Entah nasib sial, atau memang sudah menjadi takdir dari seorang Zakiya Alarice. Kedua kabar buruk menimpanya dalam satu waktu, yang pertama kabar kebangkrutan keluarganya hingga ia kehilangan semua aset-aset berharganya, dan yang kedua kabar penangkapan kakaknya yang selama ini menjadi satu-satunya pelindung untuknya karena kasus pembunuhan.
Kia yang selama ini hanya tahu tentang bersenang-senang, tiba-tiba dihadapkan pada masalah yang rumit. Tanpa tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengembalikan kekayaannya dan juga menolong kakaknya.
Disaat kebingungan itu, Kia menemui seorang pengacara atas perintah kakaknya. Namun, sang pengacara justru meminta dirinya untuk menjadi istri sirri sebagai imbalan untuk penyelesaian masalahnya.
Maukah Kia menjadi istri sirri sang pengacara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20
Seperti biasa Kia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian dinasnya saat bekerja. Hari ini si leader Babe, alias Beny tidak masuk karena ijin sakit. Hanya Kia dan Rena saja yang akan bekerja kali ini.
Tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan Rena, Kia terus mengajak Rena mengobrol dari hal remeh-temeh sampai ke hal-hal yang serius. Ternyata Rena anak yang asyik untuk diajak mengobrol, meski ada sisi lain yang seolah Rena tutupi. Rena menolak bercerita tentang keluarganya. Itu tidak masalah untuk Kia, karena dia sendiri pun tidak sepenuhnya jujur pada Rena.
"Bagaimana kalau besok kita jenguk Beny, aku juga ingin mengenal dia lebih jauh," ajak Kia disela-sela kegiatan mencuci piringnya.
Rena mengangguk saja sebagai persetujuan.
🍁🍁🍁🍁
Satria yang tadi sore mendapatkan telfon dari Sarah yang mengajaknya untuk berkunjung ke rumah mertuanya, kini sudah berada di depan rumah sang mertua. Satria langsung disambut oleh kepala pelayan di rumah itu dan mengantarnya kemeja makan. Di mana Sarah, istrinya, dan juga Aditya Wilmar sang mertua sudah menunggunya.
"Kamu sudah datang? apa pekerjaanmu sangat banyak hingga kamu terlambat?" tanya Aditya saat Satria mulai duduk.
"Iya, Pa. Aku sedang menangani kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada putra dari Surya Atmadja," jawab Satria tersenyum ramah.
"Kasian sekali, setelah kepergian papanya, dia tidak bisa menghandle perusahaan hingga bangkrut, dan sekarang harus ditahan atas kasus pembunuhan," ujarnya sambil mengambil nafas dalam. Pria yang tak lagi muda itu, sudah sakit-sakitan. Dia bahkan memiliki riwayat sakit jantung.
Aditya pun memulai acara makan malam dengan putri dan menantunya dalam hening. Bahkan suara sendok dan garpu pun tak terdengar karena mereka makan dengan sangat halus.
Setelah acara makan malam itu, Aditya mengumpulkan putri dan menantunya di ruang kerjanya. Mereka duduk di sofa, di mana Satria dan Sarah duduk berdampingan dan Aditya duduk di sofa kebesarannya sambil menghadap putri dan menantunya.
Aditya berdehem sebelum ia membuka pembicaraan. "Aku mengumpulkan kalian di sini karena ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya dengan serius.
Sementara Satria dan Sarah hanya diam mendengarkan.
"Aku sudah terlalu tua dan juga sakit-sakitan. Aku ingin melihat rumah tangga kalian selayaknya rumah tangga pada umumnya. Bukan seperti sekarang ini." Aditya menatap Sarah dan Satria bergantian.
"Aku juga menginginkan seorang cucu, aku ingin bermain dengan cucuku di hari-hari terakhir hidup ku."
"Pa ... jangan bicara seperti itu. Papa akan selalu sehat," sela Sarah.
"Ya ... aku akan selalu sehat untuk bisa melihat kalian memberikan aku cucu," sambungnya kemudian terbatuk.
"Sarah, sudah cukup untuk mu mengejar karir. Pikirkan juga suami mu, selama ini Satria sudah menjadi tameng sebagai suamimu. Bangunlah rumah tangga kalian dengan serius."
"Maksud Papa, apa?" tanya Sarah terkejut dengan permintaan papanya.
Begitu juga dengan Satria, dia tak kalah terkejutnya dengan permintaan mertuanya untuk dirinya agar kembali membangun rumah tangganya dengan Sarah.
"Sarah, selama ini Papa diam dengan semua perbuatanmu pada Satria. Papa membiarkan mu berkarir hingga mencapai kesuksesan yang kamu inginkan, karena papa begitu menyayangi mu." Aditya kembali mengambil nafasnya dalam.
