Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Udara kembali bergerak.
Bukan hanya angin yang mengalir di antara pepohonan, melainkan sesuatu yang lebih halus seperti dunia yang menghela napas setelah lama menahan diri.
Xuan merasakan perubahan itu di tulangnya.
Bukan kelegaan.
Melainkan kesadaran.
Formasi itu memang telah dilepas, tetapi jejaknya masih menempel di kulit realitas. Seseorang dengan sengaja menandai wilayah ini. Bukan untuk membunuh. Bukan untuk menjebak selamanya. Melainkan untuk menguji.
“Mereka tahu kita akan lolos,” kata Xuan pelan.
Lin Que yang masih berlutut mengangkat kepala. “Yang Mulia?”
“Formasi ini terlalu rapi,” lanjut Xuan. “Dan dilepaskan terlalu mudah.”
Shen Yu menyipitkan mata. “Artinya?”
“Artinya,” Ye menjawab menggantikan, “ini bukan jebakan terakhir. Ini undangan.”
Hui mendesis. “Aku tidak suka undangan yang baunya licik.”
Yun Ma berdiri sedikit terpisah, menatap tanah bekas formasi. Simbol-simbol lama telah pudar, namun bekas niatnya belum sepenuhnya hilang. Ia berlutut, menyentuhkan ujung jarinya ke tanah.
Getaran kecil menjalar ke telapak tangannya. “Mereka ingin memastikan satu hal,” kata Yun Ma pelan.
Xuan menoleh. “Apa?”
“Bahwa kau masih hidup,” jawab Yun Ma. “Dan bahwa kau tidak sendirian.” jawab Yun Ma dan kalimat itu jatuh lebih berat daripada ancaman mana pun. Karena itu berarti, sejak saat ini, setiap langkah Xuan bukan lagi hanya miliknya.
—
Mereka tidak melanjutkan perjalanan hari itu.
Bukan karena lelah, melainkan karena Ye bersikeras bahwa wilayah ini perlu “ditenangkan” terlebih dahulu. Jejak formasi yang dilepas secara paksa meninggalkan celah tipis cukup bagi pengamat terlatih untuk melacak arah mereka selanjutnya.
Shen Yu menyalakan api kecil yang tidak memancarkan cahaya. Api Sunyi. Ia memutarnya perlahan di udara, membiarkan panasnya melahap sisa niat asing. “Ini hanya akan menunda,” katanya datar.
“Menunda cukup,” jawab Yun Ma. “Kami tidak sedang berlomba.”
Xuan duduk di atas batu datar, pedangnya diletakkan di pangkuan. Ia memperhatikan Yun Ma bekerja cara ia bergerak tanpa tergesa, cara ia menyentuh dunia seolah meminta izin, bukan memerintah.
Untuk pertama kalinya, muncul pikiran yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya, Beginikah seharusnya kekuasaan bekerja? Bukan dengan rantai dan bukan pula paksaan melainkan keterikatan yang membuat orang memilih untuk berdiri.
—
Malam turun lagi.
Api unggun kecil menyala, cukup untuk menghangatkan, tidak cukup untuk terlihat dari jauh.
Lin Que akhirnya berbicara. “Yang Mulia… kami gagal.”
Xuan tidak langsung menjawab.
“Kami seharusnya menyadari formasi itu lebih cepat,” lanjut Lin Que. “Kami membiarkan Yang Mulia berputar dalam jebakan selama lima hari.”
“Dan aku membiarkan diriku berjalan,” jawab Xuan tenang. “Kesalahan itu milik kita semua.”
Lin Que terdiam.
“Apa yang kau rasakan saat terjebak?” tanya Yun Ma tiba-tiba.
Xuan menoleh. Pertanyaan itu bukan interogasi. Lebih seperti… undangan untuk jujur.
“Marah,” jawab Xuan setelah hening singkat. “Bukan pada musuh. Pada diriku sendiri.”
Ia menatap api “Aku pernah memimpin dunia. Dan aku tidak bisa memimpin langkahku sendiri keluar dari lingkaran batu.”
Hui mengibas-ngibaskan ekornya. “Hei! Bahkan sungai terbesar pun bisa tersesat di rawa kalau jalannya diputar!”
Yun Ma tersenyum tipis.
“Kau keluar,” katanya pada Xuan. “Bukan karena kekuatan. Tapi karena kau akhirnya berhenti melawan arah dan mendengar.”
Xuan mengangkat pandangannya. “Mendengar apa?”
“Benang,” jawab Yun Ma sederhana.
