Nayra, gadis berbadan gemuk yang selalu merasa rendah diri, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga — CEO termuda, terkaya, dan paling tampan yang diidamkan semua wanita. Pernikahan itu langsung menjadi bahan gunjingan seluruh kota.
Di mana pun dia melangkah, hinaan selalu menghampiri.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu berdiri di samping Tuan Arga?"
"Dia cuma aib bagi keluarga besar ini!"
"Pasti sebentar lagi diceraikan, kan suaminya malu punya istri jelek begini."
Bahkan di depan suaminya sendiri, dia sering diremehkan orang lain. Rasa sakit hati, malu, dan amarah perlahan menggerogoti hatinya. Nayra menangis malam itu dan bersumpah dalam hati:
"Kalian menghinaku karena aku gemuk? Kalian mengira aku tak berharga? Tunggu saja... aku akan buktikan! Aku akan berubah sampai kalian semua menyesal seumur hidup!"
Sejak hari itu, Nayra bangkit. Dia tinggalkan sifat malasnya. Tiap hari dia bangun subuh, berolahraga keras, menjaga makanan, menahan segala godaan, dan berjuang m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL DARI PERJUANGAN PANJANG
Matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela, namun Nayra sudah terbangun jauh sebelum cahaya itu menerangi kamarnya. Jam dinding baru menunjuk angka pukul empat pagi, tapi matanya sudah terbuka lebar, tidak ada lagi rasa malas, tidak ada lagi keinginan untuk meringkuk di balik selimut empuk itu.
Malam tadi, sumpah serapah dan janji yang dia ucapkan di depan cermin masih terngiang jelas di telinganya. Rasa sakit hati, malu, dan penghinaan yang dia terima di jamuan makan malam itu masih terasa membekas, seolah-olah baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Nayra bangkit dari tempat tidurnya, kakinya menyentuh lantai dingin. Dia berjalan menuju cermin besar itu lagi, menatap pantulan dirinya yang masih sama besarnya, masih sama gembulnya, masih sama jeleknya di matanya. Tapi kali ini, tatapannya bukan lagi tatapan sedih atau penuh rasa rendah diri. Di sana, di dalam kedua matanya yang bulat itu, membara api semangat yang tak akan padam sebelum tujuannya tercapai.
"Dimulai dari hari ini..." bisiknya pelan, tangannya menyentuh pantulan wajahnya sendiri. "Hari ini hari pertama aku mengubah nasibku. Tidak ada kata lelah. Tidak ada kata menyerah. Demi harga diriku, demi membungkam mulut-mulut jahat itu, dan demi mendapatkan tempat di hatimu, Arga... aku akan lakukan apa saja."
Dia mengenakan baju olahraga yang paling besar ukurannya, baju yang sebenarnya agak sempit dan terasa sesak di tubuhnya yang berisi. Dia mengikat rambut panjangnya ke atas, mengeluarkan sepatu kets yang sudah lama tersimpan di dalam lemari dan tak pernah terpakai. Lalu, dengan napas yang sudah mulai memburu hanya karena bergerak sedikit saja, Nayra melangkah keluar kamar menuju halaman belakang kediaman Pradipta yang sangat luas.
Udara pagi yang dingin langsung menyapa kulitnya, tapi Nayra tidak peduli. Dia berdiri tegak di tengah halaman yang masih sepi itu, menatap langit yang perlahan berubah warna dari gelap menjadi keemasan. Di sini, di tempat ini, dia akan memulai perjuangan yang mungkin akan menjadi hal terberat dalam hidupnya.
Dia ingat apa yang dia baca di internet dan dengar dari orang-orang: "Ingin kurus? Harus bergerak, harus membakar lemak, dan yang paling berat... harus menahan lapar."
Nayra menarik napas panjang, lalu mulai berlari pelan mengelilingi halaman yang luas itu.
Baru lima langkah, napasnya sudah terdengar berat dan pendek. Baru sepuluh langkah, kakinya sudah terasa berat seolah ada besi berton-ton yang mengikatnya. Baru dua puluh langkah, keringat sudah mulai bercucuran membasahi dahinya, punggungnya, dan seluruh tubuhnya. Tubuhnya yang berat ini seolah-olah menolak untuk bergerak, setiap langkah terasa menyiksa, setiap hentakan kaki terasa sakit di persendiannya.
