Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Setelah tuntas menumpahkan beban rahasia yang selama ini ia pikul sendiri, Daniel bangkit dari kursinya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut tanpa menatap kedua orang tuanya yang masih termenung lemas.
"Daniel ke depan sebentar ya, Mah, Pah. Mau cari angin sambil menunggu makan malam siap," pamitnya dengan suara bariton yang terdengar datar, lalu melangkah tegap meninggalkan ruang perpustakaan.
Sementara itu di lantai dua, Nyonya Tania memutuskan untuk menemui Shanum di kamar bayi. Dengan senyum keibuan yang dipaksakan demi menutupi rasa sedihnya, ia mengetuk pintu kamar.
"Shanum, Ziva sepertinya sudah mulai tenang tidurnya. Ayo, kamu turun ke bawah, kita makan malam bersama," ajak Nyonya Tania ramah begitu pintu terbuka.
Shanum yang sedang merapikan boks bayi langsung menoleh dengan raut wajah sungkan. "Ah, terima kasih banyak atas ajakannya, Nyonya. Tapi... rasanya kurang sopan jika saya ikut makan satu meja dengan keluarga Nyonya. Nanti saya bisa makan belakangan di dapur bersama Bik Sumi."
Mendengar penolakan halus itu, Bik Sumi yang kebetulan sedang berada di sudut kamar untuk mengambil pakaian kotor Ziva, langsung mendekat dan berbisik pelan di dekat telinganya Shanum.
"Aduh, Mbak Shanum... mendingan ikut saja," bisik Bik Sumi dengan wajahnya yang cemas dibuat-buat. "Di rumah ini, kalau Nyonya Besar sudah berkehendak, tidak ada satu orang pun yang berani membantah. Daripada nanti Nyonya Tania tersinggung, repot urusannya, Mbak!"
Shanum menelan ludahnya pelan. Menatap binar mata Nyonya Tania yang penuh harap namun tegas, ia akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengangguk pasrah. "Baiklah, Nyonya. Saya rapikan hijab saya sebentar lalu segera turun."
Di ruang makan yang megah, aroma masakan lezat khas koki rumah sudah menggugah selera. Tuan Lee, Nyonya Tania, dan Daniel sudah duduk tenang di posisinya masing-masing. Suasana sempat hening sampai langkah kaki yang serba pelan terdengar mendekat. Shanum muncul dengan kepala sedikit tertunduk, meremas jemarinya sendiri karena gugup.
"Wah, kebetulan sekali Shanum! Ayo, langsung duduk dan ikut makan malam bersama kami," sambut Nyonya Tania dengan suara riang, memecah ketegangan.
Shanum tidak langsung duduk. Ia melirik ragu ke arah Daniel, mencoba membaca situasi apakah sang dokter keberatan dengan kehadirannya. Daniel yang menyadari tatapan itu mendongak. Di balik kacamata beningnya, sepasang mata elang pria itu menatap Shanum dengan lembut, lalu ia mengangguk pelan memberikan isyarat agar Shanum tidak perlu merasa segan.
Melihat anggukan Daniel, Shanum merasa sedikit lega. Ia melangkah maju dan menarik kursi yang berada tepat di samping Dokter Daniel, karena hanya kursi itu yang tersisa kosong di dekat area hidangan utama.
Makan malam pun dimulai dalam keheningan yang cukup intens. Hanya terdengar denting halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Shanum makan dengan gerakan yang sangat anggun namun luar biasa berhati-hati. Jantungnya berdegup kencang karena harus bersanding sedekat ini dengan bos besarnya, ditambah kehadiran kedua orang tua konglomerat di hadapan mereka.
Di seberang meja, Nyonya Tania tidak sepenuhnya fokus pada makanannya. Matanya sesekali melirik tajam ke arah Daniel, lalu beralih memperhatikan Shanum. Ia menangkap momen kecil di mana Daniel secara refleks menggeser mangkuk sayur agar lebih dekat dan mudah dijangkau oleh tangan Shanum.
Melihat perhatian-perhatian kecil yang tidak biasa dari putra dinginnya itu, sebuah senyuman tipis misterius kembali terukir di bibir Nyonya Tania.
'Sopan, lemah lembut, dan tahu tata krama. Sepertinya Shanum memang sangat cocok untuk menjadi istrinya Daniel dan ibu sambung yang nyata untuk Ziva. Dan kalau melihat gerak-geriknya Daniel malam ini... sepertinya diam-diam putraku itu memang mengagumi wanita ini,' batin Nyonya Tania penuh harap, menyusun rencana baru di dalam kepalanya.
*
*
Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing ketika sedan mewah Daniel meluncur membelah jalanan yang masih lengang. Pria itu sengaja berangkat sangat pagi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya. Daniel memang terkesan menghindar dari desakan perjodohan di rumah, namun alasan utamanya pergi sepagi ini adalah untuk menyelesaikan kasus kriminal Dokter Maura yang belum tuntas. Nyawa putrinya hampir terancam, dan Daniel tidak akan membiarkan pelakunya melenggang bebas begitu saja.
Setibanya di rumah sakit, Daniel langsung melangkah menuju koridor poliklinik anak dengan rahang kokoh yang mengeras. Benar saja, di dekat meja resepsionis, Dokter Maura sedang berdiri memberikan instruksi kepada beberapa perawat.
Tanpa basa-basi, Daniel melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa seketika memutus obrolan di sana.
"Dokter Maura," tegur Daniel, suaranya terdengar berat, dingin, dan menggelegar di sepanjang koridor.
