Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian
"Reska..." seru Mika memanggil Reska saat laki-laki itu sedang berada di pinggir jalan.
Mika yang hendak pulang ke rumah, melihat Reska berada di pinggir jalan. Sopir yang menjemput Mika pun segera menepikan mobilnya di dekat motor milik Reska. Mika segera keluar dari mobil dan melihat Reska terduduk lemas di pinggir jalan. Wajahnya pun tampak kusut sambil memegang ponselnya. Seakan ponsel itu merupakan satu-satunya hiburan untuknya.
"Baru pulang, Mika?" tanya Reska pada Mika yang masih memakai seragam dan atribut MOS. Reska bukan panitia MOS, sehingga hari ini tak berada di sekolah. Lagi pula tidak ada pelajaran di kelasnya hari ini.
"Iya. Kamu kenapa duduk di pinggir jalan? Lagi minta-minta ya?" seru Mika membuat Reska membulatkan matanya. Reska yang Mika kenal, orangnya sangat konyol. Namun saat ini, Mika melihat ada sesuatu yang aneh pada diri Reska. Hal itu membuat Mika langsung melontarkan candaan agar Reska kembali seperti kemarin.
"Mogok ini motor, Mika. Udah telfon bengkel dan teman, nggak ada yang nyaut." ucap Reska sambil menghela nafasnya kasar.
Oh...
"Oh doang? Bantuin kek,"
Nah... Ini Reska yang Mika kenal. Reska merengek karena kesal dengan sifat tidak pekanya Mika. Malah jawaban singkat yang diberikan Mika itu membuat Reska rasanya ingin menjitak gadis remaja di sampingnya. Mika pun melihat ke arah motor Reska dengan tatapan serius. Ada hal yang membuat Mika merasa aneh pada motor milik Reska ini.
"Ini kayanya bukan motormu kan, Res?" tanya Mika yang mengingat bentuk dan jenis motor milik Reska.
"Bukan, milik El." jawab Reska yang memang tadi meminjam motor milik El.
"Reska, sadar nggak kalau kabel remnya putus." ceplos Mika sambil menunjuk ke arah kabel rem yang memang putus. Lebih tepatnya bukan putus sendiri, tetapi terpotong.
Eh...
"Ini bukan putus, Mika. Tapi kaya sengaja dipotong," seru Reska dengan mata membulat.
Reska menatap Mika dengan tatapan shocknya. Jika saja tadi motor ini tidak mogok, mungkin dia sudah terlibat kecelakaan karena menggunakan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Beruntung baru beberapa menit dia berkendara, tiba-tiba motor ini berhenti. Mika menarik tangan Reska sambil melirik ke arah sekitar. Mika tak mau kalau ada yang menyadari bahwa mereka sudah menemukan fakta baru.
"Jangan bersikap mencurigakan, Reska. Kita ada yang mengawasi," bisik Mika meminta Reska untuk bersikap biasa saja.
"Siapa yang mengawasi, Mika? Kok aku takut ini," ucap Reska dengan pelan. Walaupun hidupnya di jalanan dan suka keluyuran saat malam hari, tapi dia belum pernah berada di situasi seperti ini. Jika lawannya anak sekolah lain, dia masih bisa mengatasi. Kalau orang-orang berkuasa atau preman, dia belum pernah menghadapinya.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang kita buat drama kaya nggak tahu apa-apa. Seakan kita belum tahu kalau kabel rem motornya dipotong sengaja. Jangan hubungi teman-teman geng motormu itu," ucap Mika dengan pelan. Mika tak terlalu takut menghadapi ini, pasalnya ada sopir dan pengawal yang akan menjaganya.
"Panggil orang bengkel, Reska." seru Mika sambil melirik ke arah seseorang yang sepertinya tengah mengawasi mereka.
"Iya, ini aku lagi cari di bugel." seru Reska memulai dramanya.
Reska berpura-pura sibuk dengan ponselnya, seperti sedang mencari bantuan untuk memperbaiki motor. Begitu pula dengan Mika yang ternyata meminta pengawalnya agar siap siaga. Mika merasa bahwa orang yang mengawasi mereka itu sedang merencanakan sesuatu. Entah itu untuk mencelakai Reska atau El. Tangan Reska sangat gemetaran saat mengetik di ponselnya. Dia bingung harus menghubungi siapa karena dilarang mengirim pesan pada teman geng motornya.
