NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Setapak Menuju Kegelapan

Deru mesin mobil SUV hitam itu membelah jalanan aspal yang semakin lama semakin menyempit. Di kanan dan kiri jalan, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, menyaring cahaya matahari sore yang mulai meredup menjadi semburat jingga kemerahan. Di dalam mobil, lagu bergenre indie rock berputar dengan volume sedang, berusaha mencairkan keheningan yang perlahan merayap seiring semakin jauhnya mereka dari perbatasan kota.

Di kursi kemudi, Jovanka sesekali mengetukkan jarinya ke setir searah dengan ritme lagu. Penampilannya sore itu tetap seperti biasa kaus hitam polos yang dibalut jaket kulit hitam kesayangannya. Sebuah kalung tali hitam dengan bandulan berbentuk taring hewan menjuntai di dadanya, bergoyang setiap kali mobil melewati jalanan yang tidak rata. Di sebelah kirinya, Sasti kekasihnya sedang bersandar lelah pada kaca jendela, menatap deretan pohon yang tampak seperti bayangan hitam yang berlari.

Meskipun dari luar Jovanka terlihat seperti tipikal cowok playboy badung yang hobi tebar pesona di kampus, tatapan matanya setiap kali melirik Sasti selalu penuh dengan kehangatan. Tangan kirinya sesekali melepas setir hanya untuk mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

"Masih jauh ya, Van?" tanya Sasti dengan suara agak serak, khas orang yang baru bangun tidur.

"Bentar lagi, Sayang. Habis melewati bukit ini, harusnya kita sudah sampai di villa," jawab Jovanka lembut, bertolak belakang dengan tampangnya yang sangar.

Sementara itu, di kursi baris kedua, Deandra tampak sibuk merapikan letak kacamata bacanya yang sedikit merosot. Deandra, begitu sahabat-sahabatnya memanggilnya, adalah personil geng yang paling tenang dan terlihat paling terpelajar. Sore itu ia mengenakan jaket baseball warna navy dengan bagian lengan berwarna cream yang menjadi ciri khasnya. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Susan, kekasihnya, yang sejak tadi tampak cemas melihat navigasi di ponselnya yang terus-menerus kehilangan sinyal.

Dan di kursi paling belakang, duduklah Zenix.

Sebagai ketua geng mereka di kampus, Zenix memiliki aura yang sulit diabaikan. Rambutnya yang berwarna cokelat keperakan paling mencolok di antara mereka bertiga tampak sedikit acak-acakan namun justru menambah kesan tampan yang dingin. Ia bersandar malas, mengenakan jaket denim hitam dengan kerah yang sedikit ditegakkan. Di jari tengahnya, sebuah cincin perak berkilau samar terkena sisa cahaya matahari, serasi dengan kalung rantai tipis dan anting hitam minimalis yang terpasang di telinga kirinya.

Zenix adalah definisi nyata dari cowok yang dikejar-kejar seisi kampus, namun memilih untuk mengabaikan mereka semua. Di saat Jovanka dan Deandra sibuk dengan pasangan masing-masing dalam liburan semester ini, Zenix tetap santai menikmati status jomblonya. Baginya, ketenangan adalah segalanya.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

CRAAAASSH!

Jovanka menginjak rem secara mendadak hingga ban mobil berdecit keras di atas jalan berbatu. Sasti dan Susan terpekik kaget, sementara Zenix yang berada di belakang langsung menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah depan melalui celah di antara kursi depan.

Sebuah batang pohon besar tumbang, melintang tepat di tengah jalan, menutup seluruh akses mobil mereka.

"Sial, ada pohon tumbang," umpat Jovanka sambil mematikan mesin.

"Tunggu, Van. Rasanya aneh. Potongan di pangkal pohon itu terlalu rapi untuk ukuran pohon yang tumbang karena angin," ujar Deandra dengan nada analisisnya yang tenang namun tersirat kewaspadaan. Ia menunjuk ke arah pangkal pohon melalui kaca depan.

Belum sempat Jovanka merespons, dari balik rimbunnya semak-semak di pinggir jalan, bermunculan lima orang pria bertubuh kekar. Wajah mereka ditutupi oleh kain penutup setengah wajah, dan di tangan mereka masing-masing menggenggam senjata tajam mulai dari golok besar hingga pipa besi.

"Rampok," desis Zenix dingin. Bukannya takut, seringai tipis justru muncul di sudut bibirnya. Ia memutar cincin peraknya, bersiap untuk konfrontasi.

"Kalian berdua tetap di dalam mobil dan kunci semua pintu!" perintah Jovanka tegas kepada Sasti dan Susan. Wajah playboy santainya instan berubah menjadi beringas.

