NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tiga minggu telah berlalu sejak malam yang mengerikan di gang depan rumah Hani, namun atmosfer di paviliun VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta masih terasa sepi dan membeku.

Ruang rawat yang kini kembali ditempati oleh Reza Baskara, dipenuhi oleh bunyi ritmis dari layar monitor jantung yang terpasang.

Pip... Pip... Pip...

Suara monoton itu seolah menjadi satu-satunya pembatas tipis antara kehidupan dan keheningan panjang yang tak berujung.

Reza terbaring tak berdaya. Wajahnya yang biasa memancarkan ekspresi angkuh namun penuh karisma, kini tampak tirus dan pucat.

Berbagai selang medis menempel di tubuhnya, termasuk ventilator yang membantunya bernapas. Racun saraf dosis tinggi yang sempat mengalir di pembuluh darahnya telah melumpuhkan kesadarannya, memaksanya terjebak dalam dunia kegelapan yang dalam.

Hani Adisa Putri duduk di kursi samping tempat tidur, menatap wajah pria itu dengan pandangan yang sarat akan kesedihan dan rasa bersalah.

Selama tiga minggu ini, hidup Hani seolah berputar di tempat yang sama. Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan memberikan kesaksian lengkap kepada pihak kepolisian mengenai kejahatan Hendra Baskara, Hani menghabiskan hampir seluruh waktu luangnya di rumah sakit.

Meskipun Narendra Baskara telah berkali-kali memintanya untuk beristirahat dan tidak perlu memaksakan diri, Hani menolak. Baginya, setiap detik Reza melewatkan hidupnya dalam kondisi koma adalah utang nyawa yang harus ia bayar. Pria ini telah mengorbankan tubuh dan keselamatannya demi melindunginya dari maut.

Hani mengulurkan tangannya yang masih menyisakan bekas luka goresan yang mulai mengering, lalu dengan perlahan menyentuh jemari tangan kanan Reza yang bebas dari jarum infus. Tangan pria itu terasa begitu dingin dan kaku, sangat berbeda dengan genggaman hangat yang sempat ia rasakan di malam penyerangan itu.

"Pak Reza..." bisik Hani, suaranya parau dan bergetar di dalam ruangan yang sunyi.

"Ini sudah minggu ketiga. Mengapa Anda begitu betah memejamkan mata? Bukankah Anda selalu mengomeli saya di kantor jika saya terlambat menyerahkan laporan bahkan hanya beberapa menit? Sekarang, Anda sendiri yang terlambat bangun sangat lama."

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, menetes perlahan membasahi punggung tangan Reza. Hani menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di atas hamparan selimut di samping tubuh Reza.

"Nama baik ayah saya sudah dibersihkan, Pak," lanjut Hani dengan isak tangis yang mulai terdengar.

"Pak Narendra sudah mengumumkan kebenaran itu di depan seluruh jajaran direksi dan media dua hari yang lalu. Seluruh dunia sekarang tahu bahwa ayah saya tidak bersalah. Semua ini berkat Anda, berkat buku catatan yang Anda bantu selamatkan. Jadi... tolong buka mata Anda. Saya ingin Anda melihat bahwa perjuangan Anda tidak sia-sia."

Di luar ruangan, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Narendra Baskara melangkah masuk dengan guratan kelelahan yang teramat mendalam di wajahnya.

Hanya dalam waktu tiga minggu, pria paruh baya yang memimpin salah satu konglomerasi terbesar di negara ini tampak menua sepuluh tahun. Skandal yang melibatkan adiknya sendiri, Hendra, serta kondisi putra tunggalnya yang kritis telah memukul batinnya hingga ke titik terendah.

Narendra menatap Hani yang sedang menangis di samping putranya. Ada rasa haru sekaligus penyesalan yang mendalam di dalam hati Narendra setiap kali melihat wanita muda itu.

Keluarga Baskara telah memberi luka yang teramat dalam bagi masa lalu Hani, namun di saat tersulit seperti ini, Hani lah yang justru setia berdiri menemani putranya tanpa mengeluh sedikit pun.

Narendra melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Hani. "Hani... pulanglah dulu. Kamu sudah berada di sini sejak kemarin sore. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Jika Reza bangun nanti, dia pasti tidak akan suka melihatmu jatuh sakit karena mengurusnya."

