Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan yang nyata
"Sah!"
Suara dua orang saksi terdengar hampir bersamaan sesaat setelah Keenan selesai mengucapkan kabul dengan satu tarikan nafas.
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur langsung bergema di dalam masjid. Beberapa orang yang turut menyaksikan akad itu tersenyum lega, sementara yang lain menganggukkan kepala penuh haru.
Penghulu menoleh kepada Keenan dan Kinanti.
"Dengan demikian, Saudara Keenan dan Saudari Kinanti telah sah sebagai suami istri."
Keenan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Di sampingnya, Kinanti menundukkan kepala. Jantungnya masih berdebar kencang.
Setelah doa selesai dipanjatkan, para tamu mulai mengerumuni mereka untuk mengucapkan selamat.
"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah."
Di tengah keramaian itu, seorang tetangga Keenan mendekat.
"Anak-anakmu mana? Kok nggak kelihatan?"
Senyum di wajah Keenan sedikit memudar. Ia tahu betul mengapa Yudha, Tiara, dan Daffa tidak datang. Sejak awal, ketiga anaknya menolak pernikahan ini. Mereka tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaan mereka terhadap Kinanti.
Namun, Keenan berusaha tetap tenang.
"Mereka di rumah, Bu."
"Oh, begitu."
Tetangga itu mengangguk lalu kembali tersenyum. Sementara itu, Kinanti hanya terdiam. Entah mengapa, dadanya terasa semakin sesak. Baru beberapa menit menyandang status sebagai istri Keenan, ia sudah diingatkan pada kenyataan bahwa ada tiga hati yang belum siap menerima kehadirannya.
"Assalamualaikum."
Keenan dan Kinanti mengucapkan salam hampir bersamaan saat melangkah masuk ke dalam rumah dua lantai itu.
Tak ada jawaban. Padahal mereka tahu ketiga anak itu mendengar. Buktinya, suara televisi di ruang keluarga mendadak terdengar lebih keras daripada sebelumnya.
Keenan menghembuskan nafas sebelum melangkah mendekat.
"Yudha, Tiara, Daffa," panggilnya dengan sabar.
Ketiga anak itu tetap duduk di depan televisi. Tak satu pun menoleh. Pandangan mereka terpaku pada film laga yang sedang tayang seolah tak menyadari kehadiran ayah dan wanita yang berdiri di samping mereka.
"Yudha, Tiara, Daffa," panggil Keenan sekali lagi. "Mulai hari ini Kinanti akan tinggal bersama kita. Kalian harus menghormatinya. Panggil dia Ibu."
Baru kali ini Daffa menoleh. Bocah enam tahun itu menatap Kinanti dengan sorot mata penuh penolakan. Tangannya yang sejak tadi memegang kulit kacang segera bergerak. Tanpa ragu, ia melemparkannya ke arah Kinanti.
"Kamu bukan ibuku! Aku nggak suka kamu!" teriaknya.
Kinanti tersentak, tetapi ia berusaha mempertahankan senyum di wajahnya.
"Daffa," tegur Keenan. "Nggak boleh begitu. Kamu harus sopan. Ayo, minta maaf."
"Aku nggak mau!" sahut Daffa keras.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, bocah itu meraih gelas di atas meja. Masih ada sisa susu cokelat di dalamnya.
Dengan gerakan cepat, ia menyiramkan isi gelas itu ke arah Kinanti. Cairan cokelat itu membasahi kebaya putih yang dikenakannya. Bercak-bercak kecokelatan segera menyebar di bagian dada hingga perut.
Ruangan seketika hening. Keenan membelalak tak percaya. Sementara Kinanti hanya berdiri mematung beberapa saat. Rasa terkejut jelas terlihat di wajahnya. Namun, alih-alih marah, ia justru menarik napas panjang dan berusaha tetap tenang.
"Kamu ganti baju dulu, ya," ujar Keenan lembut. Di tangannya tergenggam sebuah tas berisi pakaian dan barang-barang pribadi Kinanti.
Sebelum menikah dengannya, perempuan itu tinggal di sebuah rumah kos. Sejak kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, Kinanti terbiasa menjalani hidup seorang diri. Dengan kegigihan dan kecerdasannya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA, lalu bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta.
Hidupnya memang tidak mudah, tetapi ia selalu percaya bahwa setiap kesulitan akan menemukan jalannya.
Kinanti mengangguk pelan, lalu melangkah menuju tangga. Namun, baru beberapa langkah berjalan, sebuah kaki tiba-tiba terjulur ke hadapannya.
