NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Suara Rakyat di Singgasana

Pagi itu, udara di dalam ruang kerja utama keraton terasa lebih dingin dari biasanya. Gusti Prabu Arya Wijaya tidak duduk di singgasananya yang empuk; ia berdiri di dekat meja besar yang penuh dengan catatan pasar yang ia minta secara mendadak. Di hadapannya, Menteri Logistik, seorang pria paruh baya yang terbiasa dengan angka-angka di atas kertas, tampak berkeringat dingin meskipun angin pagi berembus sejuk.

“Katakan padaku, Paman Menteri,” suara Arya rendah, namun memiliki nada mengancam yang tajam. “Laporan yang kuterima menyatakan gudang-gudang kerajaan penuh, panen di wilayah selatan melimpah. Namun, kenapa kemarin di pasar Baluwarti, seorang janda tua harus menangis karena harga beras naik tiga keping per takar?”

Menteri logistik tergagap, mencoba mencari alasan. “Ampun, Gusti Prabu… itu.. itu mungkin karena kendala distribusi di jalanan yang rusak akibat hujan, atau mungkin permainan pedagang kecil…”

“Jangan membodohiku dengan alasan pedagang kecil!” Potong Arya sambil meletakkan secarik kertas kecil—catatan yang ia dapatkan dari laporan Seno semalam. “Jika distribusi terhambat, kenapa pasokan ke rumah-rumah bangsawan tetap lancar tanpa kenaikan harga? Aku ingin kau turun langsung ke pasar hari ini. Jika besok harga beras tidak kembali normal, maka posisimu sebagai menteri akan kugantikan dengan orang yang lebih tahu cara bekerja daripada cara membuat alasan.”

Menteri Logistik membungkuk sedalam-dalamnya, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Raja kini memiliki ‘mata dan telinga’ yang langsung bersentuhan dengan rakyat, membuat kebohongan birokrasi tak lagi punya tempat untuk bersembunyi.

Setelah Menteri Logistik undur diri dengan tergesa-gesa, Arya menghela napas panjang. Ia berpaling kepada Ki Ageng Suro yang sedari tadi duduk diam di sudut ruangan sambil memilin tasbih kayunya.

“Ki,” panggil Arya, suaranya kini melunak, kembali menjadi seorang pemuda yang sedang dilanda kebimbangan hati. “Aku telah membawanya ke sini. Aku telah melindunginya dari fitnah dan memberinya tempat di sisiku. Namun, ada sesuatu yang terus mengusik pikiranku.”

Ki Ageng mendongak, matanya yang bijak menatap Arya dengan penuh pengertian. “Apa yang meresahkanmu, Gusti? Bukankah Nimas Sekar sudah berada di dalam pelukan keraton?”

Arya berjalan mendekati jendela, menatap ke arah Keputren tempat Sekar mungkin sedang bersiap untuk aktivitasnya.

“Aku membawanya ke sini dalam keadaan darurat, Ki. Untuk melindunginya, untuk menjaganya dari maut. Namun, aku merasa telah melompati satu hal yang paling mendasar bagi seorang wanita.” Arya menjeda, suaranya sedikit bergetar. “Aku belum pernah melamarnya secara resmi sebagai pria sejati, bukan sebagai seorang Raja yang memerintah. Apa aku perlu melamarnya lagi di depan Ayahnya—di depan nisan mendiang orang tuanya, atau di depan rakyatnya—agar dia merasa utuh?”

Ki Ageng Suro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan makna. “Gusti Prabu, mahkota mungkin bisa membeli kepatuhan, tapi ketulusan hanya bisa dijawab dengan ketulusan. Membawanya ke istana adalah tindakan seorang pelindung. Namun, datang kepadanya tanpa atribut kebesaran, meminta izin untuk menjaga hidup selamanya… itu adalah tindakan seorang lelaki yang mencintai jiwanya.”

“Jadi, menurutmu aku harus melakukannya?” Tanya Arya meyakinkan.

“Nimas Sekar adalah wanita yang memegang teguh martabat,” jawab Ki Ageng. “Meskipun ia mencintai Anda, ia akan merasa jauh lebih dihargai jika Anda memintanya dari dunia-nya, bukan sekedar memindahkannya ke dunia Anda. Melamarnya kembali secara resmi di tokonya yang sederhana, di depan rakyat yang menjadi saksi cintanya, akan menjadi pengakuan tertinggi bahwa ia bukan sekedar pelarian politik, melainkan Ratu yang sesungguhnya.”

Arya mengangguk mantap. Keputusan telah diambil. Ia menyadari bahwa ia tidak ingin Sekar menjadi Permaisuri karena perintah, tapi karena sebuah janji suci yang diucapkan di tempat di mana cinta pertama kali tumbuh.

“Aku akan melakukannya, Ki. Di hari ia keluar untuk mengajar minggu depan. Aku akan datang bukan sebagai Raja yang menjemput, tapi sebagai pria yang memohon cintanya untuk selamanya. Siapkan segalanya, tapi biarkan ini tetap rahasia. Aku ingin dunia tahu bahwa singgasana Amarta berlutut di depan kemurnian hati seorang Sekar Arum.”

Ki Ageng Suro membungkuk hormat, merasa bangga bahwa Raja muda ini tidak kehilangan sentuhan kemanusiaannya meskipun kekuasaan mutlak ada ditangannya.