"Tapi kebebasan mu sudah melampaui batasan mu, Kamu sudah terlalu bebas hingga kamu lupa dan mengabaikan apa yang menjadi tugas mu."
"Aku yang membujuk Satria agar mengijinkan mu meraih impian mu, demi kebahagiaan mu. Dan aku menjanjikan bahwa aku akan tetap membuat mu menjadi istri yang bertanggung jawab. Tapi kamu membuat ku malu pada menantu ku, kamu lupa dengan status mu. Kamu keluar dari batasan mu, kamu abaikan apa yang menjadi kodrat mu. Dan aku tidak bisa lagi menerima itu." Aditya mengucapkannya dengan tatapan sendu, dan perasaan bersalah kepada menantunya.
"Aku tidak melupakan tugas ku, Pa. Aku tetap menjadi istrinya seperti kesepakatan kami. Dan untuk saat ini aku tidak bisa mundur dari karir ku, aku masih punya tanggung jawab dengan kontrak kerja yang harus aku selesaikan."
"Cukup Sarah, sudah cukup kamu memperturutkan nafsu mu. Jangan membuat Papa semakin malu pada Satria," ucap Aditya yang terlihat menitikan air mata.
"Pa ... aku janji akan berhenti dari karir ku, tapi tidak untuk saat ini. Satria bisa mengerti itu, benar kan, Satria?" Sarah menatap Satria, meminta dukungan dari pria yang berstatus suaminya itu.
Melihat betapa sedihnya mertuanya karena menanggung rasa bersalah, Satria pun mengukir senyum di bibirnya. "Benar Pa, Satria tidak keberatan jika Sarah masih ingin berkarir. Papa jangan lagi merasa bersalah, karena Satria sungguh tidak keberatan." Satria kembali tersenyum berusaha meyakinkan mertuanya tentang perasaannya yang benar-benar ikhlas akan karir istrinya.
Sarah langsung mengakhiri pembicaraan ini dengan mengajak papanya untuk segera istirahat. Sarah juga mengantar papanya kedalam kamar.
Di dalam kamar, Satria berdiri di balkon. Menatap langit yang saat ini begitu indah dengan hiasan bintang-bintang.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Sarah yang baru saja datang.
"Sampai kapan kita akan mempertahankan sandiwara ini?" tanya Satria tanpa menatap Sarah yang ada di sampingnya.
"Sampai aku menginginkan semuanya berakhir," jawab Sarah tanpa beban.
"Sarah." Satria memutar tubuhnya menatap Sarah yang juga sedang menatapnya.
"Ayo kita akhiri semuanya, kamu bisa menikah lagi dengan pria yang kamu inginkan dan mewujudkan keinginan papa mu untuk memiliki seorang cucu."
Sarah tertawa mendengar ucapan Satria seolah ini sebuah lelucon. Sarah mendekatkan tubuhnya pada Satria, menatap lembut pria itu. Lalu mengalungkan lengannya di leher Satria.
"Kalau cuma ingin cucu, kita bisa mewujudkannya, bukan?" ucap Sarah dengan nada sensual.
Sarah bergerak untuk mencium Satria, namun pria itu memalingkan wajahnya berusaha menghindar.
"Kenapa? sudah lama kita tidak melakukannya. Apa kamu tidak mengingikannya?" Sarah semakin menggoda, wanita ini tak akan menyerah sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Semakin ditolak, semakin Sarah merasa tertantang untuk bisa menakhlukkan pria di depannya ini.
Sudah lama sekali Sarah mengabaikan Satria, selama itu juga Sarah tak pernah merasakan sentuhan pria itu. Malam ini, Satria begitu tampak menawan di matanya.
Sarah menginginkan pria yang berstatus suaminya ini. Dia ingin kembali merasakan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan, saat mereka masih bersama-sama. Sarah mengusap lembut dada Satria, untuk memancing hasrat pria itu. Bagaimana pun, pernikahan mereka sudah berjalan cukup lama, dan Sarah hafal titik sensitif yang bisa membangkitkan keinginan suaminya.
Tanpa ijin, Sarah memagut bibir Satria
Berusaha membuat Satria menginginkan lebih. Namun sepertinya, strateginya tidak berhasil, Satria tidak membalas ciumannya. Satria bahkan melepaskan tangan sarah yang melingkar di lehernya. Mendorong tubuh Sarah dengan perlahan.
"Kita tidak bisa lagi seperti dulu, dan aku juga tidak bisa memberikan mu seorang anak. Sebaiknya, pikirkan apa yang aku ucapkan untuk mengakhiri semuanya." Setelah mengucapkannya, Satria pergi meninggalkan Sarah yang mematung karena telah ditolak oleh pria yang dulu begitu mencintainya.