NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 17

“Selamat ulang tahun!”

“A-apa?” Alya terkejut saat Max tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil. Di dalamnya, terbaring manis sebuah gelang emas yang berkilau terkena cahaya senja.

“Selamat ulang tahun. Ini hadiah yang sudah saya persiapkan.” Max kembali menyodorkan kotak itu dengan tenang.

Alya masih berusaha mencerna semuanya. “Ulang tahun? Aku?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Max mengangguk pelan. “Apa kau lupa dengan tanggal ulang tahunmu sendiri?” tanyanya datar.

Alya terdiam, mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian matanya membulat. “Oh... maaf. Terima kasih! Dari mana Tuan tahu ulang tahun saya?” tanyanya penasaran.

“Sangat mudah,” jawab Max singkat.

Pria itu sama sekali tidak memandang Alya. Sorot matanya hanya tertuju pada hamparan laut luas yang membentang di depan mereka, seolah menyimpan sesuatu yang tak mampu ia lepaskan.

Alya mengikuti arah pandangnya. Angin pantai menerbangkan helaian rambutnya pelan.

“Tuan menyukai laut?” tanyanya hati-hati.

Max melirik sekilas sebelum kembali menatap ombak. “Sangat. Di tempat ini ada sesuatu yang sampai detik ini belum bisa aku temukan,” jawabnya jujur.

Alya mengangguk kaku.

‘Siapa yang dia maksud? Mantan kekasihnya? Atau seseorang yang sangat berarti?’ batinnya mulai bertanya-tanya.

“Eum... apa dia seorang wanita?” tanya Alya pelan.

Max mengangguk samar.

Alya tak lagi melanjutkan pertanyaannya. Ia memilih diam, menelan rasa penasaran yang mulai mengusik pikirannya sendiri.

“Mengenai surat perjanjian itu, apa kau yakin?” Max mulai mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja. Kenapa harus dipertanyakan lagi? Bukankah di sini kita sama-sama untung?” balas Alya ringan.

Alis Max berkerut. “Untung?”

“Iya, untung. Tuan nggak dipaksa Mama buat menikah terus, dan aku juga untung karena Papa nggak jadi ninggalin aku,” tutur Alya polos.

Ucapan itu membuat Max terdiam cukup lama.

‘Gadis ini benar-benar polos,’ batin Max sambil menggeleng pelan.

“Dan panggilan bujang lapuk juga ikut hilang,” gumam Alya lirih, nyaris tak terdengar.

“Saya dengar. Nggak perlu bergumam,” ucap Max datar.

Alya langsung cengengesan malu.

“Ayo, saya antar pulang.”

Max bangkit lebih dulu dari duduknya. Mereka pulang dalam keheningan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

**

“Mama...? Siapa pria itu?”

Alya bersembunyi di balik tanaman tinggi di halaman rumahnya. Baru saja pulang diantar Max, ia tanpa sengaja melihat mamanya sedang berbincang mesra dengan seorang pria.

Dari kejauhan, Alya melihat keduanya saling berpelukan. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi dari gestur mereka saja sudah terlihat begitu ambigu.

Alya buru-buru mengambil ponselnya, berniat merekam semuanya. Namun sialnya, ponselnya mati total.

“Ah, sial...” gumamnya pelan.

Pria itu akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah. Alya sempat mencoba melihat plat mobilnya, tetapi jaraknya terlalu jauh dan pencahayaan malam membuatnya tak jelas.

Begitu ibunya masuk ke dalam rumah, Alya segera keluar dari tempat persembunyiannya.

“Siapa pria itu? Kenapa mereka terlihat akrab sekali?” bisiknya gelisah.

Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

“Apa jangan-jangan...”

Alya langsung menggeleng keras.

“Ah, nggak mungkin Mama seperti itu. Gue yakin ini cuma perasaan gue aja,” gumamnya mencoba menenangkan diri, meski hatinya tetap dipenuhi kecurigaan.

**

“Selamat pagi, dan selamat ulang tahun anak Papa.”

Tyo berdiri di ambang pintu sambil membawa kue sederhana dengan lilin menyala di atasnya. Senyum hangat tak lepas dari wajah pria itu.

