NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — Hari Tanpa Rakha

Lapangan terasa lebih luas dari biasanya.

Keenan berdiri di garis tengah, memantulkan bola ke lantai. Pantulannya rapi, berjarak sama, seolah ruang ini perlahan menyesuaikan diri pada ritmenya.

Di kejauhan, ring lain bergetar. Suaranya tipis cepat tenggelam oleh decit sepatu yang bersahutan, lalu hilang begitu saja.

Keenan tetap bergerak.

Dribblenya rendah, menyilang ke kanan. Tubuhnya berputar mengikuti langkah yang bersih—terlalu rapi, seperti latihan yang tak pernah dipotong komentar.

Tembakan pertama masuk.

Bola jatuh dan memantul sekali sebelum ia tangkap. Pandangannya bergeser ke sisi lapangan, tertahan sepersekian detik lebih lama dari yang ia sadari. Ia menarik napas tipis, nyaris tak terdengar, lalu kembali ke posisi semula.

Gerakan berikutnya mengalir begitu saja. Dribble. Pivot. Tembakan dilepas.

Bola memantul keluar.

Rahang Keenan mengeras sedikit. Ia mengambil rebound sendiri, berdiri, lalu memperbaiki posisi kaki. Bahunya berputar pelan, gerakan kecil yang biasanya datang setelah sebuah suara mengoreksi.

Kali ini, tidak ada apa pun.

Ia menembak lagi. Masuk.

Keenan membiarkan bola jatuh dan memantul sekali sebelum menangkapnya. Jemarinya menekan kulit bola lebih lama dari perlu, lalu ia menurunkannya ke lantai, menahan napas sebentar.

Latihan berlanjut.

Tubuhnya bergerak otomatis, ritmenya konsisten, sementara pikirannya kosong dan justru di situlah ganjilnya terasa.

Di dekat bangku cadangan, Nayla akhirnya bersuara.

"Istirahat dulu." Nadanya biasa saja. Tidak mendesak. Tidak pula bercanda.

Keenan tidak menoleh. Bola sudah kembali dipantulkan, tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum kata itu sempat benar-benar menetap. Ia menyilang ke kanan, memutar tubuh, lalu melepaskan tembakan lagi.

Masuk.

Bola jatuh. Ia menangkapnya, lalu bergerak lagi seolah jeda barusan tidak pernah ada.

Nayla tidak mengulang.

Ia hanya mengamati. Bukan karena Keenan tidak mendengar. Tapi karena ia memilih untuk tidak berhenti.

Lapangan tetap hidup. Suara sepatu, pantulan bola, gerakan yang saling bersahutan. Namun ada satu titik yang terasa berbeda—terlalu rapi, terlalu sunyi dengan caranya sendiri.

Nayla memperhatikan cara Keenan berdiri. Dan di situlah ia paham, tanpa perlu menyimpulkan apa pun.

Bukan karena Keenan tidak bisa sendiri.

Melainkan karena selama ini, ia memang tidak pernah benar-benar sendirian.

Keenan terus bergerak.

Tanpa sadar, ada satu hal yang menyusup di sela-sela napasnya sesuatu yang biasanya paling ia kesali—seseorang yang memaksanya berhenti, hanya untuk menyuruhnya mengulang.

Gerakannya mengeras.

Sepatu berdecit lebih tajam di lantai. Bola dipantulkan lebih cepat. Napasnya mulai berat, tertahan di dada.

Namun lapangan tetap sama—ramai, bergerak, hidup. Dan justru di tengah semua itu, Keenan berdiri di ruang sunyinya sendiri.

Latihan selesai lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Keenan duduk di pinggir lapangan, punggung bersandar ke dinding. Keringat mengalir ke pelipis. Ia meneguk air minum, lalu menatap ke depan, tanpa benar-benar melihat apa pun.

Biasanya, Rakha akan duduk di sebelahnya sekarang.

Mengambil botol tanpa izin.

Mengomel soal caranya bermain—apa pun itu.

Hari ini, bangku itu kosong.

Keenan menurunkan botolnya. Diam sejenak.

"Bosan, ya?"

Keenan mengerutkan dahi ke arah Nayla, lalu menggeleng. "Lagi aktif aja."

Nayla tidak langsung membalas. Tatapannya singgah sebentar di sepatu Keenan, lalu naik lagi ke wajahnya.

"Masa?" katanya pelan. "Bukan lagi kesepian?"

Keenan tidak menjawab. Ia hanya menutup botolnya, menegakkan punggung, lalu berdiri seolah itu jawaban yang paling aman.

Saat hendak melangkah pergi, ia berhenti. Berbalik ke arah Nayla.

"Duluan ya, Nay. Sorry."

Nayla tersenyum kecil. Ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya mengangguk, lalu melambaikan tangan pelan, menatap Keenan sampai sosok itu menjauh bersama seluruh barang bawaannya.

Di lorong menuju parkiran, langkah Keenan terdengar lebih pelan dari biasanya.

Ia tidak langsung sadar kapan pikiran itu muncul. Tidak ada keputusan besar. Tidak ada pertimbangan panjang.

Hanya satu dorongan kecil yang terasa… masuk akal.

'Apa gue ke rumah Rakha, ya?'

.

.

Mesin motor menyala tak lama kemudian.

