahan mendekati gumpalan kabut yang berkilau itu. Saat ia mendekat, gumpalan itu tidak lari atau hilang. Justru ia perlahan mengambil wujud. Wujud manusia kecil, transparan, berwarna putih kebiruan, memancarkan cahaya lembut. Sosok itu tampak seperti anak kecil, rambutnya panjang, matanya besar namun kosong, dan mulutnya bergerak-gerak seolah sedang berbicara tapi tidak ada suara yang keluar selain gumaman samar.

"Apa itu?" bisik Kai yang sudah ikut turun, berdiri di samping Ren sambil mengamati makhluk itu dengan penuh minat lewat kacamatanya. "Hantu? Roh? Atau makhluk alam yang belum kita kenal?"

Anya juga turun, merasakan energi makhluk kecil itu. "Tenaganya sangat lemah, sangat halus... tapi jumlahnya banyak sekali. Lihat ke sana... dan sana..."

Mereka menoleh ke sekeliling. Di balik setiap pohon, di setiap celah semak, di setiap gumpalan kabut... kini terlihat ratusan, bahkan ribuan sosok transparan serupa. Ada yang berwujud anak-anak, ada yang dewasa, ada yang tampak seperti prajurit, ada yang seperti petani. Mereka semua melayang perlahan di antara pepohonan, bergerak tanpa tujuan tertentu, mulut mereka terus bergerak mengeluarkan bisikan-bisikan itu.

"Ini bukan roh orang mati," kata Ren yakin, perlahan mengulurkan tangannya ke arah sosok anak kecil di depannya. Sosok itu tidak takut, ia justru melayang mendekat, menyentuh telapak tangan Ren. Saat kulit Ren bersentuhan dengan wujud transparan itu, sekejap saja kepalanya dipenuhi gambar-gambar samar. Gambar tentang hutan yang indah dan subur, gambar tentang langit yang cerah, gambar tentang ketakutan saat tanah berguncang hebat ribuan tahun lalu, dan gambar tentang rasa sedih yang mendalam, rasa terperangkap dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

Ren menarik tangannya kembali perlahan, wajahnya penuh rasa iba.

"Mereka adalah ingatan tempat ini," jelas Ren pelan, menatap ribuan sosok di sekeliling mereka. "Saat perang besar terjadi, ledakan energi yang dahsyat tidak hanya menghancurkan fisik, tapi juga membakar ingatan dan jiwa makhluk hidup yang ada di sini. Sebagian jiwa mereka tidak hancur, tapi menyatu dengan alam, terperangkap dalam sisa energi yang melimpah di hutan ini. Mereka tidak sadar, mereka hanya mengulang-ulang apa yang mereka rasakan ribuan tahun lalu. Mereka... kesepian."

Anya mengeratkan jubahnya di dada, matanya sedikit berkaca-kaca. "Jadi suara bisikan itu... adalah ribuan jiwa yang kesepian, terus berbicara meski tidak ada yang mendengarkan selama ribuan tahun?"

Ren mengangguk pelan. Ia menatap sekeliling, merasakan beban berat yang tertanam di tempat ini. Gangguan keseimbangan yang diceritakan Elara... ternyata mulai dari sini. Energi alam yang kacau membuat sisa-sisa ingatan ini semakin gelisah, semakin berisik, semakin tidak tenang. Dan kalau dibiarkan, kegelisahan ini akan menyebar, mengganggu aliran energi lebih jauh lagi menuju ke jantung benua.

"Kita tidak bisa melewati mereka begitu saja," kata Ren tegas. Ia menatap kedua sahabatnya. "Mereka terjebak karena ketidakseimbangan energi di sini. Selama mereka tidak tenang, jalan ke depan akan semakin sulit, dan gangguan ini akan makin parah. Kita harus menenangkan mereka."

Kai menggaruk kepalanya, sedikit bingung tapi paham. "Oke... tapi caranya bagaimana? Kita tidak punya alat untuk berkomunikasi dengan roh purba begini."

"Kita tidak butuh kata-kata, Kai," jawab Anya lembut. Ia mulai mengerahkan kekuatannya, namun bukan kekuatan dingin yang tajam atau membekukan. Kali ini, ia menyalurkan kelembutan, ketenangan, dan rasa damai yang mendalam lewat aliran energinya. Uap dingin yang biasanya tajam kini berubah menjadi kabut halus yang hangat dan menenangkan, menyebar perlahan ke sekeliling.