Hening kembali turun.
Namun kali ini, bukan hening yang menekan.
—
Jauh dari sana, di tempat yang tidak tercatat di peta mana pun, seseorang berdiri di depan meja batu hitam. Di atasnya, cermin air bergetar, memantulkan bayangan hutan, api kecil, dan enam sosok yang duduk mengelilinginya.
Sosok itu tersenyum.
“Menarik,” gumamnya.
Bayangan lain muncul di sampingnya. “Mereka bergerak terlalu cepat.”
“Bukan cepat,” sang sosok membalas. “Selaras. Dan itu lebih berbahaya.”
Cermin air beriak, menyorot Yun Ma.
“Siapa wanita itu?” tanya bayangan kedua.
“Variabel,” jawab yang pertama. “Dan variabel… harus diukur.”
“Dihilangkan?”
“Belum,” katanya pelan. “Jika kita menghilangkannya sekarang, benang akan menjerit. Dunia akan memperhatikan.”
Ia menelusuri permukaan cermin dengan satu jari. Riak berubah, menampilkan Kota Qinghe yang tenang, toko obat Feng Ling yang masih berdiri, dan Ayin yang menyapu halaman.
“Namun jangkar bisa diuji,” bisiknya.
—
Di Qinghe, Ayin berhenti menyapu.
Angin bertiup sedikit terlalu dingin untuk musim itu.
Ia mengangkat kepala, menatap langit. Perlindungan masih utuh. Simbol-simbol yang ditanam Yun Ma berdenyut lembut, menolak sesuatu yang mencoba mendekat.
Ayin menggenggam sapu lebih erat.
“Aku di sini,” gumamnya. “Dan aku tidak akan bergeser.”
Bayangan di sudut kota mundur, terhalang oleh sesuatu yang tidak terlihat bukan tembok, bukan cahaya, melainkan penolakan.
—
Kembali di hutan, Xuan berdiri.
“Kita tidak bisa kembali ke Qinghe,” katanya tiba-tiba.
Yun Ma mengangguk. “Aku tahu dan kita tidak bisa langsung ke istana,” lanjutnya.
Ye menyeringai tipis. “Itu akan menjadi bunuh diri.”
“Namun kita juga tidak bisa bersembunyi,” tambah Shen Yu.
Xuan menatap mereka satu per satu. “Dewan Bayangan akan bergerak. Jika mereka tidak bisa menjebakku… mereka akan menyerang apa yang aku wakili.”
“Kebenaran,” kata Yun Ma.
Xuan mengangguk.“Maka kita akan memaksa mereka keluar,” lanjutnya. “Bukan dengan pedang. Tapi dengan jejak.”
Ia memandang Yun Ma. “Kau bilang dunia salah memilih musuh.”
“Ya.”
“Maka kita beri dunia pilihan lain,” katanya pelan. “Kebenaran yang tidak bisa diabaikan.”
Hui bertepuk tangan kecil. “Oh! Aku suka rencana yang membuat orang panik!”
Ye menghela napas. “Ini akan menarik perhatian.”
“Itu tujuannya,” jawab Xuan.
Yun Ma menatapnya lama. Lalu tersenyum bukan senyum ringan, melainkan senyum seseorang yang tahu badai akan datang, dan memilih berjalan ke arahnya.
“Kalau begitu,” katanya, “kita mulai dengan saksi.”
Xuan mengernyit. “Saksi?”
“Orang-orang yang selamat dari kebohongan,” jawab Yun Ma. “Desa-desa yang dihancurkan lalu disalahkan pada Kerajaan Kegelapan. Keluarga yang kehilangan, tapi tidak pernah diberi penjelasan.”
Shen Yu menegakkan tubuh. “Itu berarti kita masuk wilayah abu-abu.”
“Dewan Bayangan hidup di sana,” kata Yun Ma. “Dan di sanalah kebenaran sering bersembunyi.”
Xuan mengangguk perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan istana, langkah di depannya terasa jelas bukan karena jalannya lurus, tetapi karena arahnya disepakati.
—
Malam semakin larut.
Namun di banyak tempat, orang-orang mulai terbangun.
Bukan oleh mimpi.
Melainkan oleh perasaan aneh bahwa sesuatu yang lama terkubur… mulai bergerak.
Dan Dewan Bayangan, yang selama ini menonton dari balik tirai, akhirnya menyadari satu hal yang terlambat:
Permainan ini tidak lagi mereka kendalikan sepenuhnya karena kebenaran sekali mulai berjalan jarang mau berhenti.
Bersambung