Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta di Antara Dokumen
"Kehidupan bukanlah tentang memilih antara mencapai puncak kesuksesan atau membangun bahtera rumah tangga. Keduanya bisa berjalan beriringan. Di gedung pencakar langit yang megah dan ruangan kerja yang penuh dengan angka-angka, kehadiran seorang malaikat kecil mampu mengubah tekanan menjadi tawa, dan keseriusan bisa menjadi kelembutan."
...****************...
Kini, usia Arhan telah menginjak tiga tahun. Bocah kecil itu tumbuh dengan sangat cerdas, ceria, dan energinya meluap-luap. Sementara itu, bisnis keluarga Abraham di bawah kendali Hariz dan Rosella terus berkembang pesat bagaikan pohon besar yang rindang.
Namun, kesibukan itu tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan buah hati mereka. Justru, Arhan sering kali menjadi "anggota kecil" yang setia menemani kedua orang tuanya bekerja di kantor pusat perusahaan yang megah dan modern itu.
Bagi Arhan, kantor Ayah dan Ibu adalah tempat petualangan yang seru, penuh dengan orang-orang baik, mesin-mesin canggih, dan tentu saja, tempat di mana ia bisa melihat Ayah dan Ibu bekerja dengan sangat gagah dan anggun.
Setiap pagi, mereka berangkat bekerja setelah sarapan bersama, perjalanan menuju kantor selalu diisi dengan nyanyian dan obrolan seru di dalam mobil mewah mereka.
"Ayah, hari ini Arhan boleh duduk di kursi tinggi Ayah, tidak?" tanya Arhan dari kursi keselamatan belakang, wajahnya berseri-seri membayangkan keseruannya nanti di kantor.
Hariz tersenyum sambil sesekali melirik ke kaca spion, menatap putranya dengan cinta. "Boleh dong, Sayang. Tapi syaratnya, Arhan harus jadi anak pintar, jangan berisik saat Ayah dan Ibu lagi rapat penting ya."
"Iya Ayah! Arhan bisa main sendiri kok! Arhan kan sudah besar!" jawab Arhan dengan dada membusung, merasa bangga akan tanggung jawabnya.
Rosella yang duduk di samping suaminya hanya tersenyum lebar.
"Dasar pangeran kecil yang pemberani. Nanti di kantor, Ibu siapkan buku gambar dan krayon warna-warni ya, biar Arhan bisa melukis." anak manis itu mengangguk setuju.
Sesampainya di lobi gedung perkantoran yang megah itu, semua karyawan seolah sudah hafal kebiasaan ini. Begitu pintu lift terbuka dan Arhan keluar dengan langkah gagah memegang tangan kanan Ayah dan tangan kiri Ibu, suasana kantor yang tadinya formal dan serius seketika menjadi lebih hidup dan terlihat hangat di mata semua orang.
"Selamat pagi, Tuan Muda Arhan!" sapa para resepsionis dan staf dengan ramah.
"Selamat pagi, Semuanya!" jawab Arhan lantang sambil melambaikan tangan kecilnya, membuat semua orang yang melihatnya langsung tersenyum lebar.
Bagi mereka, Arhan adalah keberuntungan dan penyegar suasana. Kehadirannya mampu menghilangkan kepenatan kerja seketika. Apalagi anak kecil itu terlihat lucu, ramah dan sangat senang untuk di ajak berbicara.
Di ruangan kerja Hariz yang luas dan mewah, telah disiapkan sebuah sudut khusus yang nyaman untuk Arhan. Ada karpet empuk, rak mainan edukatif, dan meja kecil tempat ia belajar menggambar atau menyusun balok.
Sementara Hariz sibuk menelepon mitra bisnis, menandatangani dokumen-dokumen penting, dan memantau laporan keuangan dengan wajah serius dan tegas, Arhan duduk dengan manis di dekat meja kerjanya.
"Klik... klik... klik..." suara ketikan keyboard terdengar harmonis.
Tiba-tiba Arhan mengangkat kepalanya, berdiri lalu mendekati ayahnya. Mata yang bulat itu menatap layar komputer ayahnya yang penuh dengan grafik dan angka.
"Ayah... itu apa namanya?" tanyanya penasaran.
Hariz menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mengangkat Arhan dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Ini disebut laporan keuangan, Sayang. Ini catatan tentang bagaimana usaha Ayah dan Ibu berjalan. Lihat ini, garis yang naik ke atas itu artinya usaha kita berhasil dan berkembang."
"Wahh... naik terus kayak gini ya!" seru Arhan antusias. "Nanti kalau Arhan besar, Arhan mau bantu Ayah hitung-hitung juga!"
"Boleh banget! Nanti Arhan jadi pemimpin yang hebat ya," jawab Hariz bangga, lalu mengecup pipi gembil putranya. "Sekarang Ayah harus kerja dulu ya, biar kita bisa beli mainan baru dan jalan-jalan untuk liburan yang seru. Arhan kembali ke sana, main sendiri dulu." anak kecil itu mengangguk dan kembali ke tempatnya, menggambar apapun yang ada di dal imajinasinya.
Saat bosan, Arhan pun mencari ibunya. Kebetulan ruangan Rosella dan Hariz hanya bersebelahan.
