Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
What A Coincidence (A)
Emily tak tahu harus mengutuki pagi ini atau bagaimana. Seperti sudah jadi kebiasaan, selalu ada saja hal yang membuatnya terperanjat setiap kali menyambut hari. Kali ini, bukan email investor, bukan pula laporan angka yang merosot. Melainkan sosok pria menyebalkan itu, alias Raphael, yang dengan seenaknya sudah duduk di kursi kerjanya, kursi yang seharusnya hanya jadi tahtanya seorang CEO.
Serius, dari mana dia masuk? Dan sejak kapan ia berada di sana?
Emily berdiri di ambang pintu, nyaris tak percaya. Sungguhan, ada kalanya ia berpikir pria itu bukan pengacara, melainkan makhluk supranatural yang bisa muncul dimana saja, bahkan tanpa melihat waktu.
"Luar biasa. Seorang tamu tak diundang duduk di kursi CEO. Bagus sekali pengetahuanmu tentang etika," ucapnya ketus, meletakkan tas di atas meja kecil samping pintu.
Raphael hanya menoleh seraya menyilangkan kaki, tampak terlalu nyaman dengan jas rapi yang membungkus tubuh bidangnya. Senyum tipis menghiasi bibir sang pria, ocehan Emily baginya hanyalah hal remeh.
"Ah, jadi ini rasanya jadi kau," lontarnya santai. "Duduk di kursi paling tinggi, punya kuasa penuh, semua orang menunggu instruksi. Tidak heran Andrew begitu terobsesi. Wanita cantik, muda, kaya raya, dan—" tatapannya menilik Emily dari ujung kepala hingga kaki, "—keras kepala setengah mati."
Emily berdecak, mendekat dengan langkah cepat. "Apa kau benar-benar tak kenal waktu, Tuan Walter? Pagi-pagi sudah menampakkan wajahmu di ruanganku. Apa kau sepengangguran itu sampai selalu punya waktu menyelinap ke hadapanku?"
Senyum Raphael kian melebar. Ia mencondongkan tubuh ke depan, bertumpu pada sandaran kursi. "Atau mungkin aku terlalu berdedikasi. Tidak semua pengacara rela datang lebih pagi dari kliennya hanya untuk mengucapkan selamat pagi." Dengan gerakan tiba-tiba, ia meraih tangan Emily, mengangkatnya, lalu mengecup punggung tangannya tanpa sekalipun melepas tatapan tajam itu.
Emily tersentak, buru-buru menarik tangannya kembali dan mengusapnya ke sisi blazer. "Mau apa kau kemari sebenarnya?" tanyanya dingin.
Alih-alih menjawab, Raphael bergeser dari kursi CEO itu, menarik kursi dengan tenang kemudian mempersilakan Emily duduk di tempatnya. Sikap yang mendadak manis itu justru membuat Emily makin curiga.
Huh? Tiba-tiba berubah jadi gentleman? Pasti ada sesuatu, batinnya.
Raphael menunggu hingga Emily duduk, lalu melangkah ke kursi seberang meja. Ia menjatuhkan diri dengan tenang, menyilangkan kaki, dan melipat tangan di pangkuan. Senyum miring terbit di bibirnya. "Kau yang meminta aku melakukan STD screening dan laporan andrologi lengkap, bukan?"
Emily mengangkat alis, menatapnya curiga. "Lalu?"
"Aku sudah memilikinya."
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka dari arah dalam. Emily menoleh cepat, mendapati Simone keluar dari toilet pribadinya dengan wajah datar.
"Sejak kapan kau di sana?" Emily terkejut, alisnya bertaut.
"Sejak tadi, Nona Cooper." Simone menunduk sopan, lalu menambahkan dengan tenang, "Maaf, saya meminjam toilet Anda untuk menuntaskan... panggilan alam."
"Ck." Emily mengembuskan napas kesal, bibirnya mencebik. Sungguh menyebalkan. Toilet pribadinya, tempat paling pribadi, dipakai seenaknya oleh orang lain untuk itu.
"Dasar. Kau dan tuanmu sama-sama menjengkelkan," gerutunya lirih, namun cukup keras untuk keduanya bisa dengar.
Alih-alih tersinggung, Raphael justru terkekeh kecil. "Masih pagi dan kau sudah mengomel. Apa kau tidak takut cepat tua, hmm?"
Emily menatapnya tajam, matanya menyipit. "Aku lebih takut punya pengacara yang tidak tahu batas, Raphael."