Zenix, Jovanka, dan Deandra serentak membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Udara sore yang dingin langsung menyergap mereka, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang berbau busuk yang samar, namun mereka terlalu fokus pada ancaman di depan mata untuk menyadarinya.

"Serahkan semua uang, dompet, dan kunci mobil kalian kalau masih mau selamat!" bentak salah satu bandit yang berbadan paling besar, tampaknya sang pemimpin.

Dylan maju satu langkah ke depan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denim hitamnya dengan santai. "Bagaimana kalau jawabannya tidak?"

Tanpa aba-aba lagi, pertempuran pecah.

Pemimpin bandit itu mengayunkan pipa besinya ke arah kepala Zenix. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Zenix merunduk, membiarkan angin dari ayunan besi itu berdesing di atas rambut cokelat-perakannya. Di detik yang sama, Zenix melayangkan pukulan lurus ke arah rahang bandit tersebut hingga terdengar bunyi klek yang memuaskan. Bandit itu terhuyung mundur.

Di sisi lain, Jovanka bergerak layaknya binatang buas. Ia menghindari tebasan golok dari bandit kedua, menangkap pergelangan tangan lawan, lalu membenturkan lututnya ke perut sang bandit dengan keras. Jaket kulit hitamnya berbunyi bergesekan setiap kali ia melancarkan serangan.

Deandra, meskipun terlihat paling kalem, memiliki dasar beladiri yang solid. Memanfaatkan jaket baseball nya yang longgar untuk menyamarkan gerakan, ia berhasil menangkis serangan pipa besi dari bandit ketiga menggunakan lengan bawahnya yang dilapisi kain tebal, lalu membalas dengan tendangan memutar yang telak mengenai dada lawan.

Di dalam mobil, Sasti dan Susan menyaksikan perkelahian itu dengan mata membelalak dan air mata yang mulai menetes. Rasa takut menguasai mereka saat melihat jumlah bandit ternyata tidak hanya lima. Tiga orang lagi muncul dari kegelapan hutan, membawa balok kayu besar.

"Van! Di Belakangmu!" teriak Sasti histeris dari dalam mobil, suaranya teredam kaca.

Jovanka yang sedang mengunci gerakan satu bandit tidak sempat menghindar. Sebuah balok kayu mendarat keras di punggungnya. Brakk! Jovanka tersungkur ke tanah, meringis kesakitan.

"Jovan!" Deandra berteriak, mencoba mendekat, namun ia langsung dikepung oleh tiga bandit sekaligus. Pukulan dan tendangan mulai mengenai tubuh Yuan hingga jaket navy nya dipenuhi noda tanah. Ia terjatuh, terengah-engah dengan sudut bibir yang berdarah.

Zenix bertarung sendirian melawan empat orang. Gerakannya mulai melambat karena kelelahan. Salah satu bandit berhasil menebas lengan jaket denim hitamnya, meninggalkan luka sayat yang cukup dalam. Zenix mendesis menahan perih, memegangi lengannya yang mulai mengucurkan darah segar.

Mereka kalah jumlah, dan mereka kalah senjata.

"Seret cewek-cewek itu keluar dari mobil!" perintah si pemimpin bandit sambil menyeka darah di hidungnya akibat pukulan Dylan tadi.

"Jangan sentuh mereka, bajingan!" teriak Jovanka, mencoba bangkit berdiri meski tubuhnya gemetar menahan sakit.

Di dalam mobil, Sasti dan Susan sudah menangis sejadi-jadinya, saling berpelukan erat saat para bandit mulai memukul-mukul kaca mobil hingga retak. Ketakutan luar biasa membuat dada mereka sesak, memicu rasa lelah yang luar biasa secara psikologis.

Tepat ketika kaca mobil di bagian Susan hancur berantakan, sebuah fenomena aneh terjadi.

Udara di sekitar tempat itu mendadak turun drastis hingga menjadi sangat dingin, membuat napas semua orang memandangkan uap putih. Suara serangga malam yang tadinya riuh tiba-tiba senyap seketika. Kesunyian yang mutlak dan mencekam mendominasi atmosfer.

Dari kegelapan kabut yang entah datang dari mana, muncul sebuah siluet tinggi. Langkah kakinya sama sekali tidak bersuara di atas daun-daun kering. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh tudung jubah hitam legam yang seolah menyerap cahaya di sekitarnya.

"Siapa kau?!" bentak pemimpin bandit, mengacungkan goloknya dengan tangan yang tiba-tiba bergetar. Insting hewannya mencium bahaya yang bukan berasal dari dunia manusia.

Sosok misterius itu tidak menjawab. Ia bergerak. Kecepatannya melampaui batas kewajaran manusia. Dalam satu kedipan mata, sosok itu sudah berada di depan pemimpin bandit. Tanpa menyentuh weapon apa pun, ia hanya mengibaskan tangannya. Pria berbadan besar itu langsung terpental sejauh lima meter, menabrak pohon pinus hingga pingsan seketika dengan posisi tubuh yang tidak wajar.

