Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Rabu pagi. Jeviza bangun lebih awal, area matanya yang nampak menghitam membuat Puspa berdiam diri di tempatnya, mengamati pergerakan Jeviza yang persis seperti zombie yang dilihat di film tadi malam.
"Je, jangan dipikirin, Kean nggak marah kok, gue kaya gitu juga biar, lo lebih hati-hati lagi lain kali, sorry Je, kalau gue keterlaluan."
Jeviza menoleh pada Puspa, lalu menggeleng seraya duduk di meja makan.
"Aman, kak," jawabnya singkat. Lalu mengambil segelas air putih di depannya, meneguknya hingga tandas. "Hari ini gue ada kelas siang, mas Arlo langsung berangkat aja."
Arlo yang baru saja ke meja makan ikut menimpali, membuat Jeviza yang tadinya berniat untuk langsung ke kamarnya terhenti.
"Nanti pesen taksi aja, Je. Atau mau diantar Puspa?" tawar Arlo seketika membuat Jeviza melirik Puspa yang nampak diam.
Jeviza menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak usah, mas."
"Nggak papa, sekalian gue ke super marker belanja bulanan." Puspa duduk seraya mengambil sarapan untuk Arlo.
Jeviza mengangguk tanpa protes, ia melirik ke arah tangga, belum ada tanda-tanda Kean akan muncul, bahkan setiap kali Jevi melewati kamar mereka. Kamar Kean tampak sepi seperti tidak berpenghuni.
Ingatan Jevi jatuh pada kejadian tadi malam. Dimana setelah keduanya mengobrol, Kean terlihat pergi dari rumah. Tetapi mau bertanya juga rasanya sungkan.
Please, ngobrol tentang dia dong
Batin Jevi berharap.
"Kean, nggak pulang ya? Mas?"
Pertanyaan Puspa yang tiba-tiba seketika membuat Jevi hampir tersedak ludahnya sendiri. Puspa seperti tahu saja apa yang dipikirkan olehnya.
Arlo tampak menggeleng pelan, tetapi tidak ada raut khawatir atau semacamnya, laki-laki itu tampak tenang dan mulai menikmati sarapannya.
"Nginep di bengkel, paling," balasnya tenang.
Jeviza mendengar dengan serius, ia mulai penasaran dengan kehidupan Kean saat ini, tetapi pikirannya mencoba menyadarkan jika mereka kini hanya orang asing yang kebetulan dipertemukan lagi.
Ingatkan Jeviza, bagaimana dua tahun lalu, Kean memeluk gadis lain di belakangnya.
Seketika rasa penasaran itu berubah menjadi kecewa, sedih, dan amarah, Jeviza bangkit dari duduknya, mengambil piring kotornya dan pergi ke dapur.
"Gue ngga ngerti, kenapa takdir pertemukan kita lagi?" gumam Jeviza dengan tangan sibuk membilas piring dengan banyak busa di tangannya.
"Kenap? Je?" suara Puspa seketika mengejutkan Jeviza.
Wajah Jeviza langsung memerah melihat keberadaan Puspa di belakangnya.
"Lo, ketemu sama mantan, lo itu?" tebak Puspa mengamati wajah Jevi yang berubah total.
Jevi langsung mendengus dan mengalihkan pandangannya. "Apaan? jangan kepo deh, kak."
Puspa mendekat, mengambil piring bersih itu untuk dimasukan ke rak. "Ya lagian, tadi lo ngomong sendiri gitu, memangnya siapa kalau bukan mantan? Lo sendiri yang ngomong dipertemukan lagi."
"Lagian ya, Je. Sekeren apa sih mantan lo itu? Sampai masih galau gitu? Padahal di rumah ini ada cowok keren yang duitnya siap buat ngajak berumah tangga."
Jeviza menoleh, menatap heran pada Puspa, dengan gelengan kepala, Jeviza berucap yang membuat Puspa langsung tertawa terbahak. "Sakit lo, kak. Suami sendiri dipromosikan ke, gue?"
"Hahahaha," tawa Puspa meledak, ia menoyor pelipis Jevi dengan pelan, lalu kembali tertawa sambil berucap. "Siapa bilang suami, gue? Heh, otak lo bener-bener ya, Je."
"Yang gue maksud ya jelas Kean, lo nggak nyampe banget otaknya." Puspa pergi masih dengan tawanya.
Jeviza termenung di tempatnya. Maksud Puspa tadi, Jeviza disuruh move on jalur Kean gitu?