Pria itu mengangkat bahu santai, senyumnya tak kunjung hilang. Simone hanya berdiri di belakangnya, sudah terbiasa dengan sikap tuannya tersebut. Ia menunduk patuh tatkala Raphael memberi isyarat. Dengan kedua tangannya Simone meletakkan sebuah map tebal bersegel di hadapan Emily.
Wanita berparas jelita dengan anting menjuntai indah di telinganya melirik sekilas, pun kemudian perlahan menarik map itu ke arahnya. Jemarinya membuka lembar demi lembar, sorot matanya berubah kaget sekaligus tak percaya.
Emily menggigit bibir bawahnya. Sialan, dia benar-benar melakukannya?
"Complete. Clean. Tanpa indikasi infeksi sedikit pun," Raphael bersuara rendah. "You asked for a full STD screening and andrology report, darling. I delivered."
Emily menegakkan punggung, menutup map itu dengan hentakan tegas. Matanya menyipit, menilik penuh. "Aku tidak percaya. Tidak mungkin orang sepertimu memiliki hasil sempurna seperti ini. Aku tidak yakin dengan kredibilitas rumah sakit yang kau pilih. Bisa saja kau membayar mereka untuk memalsukan data."
Raphael menyunggingkan senyum miringnya, seraya perlahan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Selalu curiga padaku, seperti biasa. That's why i like you."
Emily menyilangkan tangan di dada. "Kalau kau serius, aku inginnya hasil dari rumah sakit yang lebih kredibel. Mount Sinai, atau NewYork–Presbyterian, misalnya."
"Done." Raphael menjentikkan jarinya.
Simone bergerak cepat, meletakkan map tambahan di meja. Kop resmi Mount Sinai Hospital dan NewYork–Presbyterian terpampang jelas.
Sontak, Emily membeku. No way... Tangannya gemetar kecil kala membuka dokumen baru itu. Stempel asli, tanda tangan dokter yang ia kenal reputasinya, hasil yang sama, menyatakan pria itu bersih.
Matanya terangkat pada Raphael, menatapnya dengan ragu. "Kau... kau sudah menyiapkan ini sebelumnya?"
"Of course." Kembali Raphael menyandarkan punggung ke kursinya. "Aku tahu kau bukan tipe yang puas dengan satu bukti. Jadi..." Ia memberi kode lagi pada Simone.
Pria itu kembali mengeluarkan beberapa map lain dari tas hitamnya. Logo-logo rumah sakit bergengsi muncul berjejer seperti Cleveland Clinic, Mayo Clinic, Johns Hopkins, UCLA Medical Center—bahkan sampai ke luar New York.
Emily menatap deretan dokumen tersebut dengan mata melebar. Impossible! He went this far? Hanya untuk melakukan seks? Seingin itu?
Raphael terkekeh, karena terhibur melihat ekspresi wanita itu. "I can read your mind ahead, darling. I know a woman like you don't make it easy for me."
Emily membanting map terakhir ke meja, frustrasi. "Kau gila, Raphael! Kau pikir aku akan percaya begitu saja hanya karena kau memamerkan semua ini? Itu justru membuatmu semakin mencurigakan."
Raphael mencondongkan tubuh, suaranya merendah, nyaris seperti rayuan. "No, sweetheart. It makes me irresistible."
Emily merasakan darahnya berdesir, meski bibirnya tetap keras menolak. "Aku belum yakin. Bagaimana jika rumah sakit di luar negeri saja? Mayo Clinic mungkin terlalu dekat. Bagaimana dengan Massachusetts General? Atau bahkan Cedars-Sinai di Los Angeles?"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Simone sudah meletakkan lagi beberapa amplop baru di meja. Logo resmi rumah sakit-rumah sakit besar itu terpampang jelas.
Emily mendongak, tatapannya terbelalak. "Are you kidding me?"
Raphael menyeringai puas. "No, darling. Aku tidak pernah bercanda jika menyangkut dirimu."
Ruangan hening. Emily menggenggam map erat-erat, seolah menunggu ada satu celah yang bisa dijadikan alasan untuk menolak dan memperpanjang waktu, atau setidaknya menunda kesepakatan mereka. Tapi nihil. Semuanya sahih.
