NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelandangan di Atas Tanah Penyesalan

Bau asap knalpot dan debu jalanan Jakarta terasa begitu mencekik tenggorokan Rendra Wijaya. Siang tadi, ia keluar dari pintu gerbang penjara dan mengenakan kemeja flanel baru yang mahal dengan kepala yang tertelak angkuh. Namun malam ini, kemeja jutaan rupiah itu sudah lecek, kotor karena bekas noda kuah steak, dan basah oleh keringatnya sendiri.

​Di atas pelataran ruko kosong yang gelap di pinggir jalan raya koridor Manggarai, Rendra duduk bersimpuh. Di pangkuannya, Ibu Ratna terbaring lemah dengan napas yang putus-putus.

Wajah wanita tua itu sangat pucat, bibirnya kering, dan matanya terpejam rapat. Sejak pingsan di restoran Italia mall mewah tadi, kesadaran Ibu Ratna belum pulih sepenuhnya. Setiap kali terbangun, beliau hanya bisa menangis histeris memanggil nama Tyas, sebelum akhirnya lemas kembali.

​"Bu... Ibu bangun, Bu... Jangan bikin Rendra takut," bisik Rendra dengan suara yang serak dan bergetar. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas pipi keriput ibunya.

​Rendra meraba kantong celananya untuk kesekian kali, berharap ada mukjizat tersisa. Namun nihil. Ponsel tidak punya, dan dompetnya kosong melompong. Jangankan untuk membawa ibunya ke klinik terdekat, untuk membeli sebotol air mineral di minimarket saja Rendra tidak memiliki uang sepeser pun. Semua aset dan rekening Tyas telah dibekukan total oleh pihak kejaksaan atas perintah Nyonya Diana Baskoro. Keluarga Wijaya yang beberapa jam lalu merasa kembali menjadi konglomerat, kini mendadak jatuh miskin menjadi gelandangan dalam waktu semalam.

​Pikiran Rendra melayang kembali ke kejadian dua jam yang lalu, saat ia terpaksa menggendong ibunya keluar dari mal dengan tatapan menghina dari pihak sekuriti dan bisikan tajam dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Karena tidak punya ongkos, Rendra terpaksa berjalan kaki sejauh tiga kilometer sembari memapah ibunya menuju rumah kosan mewah yang baru disewa Tyas di kawasan Tebet.

​Rendra mengira, rumah kosan itu bisa menjadi tempat perlindungan terakhir bagi mereka untuk bersembunyi dari badai. Namun, kenyataan yang menyambutnya di sana jauh lebih kejam dari perkiraan.

​Flashback, Dua Jam yang Lalu...

​Dengan napas yang terengah-engah dan kaki yang melepuh karena berjalan jauh, Rendra akhirnya sampai di depan pagar rumah kosan berlantai dua tersebut. Namun, langkah kakinya langsung terhenti ketika melihat kerumunan warga kompleks dan beberapa ibu-ibu panti sosial sudah berdiri menyemut di depan pagar.

​Di atas pintu pagar besi, sebuah spanduk besar dari kain putih telah terpasang dengan tulisan cat semprot merah yang sangat mencolok: "RUMAH PELAKOR DAN PENIPU KORPORASI. WARGA TIDAK SUDI MENAMPUNG SAMPAH MASYARAKAT!"

​Rendra membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang karena rasa malu yang luar biasa. Kasus penangkapan Tyas di mal mewah rupanya sudah menjadi video viral nomor satu di TikTok dan grup WhatsApp warga setempat hanya dalam hitungan jam.

​"Eh, itu kakaknya si pelakor datang! Narapidana yang baru bebas itu!" teriak salah seorang warga menunjuk ke arah Rendra.

​Dalam sekejap, puluhan pasang mata langsung menatap Rendra dengan pandangan penuh amarah dan kejijikan.

​"Pergi kalian dari kompleks ini! Kami tidak mau lingkungan kami kotor karena ditempati oleh keluarga penipu yang memakan uang yayasan kanker anak!" sahut seorang pria paruh baya yang merupakan ketua RT setempat.

​Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal—pemilik kosan—melangkah maju membelah kerumunan warga. Di tangannya, ia memegang dua buah kantong plastik sampah berukuran besar, lalu melemparkannya dengan kasar ke depan kaki Rendra.

​Plorokk!

​Kantong plastik itu robek, memperlihatkan beberapa pakaian lama Tyas dan Ibu Ratna yang berserakan di atas tanah berdebu.

​"Ini barang-barang busuk kalian! Ambil dan angkat kaki dari rumah kos saya sekarang juga!" bentak pemilik kos dengan berkacak pinggang.