Saat ini, giliran Rosella yang bekerja atau memimpin rapat kecil, Arhan pun sangat pengertian. Ia akan duduk diam memperhatikan ibunya yang berbicara dengan cerdas dan anggun. Ia melihat bagaimana orang-orang mendengarkan ibunya dengan hormat.
"Ibu hebat ya..." bisik Arhan, membuat Rosella yang mendengarnya merasa lelahnya langsung hilang berganti menjadi semangat baru.
Saat jam istirahat tiba, keseriusan kantor mereka harus singkirkan sejenak. Mereka bertiga akan berkumpul di ruang santai pribadi atau makan siang bersama di restoran kecil yang nyaman tidak jauh dari sana.
Waktu yang seperti ini adalah waktu yang paling ditunggu Arhan. Ia bisa bercerita banyak hal, bertanya ini-itu, dan membuat kedua orang tuanya tertawa dengan tingkah lucu khas anak usia tiga tahun.
"Ayah tau nggak?" kata Arhan sambil mengunyah makanannya dengan lahap. "Tadi Bapak Satpam di depan kasih Arhan permen lho. Tapi Arhan nggak makan dulu, Arhan simpan buat Ayah dan Ibu."
Hariz dan Rosella saling pandang, hati mereka terasa hangat membara.
"Ya ampun, anak Ibu baik banget..." Rosella memeluk bahu putranya. "Terima kasih ya, Sayang. Tapi Arhan saja yang makan, itu hadiah buat Arhan."
"Enggak! Harus bagi-bagi! Ibu yang ajarin kan kalau punya makanan enak harus dibagi," jawab Arhan polos namun tegas.
Kata-kata sederhana itu mengajarkan mereka bahwa di tengah kesibukan mengejar dunia, nilai-nilai kasih sayang dan kebaikan hati justru tumbuh subur di dalam jiwa anak mereka.
Selesai makan siang, biasanya mereka akan berjalan-jalan sedikit di taman kecil di atap gedung (rooftop) untuk menghirup udara segar. Arhan akan berlari-lari kecil, mengejar bayangannya atau sekadar menikmati angin yang berhembus.
Hariz dan Rosella berjalan berpegangan tangan di belakangnya, memandangi punggung kecil itu dengan penuh rasa syukur.
"Kita berhasil, Yah..." bisik Rosella lembut. "Kita bisa memimpin perusahaan besar, tapi kita juga tidak melewatkan detik-detik tumbuh kembang Arhan."
Hariz mengangguk setuju, menatap istrinya dengan cinta. "Karena kita bekerja sama, Sayang. Kau adalah tangan kananku dalam bisnis, tapi kau juga adalah hati yang menghidupkan keluarga ini. Dan Arhan... dia adalah alasan kita melakukan semua ini."
Sore hari biasanya adalah waktu di mana pekerjaan menumpuk dan kepala terasa pening. Namun lagi-lagi, Arhan menjadi obat penyembuh yang ajaib.
Jika Hariz terlihat sedang berpikir keras atau mengerutkan kening karena masalah bisnis, Arhan akan datang dengan diam-diam dari belakang, lalu menutup mata ayahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.
"Tebaaaakkk!!" serunya ceria.
"Eh siapa ini? Wah, tangan siapa yang kecil dan empuk banget ini?" Hariz berpura-pura bingung, lalu menangkap tangan itu dan menggelitik perut Arhan hingga bocah itu tertawa terbahak-bahak.
Tawa renyah Arhan memenuhi ruangan kerja yang biasanya sunyi itu, menghapus semua stres dan beban pikiran seketika.
"Sudah jangan kerja terus dong Ayah, main sama Arhan duluuu," rengeknya manja.
"Ya sudah, ayo main sebentar. Cuma lima menit ya," kata Hariz menyerah dengan senyum lebar.
Dan lima menit itu sering kali berubah menjadi setengah jam, karena bagaimanapun juga, melihat tawa anaknya jauh lebih penting daripada dokumen mana pun.
Rosella pun sering melibatkan Arhan dalam kegiatan-kegiatan kecil yang mengasah kreativitasnya. Misalnya meminta tolong Arhan mengambilkan pulpen, menyusun kertas, atau sekadar menjadi "bos kecil" yang memberi perintah lucu pada para staf yang tentu saja dituruti dengan senang hati.
Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi jingga keemasan, pekerjaan mereka telah usai. Mereka berkemas untuk pulang.
Arhan biasanya akan tertidur di mobil karena kelelahan bermain seharian, wajahnya tenang dan damai dengan mulut sedikit terbuka.
Di dalam perjalanan pulang, Hariz menggenggam tangan Rosella.
"Hari ini berat memang, tapi melihat Arhan begitu ceria dan sehat, rasanya semua lelah ini terbayar lunas," ucap Hariz lembut.
"Benar, Yah. Kita memang tidak bisa membelikan waktu, tapi kita bisa memberikan kehadiran untuknya. Dan itu yang paling penting," jawab Rosella sambil tersenyum menatap wajah putranya di kursi belakang.
Mereka menyadari bahwa kesuksesan bisnis hanyalah angka di atas kertas, namun kebahagiaan melihat anak tumbuh dengan cinta dan perhatian adalah harta yang tak ternilai harganya.
Dan begitulah hari-hari mereka berlalu; sibuk, cerdas, bekerja keras, namun selalu diwarnai dengan tawa, canda, dan kasih sayang yang tak pernah putus.