Ini sebenarnya ada apa sih? Kok ngeri kali,
Tawuran mah gas aja orang bareng-bareng. Lha ini kalau menghadapi preman, ya ndak mampu aku.
Huaaaa... Mama aku ingin pulang,
Reska awas...
Brugh...
Dor... Dor...
Setan...
***
"Aku dimana ini? Apa aku lagi di kamar istana sekarang? Atau malah udah di surga?" gumam seorang remaja laki-laki yang baru tersadar dari pingsannya.
Dia adalah Reska yang langsung pingsan saat mendengar bunyi suara tembakan. Apalagi Mika langsung mendorongnya hingga terjatuh. Sungguh peristiwa dadakan itu membuat jantung Reska berdetak lebih kencang dari biasanya. Alhasil dia pun pingsan dan saat terbangun malah berada di sebuah kamar. Kamar yang sangat luas dan mewah itu membuat Reska berpikir bahwa dia sedang ada di istana atau surga.
Ceklek...
"Udah bangun kamu, Res?" ucap seseorang yang baru saja masuk. Dia adalah Mika yang membawa air putih untuk Reska. Di belakangnya diikuti oleh Callie yang penasaran dengan sosok laki-laki pingsan itu.
"Mika..." seru Reska yang langsung menegakkan badannya. Bahkan Reska langsung terduduk dengan nafas memburu.
"Berarti yang tembakan tadi beneran? Bukan mimpi?" tanyanya pada Mika. Ia berharap bahwa peristiwa yang baru saja dilaluinya itu adalah sebuah mimpi. Tak mungkin dia bisa bersama Mika jika tidak ada peristiwa tadi.
"Lah... Ya beneran dong. Mana pakai pingsan segala lagi," Mika hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Reska.
"Kok kamu nggak pingsan juga sih?" tanya Reska dengan tatapan bingungnya.
Bukannya apa-apa, biasanya orang yang takut dan terkejut akan suara tembakan pasti akan langsung kabur atau pingsan. Namun melihat Mika yang tampak baik-baik saja itu membuat harga diri Reska sedikit terjatuh. Mika baik-baik saja, sedangkan dia yang notabene adalah laki-laki malah langsung pingsan.
"Mana mungkin si plastik Mika pingsan hanya kalena dengal suala tembakan? Olang dia saja jago menembak kok," ucap Callie menatap aneh pada Reska.
"Apa? Jago menembak?" seru Reska dengan tatapan tak percaya. Pasalnya Mika ini seperti gadis remaja lainnya yang suka belanja dan centil. Tidak mungkin bisa menembak begitu.
"Iya. Callie juga bisa menembak. Mau Callie coba tembak kepalanya situ?" tanya Callie dengan tatapan polosnya. Bahkan Callie mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya.
"Kali mambu, kamu dapat pistol itu darimana lagi?" seru Mika yang terkejut dengan pistol yang dibawa oleh Callie.
"Itu pistol mainan kan, Mika? Kok kamu takut banget begitu," tanya Reska dengan tatapan bingungnya.
Apalagi Reska melihat Mika tampak panik dan khawatir pada benda yang ada di tangan Callie. Belum juga dia mendapat jawaban sedang berada dimana, kini malah dihadapkan dengan dua orang yang saling berdebat. Ada juga Callie yang dirinya tak tahu siapa. Reska masih mencoba mencerna kejadian hari ini yang terasa sangat mengejutkan baginya. Ingin rasanya dia menganggap kejadian hari ini hanya lah sebuah mimpi.
"Bukan. Itu pistol beneran, Reska." seru Mika membuat Reska tambah terkejut. Anak sekecil Callie bisa-bisanya membawa pistol asli.
Dali kamalnya Opa,
Ha?
Julian... Pistol di kamarku hilang,
Kembalikan sana, kali mambu. Habis kamu nanti diomelin sama Om untung dan Opa,
Diam saja kalian beldua. Jangan bilang kalau Callie yang bawa pistolnya atau aku tembak,
Eh...
lanjutttt thor💪😄