🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Apa yang terjadi?"
Suara Alexa terdengar datar, namun tajam. Sang kasir yang tengah berusaha membangunkan Yura tersentak dan menoleh dengan raut terkejut.
"Ah... Anda mengenalnya?" tanya kasir itu dengan nada waspada.
Alexa tidak segera menjawab. Ia mengangkat ponsel yang sejak tadi berada di tangannya, menyalakan layarnya, lalu mengarahkannya ke wajah Yura yang tertunduk lemah di atas meja.
"Aku hendak mengantarkan ini," ucapnya singkat. "Ponselnya tertinggal."
Nada dan sikapnya cukup membuat sang kasir menurunkan kewaspadaan. Ia menghela napas, lalu menjelaskan dengan cepat bahwa Yura membeli tiga kaleng minuman dan meminumnya hampir bersamaan.
Ia telah berulang kali membangunkan gadis itu, namun Yura hanya memberi respons sesaat sebelum kembali tertidur. Sang kasir khawatir jika Yura dibiarkan sendirian, sesuatu yang berbahaya dapat terjadi.
"Jika Anda bisa membawanya pulang, saya akan sangat berterima kasih," ujar kasir itu.
Alexa mengangguk tanpa banyak bicara.
Kasir tersebut pun kembali masuk ke dalam minimarket, meninggalkan mereka berdua.
"Yura bangunlah."
Tidak ada respons.
Alexa sedikit menunduk dan memanggil kembali, kali ini dengan nada lebih keras. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia meraih bahu Yura dan menggoyangkannya perlahan, lalu sedikit lebih kuat.
Yura tetap tidak membuka mata.
Dengan rahang mengeras, Alexa menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Yura dan satu lagi menyangga punggungnya. Tubuh gadis itu terangkat ke dalam dekapannya.
Wajah Yura kini berada sangat dekat dengannya.
Alexa terdiam sejenak.
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
"Namun… setidaknya… aku tidak membuat kesalahan lain…" Yura tersenyum pahit, air mata mengalir dari sudut matanya. "Kak Ren dan Rose… tetap bersama… meskipun… mereka membohongiku… Rose sudah hamil… mereka…"
Napas Alexa memburu.
Geraman rendah keluar dari tenggorokannya. Tangan yang mendekap Yura mengeras sejenak, amarah dan dorongan gelap bergolak di dalam dadanya. Gadis inilah sumber kekacauan yang selama ini ia rasakan.
Namun Yura kembali bergumam, suaranya melemah, penuh permohonan.
"Tolong… aku lelah… aku sakit…"
Amarah itu pun tertahan.
Dengan wajah kaku dan hati yang membuncah, Alexa melangkah menuju mobil. Saat hendak membaringkan Yura di kursi belakang, gadis itu kembali bersuara pelan.
"Aku… tidak ingin pulang…" bisiknya. "Aku malu… aku sakit…"
Air mata Yura kembali menetes.
Alexa terdiam sejenak, lalu tetap membaringkan Yura dengan hati-hati. Ia duduk di sampingnya, menutup pintu mobil, dan memalingkan wajah ke arah jendela.
Kesal, marah, terusik. Namun pikirannya berputar cepat. Mungkin semua ini memang efek dari ajimat tersebut. Ia harus memastikan semuanya berakhir secepat mungkin.
"Ke hotel," ucapnya singkat.
Sopir yang duduk di depan menangkap perintah itu tanpa bertanya. "Baik, Tuan."
Mesin mobil kembali menderu halus. Kendaraan itu melaju, meninggalkan minimarket yang kini tenggelam dalam cahaya redup malam.
Alexa tetap duduk kaku di samping Yura. Gadis itu terbaring dengan napas tidak teratur, wajahnya pucat, bulu matanya masih basah oleh sisa air mata.
Setiap guncangan kecil di jalan membuat alisnya berkerut samar, seolah rasa sakit itu belum sepenuhnya mereda.
Alexa memalingkan wajah ke luar jendela. Lampu-lampu kota berkelebat, namun pikirannya tidak ikut bergerak maju. Ada sesuatu yang mengikat dadanya. Amarah yang belum padam, kegelisahan yang enggan diakui.
Pada akhirnya mobil berhenti di pelataran hotel dengan gerakan halus. Lampu-lampu luar memantulkan cahaya pucat ke bodi kendaraan yang mengilap.
Sopir turun lebih dulu, langkahnya sigap dengan cepat ia membuka pintu di sisi belakang, Alexa langsung menggendong Yura tanpa ragu.
Tubuh gadis itu kembali terasa ringan di pelukannya, napasnya masih tidak teratur, dahi dan pelipisnya dingin oleh keringat.