Hani menghapus air matanya dengan cepat, lalu bangkit berdiri dan membungkuk sopan kepada Narendra. "Saya tidak apa-apa, Pak Narendra. Saya hanya... saya hanya ingin terus berada di sini sampai ada perkembangan dari dokter."

Narendra mengembuskan napas panjang, menatap putranya yang masih bergeming. "Dokter mengatakan bahwa respons saraf Reza mulai menunjukkan grafik yang positif pagi ini, meskipun racun itu masih menyisakan efek mati rasa di sebagian ototnya. Kita hanya bisa berdoa, Hani. Segala upaya medis terbaik telah kita lakukan."

Tiba-tiba, saat Narendra sedang berbicara, bunyi dari monitor jantung di samping mereka mendadak berubah ritme. Suara yang semula lambat dan teratur, perlahan-lahan meningkat menjadi lebih cepat.

Pip-pip-pip-pip...

Hani membelalakkan matanya, pandangannya langsung terkunci pada jemari tangan kanan Reza yang berada di dalam genggamannya.

Detik itu juga, Hani merasakan sebuah keajaiban yang nyata. Ujung jari telunjuk Reza bergerak pelan, memberikan sebuah sentakan kecil yang sangat halus, seolah-olah sedang mencoba merespons suara isak tangis Hani yang didengarnya sejak tadi.

"Pak Narendra! Jari Pak Reza... jari Pak Reza bergerak!" seru Hani dengan suara tertahan karena terkejut dan bahagia.

Narendra seketika menegang. Ia melangkah maju mendekati Reza, menatap wajah putranya dengan napas yang tertahan di tenggorokan. "Reza? Reza, ini Papah, Nak... Kamu bisa mendengar suara Papah?"

Bukan hanya jemarinya, kelopak mata Reza yang terpejam rapat kini tampak bergetar hebat.

Alisnya berkerut samar, mengekspresikan rasa tidak nyaman dan usaha yang teramat keras dari dalam kesadarannya untuk menembus dinding kegelapan yang telah mengurungnya selama berminggu-minggu. Dada pria itu naik turun dengan tidak teratur, berjuang melawan ritme ventilator yang terpasang di mulutnya.

"Saya akan panggil dokter sekarang juga!" Hani dengan panik langsung menekan tombol darurat yang berada di atas nakas, memanggil tim medis dengan tangan yang gemetar hebat akibat luapan emosi.

Dalam hitungan detik, pintu kamar rawat terbuka kasar. Dokter spesialis saraf yang menangani Reza, diikuti oleh dua orang perawat, langsung bergegas masuk dengan membawa peralatan pemeriksaan.

"Mohon maaf, Pak Narendra, Mbak Hani, tolong mundur terlebih dahulu. Kami harus memeriksa kondisinya," ujar dokter tersebut dengan sigap.

Hani dan Narendra melangkah mundur hingga ke sudut ruangan dekat sofa, saling menggenggam tangan dengan cemas namun dipenuhi secercah harapan yang membubung tinggi.

Dokter mulai memeriksa pupil mata Reza dengan senter medis, sementara perawat menyesuaikan pengaturan pada mesin ventilator dan monitor jantung.

"Pak Reza, jika Anda bisa mendengar suara saya, tolong gerakkan tangan Anda kembali," instruksi dokter dengan nada tegas namun tenang.

Di bawah pengawasan ketat semua orang di dalam ruangan, Reza perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Gerakannya sangat lambat dan tampak teramat berat.

Ketika matanya akhirnya terbuka sepenuhnya, iris mata hitamnya tampak sayu dan buram, mencoba beradaptasi dengan pendar cahaya lampu ruangan yang putih terang. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, memandang langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan yang linglung.

Reza mencoba menggerakkan mulutnya untuk berbicara, namun keberadaan pipa ventilator yang menyumbat tenggorokannya membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara lenguhan parau yang tertahan.

"Tenang, Pak Reza. Jangan dipaksakan untuk berbicara terlebih dahulu. Kami akan melepaskan alat bantu napas ini karena fungsi paru-paru Anda tampaknya sudah kembali stabil," ucap dokter menenangkan pasiennya.

Dengan keahlian yang cekatan, dokter dan perawat mulai melepaskan pipa ventilator dari mulut Reza, menggantinya dengan selang oksigen kecil yang dipasang di bawah hidungnya.

Begitu alat itu terlepas, Reza terbatuk kecil beberapa kali. Napasnya terengah-engah, dan dadanya naik turun dengan cepat saat ia mulai menghirup udara segar secara mandiri.

