NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kerumunan itu akhirnya terbuka sedikit.

Dan di tengah jalan—

seorang perempuan tergeletak.

Tidak bergerak.

Darah terlihat di bagian kepalanya.

Valeria.

Gilang langsung membeku beberapa detik.

Napasnya tertahan.

Orang-orang hanya berdiri mengelilingi. Tidak ada yang benar-benar mendekat.

“Barusan ketabrak…”

“Mobilnya kabur…”

Suara-suara itu terdengar, tapi tidak ada tindakan.

“Hei!” suara Gilang tiba-tiba meninggi. “Kenapa kalian diam aja?! Tolongin, dong!”

Viona kaget.

Ia belum pernah melihat Gilang semarah itu.

Tanpa menunggu, Gilang langsung berlari menerobos kerumunan.

Ia berlutut di samping Valeria.

“Bu… Bu…” panggilnya cepat, tangannya gemetar saat mencoba mengangkat tubuh Valeria dengan hati-hati.

Valeria tidak merespons.

Wajahnya pucat.

Beberapa saat kemudian, suara sirine terdengar mendekat.

Petugas polisi lalu lintas datang, diikuti beberapa orang lainnya.

“Mohon minggir! Minggir dulu!” teriak salah satu petugas.

Mereka segera mengamankan area.

Salah satu polisi mendekat ke Gilang.

“Kamu kenal korban?” tanyanya tegas.

Gilang mengangguk cepat. “Iya.”

Polisi itu menoleh ke rekannya.

Sementara itu, petugas lain mulai mendekati orang-orang di sekitar.

“Siapa yang lihat kejadian tadi?”

“Mobilnya ke arah mana?”

Tapi banyak yang hanya saling pandang.

Beberapa malah mundur.

“Aduh, saya nggak lihat jelas…”

“Saya baru datang…”

Satu per satu menghindar.

Seolah tidak ingin terlibat.

Gilang ikut naik ke mobil petugas saat Valeria dibawa ke rumah sakit. Ia hanya sempat menoleh sekali ke belakang, lalu pintu tertutup.

Viona masih berdiri di tepi jalan.

Ia belum benar-benar bergerak sejak tadi.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Beberapa menit lalu mereka masih duduk di stasiun. Sekarang Gilang pergi begitu saja, bahkan tanpa sempat menjelaskan apa pun.

Viona menatap ke arah mobil yang semakin menjauh.

Dadanya terasa tidak enak.

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Wajah perempuan itu.

Ia pernah melihatnya.

Di dekat kampus, saat dirinya hampir tertabrak mobil, dan wanita itu keluar.

Ya, viona ingat itu. Wanita yang dianggapnya berkelas walaupun dia hanya lihat sekilas,

Ia bahkan sempat membicarakannya dengan Gilang.

Viona mengernyit.

Kalau begitu…

Gilang benar-benar kenal perempuan itu?

Ia menatap kosong ke arah jalan.

Lalu bergumam pelan—

“Sebenarnya… dia siapa?”

Sementara di rumah sakit, Valeria langsung dibawa ke IGD.

Petugas medis bergerak cepat, mendorong brankar masuk ke dalam. Pintu tertutup, menyisakan Gilang di luar dengan napas yang belum stabil.

Seorang polisi mendekatinya lagi.

“Mas, kami butuh data korban. Nama lengkap, alamat, atau keluarga yang bisa dihubungi.”

Gilang terdiam.

Ia menelan ludah pelan.

“Namanya… Valeria,” jawabnya.

Polisi itu menunggu.

“Lainnya?”

Gilang menggeleng kecil.

“Saya… nggak tahu.”

Polisi itu mengerutkan kening.

“Kamu bilang kenal?”

Gilang mengangguk, tapi ragu.

“Iya… tapi… saya cuma tahu namanya.”

Suasana jadi canggung.

Gilang menatap pintu IGD.

Pikirannya kosong.

Ia sadar—

ia bahkan tidak tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Polisi itu terlihat ragu sejenak, lalu menoleh ke rekannya.

“HP korban ada?” tanyanya.

Salah satu petugas medis menyerahkan tas milik Valeria yang sempat dibawa.

Polisi itu membuka, mencari ponsel di dalamnya.

“Kalau bisa dibuka, kita cek kontak keluarga,” katanya.

Ia mencoba menyalakan layar.

Terkunci.

Polisi itu menghela napas pelan.

“Kalau terkunci begini, nggak bisa langsung dibuka,” katanya. “Biasanya nunggu keluarga datang, atau lewat prosedur resmi.”

Ia menoleh lagi ke Gilang.

“Kamu nggak tahu siapa pun yang bisa dihubungi?”

