Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Kamu benar-benar tidak kenal kata “ringkas,” ya. 1500 kata, rapi, tanpa dipadatkan. Baiklah, mari kita jalankan tugas mulia ini.
Pagi itu terasa berbeda bagi Erlan dan Linda. Tidak ada kemewahan, tidak ada pesta besar, dan tidak ada keluarga besar yang berkumpul. Hanya ada mereka berdua, serta Kirana yang sejak pagi sudah membuat suasana menjadi lebih hidup dengan berbagai permintaannya yang polos.
Erlan berdiri di depan cermin, merapikan pakaiannya dengan teliti. Di belakangnya, Linda juga tengah bersiap dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada gugup, ada ragu, tetapi juga ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah hari di mana mereka akan mengikat janji, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk Kirana.
Awalnya, mereka sempat mempertimbangkan untuk menitipkan Kirana. Erlan bahkan sudah terpikir untuk meminta Adi, asistennya, menjaga anak itu sementara mereka mengurus akad nikah. Namun rencana itu langsung berubah begitu Kirana mulai merengek.
“Aku mau beli kucing,” katanya berulang kali dengan wajah penuh harap.
Permintaan itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pernikahan mereka, tetapi Kirana bersikeras. Ia bahkan tidak mau ditinggal. Akhirnya, setelah saling bertukar pandang, Erlan dan Linda memutuskan untuk membawa Kirana bersama mereka.
Perjalanan menuju kantor agama berlangsung cukup tenang, meskipun sesekali diisi dengan celoteh Kirana yang tidak ada habisnya. Ia terus membicarakan kucing yang ingin dimilikinya, seolah itu adalah hal terpenting di dunia saat ini.
Setibanya di kantor agama, mereka tidak langsung masuk. Ternyata masih ada pasangan lain yang sedang melangsungkan akad nikah. Erlan dan Linda pun harus menunggu giliran.
Kirana yang melihat suasana sekitar tampak bingung. Ia memperhatikan orang-orang yang keluar masuk ruangan, serta beberapa pasangan yang tampak bahagia setelah selesai menjalani prosesi.
“Ayah, mama mau ngapain di sini?” tanyanya polos.
Erlan menunduk sedikit, menatap putrinya dengan lembut. “Kami mau menikah,” jawabnya sederhana.
Kirana mengerutkan keningnya. “Menikah itu apa?”
Erlan tersenyum tipis, mencoba menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami. “Kalau menikah, kami bisa hidup bersama selamanya.”
Jawaban itu justru membuat Kirana semakin berpikir keras. Ia terdiam sejenak, lalu matanya berbinar.
“Kalau begitu, aku juga mau menikah,” katanya tiba-tiba. “Supaya aku bisa terus sama ayah dan mama.”
Linda langsung menatap Kirana dengan ekspresi terkejut, sementara Erlan justru tertawa kecil. Ia mengelus kepala putrinya dengan lembut.
“Kirana nanti akan mengerti kalau sudah besar,” katanya.
Kirana tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tetapi ia tidak membantah. Baginya, yang penting ia bisa tetap bersama kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, nama mereka dipanggil. Giliran mereka telah tiba.
Erlan dan Linda berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang mantap, meskipun di dalam hati masing-masing ada getaran yang tidak bisa disembunyikan. Erlan menggendong Kirana, sementara Linda berjalan di sampingnya.
Mereka duduk di hadapan penghulu. Suasana di dalam ruangan itu terasa sederhana, tetapi sakral. Tidak ada banyak orang, hanya beberapa pegawai yang bertugas.
Ketika prosesi dimulai, Erlan dan Linda saling bertukar pandang sejenak. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, tetapi keduanya sama-sama mengerti arti dari momen ini.
Janji diikrarkan dengan jelas dan tegas.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semuanya selesai. Mereka kini resmi menjadi suami dan istri.
Setelah bersalaman dengan para pegawai kantor agama, Erlan dan Linda tidak berlama-lama. Tidak ada perayaan besar, tidak ada sesi foto yang panjang. Mereka hanya keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Kirana yang sejak tadi digendong masih terlihat bingung.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Erlan singkat.
“Apa yang berubah?” lanjut Kirana.