"Ah... capek... capek sekali..." keluhnya dalam hati, napasnya tersengal-sengal hebat. Dadanya terasa sesak, seolah-olah udara di sekitarnya tidak cukup untuk memenuhi paru-parunya. Kakinya gemetar, rasanya dia ingin sekali berhenti, duduk, dan beristirahat di bangku taman di dekat sana.
Tapi di detik itu juga, bayangan wajah-wajah penghina itu kembali melintas di benaknya. Suara tawa sinis Tante Sarah, ejekan Karin, kata-kata pedas Bibi Ratih, dan tatapan dingin Arga yang sama sekali tidak memandang ada atau tidak adanya dirinya.
"Lihat saja dia, jalan saja susah, apalagi melayani suaminya."
"Dasar gadis kampung gemuk yang tak tahu diri."
"Arga pasti malu banget punya istri begini."
"TIADAKAN!" teriak Nayra dalam hati, matanya memejam kuat-kuat sambil menggelengkan kepala. Dia memaksakan kakinya yang gemetar itu melangkah lagi, lebih cepat sedikit dari sebelumnya. "Aku tidak boleh berhenti di sini! Kalau aku berhenti sekarang, berarti aku mengakui kalau mereka benar! Berarti aku memang gadis gemuk yang lemah dan penakut! Aku tidak mau! Aku tidak akan biarkan itu terjadi!"
Dia berlari lagi. Napasnya makin berat, keringatnya makin deras mengalir, baju olahraganya sudah basah kuyup seolah habis tersiram air. Rasa perih di kakinya, rasa sakit di dadanya, rasa lelah yang luar biasa... semua dia abaikan. Dia terus berputar, mengelilingi halaman itu lagi dan lagi, sampai kakinya benar-benar tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang berat.
Saat dia akhirnya berhenti, Nayra langsung jatuh berlutut di rumput hijau, tubuhnya terhuyung-huyung, napasnya keluar masuk dengan sangat cepat dan berat. Dia memegang dadanya yang terasa berdebar kencang sekali, seolah mau meledak. Keringat menetes dari ujung rambutnya, jatuh satu per satu ke tanah.
Sakit. Lelah. Perih.
Tapi anehnya, ada rasa lain yang muncul di hatinya. Rasa puas. Rasa bangga kecil. Karena dia tahu, setiap tetes keringat yang jatuh itu adalah lemak yang sedang dia bakar. Setiap rasa sakit itu adalah langkah kecil menuju perubahan besar.
Belum sempat Nayra mengatur napasnya kembali, terdengar suara langkah kaki mendekat, disusul suara ketus yang sudah sangat dia kenal.
"Ya ampun... apa yang sedang kau lakukan di sini, Nona Nayra?"
Nayra menoleh, melihat Bibi Ratih berdiri di sana dengan tangan di pinggang, menatapnya dengan tatapan heran sekaligus jijik. Di belakangnya ada dua pembantu lain yang ikut menonton sambil menutup mulut, menahan tawa.
Nayra bangkit berdiri dengan susah payah, mengusap keringat di dahinya. "Sa... saya sedang berolahraga, Bibi."
Bibi Ratih tertawa kecil, suara tawanya penuh ejekan. "Berolahraga? Hahaha... untuk apa? Kau pikir dengan berlari-lari kecil begitu, tubuhmu yang sebesar gunung itu akan bisa mengecil? Dasar tidak tahu diri. Sudah gemuk, sudah jelek, masih saja berharap bisa jadi cantik. Percuma saja. Tulangmu sudah besar, lemakmu sudah tebal. Sampai kapan pun kau akan tetap begini, aib keluarga Pradipta."
Kata-kata itu menusuk lagi, tapi kali ini Nayra tidak lagi menangis atau menunduk. Dia menatap Bibi Ratih dengan tatapan tajam, tatapan yang membuat wanita paruh baya itu sedikit terkejut.
"Siapa yang bilang percuma, Bibi?" jawab Nayra pelan namun tegas. "Selama masih bernapas, selama masih ada kemauan, tidak ada yang mustahil. Bibi boleh menertawakan saya hari ini. Tapi ingatlah baik-baik... nanti Bibi yang akan kaget melihat perubahan saya."
"Hah! Sok percaya diri sekali. Dasar gila," cibir Bibi Ratih, lalu berbalik pergi diikuti kedua pembantu itu yang masih bergumam dan tertawa kecil membicarakan Nayra.
"Lihat tuh, sok-sokan mau kurus. Gemuk begini mana mungkin berubah."
