NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: TAHTA KOSONG DAN MUSUH BERNAMA MATEMATIKA

Senin Pagi, Pukul 07.00 WIB

SMA Pertiwi (Lobi Utama)

​Suasana sekolah pagi ini berbeda. Udaranya terasa lebih ringan, seolah awan hitam yang menggantung selama ini sudah sirna.

​Berita tentang penangkapan Julian Adhitya dan Kairos sudah menyebar di seluruh berita nasional pagi ini. Headline-nya: "Skandal Putra Ketua Yayasan: Terlibat Sindikat Premanisme dan Pengancaman."

​Di lobi, Roseanna Vallerian berjalan masuk. Langkahnya tegap, dagunya terangkat. Tapi kali ini, tidak ada lagi tatapan takut dari adik kelas. Yang ada adalah tatapan kagum dan hormat.

​Roseanna bukan lagi Ratu yang ditakuti karena galak. Dia adalah Ratu yang menyelamatkan sekolah dari predator.

​"Pagi, Rose!" sapa beberapa siswi dengan tulus.

Roseanna mengangguk, tersenyum tipis. "Pagi. Dasinya dirapiin ya."

​Di belakangnya, Geng Royals berjalan formasi lengkap.

Lia (nguap sambil dengerin lagu), Raisa (jalan tegap kayak tentara), Aqeela (dadah-dadah kayak Miss Universe), dan Naura (bawa tablet).

​Mereka sampai di mading sekolah. Ada pengumuman baru yang ditempel besar-besar.

​PENGUMUMAN:

UJIAN NASIONAL (UN) AKAN DILAKSANAKAN 2 MINGGU LAGI.

HARAP PERSIAPKAN DIRI.

​Lia berhenti di depan pengumuman itu. Dia menurunkan headphone-nya.

​"Hah... musuh baru," gumam Lia malas. "Matematika. Lebih nyebelin daripada Kairos."

​Jam Istirahat - Perbatasan Tembok (Zona Netral)

​Sejak insiden gudang, tembok pembatas antara Pertiwi dan Rajawali seakan "runtuh". Tidak ada lagi lempar-lemparan sampah. Yang ada sekarang adalah Posko Gabungan.

​Anak-anak Vanguards duduk di atas tembok (posisi favorit mereka), sementara anak-anak Royals duduk di bangku taman di bawahnya.

​Mohan Alveric duduk di dahan pohon yang kokoh. Visualnya benar-benar mengintimidasi: Tinggi 195 cm, bahu lebar, otot lengan sebesar paha orang normal, dada bidang yang menonjol di balik seragam kekecilan. Kalau dia diam, orang pasti ngira dia pembunuh bayaran.

​Tapi sekarang, si Raksasa Otot itu sedang memegang buku mewarnai gambar My Little Pony.

​"Harry, pinjem krayon warna pink dong," pinta Mohan dengan suara beratnya. "Kuda poninya mau Mohan kasih nama 'Princess'."

​Harry, yang masih memegang punggungnya (sakit bekas jatoh), melempar krayon. "Nih, Han. Jangan dipatahin lagi ya. Tenaga lo kegedean."

​Di bawah pohon, Fattah Maverick sedang merokok (sembunyi-sembunyi) sambil ngobrol sama Roseanna yang berdiri di balik pagar kawat (yang kawatnya udah dipotong dikit biar bisa ngoper jajanan).

​"Julian divonis berapa taun?" tanya Fattah.

​"Belum vonis. Tapi Papanya udah dipecat dari Yayasan. Asetnya disita buat ganti rugi," jawab Roseanna puas. "Sekarang sekolah gue bersih."

​"Baguslah," Fattah menghembuskan asap rokok ke samping (biar nggak kena Rose). "Tugas gue selesai. Gue bisa pensiun jadi bodyguard dadakan."

​"Enak aja pensiun," Roseanna menunjuk buku LKS di tangan Fattah. "Lo harus lulus, Fattah. Jangan sampe lo nggak lulus UN. Malu-maluin gue punya sekutu bodoh."

​Fattah nyengir kecut. "Otak gue isinya cuma mesin sama strategi tawuran, Rose. Rumus Integral nggak muat."