Setelah kondisinya dirasa cukup stabil, dokter menoleh ke arah Narendra dan Hani dengan senyuman lega yang terukir di wajahnya. "Ini adalah sebuah mukjizat. Efek dari racun saraf itu telah berhasil dilewati oleh sistem kekebalan tubuhnya. Pak Reza telah sepenuhnya sadar dari komanya."

Air mata kebahagiaan seketika tumpah dari pelupuk mata Hani. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan untuk menahan tangis yang membuncah, sementara Narendra berulang kali mengucap syukur sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata haru.

Dokter dan perawat kemudian melangkah mundur memberikan ruang bagi keluarga, setelah memastikan semua indikator vital pada monitor berada dalam batas aman.

"Kami akan membiarkan Pak Reza beristirahat sejenak untuk memulihkan orientasinya. Jangan biarkan dia melakukan gerakan yang terlalu ekstrem terlebih dahulu karena otot-ototnya masih lemas."

Begitu tim medis meninggalkan ruangan, Narendra langsung melangkah cepat. Ia menggenggam pundak putranya dengan kehangatan seorang ayah. "Reza... terima kasih, Nak. Terima kasih karena sudah kembali kepada Papah."

Reza menolehkan kepalanya perlahan ke arah sumber suara. Suaranya terdengar sangat parau, kering, dan nyaris seperti bisikan yang pecah saat mencoba berbicara. "Pa... pah..."

"Iya, ini Papah, Nak. Jangan banyak bergerak dulu. Kamu sudah aman sekarang. Hendra sudah ditangkap dan semuanya sudah selesai," ucap Narendra dengan suara yang bergetar menahan emosi.

Reza mengangguk sangat samar, mengindikasikan bahwa ia memahami apa yang dikatakan ayahnya. Namun, sorot matanya yang sayu tidak bertahan lama di wajah Narendra.

Seolah memiliki radar tersendiri, pandangan mata Reza perlahan bergeser melewati bahu ayahnya, menjelajahi setiap sudut ruangan rawat VIP tersebut, hingga akhirnya sepasang mata itu terpaku pada sosok wanita yang berdiri diam di dekat sudut ruangan.

Hani berdiri di sana dengan tubuh yang masih sedikit gemetar, matanya yang sembap menatap Reza dengan campuran rasa lega, bahagia, dan haru yang luar biasa.

Melihat Hani ada di sana, sudut bibir Reza yang pucat tampak berkedut samar, membentuk sebuah guratan senyuman tipis yang teramat tulus. Senyuman yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di lingkungan kantor Baskara Group.

Pria itu mengulurkan tangannya yang masih lemas di atas kasur, menggerakkan jemarinya secara perlahan ke arah luar, seolah memberikan isyarat mutlak yang meminta Hani untuk mendekat ke sisinya.

Narendra yang menyadari arah pandangan putranya tersenyum tipis, lalu melangkah mundur memberi jalan. "Hani... kemarilah. Sepertinya ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan kehadiranmu di sini."

Hani mengangguk pelan. Dengan langkah kaki yang perlahan dan dada yang berdebar aneh, ia berjalan mendekati ke tempat Reza terbaring.

Begitu ia berdiri cukup dekat, Reza langsung meraih jemari tangan Hani dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Genggamannya memang belum sekuat dulu, namun kehangatan yang mengalir dari telapak tangan pria itu seketika meruntuhkan seluruh dinding pertahanan di dalam hati Hani.

Reza menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Hani, seolah ingin memastikan bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar nyata dan dalam kondisi baik-baik saja tanpa kekurangan satu apa pun.

"Hani..." bisik Reza, suaranya yang parau terdengar begitu lembut dan penuh perasaan di telinga Hani. "Kamu... tidak terluka, kan?"

Mendengar pertanyaan pertama yang keluar dari mulut pria yang baru saja terbangun dari koma mautnya justru mengkhawatirkan keselamatannya, tangis Hani kembali pecah.

Namun kali ini, itu adalah tangis kebahagiaan yang teramat sangat. Ia menggenggam balik tangan Reza dengan kedua tangannya, mendekatkannya ke pipinya yang basah oleh air mata.

"Saya tidak apa-apa, Pak Reza. Saya sama sekali tidak terluka," jawab Hani di sela-sela isaknya, menatap mata pria itu dengan tatapan penuh ketulusan yang mendalam. "Terima kasih... terima kasih karena Anda sudah bangun kembali."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!