Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Menjalani Hidup
Mendengar pertanyaan neneknya, mata Yanfei berbinar seolah mendapatkan ide yang menyenangkan. Ia menatap Nyonya Tua dengan tatapan memohon yang lembut.
“Aku sudah cukup lama tidak bertemu Bibi Besar. Nenek, maukah kau membawaku ikut ke jamuan ini?” tanyanya dengan nada manja.
Memang benar, Nyonya Wei yang menjadi tuan rumah acara itu adalah saudara kandung dari ibunya, sekaligus putri satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga Duan pada generasi sebelumnya. Dahulu, selama beberapa generasi, keluarga Duan selalu kesulitan memiliki keturunan perempuan, sehingga hanya ada satu putri yang lahir dan kemudian menikah masuk ke kediaman Wei.
Nyonya Duan mendengar permintaan itu lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Dasar anak nakal, kau masih saja suka menggoda nenekmu. Seolah-olah aku akan melarang mu pergi.”
Sudah jelas sejak awal, Yanfei pasti akan diajak serta. Selama ini, siapapun tahu betapa sayangnya Nyonya Wei pada keponakannya itu. Bahkan saat Yanfei masih kecil, Bibi Besarnya itu selalu memanjakannya melebihi batas, seolah ingin melimpahkan semua kasih sayang yang tak sempat diberikan kepada anak perempuannya sendiri.
Menyadari dirinya ketahuan bercanda, Yanfei segera menunduk sambil tersenyum malu. “Tidak, tidak, Fei Fei tidak berani bercanda lagi.”
“Sudahlah, anak nakal,” ujar Nyonya Tua sambil menepuk tangan cucunya. “Kalau begitu, aku akan segera mengirim utusan ke kediaman Wei untuk meminta mereka mengukur tubuhmu dan membuatkan pakaian baru yang indah.”
Bagi Nyonya Tua, ini adalah jamuan pertama yang akan dihadiri Yanfei setelah sekian lama menghilang dari pergaulan. Ia merasa sangat bersyukur melihat putrinya itu bersedia kembali membuka diri pada dunia luar. Selama bertahun-tahun, Yanfei telah menanggung penderitaan dan kesedihan yang cukup berat. Ia tidak ingin cucunya itu merasa terasing, dipandang berbeda, atau dikucilkan oleh lingkungan sekitar hanya karena sudah lama tidak muncul.
Mendengar itu, wajah Yanfei berseri-seri. Ia mendekat dan memeluk lengan neneknya dengan erat, bersikap manja seperti gadis kecil yang belum lama ini. “Nenek lah yang paling menyayangi Fei Fei di seluruh dunia ini.”
Keduanya tertawa lepas, suaranya terdengar hangat memenuhi ruangan. Mereka larut dalam obrolan yang menyenangkan hingga tanpa sadar sinar matahari sudah bergeser tinggi, menandakan hari sudah memasuki waktu siang.
Setelah merasa cukup lama bercengkrama, Yanfei berpamitan dengan sopan. “Nenek, istirahatlah sebentar. Fei Fei akan kembali ke halaman dulu dan menjenguk mu lagi nanti sore.”
“Baiklah, hati-hati di jalan,” jawab Nyonya Tua sambil melambaikan tangan.
Dengan diiringi dua orang pelayan setianya, Yanfei melangkah meninggalkan bangunan utama menuju halaman kediamannya sendiri. Begitu tiba di kamarnya, ia melepaskan jubah luar yang tebal lalu duduk santai di dekat jendela yang terbuka, membiarkan angin sepoi-sepoi masuk menerpa wajahnya.
“Musim dingin akan segera tiba dalam waktu dekat. Suasana di sini masih sama persis seperti yang aku ingat,” gumamnya pelan, matanya menatap ke arah taman yang mulai dipenuhi dedaunan kering.
Li Xia yang berdiri di sampingnya segera bertanya dengan nada hati-hati, “Nona, apakah Nona ingin segera menemui Tuan dan Nyonya Besar? Mereka pasti sudah menunggu kabar kepulangan Nona lebih lanjut.”
Yanfei menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang seolah membuang beban di dadanya. “Tidak usah dulu. Sekarang kita sudah kembali ke ibu kota, hidup harus tetap berjalan maju. Aku tidak ingin membuat Ayah, Ibu, dan Nenek terus merasa cemas hanya karena aku masih terjebak dalam kesedihan masa lalu.”
Sejak memutuskan untuk pulang, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus berusaha bangkit. Kesedihan itu tidak akan hilang dalam semalam, namun ia tidak boleh membiarkannya menguasai seluruh hidupnya selamanya.
“Baiklah, Nona. Ngomong-ngomong, Nyonya Besar sempat menyebutkan bahwa malam ini akan diadakan Festival Lampu di sepanjang jalan utama kota. Apakah Nona ingin pergi keluar untuk melihat-lihat?” tanya Li Xia lagi.
