“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pamit yang Tidak Tersampaikan
Fahri berdiri di paddock. Tatapannya ke lintasan… tapi pikirannya tidak di sana.
Suara mesin, teriakan kru, semuanya terasa jauh.
“Lagi nggak fokus.”
Suara itu datang dari samping.
Fahri tersentak sedikit. Menoleh.
“Sejak kapan Abang datang?”
“Barusan.” Dean berdiri di sebelahnya. Santai. Tapi matanya mengamati. “Kamu kelihatan sibuk akhir-akhir ini.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi bukan sibuk yang biasa.”
Fahri tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke lintasan.
Dean melanjutkan, lebih pelan, “Kalau butuh orang buat denger… aku ada.”.
Fahri menarik napas.
“Kak Kaisyaf… aneh, Bang.”
Dean tidak menyela.
“Dia mulai lepas semuanya.” Suara Fahri rendah. “Kerjaan. Keputusan. Bahkan hal-hal yang biasanya dia pegang sendiri.”
Rahangnya mengeras sedikit.
“Dia kasih semuanya ke aku.”
Dean melirik. “Harusnya itu hal bagus, ‘kan?”
Fahri menggeleng pelan.
“Bukan kayak gitu.” Tatapannya menajam ke depan. “Ini bukan delegasi.”
Ia berhenti sejenak.
“Ini kayak… dia lagi nyiapin pengganti.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tapi berat.
Dean tidak langsung bereaksi. Ia justru menyilangkan tangan, ikut menatap lintasan.
“Dia bilang mau ke luar negeri,” lanjut Fahri. “Tender.”
Nada suaranya berubah tipis. Tidak percaya.
“Aku coba cari tahu. Tanpa Ridho.” Ia tersenyum hambar. “Nggak ada hasil.”
“Ridho?” tanya Dean singkat.
“Diam.” Jawaban Fahri cepat. “Terlalu diam.”
Fahri menelan ludah.
“Aku curiga… dia sakit.”
Dean akhirnya menoleh penuh. Namun bukan kaget. Bukan panik. Lebih ke… memastikan.
“Dan kamu nggak punya bukti,” tebaknya.
Fahri menggeleng.
“Dia rapi banget.” Suaranya makin rendah. “Seolah nggak mau ninggalin jejak.”
Dean menghembuskan napas pelan. Tatapannya kembali ke lintasan. Beberapa detik… ia tidak bicara. Lalu—
“Kalau dia benar sakit,” ucapnya tenang, “menurutmu dia bakal bilang ke kamu?”
Fahri diam.
“Apalagi kalau dia tahu kamu bakal bereaksi seperti ini.”
Kali ini Fahri menoleh.
Dean menatapnya lurus.
“Panik. Ngejar. Maksa tahu.” Ia tidak menghakimi. Tapi tepat.
Fahri tidak membantah.
“Kadang…” lanjut Dean, “orang yang lagi nyembunyiin sesuatu itu bukan karena dia nggak percaya.”
Ia berhenti sejenak.
“…tapi karena dia tahu… kamu terlalu peduli.”
Kalimat itu kena.
Fahri terdiam. Namun rahangnya kembali mengeras.
“Kalau dia pikir aku bakal diam…” gumamnya pelan, “…dia salah.”
Dean tersenyum tipis. Bukan mengejek. Lebih ke… paham.
“Itu yang aku khawatirkan.”
Fahri menoleh.
Dean menepuk bahunya sekali.
“Cari tahu boleh,” katanya. “Tapi jangan sampai kamu ngerusak sesuatu yang dia lagi jaga mati-matian.”
Angin melintas. Suara mesin kembali terdengar.
Fahri menatap lintasan lagi. Tapi kali ini… tatapannya berbeda.
Lebih tajam.
***
Ruangan itu lebih sunyi dari biasanya.
Nara berdiri di dekat meja. Ridho sedikit di belakang. Kaisyaf duduk, tenang seperti biasa. Terlalu tenang… untuk seseorang yang sedang membuat keputusan besar.
Nara menatapnya lama.
“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya.
Tidak berputar. Langsung.
“Dari hasil medis yang ada…” lanjutnya pelan, “…waktumu tidak banyak.”
Ia berhenti sejenak. Menahan sesuatu di suaranya.
“Dan kamu memilih pergi ke luar negeri.”
Tatapannya menajam.
“Bukan untuk sembuh… tapi untuk menjauh.”
Kaisyaf masih diam.
“Kamu tidak ingin menghabiskan sisa waktumu… bersama orang-orang yang kamu cintai?”
Pertanyaan itu tidak keras. Tapi menghantam.
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sedikit. Lalu tersenyum tipis. Hambar.
“Aku justru terlalu mencintai mereka.”
Nara mengernyit.
Kaisyaf mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, tapi dalam.
“Aku tidak ingin melihat mereka tersenyum di depanku… berusaha kuat.” Suaranya rendah. “Padahal aku tahu… di belakangku, mereka hancur.”
Ruangan terasa makin berat.