Raphael berdiri perlahan, melangkah mendekat. Jemarinya menyusuri pinggiran meja, sengaja mempermainkan jarak di antara mereka. Menunduk ia sedikit hingga wajahnya hanya sejengkal dari Emily. "Aku tahu kau ingin menunda, Nona Cooper. Tapi itu tidak mempan bagiku."
Emily tercekat, jantungnya berdetak keras.
"Stop acting like I'm forcing you. I'm just making sure you have no reason to say no."
Emily mengalihkan pandangan, mencoba mengatur napas. "You're... manipulative."
"Maybe."
Emily menggertakkan gigi, tidak menjawab.
"Sekarang katakan padaku." Intonasi Raphael turun rendah, berat. "Kapan dan di mana kita akan melakukannya, hmm? Aku sudah memenuhi semua syaratmu."
Emily tetap diam, pandangannya lurus ke depan. Bak mencoba mengatur kendali, padahal detak jantungnya berdentum kacau.
Raphael mencondongkan kepala, senyumnya miring. "Atau... kau malu menyebutkannya karena ada Simone di sini?" bisiknya sinis. Ia melirik pada pria berbadan tegap itu, lalu memberi isyarat dengan jarinya singkat. Simone paham, segera berbalik dan keluar, menutup pintu.
Kini hanya mereka berdua. Sunyi, pekat, menyesakkan.
"Speak, Emily," desak Raphael sekali lagi.
Wanita itu mendengus, kemudian terkekeh sinis. Iris matanya menyalang tajam, kentara mencemooh. "Aku tidak punya waktu membahas hal tak penting ini sekarang. Aku harus pergi, aku punya jadwal menjadi speaker di Columbia University. Tunggu saja kabar dariku, itu juga kalau aku... punya waktu." Ia meraih tasnya dengan cepat.
Namun sebelum sempat melangkah, tangannya ditangkap kasar. Tubuhnya didorong keras hingga kembali terhantam ke kursi kebesarannya itu. Nafasnya tercekat, pun ia meringis. Dalam sekejap Raphael mengurungnya, kedua lengannya mencengkeram sisi kanan dan kiri kursi, menciptakan jeruji yang mengukung tubuh sang wanita di hadapannya.
Memberontak tak terima, Emily mencoba melawan. Ia menegakkan tubuh untuk segera keluar dari sana. Tapi Raphael, habis sudah kesabarannya. Satu tangannya beralih cepat mencengkeram pergelangan tangan Emily dengan kuat, hingga wanita itu lagi-lagi merasa kesakitan, sementara wajahnya kian dekat, sorot matanya merah menyala penuh amarah.
"Beberapa hari ini ku biarkan kau semena-mena padaku," erangnya rendah. "Tapi bukan berarti kau boleh bertingkah seenaknya. Aku bukan pria baik hati yang bisa kau atur semaumu. Kau pikir kau siapa, hm?"
Emily menelan ludah, dadanya naik-turun. Ada ketakutan di matanya, tapi juga rasa terancam yang ia lawan dengan gengsi.
"Don't play games with me, Nona Cooper. Ku peringatkan, jangan pancing amarah dan kesabaranku." Rahang Raphael mengeras. "Aku sudah memenuhi permintaanmu. Aku sudah mengurus kasusmu. So now, this is my turn, my rule. And you will obey. Understand?"
Emily masih diam. Tak sudi memberi jawaban.
"Understand?!" bentaknya, kali ini lebih keras. Tangannya mencengkeram rahang Emily agar membuat mulut, menekan hingga pipi wanita itu sakit dan panas.
Emily terpaksa menyerah. "Iya..." ucapnya setengah hati.
Barulah Raphael melepaskannya. Ia berdiri tegak, merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut. Senyum tipisnya kembali terlihat berbahaya, membuat bulu kuduk Emily meremang. Raphael menunduk, mengulurkan tangan, menarik sang wanita agar berdiri. Dengan santai, ia memperbaiki surai hitam bergelombang milik Emily, bahkan merapikan blazer yang sedikit berantakan. Sentuhan itu hangat tapi membuat Emily bergidik ngeri—kontras sekali dengan aura dominan pria itu barusan.
"Good girl." Raphael menepuk lembut bahunya. "Good luck for your event, darling." Ia menunduk sedikit, bibirnya menyentuh helai rambut di dekat telinga Emily. "I'll be the one to send you our... sex time."
Emily mematung. Demi Tuhan, pria ini sungguh berbahaya. Seperti psikopat dengan senyum manis yang menutupi bara gelap di baliknya.