​Krisis Akademik Ilham

​Di bangku taman, Ilham Mahendra sedang menatap lembar Try Out Matematika-nya dengan tatapan kosong.

​Nilainya: 15,5. (Dari skala 100).

​"Ancur..." gumam Ilham frustrasi. "Masa depan gue suram. Gue bakal berakhir jadi tukang parkir beneran kayak pas nyamar kemaren."

​Lia duduk di sebelahnya, sedang membaca novel tebal bahasa Inggris. Dia melirik kertas nilai Ilham.

​"Lima belas koma lima?" Lia menaikkan alis. "Itu nilai atau suhu AC?"

​Ilham meremas kertas itu. "Diem lo. Jangan hina gue. Gue lagi berduka."

​"Soal nomer 1 aja salah," Lia menunjuk kertas lecek itu. "2x + 5 \= 15. x-nya berapa?"

​Ilham mikir keras. Keningnya berkerut sampai urat-urat di kepala botaknya kelihatan. "Emm... 10?"

​Lia menepuk jidatnya sendiri. "Lima, Botak. Lima. 2 kali 5 itu 10, tambah 5 jadi 15. Anak SD juga tau."

​"Ya gue lupa! Gue kan anak STM, bukan anak Olimpiade!" bela Ilham.

​Lia menutup novelnya. Dia menatap Ilham lekat-lekat.

​"Lo mau lulus nggak?" tanya Lia serius.

​"Ya mau lah! Emak gue bisa serangan jantung kalau gue nggak lulus!"

​"Yaudah," Lia menghela napas panjang, seolah dia baru saja membuat keputusan terberat dalam hidupnya. "Gue ajarin."

​Ilham melongo. "Hah? Lo? Ngajarin gue? Lo kan males ngomong."

​"Gue emang males. Tapi gue lebih males liat muka sedih lo kalau nggak lulus," kata Lia datar, membuang muka. "Lagian, kalau lo nggak lulus, lo nggak bisa kuliah. Kalau lo nggak kuliah, lo nggak bisa dapet kerja bagus. Kalau nggak kerja bagus..."

​Lia menggantung kalimatnya. Kalau nggak kerja bagus, lo nggak bakal bisa selevel sama gue.

​"Kalau nggak kerja bagus kenapa?" tanya Ilham polos.

​"Bodo amat. Nanti sore ke rumah gue. Bawa buku, jangan bawa otak kosong," Lia berdiri, mengibaskan rambutnya. "Dan jangan telat. Waktu gue mahal."

​Ilham menatap punggung Lia yang menjauh. Jantungnya berdegup kencang.

​Dia diajak belajar bareng? Di rumah Lia? Berdua?

​"Woy! Rejeki nomplok!" sorak Harry dari atas pohon. "Awas Ham, jangan sampe lo malah diajarin biology alias reproduksi!"

​"Otak lo kotor, Kribo!" Ilham melempar sepatu ke Harry.

​Sore Hari - Perpustakaan Rumah Lia

​Ilham datang tepat waktu (tumben). Dia sudah mandi, pake baju rapi (kemeja flanel dikancingin sampe atas), dan bawa tas ransel isi buku.

​Dia masuk ke perpustakaan pribadi di rumah Lia. Ruangannya dingin, wangi buku tua dan aromatherapy.

​Lia duduk di meja belajar besar, memakai kacamata baca (bikin damage kecantikannya nambah 100%).

​"Duduk," perintah Lia tanpa nengok.

​Ilham duduk. Dia merasa kecil di ruangan mewah ini.

​"Kita mulai dari yang gampang. Logika Matematika," Lia menyodorkan kertas. "Jika p maka q. Jika Ilham botak, maka Ilham jelek. Itu premis benar atau salah?"

​Ilham cemberut. "Salah. Premis yang bener: Jika Ilham botak, maka Ilham makin seksi."

​"Salah," Lia memukul tangan Ilham pake penggaris. Pletak! "Jangan narsis. Fokus."

​Mereka belajar selama dua jam. Ternyata Lia guru yang galak tapi efektif. Dia nggak ngejelasin pake rumus ribet, tapi pake analogi yang Ilham ngerti (pake analogi mesin motor atau tawuran).