Alya berpura-pura terkejut. Ia segera mengulas senyum senatural mungkin.

“Pagi, Pa. Terima kasih ucapannya,” jawabnya lembut sebelum meniup lilin.

“Maaf ya, Papa cuma bisa nyediain kue sederhana ini buat kamu. Papa belum bisa membelikan hadiah yang kamu inginkan,” ucap Tyo dengan nada penuh penyesalan.

“Nggak apa-apa, Pa. Ini juga udah lebih dari cukup kok,” jawab Alya tulus.

Tyo tersenyum lega melihat putrinya.

“Mama dan Kakak belum bangun?” tanya Alya sambil celingukan.

“Mereka kan belum pulang, Sayang,” jawab Tyo santai.

Mata Alya langsung membulat.

‘Belum pulang? Padahal jelas-jelas Mama udah pulang tadi malam. Nggak mungkin gue salah lihat...’ batinnya penuh tanda tanya.

Melihat perubahan ekspresi di wajah putrinya, Tyo langsung khawatir.

“Ada apa, Sayang? Kok kamu kelihatan bingung?”

“Ah, bukan apa-apa kok, Pa.” Alya buru-buru menggeleng. “Oh iya, Alya udah mau telat. Alya berangkat dulu ya, Pa.”

Alya mencium tangan Tyo lalu segera pergi, mengabaikan panggilan ayahnya yang masih terdengar dari belakang.

Sementara itu, di tempat lain, Ella sibuk menghubungi David.

Entah sudah panggilan ke berapa yang ia lakukan, tetapi tak satu pun dijawab. Jemarinya gemetar, wajahnya terlihat pucat dan gelisah.

“Ayo angkat, Vid... angkat...” gumamnya panik sambil terus menekan tombol panggil.

“Kemana sih? Kenapa di saat genting begini dia malah susah dihubungi?” gerutunya kesal.

Panggilan pertama, kedua, hingga ketiga tetap tak diangkat. Sampai akhirnya, pada panggilan keempat, terdengar suara dari seberang sana.

“Halo?”

“David... aku...”

Suara Ella bergetar.

“Aku hamil...”

“Apa? Bagaimana bisa?” suara David terdengar terkejut.

Ella menggigit bibir bawahnya gugup. “Aku nggak tahu! Dan... aku bingung siapa ayah dari anak ini. Sekarang aku harus bagaimana?”

Terdengar helaan napas frustasi dari balik telepon.

“Coba kamu ingat-ingat lagi. Sama siapa terakhir kamu melakukannya?”

“Aku udah coba ingat.” Ella memejamkan mata kuat-kuat. “Malam itu aku mabuk. Sebelum nggak sadar, aku sempat bersama tiga pria sekaligus.”

“Tiga yang terakhir?” ulang David memastikan.

Ella mengiyakan pelan.

David langsung melirik notifikasi transfer uang dari tiga rekening berbeda. Dua nama terasa asing baginya, tetapi satu nama membuat matanya menyipit tajam.

Mendadak otaknya bekerja cepat.

“Jangan gugurkan anak itu,” ucap David tiba-tiba.

Ella langsung terkejut.

“Apa kau sudah gila, David? Kalau nggak aku gugurkan, gimana caranya aku kerja? Kalau aku nggak kerja, nggak ada pemasukan, dan kita nggak bakal nikah!” protes Ella panik.

David justru mencibir.

“Justru anak itu bisa kita jadikan alat untuk mendapatkan uang.”

Ella terdiam.

“Kita bisa jebak Om Rama buat nanggung semua biaya hidup kita. Selama kamu hamil, kamu nggak perlu kerja.”

Nada suara David terdengar licik dan penuh perhitungan.

“Kamu nggak perlu pikirin gimana caranya. Biar ini jadi urusanku.”

Setelah mengatakan itu, David langsung memutuskan panggilan sepihak.

Ella hanya bisa menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Tak ada pilihan lain selain menurut.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memutuskan pulang untuk mengambil beberapa keperluannya.

Malam harinya, semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk acara perpisahan sekolah sekaligus perayaan kelulusan para siswa dan siswi.

Alya sudah siap dengan gaun sederhananya yang tetap terlihat elegan di tubuhnya.