Tuhan, tidak tahu saja Puspa, jika mantan yang membuat galaunya masih bertahan ini, ialah cowok yang Puspa maksud. Harus banget Jeviza dibuat galau lagi karena berurusan dengan Keandra? Jika bisa, Jevi ingin pergi, tetapi ia sangat tahu, Puspa atau maminya pasti tidak akan mengijinkan begitu saja.
"Nggak nyampe apanya? Justru karena dia sumber galaunya, gue. Lo mana tau kak Pus."
Jeviz berbalik dengan perasaan dongkol, tetapi seakan takdir memainkannya terus menerus. Tanpa disengaja tubuh Jeviza menabrak tubuh tinggi dan keras yang tiba-tiba muncul.
Dapat Jeviza lihat dada bidang yang terbungkus di balik kaos hitam di depannya, perasaan Jeviza mulai ketar-ketir bersamaan kepalanya yang mendongak ke atas.
Tuhan, rasanya Jevi ingin menghilang detik ini juga, kubur Jevi sampai ia tidak lagi dipertemukan dengan sosok di depannya. Perasaan malu bercampur menjadi satu dengan marah.
Jevi baru saja membicarakan Kean, apa cowok itu tadi mendengar?
sorot mata lembut Jevi bertemu dengan sorot mata tajam Keandra, tetapi dari sorot mata tajam itu, Jevi seperti melihat ada kerinduan yang tersimpan di dalamnya.
"So-sorry, kak." Jevi berniat untuk langsung pergi.
Tubuhnya sudah mulai ugal-ugalan di dalam sana. Meminta untuk tetap bertahan sampai rasa rindu yang selalu Jevi tepiskan terobati.
"Je."
Jeviza berhenti. Jantungnya sudah berdegup dengan kencang di dalam sana. Bersiap dengan ucapan Kean selanjutnya.
"Maaf," lirihnya seketika membuat tubuh Jeviza menegang, lutut Jevi terasa lemas untuk kembali digerakan.
Maaf, apa kata itu mewakili atas apa yang Kean lakukan padanya, dulu? Tetapi kenapa baru sekarang Kean mengatakannya, dan kata maaf itu rasanya masih kurang, Kean harus menjelaskan kenapa tega mengkhianatinya. Dengan keberanian yang entah didapat dari mana. Jevi menoleh, sorot matanya penuh akan luka dam kecewa, air mata sudah menggenang di sana. Sedikit saja, Jevi berkedip, sudah dipastikan Kean bisa melihat Jevi menangis di depannya.
"Lo, jahat."
Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Jevi. Setelahnya gadis itu pergi menuju ke kamarnya, meninggalkan Kean yang mematung di tempatnya.
Kean tidak mengerti dengan sorot mata yang Jevi layangkan padanya. Sorot mata kecewa dan marah yang bisa ia lihat tadi. Dan kata "Jahat" yang ditujukan untuk dirinya semakin membuat Kean kebingungan.
Kean meminta maaf karena dia pikir sudah membuat Jeviza tertekan setelah menjatuhkan helm miliknya. Kean tahu bagaimana Jevi dituntut minta maaf padanya oleh Puspa. Tetapi rasanya sangat aneh jika Jevi sampai mengecapnya cowok jahat. Sementara dari kejadian dua tahun lalu, harusnya Kean yang mengatakan itu pada Jeviza.
Jeviza yang pergi tanpa alasan. Jeviza yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Bahkan jika boleh Kean sedikit saja egois. Sampai saat ini, hubungan keduanya masih dilingkupi benang merah, yang memutuskan dan yang mengiyakan hanya dari pihak Jeviza saya. Kean tidak pernah mengiyakan putusnya hubungan mereka, bahkan sampai Jeviza pergi dari hidupnya.
Bagi Kean, hubungan mereka belum dikatakan putus seutuhnya. Kean masih belum mengatakan apa-apa dari terakhir ia menerima pesan dari Jeviza dua tahun lalu, yang ada justru Kean yang terus mencoba menghubungi gadis itu, tetapi semua akses yang menghubungkan pada Jeviza telah diputus oleh Jeviza. Dan bahkan jika Jevi masih ingat, sebelum kean memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogja. Kean pernah menunggu Jeviza di depan gerbang rumahnya selama berjam-jam, dan berakhir dengan kekecewaan.
Rahang Kean mengeras, ia menatap pada lorong ruangan yang telah menelan kepergian Jeviza.
Harus banget, Je. Gue paksa lo
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!