Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Gue tahu apa yang loe pikirin. Berhenti masang muka kayak kucing kehujanan gitu, makin jelek."
Teng!
Suara kunci pas yang dihantamkan ke atas meja kerja besi bergema di seantero bengkel tua itu. Bau oli, bensin, dan karat menyengat indra penciumanku, memberikan sensasi nyata yang jauh lebih baik daripada aroma kebohongan di rumah Maheswari. Bara berdiri di sana, menyeka tangannya yang belepotan oli hitam dengan kain kusam, tanpa sedikit pun menoleh ke arahku yang sedang duduk meringkuk di atas ban mobil bekas.
"Semua orang bilang aku gila, Bara," bisikku, suaraku parau. "Mama, Papa, bahkan Alvaro... mereka bilang aku punya kelainan mental yang bikin aku terobsesi jadi Airin. Kalau dunia aja nggak percaya sama aku, kenapa loe bisa seyakin itu kalau Airin yang jahat?"
Bara menghentikan kegiatannya. Ia melempar kain kusam itu ke sembarang arah, lalu melangkah mendekat. Di bawah sinar lampu bohlam yang berkedip-kedip, wajahnya yang tegas tampak semakin intimidasi. Ia berjongkok di depanku, membuat pandangan kami sejajar. Mata liarnya menatapku tajam, seolah sedang membedah setiap inci kejujuran di dalam jiwaku.
"Bapak gue selalu bilang, jangan pernah percaya sama air mata cewek, tapi percaya sama bekas luka di tangannya."
Bara meraih pergelangan tanganku dengan kasar namun hati-hati. Ia membalik telapak tanganku, memperlihatkan kapalan tipis di ujung jari dan bekas luka tusukan jarum yang masih baru—hasil dari kerja paksa menjahit gaun untuk Airin setiap malam.
"Air mata itu gratis, Aira. Siapa pun bisa akting nangis kalau tujuannya dapet simpati. Tapi luka? Luka nggak pernah bohong soal siapa yang kerja keras dan siapa yang cuma jadi parasit," desis Bara. Ia melepaskan tanganku, lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah laci besi tua yang berkarat di sudut bengkel.
Ia menarik sebuah map cokelat yang tampak lusuh, lalu melemparkannya ke pangkuanku.
"Apa ini?" tanyaku bingung.
"Laporan medis loe selama sepuluh tahun terakhir, data nilai sekolah loe dari SD, sampai catatan kunjungan psikolog yang diklaim nyokap loe itu." Bara menyalakan sebatang rokok, asapnya mengepul tipis di antara kami. "Gue penyelidik yang baik, Ra. Gue nggak bakal naruh nyawa gue buat bela orang yang emang beneran gila."
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada salinan dokumen yang seharusnya sangat rahasia.
"Catatan psikolog ini... kosong?" aku terbelalak melihat lembaran demi lembaran yang menyatakan bahwa Aira Maheswari tidak pernah menghadiri sesi terapi apa pun, bertolak belakang dengan klaim Mama bahwa aku rutin berobat karena gangguan identitas.
"Kosong, karena loe emang nggak pernah dibawa ke sana. Nyokap loe cuma bayar orang buat bikin surat keterangan palsu biar kalau ada apa-apa, loe punya label 'gila' di dahi loe. Dan soal data sekolah? Nilai loe selalu lebih tinggi dari Airin sebelum akhirnya loe dipaksa buat ngalah dan ngasih jawaban loe ke dia," Bara menjelaskan dengan nada datar, namun setiap kalimatnya terasa seperti bom yang menghancurkan dinding kebohongan yang selama ini menghimpitku.
Aku menutup map itu, dadaku sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Selama ini aku berteriak sampai serak, tapi tidak ada yang mendengar. Lalu datanglah cowok berandalan ini, yang diam-diam telah mengumpulkan serpihan kebenaranku di saat aku sendiri sudah hampir menyerah.
"Kenapa loe mau repot-repot ngelakuin ini buat aku?" tanyaku pelan, menatap punggung tegapnya yang dibalut jaket kulit hitam yang legendaris itu.
Bara tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah luar bengkel, ke arah jalanan yang gelap dan basah oleh sisa hujan. "Gue nggak suka liat orang pinter dikalahin sama orang licik. Itu aja."
Hening sejenak. Aku teringat sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak malam di rumah sakit itu. "Bara..."
"Hm?"
"Waktu itu... waktu ibu loe sekarat dan loe sendirian cari biaya pengobatan di depan RS... di mana ayah loe? Kenapa dia nggak ada di samping kalian?"
Pertanyaanku seolah membekukan udara di dalam bengkel. Punggung Bara menegang. Tangannya yang sedang memegang rokok berhenti di udara. Perlahan, ia memutar tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi liar, kini berubah menjadi gelap pekat—seperti sumur tanpa dasar yang menyimpan dendam ribuan tahun.
Ia tidak langsung bicara. Ia justru menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang asapnya dengan kasar.
"Ayah gue?" Bara tertawa hambar, sebuah suara yang lebih mirip geraman serigala yang terluka. "Dia sibuk ngebangun istananya di atas tangisan nyokap gue. Dia orang hebat, Aira. Terlalu hebat sampai nggak punya tempat buat anak berandalan kayak gue."
"Maksudnya?"
Bara melangkah mendekat, auranya mendadak menjadi sangat dingin hingga aku menggigil tanpa sadar. Ia meletakkan tangannya di atas kepalaku, mengacak rambutku dengan cara yang kasar namun entah kenapa terasa melindungi.
"Ada hutang yang harus dia bayar ke gue dan nyokap. Hutang yang nggak bisa lunas pake duit," bisik Bara, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. "Nanti loe bakal tahu siapa dia. Tapi bukan sekarang."
"Apa dia orang yang aku kenal?" tanyaku lagi, instingku mengatakan ada sesuatu yang sangat besar di balik identitas ayah Bara.
Bara menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang membuatku menyadari bahwa cowok di depanku ini jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat di sekolah. "Mungkin. Atau mungkin dia adalah orang yang selama ini loe puja sebagai pahlawan."
Aku tertegun. Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan misteri baru yang membuat kepalaku berdenyut. Siapa ayah Bara? Dan apa hubungannya dengan semua drama ini?
"Udah malem. Ayo pulang, sebelum nyokap tiri loe itu nyari alasan lagi buat ngunci loe di gudang," ajak Bara, ia menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja.
"Bara, tunggu," aku menahan lengannya. "Terima kasih. Buat semuanya. Terutama karena sudah percaya sama bekas luka di tanganku, bukan air mata di mataku."
Bara menatapku lama, lalu ia membuang muka, mencoba menyembunyikan sedikit kilatan lembut di matanya yang keras. "Jangan banyak omong. Naik ke motor atau gue tinggal."
Aku tersenyum tipis—senyum tulus pertama setelah sekian lama. Aku berjalan mengekor di belakangnya, menatap punggung lebar yang seolah sanggup memikul beban dunia itu. Di balik jaket kulit hitamnya, aku tahu ada hati yang jauh lebih hancur dari miliku, namun ia tetap memilih untuk menjadi perisai bagiku.
Malam itu, di antara deru mesin motor dan angin yang menusuk, aku menyadari satu hal. Kebenaran mungkin sedang tertidur, tapi Bara Galaksi adalah alarm yang siap membangunkannya dengan cara yang paling brutal. Dan aku, tidak sabar untuk melihat dunia Airin hancur berkeping-keping di bawah kaki cowok ini.