​"Nah, gitu dong. Otak lo sebenernya encer, cuma ketutup oli," puji Lia saat Ilham berhasil ngerjain soal aljabar.

​Ilham nyengir bangga. "Berkat Bu Guru Galak."

​Tiba-tiba, hening. Ilham menatap Lia yang sedang sibuk nulis rumus.

​Ilham sadar sesuatu. Jarak mereka jauh banget. Lia pintar, kaya, cantik, masa depannya cerah (kuliah di luar negeri, mungkin). Sedangkan dia? Dia cuma anak STM yang baru belajar aljabar dasar.

​"Li," panggil Ilham pelan.

​Lia mendongak. "Apa? Capek?"

​"Lo... abis lulus mau kemana?" tanya Ilham ragu.

​"Rencananya sih lanjut ke London School of Economics atau Melbourne Uni," jawab Lia santai. "Kenapa?"

​Jleb. Luar negeri.

​"Jauh banget," gumam Ilham, senyumnya pudar. "Berarti kita pisah dong?"

​Lia terdiam. Dia meletakkan pulpennya. Dia menatap Ilham.

​"Emang kenapa kalau pisah?" tanya Lia, nadanya sedikit menguji.

​"Ya... sepi aja. Nggak ada yang gue gangguin lagi," Ilham mencoba bercanda, tapi matanya sedih.

​Lia menghela napas. Dia menutup bukunya.

​"Ilham," panggil Lia, kali ini suaranya lembut.

​"Ya?"

​"Dunia itu luas. London itu jauh, tapi pesawat ada tiap hari," kata Lia. "Yang bikin jauh itu bukan jarak. Tapi kemauan."

​Lia mencondongkan tubuhnya sedikit.

​"Kalau lo mau ngejar gue... lari yang kenceng. Jangan jalan di tempat. Buktiin kalau lo pantes berdiri di samping gue, bukan cuma sebagai bodyguard, tapi sebagai partner."

​Kata-kata itu menohok ulu hati Ilham. Itu bukan penolakan. Itu tantangan.

​Ilham mengepalkan tangannya di bawah meja.

​"Oke," kata Ilham mantap. "Liat aja. Gue bakal lari kenceng. Gue bakal sukses. Gue bakal beli tiket pesawat ke London pake duit gue sendiri."

​Lia tersenyum. Senyum tulus yang bikin Ilham meleleh.

​"Gue pegang omongan lo, Botak. Sekarang kerjain nomer 5 sampe 10. Salah satu, push up 50 kali."

​"Siap, Bos!"

​Di Tempat Lain - Warung Kopi

​Fattah dan Mohan sedang makan mie instan. Mohan (dengan otot besarnya) memegang mangkok mie yang kelihatan kayak mangkok mainan di tangannya.

​"Bos," kata Mohan sambil ngunyah. "Mohan bingung."

​"Bingung kenapa, Han?"

​"Mohan badannya gede. Kuat. Tapi Mohan nggak suka berantem. Mohan sukanya masak," curhat Mohan.

​Fattah menatap sahabatnya yang berotot kawat tulang besi itu.

​"Yaudah, jadi Chef aja, Han. Chef yang badannya gede kan keren. Bisa ngupasin kelapa pake tangan kosong," saran Fattah.

​"Emang boleh?"

​"Boleh lah! Siapa yang ngelarang? Nanti kalau ada pelanggan yang komplain makanannya nggak enak, lo tinggal melotot aja. Pasti mereka langsung bilang enak," canda Fattah.

​Mohan ketawa senang. "Iya juga ya Bos. Mohan mau jadi Chef ah."

​Fattah tersenyum. Setidaknya satu orang sudah punya tujuan.

​Tapi Fattah sendiri... dia masih bingung. Dia melihat ke arah gedung SMA Pertiwi yang megah di kejauhan.

​Dia Raja Jalanan. Tapi jalanan nggak punya masa depan.

​"Gue harus berubah," batin Fattah. "Demi diri gue sendiri. Dan mungkin... demi seseorang di seberang tembok sana."

​Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Tapi ujian sesungguhnya bagi Savage Royalty adalah menemukan jati diri mereka masing-masing sebelum bel perpisahan berbunyi.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!