Keenan melaju tanpa tergesa. Jalanan siang itu biasa saja—ramai, panas, penuh suara. Tapi kepalanya terasa terlalu sunyi.

Rumah Rakha terlihat sama seperti terakhir kali. Pagar tinggi. Cat gelap. Terlalu rapi.

Keenan berhenti di depan. Mesin motor dimatikan.

Satpam yang berjaga meliriknya sebentar dari pos kecil di samping gerbang. Tatapan mereka bertemu singkat.

"Nyari siapa?" tanyanya.

"Rakha, Pak."

Satpam itu mengangguk pelan, lalu menekan tombol di samping pos. Gerbang terbuka perlahan, suaranya rendah dan terkontrol.

Keenan mendorong motornya masuk, berhenti di depan pintu utama. Ia ragu sepersekian detik sebelum menekan bel.

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu. Menekan lagi.

Pintu akhirnya terbuka. Rakha berdiri di sana—kaus rumah, wajahnya pucat tapi bersih. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru bangun atau belum benar-benar siap menghadapi hari.

"Oh," katanya singkat. Terlihat kaget. "Lu."

"Iya." Keenan mengangguk kecil. "Gue… lagi lewat."

Rakha menatapnya sebentar, seperti menimbang sesuatu, lalu membuka pintu lebih lebar.

"Masuk."

Rumah itu sunyi.

Bukan sunyi yang nyaman. Sunyi yang menekan, terlalu rapi, sampai suara napas mereka sendiri terdengar jelas.

Hanya mereka. Dan ruang yang terasa lebih besar dari seharusnya.

Rakha berjalan lebih dulu, lalu duduk di sofa yang sama seperti kemarin. Keenan berdiri sebentar, mengamati sekeliling tanpa tujuan, sebelum akhirnya ikut duduk di ujung—menjaga jarak, sekadar cukup.

"Kok sepi?" tanya Keenan. Nadanya datar.

Rakha mengangkat bahu. "Nyokap kerja. Bokap keluar."

"Oh."

Percakapan itu berhenti di sana.

Rakha meraih gelas di meja kecil, meneguk air pelan. Tangannya bergetar sedikit. Tidak sampai mencolok cukup untuk disadari, lalu diabaikan.

Keenan melihatnya. Tidak menyinggung.

"Latihan?" Rakha bertanya akhirnya.

"Iya.", Keenan mengangguk. "Sendiri."

Rakha tersenyum kecil. Bukan senyum senang. Lebih seperti kebiasaan yang muncul tanpa diminta.

"Capek ya."

"Biasa aja." Keenan menggeleng. Lalu, tanpa ia rencanakan, kalimat itu keluar.

"Lapangan sepi kalau lu nggak ada."

Rakha menoleh. Bukan terkejut, tapi cukup lama untuk menunjukkan ia menangkap maksudnya.

"Oh ya?"

Keenan mengangguk. "Lu berisik, banyak ngatur"

Rakha terkekeh pelan—pendek, cepat. Setelah itu, hening turun lagi.

Kali ini tidak menekan.

Waktu berjalan tanpa penanda. Tidak ada obrolan penting. Tidak ada usaha mengisi ruang. Dan Keenan sadar, Rakha tidak sedang menunggu ia pergi.

Ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil di dadanya.

Rakha sendirian.

Bukan kesepian yang meminta dikasihani. Tidak ada keluhan. Tidak ada air mata. Hanya keberadaan yang dibiarkan berjalan sendiri, tanpa siapa pun yang menemaninya.

Keenan menoleh. "Lu udah makan?"

Rakha menggeleng pelan. "Nanti."

Keenan tidak menanggapi. Ia berdiri begitu saja.

"Gue keluar bentar."

"Hah?" Rakha mengangkat kepala. "Ngapain—"

"Bentar," kata Keenan. Nadanya tenang, nyaris santai. "Tunggu aja."

Ia sudah di ambang pintu sebelum Rakha sempat berkata apa pun lagi.

Saat kembali, Keenan membawa dua bungkus makanan sederhana. Tidak ia sebutkan apa isinya. Ia hanya meletakkannya di meja, lalu duduk kembali di tempat semula.

Rakha menatapnya lebih lama dari yang perlu.

"Makasih," katanya pelan.

Keenan mengangguk. "Jangan kebanyakan mikir. Makan."

Rakha mendengus kecil. "Lu jadi sok bijak sekarang."

"Kasihan," balas Keenan santai. "Muka lu keliatan."

Itu bukan kalimat yang manis. Tapi Rakha tetap tersenyum.

Saat Keenan akhirnya pamit, sore sudah turun. Cahaya di halaman depan meredup pelan. Rakha berdiri di ambang pintu, posturnya lebih tegak dari sebelumnya.

"Lu nggak harus balik lagi," katanya.

Keenan menatapnya sebentar. "Gue tau." Lalu, lebih pelan, "Cepet sembuh."

Ia berbalik dan melangkah pergi.

Di atas motor, mesin menyala. Suaranya mengisi jeda yang tadi terlalu sunyi. Keenan menatap lurus ke depan sebelum akhirnya menarik gas.

Baru di situ ia sadar... Ia tidak datang untuk jadi apa pun. Ia hanya tidak mau Rakha sendirian.

Dan entah sejak kapan, itu mulai berarti.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!