"Saya akan mengambil kunci kamar, Tuan," ucap sopir singkat.
Alexa mengangguk. Ia melangkah menuju pintu masuk hotel, menahan tubuh Yura agar tetap stabil.
Di lobi yang lengang, hanya terdengar dengung pendingin ruangan dan langkah kaki yang teredam karpet.
Alexa tidak berhenti, pandangannya lurus ke depan, fokus. Beberapa menit kemudian, sopir menyusul dengan kartu kunci di tangan.
"Lantai delapan, Tuan," katanya lirih.
Lift naik tanpa suara berarti. Di dalam ruang sempit itu, Yura bergeser pelan di pelukan Alexa.
Alisnya berkerut, bibirnya bergerak, seolah menahan gelombang lain yang hendak keluar. Alexa menyesuaikan dekapan, menahan bahunya agar tidak terkulai.
Pintu lift terbuka. Melangkah ke koridor yang sunyi. Alexa membuka pintu kamar dengan satu tangan. Begitu masuk, ia menutup pintu dan melangkah cepat ke arah ranjang.
Namun sebelum sempat membaringkan Yura, tubuh gadis itu mendadak menegang.
"Uh—" suara tertahan itu terdengar singkat.
Detik berikutnya, Yura muntah.
Cairan asam mengenai kemeja Alexa, menetes ke lantai karpet. Alexa mengerang tertahan bukan karena jijik, melainkan terkejut dan kesal yang bercampur jadi satu.
Ia memutar tubuh Yura ke samping dengan cepat, menahan rambut gadis itu agar tidak kembali terkena wajahnya.
"Tenang," ucapnya rendah, lebih kepada perintah pada diri sendiri.
Setelah gelombang itu mereda, Alexa membawa Yura ke kamar mandi. Ia mendudukkan gadis itu di tepi bak mandi, meraih handuk, lalu membersihkan sisa muntahan dengan gerakan efisien.
Kemejanya sendiri basah dan berbau tajam, namun ia mengabaikannya. Fokusnya hanya satu, memastikan Yura tidak tersedak dan tetap bernapas dengan baik.
Yura terisak pelan. Kepalanya tertunduk, bahunya naik turun. Di sela napas yang tersengal, suaranya kembali terdengar, lirih dan tidak terarah.
"Aku… aku akan membereskan semuanya," gumamnya. "Aku akan menikah… sebelum Rose dan Kak Ren menikah… supaya mereka bisa hidup dengan bahagia…"
Kata-kata itu jatuh satu persatu, seperti beban yang dilepaskan tanpa sisa tenaga.
Alexa terdiam.
Tangannya yang memegang handuk berhenti sejenak. Ada sesuatu yang beradu di dadanya untuk marah, untuk menolak, untuk menepis semua ini sebagai akibat dari ajimat semata.
Namun pada saat yang sama, ia melihat bahu Yura yang bergetar, mata yang kembali basah, dan wajah yang menyimpan luka terlalu dalam untuk dianggap sepele.
Ia menunduk sedikit, mengusap punggung Yura dengan telapak tangan yang kini lebih pelan. Bukan sentuhan lembut, namun cukup untuk menenangkan.
"Cukup," ucapnya rendah. "Sekarang tenang."
Yura tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali terisak tanpa suara. Alexa dengan tenang membersihkan wajah Yura, membilas mulutnya, dan memastikan kondisinya cukup stabil untuk dipindahkan.
Setelah itu, ia membaringkan Yura di atas ranjang, memiringkan tubuh gadis itu dan menyelipkan bantal di belakang punggungnya agar ia tidak telentang.
Alexa berdiri sejenak di sisi ranjang. Tatapannya tertuju pada Yura yang perlahan kembali terlelap, napasnya mulai teratur, meski wajahnya masih menyisakan kelelahan dan sisa tangis.
Di dalam kepalanya, berbagai pikiran tentang ajimat, tentang pengakuan yang baru saja ia dengar, dan tentang keputusan yang telah ia ambil tanpa banyak pertimbangan malam ini.
Ia menarik napas panjang.
Mungkin semua ini memang akibat pengaruh ajimat itu, pikirnya. Namun satu hal tak bisa ia sangkal, ia tidak sanggup membiarkan gadis itu terus menangis sendirian.
Alexa memalingkan wajah, melepas kemeja yang telah kotor, lalu duduk kembali di kursi dekat ranjang. Malam masih panjang, dan keputusan yang barusan ia ambil, apa pun akhirnya telah menyeretnya masuk terlalu jauh untuk berpaling.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