NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

“Lepaskan Menur-ku!!!”

Langgeng Sakti benar-benar meledak amarahnya. Jaka Utama secara keterlaluan telah mencium bibir Ratna Menur tepat di depan matanya!

“Aku akan membunuhmu!!!”

Bagaikan singa yang mengamuk, dia menerkam Jaka Utama.

Ho, begitu baru benar. batin Jaka. Kalau kamu tidak memukuli aku si penjahat ini, lalu pahlawan macam apa kamu?

Cup!

Bibir Jaka akhirnya melepaskan mulut mungil Ratna Menur.

“Ningsih, menyingkirlah! Biar aku sendiri yang menghadapi bocah ini!”

Dia buru-buru memanggil Naningsih yang sudah bersiap menyerang. Jika Naningsih turun tangan, urusan "dipukuli" ini tidak akan jadi jatahnya lagi.

Jaka mendorong Ratna Menur yang tampak kaku seperti baru saja tersambar petir, lalu meluncurkan seluruh tubuhnya ke arah Langgeng Sakti dengan kekuatan penuh.

Boom, boom, boom!

Saat keduanya beradu, mereka saling melayangkan tinju dengan keras. Adu jotos terjadi dengan sengit. Dengan bunyi dentuman, kedua tinju itu berbenturan dan mereka masing-masing terpental mundur beberapa meter.

Langgeng Sakti sangat geram; dia setengah berjongkok dan merentangkan lengannya, mengerahkan teknik rahasia yang sangat kejam.

“Aji Tinju Bisa Dewa Ular!”

Aura tenaga dalamnya melonjak, dibarengi sedikit aura siluman yang gelap. Di masing-masing lengannya, seekor ular air hitam yang gelap dan mengkilap melilit di sana. Ular itu melilit dari siku hingga ke kepalan tangannya, mengeluarkan suara desisan ngeri dari liangnya, dengan pupil emas yang menatap sinis ke arah Jaka Utama.

Rasanya seperti sedang menatap musuh bebuyutan!

[Kau ingin meracuninya?]

Dalam pikiran Langgeng, suara serak dan dingin gurunya terdengar penuh keraguan.

“Jangan khawatir, Guru! Murid akan mengontrol jumlah racunnya. Paling banyak, aku hanya akan melumpuhkan tangannya! Aku akan membuat si marga Utama itu membayar mahal karena telah menodai Menur!”

Sialan! batin Jaka. Protagonis ini benar-benar ingin membuatku cacat ya!

Melihat dua ular air hitam itu, Jaka terkejut. Dia tahu teknik ini. Ini adalah ilmu tingkat tinggi yang diajarkan oleh guru Langgeng. Racunnya sangat kuat, sedikit saja bisa membuat orang sekarat.

Jurus kejam ini adalah salah satu kartu as Langgeng. Hanya saja, ini bukan bagian dari plot aslinya! Jaka mulai khawatir lagi. Di naskah asli, Langgeng hanya memukulnya sampai babak belur, tidak pernah memakai jurus beracun seperti ini. Pasti gara-gara Ratna Menur yang melenceng, Langgeng ikut menyimpang juga!

“Ahhhhhh!”

Langgeng meraung sambil menyerbu seperti anak panah secepat kilat.

Boom boom boom boom!!!

Keduanya kembali beradu tinju. Akhirnya, dengan sebuah dentuman, ular hitam di lengan Langgeng berhasil melilit lengan Jaka Utama. Sesaat kemudian, keduanya melompat menjauh.

“Apa ini!”

Jaka menatap kedua lengannya dengan akting "ngeri". Kedua ular air hitam itu melilit lengannya dengan mematikan dan mulai meresap ke dalam kulit melalui lengan bajunya. Akhirnya, kedua ular itu lenyap ke dalam lengannya tanpa jejak.

“Tangankuuuu!”

Jaka memasang ekspresi ketakutan yang luar biasa. Tangannya perlahan terkulai lemas dan mulai gemetar tak terkendali.

“Bajingan! Apa yang kamu lakukan pada tanganku!!!”

Meskipun di permukaan Jaka panik bukan main, tapi diam-diam dia sedang menyerap dan memurnikan racun ular itu untuk dijadikan Pil Ledakan Racun di dalam perutnya.

Untunglah... kalau bukan karena 'Raga Penawar Segala Racun', tangan ini pasti sudah membusuk. Jaka diam-diam bersyukur.

Langgeng Sakti tertawa dingin melihat tangan Jaka yang gemetar hebat.

“Aji Tinju Bisa Dewa Ular adalah teknik rahasiaku. Setelah terkena ini, lenganmu tidak hanya akan lumpuh, tapi racunnya akan menghisap energi batinmu setiap kali kamu berlatih, membuat kesaktianmu melambat berkali-kali lipat!”

“Apa! Kamu... kamu benar-benar kejam!”