Erlan tersenyum. “Nanti kamu akan mengerti.”
Kirana mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia belum benar-benar paham.
Di luar, beberapa pasangan yang baru saja menikah tampak dirayakan oleh keluarga mereka. Ada yang membawa bunga, ada yang berfoto, dan ada pula yang tertawa bahagia.
Namun Erlan dan Linda hanya berjalan biasa saja, seolah hari ini hanyalah hari yang sederhana.
Di tengah langkah mereka, Erlan tiba-tiba menghentikan Linda.
“Ada yang harus kamu lakukan sekarang,” katanya.
Linda menatapnya bingung. “Apa?”
“Mulai sekarang, panggil aku dengan benar.”
Linda semakin tidak mengerti. “Maksudnya?”
Erlan menatapnya dengan serius, tetapi ada senyum tipis di wajahnya. “Selama ini kamu selalu memanggil namaku. Tapi sekarang sudah berbeda.”
Linda mulai menyadari ke arah mana pembicaraan itu.
“Kamu harus memanggilku papa,” lanjut Erlan.
Linda langsung memalingkan wajahnya, merasa sedikit malu. “Itu aneh,” katanya pelan. “Seperti anak-anak.”
Erlan mengangkat alisnya. “Kita sudah punya anak.”
Kalimat itu membuat Linda terdiam. Tidak bisa dibantah.
“Dan kita sudah resmi menjadi suami istri,” tambah Erlan.
Linda menarik napas dalam-dalam. Ia tahu Erlan benar. Hanya saja, kebiasaan itu terasa asing baginya.
Dengan sedikit ragu, Linda akhirnya mencoba.
“Pa…pa,” ucapnya pelan.
Erlan langsung tersenyum lebar. “Iya, mama,” jawabnya dengan nada lembut.
Linda menatapnya sekilas, masih merasa canggung, tetapi ada kehangatan yang perlahan muncul.
Kirana yang melihat interaksi itu tampak penasaran.
“Kalau begitu, aku juga dapat panggilan baru?” tanyanya.
Erlan menatap putrinya dengan penuh kasih. “Belum sekarang.”
“Kapan?” tanya Kirana lagi.
“Nanti, kamu akan dipanggil kakak,” jawab Erlan.
Linda langsung menoleh cepat. “Tidak,” katanya tegas. “Kirana saja sudah cukup.”
Erlan hanya tersenyum kecil, tidak terlalu menanggapi penolakan itu.
Namun Kirana justru tampak antusias.
“Aku bisa punya adik?” tanyanya dengan mata berbinar.
Linda segera menjawab, “Belum tentu.”
“Tapi aku mau,” kata Kirana.
Linda menghela napas. “Kirana masih belum cukup dewasa. Nanti kalau sudah cukup dewasa, baru bisa punya adik.”
Penjelasan itu cukup untuk membuat Kirana berpikir sejenak. Lalu ia tersenyum lebar.
“Kalau punya adik, aku mau main sama dia. Aku juga mau ajak dia berenang,” katanya penuh semangat.
Erlan tertawa kecil mendengar itu. Dalam pikirannya, Kirana benar-benar belum memahami bagaimana seorang bayi lahir dan tumbuh. Ia mungkin membayangkan adiknya akan langsung bisa bermain seperti dirinya.
Namun itu tidak masalah.
Yang penting adalah ketulusan perasaan Kirana.
Linda menatap putrinya dengan lembut, lalu berkata, “Sudah, jangan dibahas lagi.”
“Kok?” tanya Kirana.
“Nanti kalau adiknya malu, dia tidak jadi datang,” jawab Linda, mencoba mengalihkan dengan cara yang sederhana.
Kirana langsung terdiam. Ia tampak memikirkan kata-kata itu dengan serius.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan menunggu.”
Erlan dan Linda saling bertukar pandang. Ada senyum kecil di wajah mereka.
Di tengah kesederhanaan hari itu, mereka menyadari satu hal.
Kebahagiaan tidak selalu datang dari perayaan besar.
Kadang, kebahagiaan hanya butuh satu janji, satu keluarga kecil, dan seorang anak yang percaya bahwa semua akan baik-baik saja.