Gilang diam.

Kepalanya terasa kosong.

“Tidak, Pak…” jawabnya pelan.

Polisi itu mengangguk kecil, masih terlihat berpikir.

Polisi itu kembali membuka tas milik Valeria.

Ia mencari lebih teliti.

Dompet.

Beberapa kartu.

Lalu berhenti pada satu kartu identitas.

“Valeria…” gumamnya, membaca nama itu lebih jelas.

Di dalamnya juga terselip kartu lain.

Kartu nama.

Polisi itu mengangkatnya sedikit.

“Goldenova Corporation,” bacanya.

Ia memperhatikan bagian bawah kartu, lalu menemukan nomor yang tertera.

Tanpa banyak pikir, ia langsung mengeluarkan ponselnya.

“Coba kita hubungi,” katanya ke rekannya.

Beberapa detik kemudian, sambungan mulai tersambung.

Gilang berdiri di samping, diam, pikirannya kosong. Ia sendiri tidak mengerti kenapa harus berada di situ sekarang.

Lalu tiba-tiba—

Viona.

Gilang tersentak sedikit.

Ia baru ingat.

Bagaimana keadaan gadis itu setelah ia tinggalkan begitu saja?

Tanpa sadar, ia menepuk kepalanya pelan.

“Sial…” gumamnya.

Polisi yang di dekatnya langsung menoleh.

“Kenapa?” tanyanya singkat.

Gilang sedikit tersentak.

“Eh… nggak ada apa-apa, Pak,” jawabnya cepat. “Cuma… ada yang ketinggalan di stasiun tadi.”

Suaranya terdengar gugup.

Polisi itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

“Kamu tadi bilang kenal dengan korban,” katanya tegas. “Jadi untuk sekarang, kamu tetap di sini dulu. Nunggu sampai keluarganya datang.”

Gilang terdiam.

Ia melirik sekilas ke arah pintu IGD, lalu kembali ke polisi.

“Iya, Pak…” jawabnya pelan.

Langkahnya tertahan.

Pikirannya justru tertinggal di tempat lain.

Gilang mengeluarkan ponselnya, mencoba menyalakan layar.

Tidak menyala.

Ia menekan tombol sekali lagi.

Tetap gelap.

“Sial…” gumamnya pelan. “Habis lagi…”

Ia menghembuskan napas, lalu menyimpan ponselnya kembali. Tangannya kosong, tidak tahu harus berbuat apa.

...****************...

Di tempat lain, Dimas duduk dengan hasil pemeriksaan di tangannya.

Kertas itu sudah ia baca berkali-kali.

Ada catatan dari dokter: jumlah sperma di bawah normal, dan pergerakannya juga kurang baik.

Dimas menatap lama.

Rahangnya mengeras sedikit.

Selama ini, semua pemeriksaan Valeria baik-baik saja.

Ia yang justru bermasalah.

Tangannya menekan kertas itu pelan.

Dimas menatap kertas itu lebih lama, lalu mengembuskkan napas kasar.

Tangannya menekan lembar hasil pemeriksaan itu sampai sedikit terlipat.

“Dasar… nggak berguna,” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Ia menyandarkan punggung ke kursi.

Pandangan kosong.

Beberapa detik berlalu tanpa gerak.

Pikirannya tidak tenang.

Ketukan pintu terdengar pelan.

Tok… tok…

Seorang staf masuk perlahan.

“Pak Dimas, maaf mengganggu,” katanya hati-hati. “Tadi dari Goldenova menelpon. Mereka bilang… Bu Valeria kecelakaan.”

Dimas yang tadi masih duduk langsung menegakkan badan.

“Valeria?” ulangnya cepat.

Staf itu mengangguk.

“Iya, Pak. Katanya sekarang dibawa ke rumah sakit.”

Dimas terdiam sepersekian detik.

Wajahnya berubah.

“Di rumah sakit mana?” tanyanya tegas.

Staf itu menyebutkan nama rumah sakit.

Tanpa banyak bicara lagi, Dimas langsung berdiri, meraih jasnya dengan cepat.

“Siapkan mobil,” katanya singkat.

Dimas masuk ke area IGD dengan langkah cepat, matanya langsung mencari ke sekitar.

Suasana ramai, tapi ia tidak peduli.

Pandangannya berhenti saat melihat Gilang berdiri tidak jauh dari pintu ruang tindakan.

Dimas melangkah mendekat.

Tatapannya tajam, lalu turun ke lengan jaket Gilang.

Ada noda darah di sana.

Dimas mengerutkan kening.

“Kamu siapa?” tanyanya langsung, suaranya tegas.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!