"Iya, lucu sekali. Buang-buang waktu saja."
Suara-suara itu terdengar jelas di telinga Nayra. Dia mengatupkan rahangnya erat, tangannya mengepal kuat. "Tertawalah kalian sekarang... nanti giliran aku yang tertawa saat kalian diam membisu karena kaget." batinnya.
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Waktunya sarapan pagi.
Biasanya, jam segini adalah waktu yang paling Nayra tunggu-tunggu. Dia sangat suka makan. Dia suka nasi yang banyak, lauk yang berminyak, gorengan, kue-kue manis, dan segala makanan enak. Makanan adalah satu-satunya hiburan dan pelarian dirinya dari rasa sedih dan sepi.
Tapi hari ini... hari ini semuanya berubah.
Saat dia masuk ke ruang makan, meja panjang itu sudah penuh dengan hidangan lezat. Ada nasi uduk yang gurih, gorengan hangat, ayam goreng berbalut rempah, kue lapis, donat gula, susu cokelat, dan masih banyak lagi. Aroma wangi makanan itu langsung menyergap hidungnya, membuat perutnya yang kosong sejak pagi langsung berteriak minta diisi. Mulutnya langsung berair, kebiasaan lamanya hampir saja membuat dia langsung menyambar piring dan mengambil porsi besar seperti biasa.
Namun ingatannya langsung terbang kembali ke malam kemarin.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu jadi istri Tuan Arga?"
"Dia cuma aib karena tubuhnya besar dan jelek."
Nayra mengeratkan giginya. Dia duduk di kursinya, matanya menatap makanan-makanan enak itu dengan tatapan perang. Ini musuhnya. Makanan enak ini musuh terbesarnya. Kalau dia makan sembarangan, dia tidak akan pernah berubah. Dia akan selamanya jadi bahan ejekan.
Bibi Ratih datang membawa nampan, meletakkan piring di depan Nayra. Di sana sudah ada nasi satu piring penuh, dua potong ayam, dan tiga buah gorengan. Menu andalan Nayra setiap hari.
"Silakan dimakan, Nona. Makan saja yang banyak, biar makin gemuk, biar makin sehat," ucap Bibi Ratih dengan nada sarkas, lalu tersenyum sinis.
Nayra menatap piring itu. Godaan itu sangat besar. Sangat, sangat besar. Dia sangat lapar. Dia sangat ingin memakannya. Rasanya dia rela melakukan apa saja hanya demi satu suapan nasi hangat itu.
Tapi...
Perlahan, Nayra mendorong piring itu menjauh. Dia mengambil piring kecil di sebelahnya, mengambil nasi hanya sebesar kepalan tangan, satu potong timun, dan sedikit tumisan sayur bening. Itu saja. Tidak ada gorengan, tidak ada ayam berminyak, tidak ada kue manis.
Bibi Ratih sampai terpaku melihat itu. "Eh? Kau... kau mau makan itu saja? Kau sakit apa?"
"Saya tidak sakit, Bibi," jawab Nayra tenang, meski di dalam hatinya dia sedang berperang hebat melawan rasa laparnya. "Mulailah hari ini saya mengatur pola makan saya."
"Dasar aneh. Sudah gemuk, makan sedikit begini. Apa kau pikir bisa kurus cuma dengan makan sedikit? Hahaha, lucu sekali," ejek Bibi Ratih lalu pergi.
Nayra memakan sarapannya yang sedikit itu pelan-pelan. Rasanya hambar, tidak ada nikmatnya sama sekali dibandingkan makanan kesukaannya. Setiap suapan terasa berat, setiap kali dia menelan, rasa ingin makan yang lebih banyak itu mendesak kuat sekali. Perutnya terasa kosong, perih, dan minta diisi. Rasanya dia ingin sekali membalikkan meja dan memakan semua makanan itu sampai kenyang.
Tapi dia tahan. Dia ingat sumpahnya. Dia ingat hinaan mereka. Dia ingat wajah dingin Arga.
"Sakit hati ini harus lebih besar daripada rasa lapar ini," batinnya sambil meneteskan air mata diam-diam di balik suapan sayurnya.
Belum selesai dia makan, terdengar langkah kaki berat masuk ke ruang makan. Jantung Nayra seketika berdegup kencang. Dia tahu siapa itu.
Arga Pradipta masuk dengan setelan jas rapi, wajahnya segar, tampan luar biasa, tapi tatapannya tetap sedingin es. Di belakangnya ada Karin, sepupunya yang cantik langsing itu, berjalan sambil tertawa kecil bercerita sesuatu pada Arga.