“Aku tidak ingin…” ia berhenti sejenak, napasnya tertahan, “…mereka menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.”
Nara terdiam. Kali ini… ia tidak punya bantahan.
Beberapa detik berlalu.
Kaisyaf mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Terima kasih, Nara.”
Nada itu berubah. Lebih personal.
“Sudah merawatku selama ini.”
Nara menghela napas pelan. “Itu tugasku sebagai dokter.”
“Tidak,” sahut Kaisyaf pelan. “Kamu melakukan lebih dari itu.”
Tatapan mereka bertemu sesaat. Lalu Nara memalingkan wajah. Tidak membalas.
Kaisyaf tidak memaksa.
Ia menoleh ke Ridho. Tatapannya sedikit berbeda sekarang. Lebih dalam.
“Dan kamu.”
Ridho langsung menegakkan badan. Refleks.
Kaisyaf tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Sederhana. Tapi tidak ringan.
“Sudah bertahan sejauh ini.”
Ridho tidak langsung menjawab.
“Aku tahu…” lanjut Kaisyaf, “…aku bukan orang yang mudah.”
Sedikit jeda.
“Dan kamu harus siap kapan saja.” Tatapannya melembut tipis. “Menjaga aku… sekaligus menjaga semuanya tetap berjalan.”
Rahang Ridho mengeras. Namun ia tetap diam.
“Maaf,” ucap Kaisyaf pelan. “Kalau selama ini terlalu banyak merepotkan.”
Ridho akhirnya menunduk sedikit.
“Itu sudah tugas saya, Pak.”
“Bukan,” jawab Kaisyaf tenang. “Itu pilihanmu.”
Kalimat itu membuat Ridho terdiam lebih lama.
Kaisyaf menarik napas pelan.
“Satu hal lagi.”
Ridho langsung menatap.
“Tolong dampingi Fahri.”
Nada suaranya kembali tegas. Lebih seperti instruksi… tapi ada sesuatu di baliknya.
“Dia belum setajam itu,” lanjutnya, “tapi dia cepat belajar.”
Tatapannya lurus.
“Dan dia lebih berani mengambil risiko.”
Sedikit jeda.
“Aku yakin… dia bisa lebih jauh dari aku.”
Ridho mengangguk pelan. Kali ini tanpa ragu.
“Baik, Pak.”
Ruangan kembali sunyi.
Namun kali ini… berbeda. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tapi karena semua yang penting… sudah disampaikan.
Dan tidak ada satu pun dari mereka… yang benar-benar ingin mengakui bahwa ini terasa seperti perpisahan.
***
Malam sudah lewat jauh dari tengah. Rumah sunyi. Pintu terbuka perlahan. Tanpa suara.
Kaisyaf masuk.
Langkahnya pelan. Terlalu hati-hati… seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh.
Lampu tidak ia nyalakan. Cahaya remang dari lampu dinding cukup untuk menuntunnya.
Ia berhenti sejenak di ruang tengah. Menarik napas pelan. Lama. Lalu melangkah.
Bukan ke ruang kerja. Bukan ke mana pun. Langsung ke kamar. Pintu didorong perlahan.
Ayza sudah terlelap. Tubuhnya miring sedikit ke sisi ranjang. Satu tangan terlipat di bawah pipi. Wajahnya tenang… terlalu tenang, setelah semua yang terjadi.
Dan justru itu… yang membuat dada Kaisyaf terasa seperti ditekan.
Ia tidak langsung mendekat. Hanya berdiri di ambang pintu. Menatap. Lama. Seolah mencoba menghafal.
Setiap garis wajah itu. Setiap hal kecil yang selama ini… selalu ada, tanpa pernah ia pikirkan akan hilang.
Langkahnya akhirnya bergerak. Pelan. Ia mendekat ke sisi ranjang. Berhenti di sana.
Tangannya sempat terangkat… ingin menyentuh. Mengusap rambut yang sedikit jatuh ke pipi Ayza. Namun berhenti di tengah jalan.
Tidak jadi.
Ia menurunkannya kembali. Rahangnya mengeras.
Seolah ia tahu… sekali menyentuh, ia tidak akan sanggup benar-benar pergi.
“Ayza…”
Suaranya nyaris tidak terdengar. Bukan untuk membangunkan. Hanya… karena ia tidak sanggup menahan.
...🔸🔸🔸...
..."Yang paling sulit bukan meninggalkan, tapi menahan diri untuk tidak memanggil orang yang ingin ditinggalkan."...
..."Ia memilih menjauh bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu banyak."...
..."Beberapa orang tidak berpamitan, karena tahu… mereka tidak akan sanggup benar-benar pergi."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
Nara menangis. Sebagai sahabat yang pernah ditolong Kaisyaf - ia tidak ingin Kaisyaf menyerah, ngga bakal diam melihat Kaisyaf nyerah.
Nara penyemangat Kaisyaf. Nara tidak ingin Kaisyaf menyerah.
Bagi Kaisyaf ini bukan menyerah, tapi menyelesaikan.