Tubuh Kinanti oleng ke depan. Refleks, Keenan segera meraih lengannya dan menariknya ke belakang. Jika terlambat sedetik saja, kepala perempuan itu mungkin sudah menghantam tembok di dekat tangga.
Kinanti memegang dadanya yang berdebar kencang. Wajahnya pucat karena terkejut.
"Jalan itu pakai mata!" seru Yudha tanpa merasa bersalah.
Remaja berusia tujuh belas tahun itu bersandar santai di sofa, seolah tidak terjadi apa-apa. Ucapan Yudha langsung disambut tawa Tiara dan Daffa. Ketiganya tampak puas melihat Kinanti hampir terjatuh.
Rahang Keenan mengeras. Tatapannya beralih kepada putra sulungnya. Sorot matanya tajam, menyimpan amarah yang nyaris meluap. Namun, ia memilih menahannya. Ia tahu, kehilangan Ratih dua bulan lalu masih meninggalkan luka yang begitu dalam bagi ketiga anaknya.
Mereka belum benar-benar menerima kenyataan bahwa ibu mereka telah tiada, apalagi menerima kehadiran wanita lain di rumah ini. Keenan khawatir, kemarahannya hanya akan menambah luka yang belum sempat sembuh.
"Ayo, aku antar ke kamar," ujar Keenan.
Kinanti mengangguk pelan.
Mereka kemudian menaiki tangga menuju lantai dua. Langkah Kinanti terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena ia baru saja merasakan penolakan yang begitu nyata dari ketiga anak sambungnya.
Sesampainya di kamar, Keenan meletakkan tas berisi pakaian Kinanti di dekat lemari.
"Istirahatlah dulu. Jangan terlalu memikirkan sikap anak-anak."
Kinanti tersenyum tipis.
"Aku mengerti, Mas."
Keenan mengangguk, lalu meninggalkan kamar. Setelah pintu tertutup, suasana mendadak sunyi. Pandangan Kinanti berkeliling, mengamati kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah foto berbingkai di atas meja rias.
Di dalam foto itu tampak seorang wanita cantik dengan senyum lembut. Itu potret Ratih, sahabatnya. Perlahan Kinanti meraih bingkai tersebut. Matanya terasa hangat saat menatap wajah sahabat yang telah dianggapnya seperti saudara sendiri.
"Kamu menitipkan Mas Keenan dan anak-anakmu kepadaku," gumamnya lirih.
Jemarinya mengusap permukaan kaca yang melindungi foto itu.
"Insyaallah, aku akan menjaga mereka dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan berusaha menjadi orang yang bisa kamu percaya."
Senyumnya mengembang tipis, meski ada rasa sesak yang menyelinap di dada.
Sementara itu, Keenan telah kembali ke ruang keluarga. Ketiga anaknya masih berada di depan televisi. Namun kali ini, Keenan berdiri tepat di hadapan mereka.
"Yudha," panggilnya tegas. "Kamu anak tertua di rumah ini. Seharusnya kamu memberi contoh yang baik kepada adik-adikmu, bukan mengajari mereka melakukan hal yang salah."
Yudha mendengus pelan.
"Ayah mau kami bersikap baik sama perempuan asing itu? Nggak akan!”
"Betul!" sahut Tiara cepat. "Sampai kapan pun kami nggak akan pernah memanggil dia Ibu. Ibu kami cuma satu, yaitu Ibu Ratih."
Ucapan itu membuat Keenan menghembuskan napas panjang.
Ia sudah menduga penolakan ini akan terjadi. Namun mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.
"Nak, dengarkan Ayah dulu. Ayah menikahi Kinanti karena menjalankan wasiat terakhir almarhumah ibu kalian."
Ketiga anak itu terdiam, meski wajah mereka masih menunjukkan penolakan.
"Ibu kalian mengenal Kinanti dengan sangat baik. Beliau tidak mungkin menitipkan kalian kepada sembarang orang. Ibu kalian percaya bahwa Kinanti bisa menjaga dan menyayangi kalian."
Yudha terkekeh sinis.
"Ayah nggak usah berlindung di balik wasiat segala."
Keenan mengernyit.
"Maksudmu?"
"Bilang saja Ayah nggak mau kesepian. Makanya baru dua bulan Ibu meninggal, Ayah sudah menikah lagi."
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Keenan. Belum sempat ia menanggapi, suara salam terdengar dari arah pintu.
"Assalamualaikum."
Semua kepala menoleh.
"Waalaikumsalam," jawab Keenan.