"Energi merespons perasaan, kan?" tambah Ren sambil ikut mengerahkan kekuatannya. Cahaya ungu di tubuhnya bersinar lembut, bergetar selaras dengan energi hutan, menyampaikan pesan keseimbangan dan keamanan. "Mereka kesepian, mereka takut, mereka bingung. Kita cukup beri mereka rasa bahwa mereka didengar, rasa aman, rasa bahwa penderitaan mereka sudah selesai."

Ren mengangkat tangannya tinggi-tinggi, cahaya ungu menyebar luas ke seluruh penjuru hutan, menembus kabut. Anya melebarkan tangannya, kabut damai miliknya menyelimuti setiap sosok transparan itu. Bahkan Kai pun ikut serta, mengatur aliran energi di sekitar mereka agar stabil dan teratur, menciptakan suasana yang nyaman dan harmonis.

Perlahan namun pasti, suara bisikan-bisikan itu mulai berubah. Dari gumaman yang bingung dan gelisah, berubah menjadi suara lirih yang tenang, bahkan terdengar seperti nyanyian pelan yang indah. Sosok-sosok transparan itu berhenti bergerak sembarangan. Mereka berbalik menghadap ke arah Ren, Anya, dan Kai, melayang mendekat dengan penuh rasa ingin tahu dan rasa terima kasih yang samar.

Satu per satu dari mereka mulai bersinar lebih terang, lalu perlahan memudar, melebur menjadi cahaya halus dan masuk kembali ke dalam tanah dan pepohonan, kembali menjadi satu dengan alam, bebas dari rasa terperangkap yang panjang itu. Rasa berat dan sedih yang menutupi hutan itu perlahan terangkat. Kabut tebal mulai menipis, menyingkirkan selimut gelap yang telah bertahan ribuan tahun.

Di kejauhan, sinar matahari akhirnya mampu menembus celah daun, jatuh berkas-berkas indah ke lantai hutan yang kini tampak lebih hidup dan cerah.

Ren menghela napas panjang, merasakan kelegaan yang luar biasa memenuhi hatinya. Tugas kecil ini telah selesai. Mereka telah menenangkan ribuan jiwa yang terperangkap, dan memulihkan sedikit bagian dari keseimbangan dunia.

"Lihat ke depan!" seru Kai gembira, menunjuk jalan setapak yang tadinya hilang tertutup kabut, kini terbuka lebar dan terang benderang, membelah hutan menuju keluar. "Jalan sudah bersih! Kabutnya hilang!"

Mereka bertiga kembali naik ke atas kereta. Suasana di hutan itu kini berbeda. Udara lebih segar, lebih ringan, dan penuh dengan kehidupan. Burung-burung mulai berkicau riang, suara angin berhembus lembut membawa pesan damai.

Sebelum melaju pergi, Ren menoleh ke belakang sekali lagi, ke arah sisa-sisa cahaya lembut yang masih melayang perlahan di antara pepohonan.

"Istirahatlah dengan tenang," bisiknya pelan. "Kami akan pastikan dunia ini tetap aman, agar tidak ada lagi yang harus menderita seperti kalian."

Kereta kembali melaju kencang, melintasi jalan yang kini terang benderang. Namun, di hati mereka bertiga, mereka semakin sadar bahwa perjalanan ini jauh lebih dalam dan lebih berat daripada yang mereka bayangkan. Hutan Senyap hanyalah permulaan. Di depan sana, semakin dekat ke Jantung Dunia, gangguan akan semakin besar, misteri akan semakin gelap, dan kekuatan yang akan mereka hadapi akan semakin dahsyat.

Dan jauh di depan sana, di tengah kabut tipis yang belum hilang sepenuhnya, sepasang mata berwarna hijau menyala diam-diam mengamati kepergian mereka. Sosok tinggi kurus berselimut jubah daun bergerak pelan dari balik pohon raksasa, mulutnya menyunggingkan senyum misterius.

"Jadi... inilah para Pengembara Keseimbangan..." bisik suara itu berdesir seperti daun kering yang bergesekan. "Kalian sudah bangun tidur panjang hutan ini. Sekarang... mari kita lihat, apakah kalian cukup kuat untuk menghadapi rahasia terbesar yang disimpan Jantung Dunia..."

Sosok itu menghilang kembali ke dalam bayangan pepohonan, menyusul jejak mereka dalam diam.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!