Maura tersentak kaget. Sebelum ia sempat memasang senyum manisnya, Daniel sudah menyodorkan salinan nota pembelian obat dari farmasi beserta surat pernyataan tertulis di atas meterai yang baru saja ditandatangani oleh Suster Dania tadi subuh.
"Bisa jelaskan mengapa asisten pribadimu menebus antibiotik berisi zat kloramfenikol atas perintahmu, lalu obat itu tiba-tiba berada di kamar bayi anakku?" tanya Daniel dengan lantang di depan perawat lain.
Wajah Maura seketika memucat, namun ia mencoba mempertahankan harga dirinya. "Dokter Daniel, apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa! Jangan menuduhku tanpa bukti, bisa saja pengasuh kampungan itu yang membelinya sendiri!"
"Cukup, Maura!" bentak Daniel tegas.
Semua perawat dan staf yang menyaksikan kejadian itu langsung menahan napas, terkejut setengah mati. Dokter Daniel yang biasanya selalu tenang, elegan, dan sedingin es, kini telah berubah menjadi sosok serigala yang menakutkan dan siap mencabik musuhnya.
"Jangan sebut dia pengasuh kampungan karena dia jauh lebih terhormat dibandingkan dirimu! Suster Dania sudah mengakui semuanya. Rekaman CCTV koridor farmasi saat asisten mu menebus obat ini juga sudah ada di tanganku," desis Daniel dengan mata elang yang berkilat marah. "Kau tidak bisa mengelak lagi."
Melihat bukti dan saksi yang begitu kuat, pertahanan Maura runtuh berkeping-keping. Pagi itu juga, di depan staf medis lainnya, Daniel menjatuhkan putusan mutlaknya. Sebagai putra mahkota pemilik tunggal Rumah Sakit Citra Medika, Daniel memiliki wewenang penuh atas operasional dan tindakan indisipliner berat.
"Mulai detik ini, kau dipecat secara tidak hormat dari rumah sakit ini, dan saya sendiri yang akan memastikan surat rekomendasi pencabutan izin praktik mu segera diproses ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Tindakanmu sudah masuk ranah kriminal!"
Tangis Maura langsung pecah seketika. Ia menangis histeris, melupakan segala keangkuhannya, lalu bersujud di dekat kaki Daniel untuk memohon ampun.
"Dokter Daniel, aku mohon maafkan aku! Jangan cabut izin praktik ku!" ratap Maura di tengah tangisnya. "Aku nekat melakukan semua ini karena aku cemburu, Daniel! Aku cemburu melihat wanita kampung itu bisa tinggal satu atap dan duduk di sampingmu!"
Sambil terisak, Maura akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaan yang selama bertahun-tahun ini ia pendam sendiri. "Aku sudah jatuh hati padamu sejak lama, Daniel... sejak kita pertama kali bertemu di seminar nasional bertahun-tahun lalu! Tapi kau... kau sama sekali tidak pernah melihatku!"
Daniel menatap wanita yang menangis di lantai itu dengan tatapan datar tak tersentuh. Memang benar, mereka pernah bertemu di beberapa seminar medis, namun Daniel hanya fokus pada pekerjaannya. Terlebih lagi setelah badai perceraiannya dengan Klara menghantam, sikap periang Daniel telah mati, berganti menjadi pria sedingin es yang menutup rapat hatinya untuk wanita mana pun.
"Rasa sukamu tidak bisa menjadi pembenaran untuk mencelakai bayi tak berdosa. Pergi dari rumah sakit ku sekarang juga," ucap Daniel dingin tanpa belas kasihan sedikit pun, lalu berbalik meninggalkan Maura yang masih meraung histeris.
*
*
Sementara itu, suasana di kediaman mewah Dokter Daniel justru berbanding terbalik. Di ruang keluarga yang hangat, Nyonya Tania sedang sibuk mondar-mandir sembari memikirkan rencana besar untuk menjodohkan Shanum dengan putranya.
Tuan Lee yang sedang membaca koran bisnisnya melirik sang istri dengan guratan cemas di dahinya. "Mah, apakah kamu yakin kalau putra kita tertarik dengan Shanum? Kamu jangan gegabah, Mah. Bukankah kita sudah berjanji setelah kasus Klara dulu, kita tidak akan pernah menjodohkan Daniel dengan siapa pun lagi?"
Nyonya Tania menghentikan langkahnya, lalu duduk di samping suaminya dengan mata berbinar penuh keyakinan. "Tenang saja, Pah. Mamah sudah punya rencana matang agar Daniel segera menikahi Shanum. Dan Mamah tahu betul siapa orang yang bisa membuat putra kita itu bersedia menikahi Shanum tanpa bisa menolak."
Tuan Lee menaikkan sebelah alisnya. "Siapa?"
"pokoknya nanti Papah lihat sendiri siapa orangnya!" jawabnya sambil tersenyum bahagia.
Mendengar penjelasan dan tekad bulat istrinya, Tuan Lee akhirnya hanya bisa menghembuskan napas panjang dan mengangguk pasrah, ia tahu betul kalau watak istrinya tidak akan bisa dibantah jika sudah menyangkut kebahagiaan anak cucunya.
Nyonya Tania menyandarkan punggungnya di sofa, senyum bahagianya terukir di wajah cantiknya yang awet muda.
"Mamah akan hidup jauh lebih tenang jika Daniel menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan wanita yang baik, tulus, dan berhati bersih seperti Shanum. Entah kenapa, Pah... saat pertama kali aku melihat Shanum menggendong Ziva di taman itu, hati kecilku langsung berbisik bahwa Shanum adalah jodoh yang sesungguhnya untuk Daniel. Jodoh terbaik untuk Pak Dokter kita."
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali