Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
...~Pasfoto~...
Arka baru saja meletakkan gagang telepon abu-abu ketika mendengar suara ketukan sepatu terdengar mendekat. Ia menoleh ke arah ambang pintu.
"Kupikir hanya bualan saja," ujar seorang wanita dengan seragam militer berpangkat Letda yang kini melangkah mendekat ke arahnya.
"Apa maksudmu?"
"Pernikahanmu, kupikir aku salah dengar kemarin." Wanita itu terkekeh pelan. "Ternyata Arka Wiguna beneran mau nikah."
Wanita itu berjalan mendekat ke arah Arka dengan langkah yang pelan, berirama, dan tegas. "Kau memakai telepon kantor untuk urusan asmara, kurasa dia akan menarik."
Arka menghela napasnya pelan. Suasana di dalam ruangan sedikit menjadi dingin. "Jika kau kemari hanya untuk memeriksa tagihan telepon batalyon, kurasa itu bukan urusanmu."
Wanita itu kembali terkekeh pelan. "Calon istrimu akan menghadap padaku pada pekan depan sebagai syarat pernikahan kalian."
"Saya tahu."
"Aku jadi penasaran, apakah dia salah satu perawat dari rumah sakit yang menggodamu atau..." Gerakan tangan wanita itu pelan mengusap dagunya, "...perjodohan paksa dari ayah pengacaramu?"
Rahang Arka menegang untuk sesaat. Ia mendongak, menatap tajam wanita di hadapannya nama di dada kanannya tercetak keperakan di papan hitam kecil—Letda Ckm (K) Laudya.
"Siapa pun dia, dia calon istriku yang sah secara hukum. Jadi, mohon kerja samanya."
"Baiklah, baiklah. Melihatmu sampai memakai telepon kantor saat jam malam begini, bahkan sudah lancar memakai panggilan 'Mas'? Ah, aku cukup kaget dan terharu."
Arka hanya diam. Tatapannya tetap tajam dan dingin.
"Baiklah, aku akan pergi. Sampaikan pada calon istrimu, aku dokter militer yang sedikit kejam."
Langkah wanita itu menjauh pelan, irama sepatunya berketukan di atas lantai, menggema di lorong kantor. Arka masih bisa menangkap suaranya hingga perlahan menghilang.
Laudya—mantan kekasihnya itu—memang masih sama. Mulut blak-blakan dengan sedikit kesinisan dan keangkuhan yang samar.
Ketika suara itu ditelan gelapnya lorong, Arka menyandarkan punggungnya. Tatapannya jatuh ke meja kerja. Tumpukan berkas dan buku agendanya, serta gagang telepon abu-abu yang tergeletak di sisi kanan.
Pria itu menghela napasnya pelan, pikirannya jatuh sempurna ke sosok Naira. Apakah gadis itu dapat melakukannya dengan baik?
...----------------...
Suara mesin tik terdengar pelan di kantor kecamatan. Tawa menggema di sisi lain kantor dengan aroma asap rokok yang membuat gadis itu sesekali terbatuk.
Ia duduk di kursi kayu sambil memeluk tasnya. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding.
"Mbak Naira?" salah seorang wanita berseru memanggilnya pelan.
"Iya, saya." Naira buru-buru mendekat.
"Maaf, Mbak. Tapi untuk sekarang Pak Camatnya lagi pergi. Mungkin setelah bakda zuhur baru kembali."
Naira mengulum bibirnya pelan, menimang agak ragu. Itu artinya masih ada satu jam lagi.
"Kalau begitu saya ambil nanti saja ya, Mbak."
Naira segera melangkah keluar dengan lesu. Ia berjalan ke arah pasar kecamatan dan melihat ke salah satu sudutnya.
Studio Foto Kilat, tulisannya agak miring di depan pintu kaca. Naira melangkah masuk diiringi bunyi gemericik bel besi di atas pintu.
Seorang pria paruh baya segera keluar dari ruangan dalam. Aroma bahan kimia pencuci foto tercium samar dari ruangan yang baru saja terbuka itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
Gadis itu menyunggingkan senyum samar. "Mau pasfoto latar kuning, Pak."
"Oalah, mau nikah militer. Mari, Mbak. Bisa rapikan dulu rambut atau jilbabnya di sana," ucap pria itu sambil menunjuk ke arah cermin bundar yang tampak sedikit buram.
Naira berjalan ke arah cermin itu, melihat pantulan dirinya yang tak terlalu jelas terlihat. Tampak sebuah sisir hitam besar terjepit di antara cermin dan bingkai kayu. Gadis itu buru-buru mengeluarkan sisirnya sendiri dari dalam tas. Ia lalu mengambil sapu tangan bersih untuk melap wajahnya yang sedikit berminyak, sebelum akhirnya menepuk-nepuk bedak padat dengan gambar payung di wadahnya. Tidak lupa, ia memoleskan sedikit gincu merah muda agar bibirnya tak terlalu pucat. Ia juga menepuk beberapa bagian kemejanya yang dipakainya agar lebih rapi.
"Sudah, Mbak?" tanya pria penjaga toko.
Naira bergegas memasukkan semua benda miliknya kembali ke tas, lalu duduk di kursi plastik depan kamera. Ada payung putih penjaga flash di depannya, kamera bertengger di atas tripod, serta layar latar kuning yang sudah diturunkan.
"Senyum, Mbak."
Gadis itu mengangkat senyumnya, agak kaku.
Cekrek!
Suara kamera diiringi cahaya blitz yang terang benderang. Pria itu mengecek hasil gambarnya di layar digital kecil.
"Senyumnya jangan kaku-kaku, Mbak. Anggap saja calon suamimu ada di sini."
Naira merasa sedikit malu, rona merah langsung menjalar di wajahnya. Ia mulai memejamkan mata sesaat, membayangkan Arka sedang berdiri tegap di dekat sang pemotret sambil menatapnya lembut. Detik itu juga Naira tersenyum—tidak lagi kaku, melainkan senyum tulus yang biasa ia perlihatkan ketika pria itu berada di sekitarnya.
Cekrek!
Kilat kamera menyambar cepat untuk kedua kalinya. Pria paruh baya itu lagi-lagi mengecek hasil foto. "Nah, ini bagus, Mbak. Mau dicetak ukuran berapa?"
"Tiga kali empat sama empat kali enam."
"Baik, kalau begitu silakan tunggu sebentar."
Gadis itu akhirnya duduk di kursi tunggu dekat mesin pencetak. Tangannya beberapa kali meremas tasnya sendiri untuk meredakan gugup. Suara mesin pencetak berdengung samar, beradu dengan debar jantungnya ketika selembar kertas foto keluar sedikit demi sedikit dari mesin.
Di atas kertas foto berlatar kuning itu, ia sadar bahwa dirinya resmi akan menikah dengan Arka melalui lembar demi lembar berkas yang sedang diurusnya ini.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.