Bandit-bandit lainnya berteriak ketakutan. Mereka mencoba menyerang, namun sosok berjubah itu berpindah tempat seperti bayangan yang berkedip. Satu per satu bandit bertumbangan dalam hitungan detik, menjerit kesakitan sebelum akhirnya hening.

Zenix, yang masih setengah sadar sambil memegangi lengannya yang terluka, menatap sosok itu dengan pandangan kabur. Anting hitam di telinganya terasa sedingin es. "Si... siapa..." gumam Zenix sebelum pandangannya perlahan menggelap.

Di dalam mobil, saking hebatnya guncangan emosional, rasa takut, dan kelelahan yang luar biasa, kesadaran Sasti dan Susan perlahan menguap. Air mata masih menggenang di pipi mereka saat kelopak mata mereka terasa sangat berat, seolah-olah ada kekuatan gaib yang memaksa mereka untuk tertidur. Dan akhirnya, kegelapan merenggut kesadaran mereka berdua.

.

.

.

🍂🍁🍂🍁

Entah berapa jam telah berlalu.

Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang belulang memaksa Zenix untuk membuka matanya. Rasa pening yang hebat mendera kepalanya, membuat matanya sulit untuk fokus. Hal pertama yang ia rasakan adalah permukaan tanah yang basah dan aroma busuk yang sangat menyengat seperti bau daging busuk yang bercampur dengan kemenyan.

Zenix bangkit berdiri dengan bersusah payah. Ia memeriksa lengan kirinya. Aneh. Jaket denim hitamnya masih robek, namun luka sayatan dalam yang didapatnya dari bandit tadi telah hilang tanpa bekas, hanya menyisakan darah kering.

"Jovan... Dean..." suara Zenix serak, nyaris tenggelam dalam kesunyian tempat itu.

Di dekatnya, Jovanka mulai melenguh, memegangi kepalanya yang terasa berputar. Di sebelahnya, Sasti terbangun sambil menangis lirih, memeluk jaket kulit hitam milik Nan yang terasa sangat dingin. Tidak jauh dari sana, Deandra juga terbangun, langsung memeluk Susan yang gemetar hebat karena ketakutan.

Mereka berlima berhasil mengumpulkan kesadaran, namun apa yang mereka lihat selanjutnya membuat darah mereka terasa berhenti mengalir.

Mereka tidak lagi berada di jalanan aspal tempat mobil mereka dihadang. Mobil SUV mereka telah lenyap.

Mereka berlima kini tergeletak di tengah-tengah sebuah area melingkar yang dikelilingi oleh pepohonan raksasa yang batangnya meliuk-liuk seperti cakar monster yang meraba langit. Daun-daunnya berwarna hitam keunguan, dan kabut tebal berwarna kelabu pekat mengambang setinggi dada, menyembunyikan apa pun yang ada di permukaan tanah.

Suasana tempat itu sangat asing. Tidak ada suara angin, tidak ada suara hewan. Hanya ada keheningan yang menulikan dan menakutkan. Di batang-batang pohon besar itu, tergantung beberapa kain kafan lusuh yang sudah kecokelatan, bergoyang perlahan meski tidak ada angin yang berembus.

"Ini... ini di mana?" bisik Susan dengan suara bergetar hebat, air matanya kembali mengalir menetes ke lengan jaket baseball milik Deandra.

Deandra memandang sekeliling dengan wajah pucat pasi. Logika akademisnya mendadak lumpuh. "Aku tidak tahu... Peta navigasi kita tidak menunjukkan ada wilayah seperti ini di dekat villa."

Jovanka berdiri, memasang badan di depan Sasti yang masih syok. Tangan Jovanka meraba dadanya, memastikan kalung taring hewannya masih ada di sana. Benda itu terasa menghangat, seolah memberikan peringatan dini akan bahaya besar.

Zenix berjalan beberapa langkah ke depan, menembus kabut tebal yang dingin. Sepatu botnya menginjak sesuatu yang berbunyi krek. Ketika ia menunduk dan menyibak kabut dengan kakinya, ia melihat sebuah papan kayu tua yang tertancap miring di tanah.

Tulisan di papan itu dibuat dengan guratan kasar berwarna merah hati yang sudah mengering, terbaca dengan jelas.

"SELAMAT DATANG DI HUTAN SANGKER. YANG MASUK JANGAN BERHARAP KEMBALI."

Seketika itu juga, dari kedalaman kabut di depan mereka, terdengar suara tawa melengking seorang wanita yang menggema dari segala arah, memutus keheningan malam yang mencekam.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!