“Kejam? Jika bukan karena kamu menyelamatkan nyawa Menur, aku sudah menguburmu hidup-hidup! Sekarang, kehilangan tanganmu adalah harga yang pantas karena mencium Menur!”

“Cepat berikan penawarnya!” Jaka berakting seolah-olah ketakutan sampai menggigil.

Naningsih yang memperhatikan dari samping merasa bingung, apakah ini ketakutan sungguhan atau akting belaka. Dia melirik Jaka, lalu ke Ratna Menur yang masih diam terpaku, lalu kembali ke Langgeng.

Ini pasti plot utama kedua yang ditulis di buku itu... batin Naningsih penasaran sambil terus menonton drama ini.

“Penawar itu mustahil kuberikan,” ujar Langgeng puas. “Racun itu cukup melumpuhkanmu, tapi kalau kamu nekad memakai tenaga dalam, akibatnya akan lebih buruk dari sekadar lumpuh.”

Langgeng memberikan "peringatan" ini karena dua hal: Pertama, dia tidak berani terlalu menekan Jaka karena ada Naningsih yang tingkat kesaktiannya jauh di atasnya. Kedua, dengan memberi harapan sembuh, Jaka akan sibuk mengobati diri dan tidak mengganggu Ratna Menur lagi.

Mendengar itu, Jaka seolah-olah mendapat harapan dan berteriak pada Naningsih:

“Ningsih! Cepat, bawa aku kembali ke kapal udara sekarang juga!”

Jaka duduk di kursi rodanya dengan akting panik. Dia tidak lupa melontarkan gertakan terakhir: “Langgeng Sakti! Lain kali, aku pasti akan membunuhmu!”

Cuma begini saja? batin Naningsih sedikit kecewa karena dramanya selesai cepat. Dia pun mendorong kursi roda Jaka kembali ke kapal pribadi mereka.

“Menur, kamu baik-baik saja?”

Setelah Jaka pergi, Langgeng menghampiri Ratna Menur. Melihat wajah Ratna yang linglung, hatinya perih.

“Menur, percayalah padaku. Suatu hari nanti, aku akan memotong tangan dan kaki Jaka Utama agar dia membayar harga karena telah menciummu!”

“Dia menciumku... Beraninya dia...” gumam Ratna Menur, belum sepenuhnya sadar dari syok.

“Menur, apa yang kamu bicarakan?” tanya Langgeng lebih keras.

“Hah? Tidak... tidak ada, aku... aku mau kembali ke kapal udara. Mas Langgeng, jangan mengantarku!”

Ratna Menur menutupi wajahnya yang merah padam sambil lari terbirit-birit ke arah kapal udara kadipaten.

“Guru, Menur kenapa ya?” tanya Langgeng heran.

[Wanita bingung yang sedang kasmaran.]

“……” Langgeng terdiam.

[Jangan lupakan tugasmu, kamu di sini untuk balas dendam. Siluman pohon di telaga itu belum mati total. Pergi habisi dan ambil sarinya untuk memperkuat ilmumu.]

“Baik, Guru!”

Di Kapal Udara Pribadi, Kamar Mewah.

“Ningsih, kamu keluar dulu, aku ingin sendiri.”

Setelah didorong masuk, Jaka duduk di kursi rodanya sambil memijat kening. Dia harus berpikir keras. Plot hari ini melenceng jauh karena dia sampai mencium Ratna Menur—ciuman pertama Ratna! Hal ini pasti akan mengubah sikap Ratna secara drastis dan mengancam plot-plot selanjutnya.

“Kamu tidak jadi mengoleskan obat?” tanya Naningsih penasaran. Dia melihat tangan Jaka sebenarnya bisa bergerak tadi.

Tampaknya Jaka cuma pura-pura diracuni. Padahal dia tadi menyembuhkan Ratna dengan mulutnya sendiri, dan sekarang dia tampak baik-baik saja terkena racun Langgeng.

Pasti dia menyembunyikan rahasia besar. Aku harus mencari tahu, batin Naningsih.

“Tidak... Eh, maksudku, aku akan oleskan sendiri nanti!” Jaka segera merubah sikap dan kembali menggetarkan tangannya.

“Oleskan sendiri?” Naningsih hampir tertawa melihat akting itu. “Mana obatnya?”

“Ada di dalam cincin pusaka. Kamu keluar saja, aku mau segera keluarkan racun ini!” geram Jaka.

“Tapi kamu tidak pakai cincin pusaka. Semua barangmu, bahkan pakaian dalammu, ada padaku. Jadi kamu bohong, kenapa kamu bohong?” mata indah Naningsih menatap tajam dengan rasa ingin tahu yang besar.

1
_Khayy☕
Semangat thor bagus banget nih novel🤣🤭🤭😍😍
_Khayy☕
Katanya dua,banyak bener tambahannya 🤣
_Khayy☕
Wkwkw Belajar Fiqih nih🤣
_Khayy☕
Semangat min🤭 gacor nih Novel
_Khayy☕
Juozz😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!