Memasuki akhir musim gugur menjelang musim dingin, memang banyak sekali acara dan perayaan yang diselenggarakan. Sebagai warga Kerajaan Yuanjing, Yanfei sangat paham bahwa hal ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Setiap tahunnya, warga dari berbagai lapisan masyarakat akan berkumpul menikmati kemeriahan cahaya dan hiburan.
Yanfei terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. “Baiklah. Sampaikan pada Ibu bahwa aku ingin ikut pergi melihat-lihat suasana malam ini.”
Sudah 7 tahun ia hidup jauh dari keramaian. Meskipun tidak sepenuhnya terisolasi, namun kehidupannya di desa Hufu jauh lebih tenang dan sunyi. Kini, kembali ke ibu kota yang selalu ramai dan penuh warna, rasanya ada keinginan kecil dalam hatinya untuk menyegarkan pikiran.
“Siap, hamba akan segera menyampaikannya,” jawab Li Xia dengan senyum lega.
Sebelum pergi, Yanfei mengingatkan satu hal lagi. “Oh ya, kirimkan juga beberapa barang dan oleh-oleh yang sempat aku beli selama perjalanan pada Fu Fu dan A Mao. Jangan lupa juga untuk A Qin. Seharusnya usianya sekarang sudah menginjak sepuluh tahun, bukan?”
Saat ia pergi meninggalkan rumah tujuh tahun yang lalu, Duan Qin adalah satu-satunya gadis kecil seumuran di kediaman ini. Saat itu, gadis kecil itu sangat mengagumi dan suka mengikutinya ke mana-mana. Meskipun kini A Qin mungkin sudah tidak terlalu mengingatnya, namun bagi Yanfei, kenangan bermain bersama sejak mereka masih balita tetap terukir jelas di hatinya.
Li Xia mencatat pesan itu, lalu bertanya lagi, “Nona, ada satu lagi nona kecil lain di halaman Tuan Ketiga. Usianya tidak jauh berbeda dengan Nona Fu Fu. Apakah dia juga akan diberi bagian?”
Mendengar itu, Yanfei terkejut sesaat lalu tersenyum tipis. “Wah, aku sudah cukup lama tidak pulang sampai tidak tahu kalau rumah ini sudah semakin ramai. Cukup dengan melihat A Qin saja rasanya sudah membuatku senang, apalagi sekarang ada Fu Fu dan satu lagi sepupu tambahan.”
Ia merenung sejenak. Dari garis keturunan ayahnya sendiri, ia memang satu satunya putri kesayangan ayah dan ibunya. Ayahnya hanya memiliki satu istri, sehingga keturunannya tidak banyak—hanya dirinya dan dua orang saudara laki-laki yang kini sedang menuntut menikmati masa belajar dan berkarir.
“Dulu aku sempat berpikir, karena kedua kakak sepupu dari Paman Pertama sudah menikah dan pergi jauh, mungkin di masa depan aku akan merasa kesepian sendirian. Siapa sangka, dalam beberapa tahun ini sudah lahir dua orang gadis kecil lagi,” ujarnya dengan nada lega.
Lalu ia melanjutkan perintahnya dengan tegas namun hangat, “Baiklah, kirimkan untuk semua anak kecil yang ada di kediaman ini. Jangan sampai ada yang terlewat atau merasa aku mengabaikan mereka. Jangan lupa juga untuk A Gun dan A Lin. Anak-anak itu pasti sudah tumbuh menjadi pemuda yang lebih besar sekarang.”
Saat ia pergi meninggalkan ibu kota tujuh tahun silam, A Gun, A Qin, dan A Lin masih berusia sangat muda. Sekarang, sudah lewat bertahun-tahun, mereka seharusnya sudah menginjak usia belasan tahun dan mungkin sibuk mempersiapkan diri untuk ujian atau belajar di akademi.
“Baik, Nona. Hamba akan mengatur semuanya dengan rapi,” jawab Li Xia dengan hormat.
“Kalau begitu, kau boleh pergi sekarang,” ujar Yanfei sambil melambaikan tangan.
Setelah pelayan itu keluar, ia kembali menatap ke luar jendela. Ternyata suasana di dalam kediaman sudah jauh lebih ramai dan hidup dibandingkan saat ia masih tinggal di sini dulu.
Pagi tadi mungkin karena cuaca yang sedikit berangin, anak-anak itu dilarang keluar bermain, sehingga ia baru menyadari bahwa kini sudah ada tambahan anggota keluarga baru yang belum sempat ia kenal secara dekat.
Hatinya terasa sedikit lebih hangat, menyadari bahwa ia tidak kembali ke rumah yang kosong dan sunyi, melainkan ke rumah yang penuh dengan kehidupan baru.