"Uang sewa yang diberikan adikmu itu ternyata uang gelap hasil korupsi! Saya sudah batalkan kontraknya secara sepihak! Sisa uangnya sudah disita oleh polisi yang datang ke sini tadi!"

​Rendra menjatuhkan lututnya di atas aspal, bersujud di depan pemilik kos dengan air mata yang mengalir deras di hadapan ratusan warga yang menonton dan merekamnya dengan kamera ponsel. "Saya mohon, Bu... Kasihanilah ibu saya. Ibu saya sedang sakit pingsan... Izinkan kami menumpang satu malam saja di dalam, setelah itu kami akan pergi... Saya mohon..."

​"Tidak ada belas kasihan untuk keluarga pemeras seperti kalian!" teriak seorang warga dari belakang, disusul lemparan sebutir telur busuk yang tepat mengenai punggung kemeja flanel mahal Rendra. Prakk! Bau busuk yang menyengat langsung merebak, mengotori pakaian baru yang dibelikan Tyas dengan penuh keangkuhan tadi siang.

​Warga beramai-ramai menyoraki dan mengusir mereka dengan sapu lidi, memaksa Rendra yang menangis histeris terpaksa kembali menggendong ibunya yang pingsan menjauh dari kompleks tersebut di tengah hujan makian yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya sebagai seorang pria.

​Flashback End...

​Kembali ke pelataran ruko kosong yang dingin.

​Rendra memeluk erat tubuh ibunya yang mulai menggigil terkena angin malam Jakarta. Bau telur busuk yang mengering di punggungnya seolah menjadi simbol dari status sosialnya yang kini telah berubah menjadi sampah yang paling rendah.

​Di tengah kesunyian malam dan kegelapan ruko, penyesalan yang sangat besar, sangat tajam, dan bener-bener berdarah mulai merayap masuk ke dalam dada Rendra. Rasa sakitnya begitu menghujam hingga membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas.

​Ia teringat kata-kata maut Rania di restoran tadi siang: "Apakah masa lalu ketika kamu dan ibumu mengusirku dari rumah saat aku keguguran? Atau masa lalu ketika adikmu ini tertawa bersama kalian, melarangmu mengantarkan aku dan Abid ke rumah sakit saat Abid sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati?"

​Rendra memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, merutuki kebodohan dan kebiadaban dirinya di masa lalu. Air matanya mengalir semakin deras, bercampur dengan debu ruko yang kotor.

"​Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan dulu?" ratap Rendra dalam hati dengan penyesalan yang bener-bener berdarah-darah.

​Dulu, saat hidupnya masih bergelimang harta sebagai CEO Wijaya Corp, ia memiliki Rania—seorang istri yang begitu tulus, mandiri, penyabar, dan selalu ada untuk mendukungnya dari titik nol. Namun, karena hasutan ibunya yang serakah dan ego Tyas yang tinggi, Rendra dengan tega menngkhianati Rania, mengusirnya tanpa sepeser uang sepeser pun, bahkan membiarkan darah dagingnya sendiri, Abid, sekarat di rumah sakit tanpa memedulikannya.

​Kini, roda kehidupan telah berputar dengan cara yang sangat kejam.

​Rania telah menjelma menjadi wanita yang luar biasa sukses, kaya raya, berwibawa, dan dicintai oleh pria sehebat Elang Danuarta. Sementara dirinya? Rendra kini harus merasakan posisi yang dulu ia paksakan kepada Rania: menjadi tunawisma di pinggir jalan, tidak punya uang untuk berobat, dihina, diludahi, dan diusir oleh masyarakat se-Indonesia.

​"Nia... Maafkan Mas, Nia... Mas menyesal... Mas bener-bener menyesal..." Rendra meraung pelan dalam kegelapan malam, menyembunyikan wajahnya di atas lututnya yang gemetar.

​Namun Rendra tahu, penyesalannya kali ini sudah terlambat. Kebebasan palsu yang diberikan Rania kepadanya bener-bener sebuah siksaan psikologis yang jauh lebih biadab daripada dinginnya sel penjara. Rania tidak menghancurkan fisiknya, melainkan menghancurkan jiwanya dengan cara memaksanya menyaksikan kehancuran seluruh keluarganya tanpa bisa berbuat apa-apa.

​Malam semakin larut, dan di bawah temaram lampu jalanan Jakarta, sang mantan suami hanya bisa meratapi nasibnya yang hancur lebur, bersiap menghadapi hari esok yang dipenuhi oleh penderitaan yang tak akan pernah berakhir.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!