Janji di Atas Tanah Baluwarti

Pagi itu, suasana di ruang sidang keraton terasa lebih tegang dari biasanya. Meskipun fajar baru saja menyingsing, Gusti Prabu Arya Wijaya sudah memanggil kembali Menteri Logistik. Arya tidak ingin rencana pribadinya mengaburkan kewajibannya sebagai pemimpin; baginya, perut rakyat adalah prioritas utama sebelum ia bisa memikirkan kebahagiaan hatinya sendiri.

Menteri Logistik masuk dengan wajah pucat, membawa gulungan perkamen yang masih basah tintanya. Ia membungkuk sedalam mungkin, hampir menyentuh lantai marmer.

“Paman Menteri,” suara Arya memecah keheningan. “Aku tidak ingin mendengar alasan tentang cuaca atau kendala jalanan. Katakan padaku, berapa harga beras di pasar Baluwarti pagi ini?”

“Ampun, Gusti Prabu,” jawab sang Menteri dengan suara bergetar namun terdengar lega. “Sesuai titah Anda, hamba telah melakukan inspeksi mendadak ke gudang-gudang distributor besar. Kami menemukan adanya penimbunan oleh beberapa oknum yang mencoba mencari keuntungan. Hamba telah menyita stok tersebut dan mendistribusikannya langsung ke pasar. Pagi ini, harga beras sudah turun kembali ke titik normal, bahkan kami memberi subsidi tambahan untuk rakyat yang kurang mampu.”

Arya memeriksa dokumen laporan tersebut dengan teliti. “Bagus. Tapi ingat, jangan tunggu aku murka untuk melakukan tugasmu. Pastikan pengawasan ini terus berlanjut. Jika harga naik lagi tanpa alasan yang masuk akal, bukan cuma jabatanmu yang hilang, tapi seluruh harta pribadimu akan kusita untuk memberi makan rakyat.”

Setelah Menteri Logistik undur diri dengan perasaan campur aduk, Arya menghela napas lega. Satu beban rakyat telah terangkat. Kini, ia bisa memfokuskan jiwanya pada rencana yang telah ia susun bersama Ki Ageng Suro.

Arya memanggil Ki Ageng Suro dan Seno ke ruangan rahasia di paviliun belakang. Ia tidak ingin lamaran ini menjadi parade kemewahan istana yang kaku. Ia mengenakan sesuatu yang menyentuh jiwa Sekar sebagai seorang rakyat biasa dan seorang seniman.

Arya tidak menyiapkan peti berisi emas batangan. Alih-alih, ia menyiapkan tiga benda yang sangat simbolis.

Arya memberikan satu set alat lukis dari perak dan kayu cendana, melambangkan dukungannya terhadap jati diri Sekar sebagai pelukis. Sertifikat pendirian “Sekolah Sekar Arum”, sebuah dokumen resmi yang menjamin bahwa sekolah anak-anak di bawah pohon kamboja akan dibiayai penuholeh negara selamanya, namun tetap dibawah kepemimpinan Sekar. Dan, Cincin Permata Biru Langit, warna yang sering Sekar gunakan dalam lukisannya untuk menggambarkan kebebasan.

“Aku akan datang ke tokonya saat dia sedang mengajar,” instruksi Arya pada Seno. “Aku tidak ingin ada pasukan berseragam. Gunakan pakaian rakyat biasa, namun tetap siaga di radius yang aman. Aku akan datang mengendarai kuda sendiri, mengenakan pakaian yang sama saat pertama kali aku mencicipi nasi jagungnya.”

Arya meminta Ki Ageng Suro untuk mengundang para sesepuh pasar Baluwarti dan orang-orang yang selama ini dibantu Sekar. Ia ingin mereka menjadi saksi bahwa Raja mereka sedang memohon restu dari rakyatnya untuk meminang “Melati” mereka.

Hari yang ditentukan tiba. Sekar, yang tidak tahu apa-apa, sedang asyik membimbing seorang anak kecil menggoreskan warna di atas kertas di bawah pohon kamboja. Keringat tipis menghiasi keningnya, dan senyumnya merekah tulus saat sang anak berhasil mengeja sebuah kata.

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda tunggal terdengar mendekat. Rakyat di sekitar pasar mulai berbisik-bisik. Mereka melihat seorang pria gagah turun dari kuda, mengenakan lurik sederhana namun auranya tak bisa disembunyikan.

Sekar mendongak, matanya membelalak. “Mas Arya?”

Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat di tengah kerumunan rakyat yang mulai membentuk lingkaran. Di depan pohon kamboja itu, di atas tanah yang berdebu, sang penguasa Amarta perlahan berlutut dihadapan Sekar.

Keheningan seketika menyelimuti Baluwarti. Rakyat menahan napas. Belum pernah dalam sejarah Amarta seorang Raja berlutut di depan seorang wanita, apalagi di depan rakyat jelata.

“Sekar Arum,” suara Arya bergema rendah namun mantap. “Di tempat ini, kau mengenalku sebagai pria biasa. Di tempat ini pula, kau memberiku harapan saat aku hampir menyerah pada beban takhta di pundakku. Hari ini, aku datang bukan untuk memerintahmu masuk ke istana, tapi untuk memohon… maukah kau berjalan di sampingku, bukan dibelakangku, untuk menjaga negeri ini? Maukah kau menjadi Permaisuriku, lahir dan batin?”

Air mata jatuh di pipi Sekar. Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata kemenangan atas cinta yang selama ini dianggap mustahil. Rakyat disekeliling mereka mulai terisak haru, menyadari bahwa di depan mata mereka, sebuah legenda cinta baru saja lahir.

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!