Malam ini, ia datang bersama keluarga lengkapnya. Kedua orang tuanya dan kakaknya turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Apalagi acara ini disponsori langsung oleh Tyo, mengingat pria itu kini berhasil membangun kembali perusahaannya dari nol.

“Sudah siap semua?” tanya Tyo.

“Sudah, Pah,” jawab Alya sambil tersenyum manis.

“Apa Max nggak ikut kali ini?”

Alya menggeleng pelan. “Katanya nggak bisa, Pa. Ada pekerjaan.”

Tyo mengangguk paham. “Ya sudah, ayo kita berangkat.”

Mereka pergi menggunakan satu mobil.

Perjalanan malam itu tidak terlalu jauh. Tyo mengemudi dengan kecepatan sedang, sementara Alya duduk diam dengan jantung berdebar tak karuan.

Ini adalah malam kelulusannya.

Setelah malam ini, hidupnya akan berubah menjadi seorang istri... meskipun hanya sebatas pernikahan kontrak.

Namun entah kenapa, ia tidak merasa terlalu takut.

Setidaknya, Max adalah pria baik di matanya.

Bahkan dari isi perjanjian yang mereka buat, Max justru memberinya banyak keuntungan. Tidak seperti cerita-cerita novel yang pernah ia baca, di mana pihak wanita selalu dirugikan setelah perpisahan terjadi.

Max justru menjamin masa depannya jika suatu hari ayahnya kembali mengalami keterpurukan.

Alya menarik napas perlahan sebelum kembali menatap jalanan di luar jendela.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sekolah.

Sekolah tampak ramai dipenuhi murid beserta keluarganya. Lampu-lampu menghiasi area lapangan yang telah disulap menjadi panggung megah.

Dari kejauhan, Alya melihat kedua sahabatnya sudah menunggu.

Mereka melambaikan tangan antusias, dan Alya membalas dengan senyum lebar.

“Alya gabung sama teman-teman dulu ya, Pah,” ucapnya.

Tyo mengangguk.

Alya segera berlari menghampiri sahabat-sahabatnya, sementara Tyo, Helena, dan Ella memilih mencari tempat duduk yang dekat dengan panggung.

Acara kali ini bukan hanya menampilkan murid berprestasi, tetapi juga pertunjukan bakat dari para siswa sebagai hiburan malam perpisahan.

Lapangan sekolah telah berubah menjadi panggung besar lengkap dengan layar lebar di belakangnya.

Para guru dan murid duduk di area khusus, sementara para orang tua memiliki tempat tersendiri.

Seorang MC naik ke atas panggung, membuka acara dengan beberapa basa-basi sebelum memanggil kepala sekolah.

Acara resmi dimulai.

Kepala sekolah berdiri gagah di atas panggung sambil memanggil satu per satu murid sesuai peringkat mereka masing-masing.

Sebagian besar siswa memiliki nilai luar biasa. Sangat jarang ada yang mendapat nilai di bawah rata-rata, karena sekolah itu memang terkenal menjunjung prestasi akademik.

Nama demi nama dipanggil hingga akhirnya tiba giliran Alya.

Gadis itu melangkah naik ke atas panggung. Ia menerima sertifikat penghargaan lalu berfoto bersama kepala sekolah.

Tak lupa, ia menyampaikan ucapan terima kasih dengan senyum haru.

Alya berhasil meraih nilai tertinggi di antara para murid lainnya.

Kedua sahabatnya langsung bersorak bangga. Begitu pula kedua orang tuanya yang tampak tersenyum bahagia.

Acara terus berlanjut hingga seluruh murid selesai dipanggil.

Kini sesi hiburan dimulai.

Di kejauhan, seseorang memperhatikan semua itu dengan saksama.

Pria itu mengangkat ponselnya dan berbicara pelan.

“Sesi pertunjukan sudah dimulai, Tuan.”

Di seberang sana, sang atasan mengangguk meski tak terlihat.

“Pantau terus. Ikuti sesuai aturan. Begitu waktunya tiba, bergerak lebih cepat.”

“Siap, Tuan!”

Panggilan pun benar-benar terputus.

1
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!