"Nenek!"
Daffa segera melompat dari sofa dan berlari menghampiri seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Wanita itu adalah Salma, ibu kandung Keenan sekaligus nenek dari Yudha, Tiara, dan Daffa. Wajah Bu Salma tampak datar saat memasuki rumah.
Tatapannya berkeliling sejenak, seolah mencari seseorang. Tak jauh berbeda dengan Yudh, Tiara dan Daffa, ia pun tidak pernah menyetujui pernikahan putranya dengan Kinanti. Karena itulah, ia memilih tidak menghadiri akad nikah yang berlangsung di masjid pagi tadi.
Di mata Bu Salma, Kinanti bukanlah perempuan yang pantas mendampingi Keenan. Selain status sosial mereka yang dianggap tidak sepadan, ia juga meragukan kemampuan Kinanti untuk menggantikan posisi Ratih di hati anak-anaknya.
"Eh, Ibu. Kapan datang?"
Kinanti yang baru saja berganti pakaian segera menghampiri Bu Salma. Dengan sopan, ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun, Bu Salma justru memalingkan wajah dan mengabaikan uluran tangan itu begitu saja.
Senyum di bibir Kinanti sedikit memudar. Meski begitu, ia tetap berusaha menjaga sikapnya.
"Oh ya, Nenek beli sosis bakar dan minuman cokelat buat kalian," ujar Bu Salma sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya.
"Asyik!" seru Daffa girang.
Tiara dan Yudha pun segera mendekat. Wajah ketiganya tampak berbinar menerima jajanan kesukaan mereka.
Kinanti menatap makanan dan minuman itu sejenak, “Maaf, Bu. Bukannya saya lancang, tapi makanan seperti itu kurang baik jika terlalu sering dikonsumsi anak-anak."
Bu Salma sama sekali tidak menggubrisnya. Seolah tak mendengar apa pun, wanita itu justru menyerahkan kantong plastik tersebut kepada ketiga cucunya. Dalam hitungan detik, Daffa sudah menggigit sosis bakarnya dengan lahap, sementara Tiara dan Yudha membuka minuman cokelat mereka.
Keenan menghela nafas panjang.
"Bu, Ibu tahu sendiri, dulu Ratih sangat menjaga makanan anak-anak. Dia hampir tidak pernah membiarkan mereka jajan sembarangan."
"Halah!" Bu Salma mendecak. "Sekali-kali saja. Nggak akan kenapa-kenapa. Lagi pula, lihat mereka. Mereka senang."
Keenan mengusap tengkuknya. Ia tahu ibunya memang sulit diberi pengertian jika sudah membela cucu-cucunya.
"Bu, saya buatkan teh hangat, ya?" tawar Kinanti dengan ramah.
"Tidak perlu!"
Jawaban itu meluncur begitu cepat.
Bu Salma menatap Kinanti dengan sorot mata dingin.
"Nanti kamu campurkan racun ke dalam minumannya."
Kinanti membeku di tempatnya, sementara Keenan langsung menatap ibunya dengan wajah tak percaya.
"Astaghfirullahalazim, Bu. Kenapa Ibu bisa berpikir seperti itu?"
Namun, Bu Salma sama sekali tidak terlihat bersalah. Baginya, Kinanti tetaplah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka.
"Oh ya, kamu juga harus ingat satu hal."
Tatapannya tertuju lurus kepada Kinanti.
"Sampai kapan pun, cucu-cucu Ibu hanya anak-anak yang dilahirkan Ratih!"
"Bu..." Keenan kembali mencoba menyela.
Namun sebelum kata-kata itu selesai terucap, Kinanti lebih dulu menggeleng.
Ia memahami maksud suaminya. Keenan ingin membelanya. Akan tetapi, Kinanti tidak ingin perdebatan terjadi di hari pertama pernikahan mereka. Ia memilih menelan semua ucapan itu sendirian.
Bagaimanapun, ia tidak bisa memaksa Bu Salma maupun ketiga anak sambungnya untuk menerima dirinya dalam sekejap.
Penerimaan bukan sesuatu yang bisa diminta, tapi hal yang harus diperjuangkan.
Kinanti menarik napas panjang, lalu mengembangkan senyum tipis.
Di dalam hatinya, ia meyakini satu hal.
Batu karang yang keras sekalipun dapat terkikis oleh ombak yang terus-menerus menghantamnya. Apalagi hati manusia.
Suatu hari nanti, ketulusan pasti akan menemukan jalannya.
Mahesa hemmmm ada something ini