Mereka duduk di ujung meja, jauh dari tempat Nayra duduk. Arga sama sekali tidak melirik ke arah Nayra, seolah keberadaan istrinya itu tidak ada.
"Ah, Arga... lihatlah," ucap Karin sambil tersenyum miring, matanya menatap ke arah piring Nayra yang isinya sangat sedikit. "Istrimu itu kenapa? Makan cuma sedikit sekali. Padahal kan biasanya makan rakus sekali, makanya jadi sebesar itu. Apa dia mau diet? Lucu sekali ya. Orang yang tulangnya sudah besar begini, mau diet sampai mati pun tidak akan bisa kurus. Dasar usaha sia-sia."
Suara Karin sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga Nayra. Wanita itu lalu tertawa renyah, diikuti senyum tipis Arga yang seolah menyetujui ucapan sepupunya itu.
"Biarkan saja dia, Karin. Terserah dia mau melakukan apa. Bagiku, dia tetaplah sama... gadis gemuk yang tak berarti apa-apa," jawab Arga dengan nada dingin dan datar, sambil memotong daging di piringnya dengan tenang.
Kalimat itu... kalimat itu menghancurkan hati Nayra berkali-kali lipat lebih sakit daripada rasa lapar dan rasa lelahnya.
"Gadis gemuk yang tak berarti apa-apa..."
Nayra menggenggam sendoknya erat sampai buku jarinya memutih. Air matanya hampir tumpah, tapi dia telan kembali. Dia menoleh ke arah Arga dan Karin, menatap mereka berdua dengan tatapan yang tak bisa mereka mengerti.
"Kalian anggap aku tak berarti? Kalian anggap usahaku sia-sia?" batin Nayra, api semangatnya makin berkobar hebat, melebihi api yang pernah ada sebelumnya. "TUNGGU SAJA! AKAN KUBUKTIKAN BAHWA KALIAN YANG SALAH! AKAN KUBUKTIKAN BAHWA AKU BISA BERUBAH MELEBIHI IMAGINASI KALIAN SEMUA! DAN SAAT ITU TIBA... KALIAN AKAN MELIHAT BAHWA AKULAH YANG PALING BERARTI, DAN KALIANLAH YANG AKAN DIANGGAP TAK BERARTI!"
Pagi itu berakhir dengan rasa sakit hati yang makin dalam, tapi juga dengan tekad yang makin membaja.
Sejak hari itu, kehidupan Nayra berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi waktu santai, tidak ada lagi makanan enak, tidak ada lagi kenyamanan.
Setiap hari, pukul empat pagi dia sudah bangun, berlari mengelilingi halaman berulang kali sampai keringatnya membanjiri tubuh. Awalnya dia hanya sanggup berlari sepuluh menit, lalu dua puluh, lalu satu jam, dan makin lama makin lama durasinya. Rasa sakit di kaki, nyeri di pinggang, sesak napas... semua dia jalani. Saat rasanya tak sanggup lagi, dia ingat kata-kata Arga: "Gadis gemuk yang tak berarti apa-apa." Dan seketika kekuatan baru datang menghampirinya.
Setelah lari, dia lanjutkan dengan gerakan senam, angkat beban kecil, dan gerakan otot lainnya yang dia pelajari dari buku dan internet. Tubuhnya yang belum terbiasa bergerak itu sering kali terasa sakit luar biasa sampai malam hari, sulit tidur karena nyeri di mana-mana. Tapi besok paginya, dia bangun lagi dan melakukannya lagi, meski sakit, meski berat.
Masalah terbesarnya adalah RASA LAPAR.
Ini musuh paling berat. Di jam-jam tertentu, terutama siang dan malam, perutnya terasa perih sekali, bergemuruh keras minta diisi. Mulutnya selalu ingin mengunyah sesuatu. Setiap kali dia melihat makanan enak di meja makan, setiap kali mencium aroma gorengan atau kue, hatinya menangis ingin memakannya.
Berkali-kali dia hampir menyerah. Berkali-kali tangannya hampir menyambar makanan itu.
"Sekali saja tidak apa-apa, kan? Besok puasa lagi saja..." bisik setan kecil di hatinya.
Tapi setiap kali itu terjadi, bayangan wajah-wajah penghina itu langsung muncul. Suara Bibi Ratih, T