Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBERANGKATAN SERUNI
Fajar baru saja memerah di ufuk timur, menandakan datangnya hari baru yang berat dan panjang bagi Seruni. Udara pagi masih terasa dingin menusuk tulang, diselimuti kabut tipis yang perlahan naik dan menghilang saat sinar matahari mulai memanaskan bumi. Di depan gubuk reyot tempatnya dibesarkan, Seruni berdiri diam, menggenggam erat simpul ujung kain bungkusan berisi pakaian dan bekal makanan yang disiapkan ibunya semalam. Matanya yang indah tampak sembab dan merah, habis menangis semalaman menahan rasa sedih dan berat hati untuk pergi.
Di hadapannya, Bu Lastri menangis tersedu-sedu, memeluk tubuh putri tunggalnya itu seerat-eratnya, seolah tak rela melepaskan, seolah ingin membawa serta masa muda dan nasib buruk anaknya itu. Pak Suryo berdiri di sampingnya, menunduk dalam diam, air mata lelakinya jatuh diam-diam membasahi pipi keriputnya. Rasa bersalah menyesakkan dadanya, merasa sangat tak berguna karena harus membiarkan anak gadisnya pergi merantau jauh demi menebus kesalahan ayahnya.
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Nak..." isak Bu Lastri, melepaskan pelukan itu perlahan namun masih menggenggam tangan Seruni erat. "Jangan sungkan, jangan malu, kalau susah atau apa-apa... ingat kami selalu berdoa untukmu di sini. Lima tahun nanti... pulanglah dengan selamat ya, Nak."
Seruni mengangguk kuat, menghapus air mata ibunya dengan lembut, lalu menghapus air matanya sendiri yang kembali menetes. "Ibu, Ayah... tenang saja. Aku pasti kuat. Aku pasti bekerja keras. Nanti aku pulang membawa uang lunas, kita hidup senang lagi ya. Ibu dan Ayah juga harus sehat, jangan sakit, jangan bersedih. Aku akan selalu ingat kalian."
Seruni menoleh ke samping, ke arah pohon besar di pinggir jalan tempat ia berjanji semalam. Di sana, di balik rimbunan daun, ia melihat sosok tinggi besar yang diam berdiri mematung. Liam. Ia tidak ikut mendekat, tidak ikut berpamitan di depan rumah agar tidak menambah kesedihan, tapi ia ada di sana, menjaga pandangannya sampai detik terakhir Seruni pergi. Wajahnya masih dingin dan kaku, tapi tatapannya tajam dan lekat, merekam setiap detik kepergian itu ke dalam ingatannya selamanya. Seruni tersenyum tipis ke arah bayangan itu, senyum penuh makna dan janji, lalu membalikkan badannya sepenuhnya saat suara kereta kuda terdengar mendekat dari kejauhan.
Kereta kuda besar berwarna cokelat kusam itu akhirnya muncul di tikungan jalan, ditarik oleh dua ekor kuda besar yang napasnya mengepulkan uap putih di udara dingin. Sang kusir berhenti sejenak, membiarkan Seruni naik ke atas gerbong kayu yang keras dan sempit itu. Saat kereta mulai bergerak perlahan menjauh, Seruni menjulurkan kepalanya keluar dari jendela kecil, menatap gubuknya, menatap orang tuanya, menatap pohon besar itu dan sosok diam di bawahnya... sampai semuanya hilang tertutup kabut dan pepohonan hijau.
Perjalanan itu terasa sangat panjang, melelahkan, dan membosankan. Kereta kuda itu bergerak lambat, bergoyang-goyang melewati jalan berbatu yang terjal dan berdebu. Berjam-jam lamanya Seruni hanya duduk diam di pojokan gerbong, memeluk bungkusan barangnya, menatap pemandangan hutan dan bukit yang berganti-ganti di luar sana. Di dalam hatinya, ia berulang kali mengingat janji semalam: Lima tahun. Aku akan pulang. Liam akan menunggu. Kalimat itu menjadi satu-satunya kekuatan yang menopang hatinya agar tidak hancur oleh rasa sedih dan takut.
Setelah seharian penuh menempuh perjalanan, melewati sungai lebar dengan menaiki rakit, dan melewati perbatasan hutan belantara, menjelang sore hari pemandangan di luar gerbong berubah drastis. Pepohonan yang tadinya rimbun dan sepi kini berganti dengan rumah-rumah yang berjejer rapi, jalan yang lebih lebar dan keras, serta hiruk-pikuk suara manusia, suara kendaraan, dan bunyi-bunyian yang asing bagi telinga Seruni. Mereka sampai di pelabuhan besar. Di sana, Seruni harus pindah kendaraan menaiki kapal kayu besar yang akan membawanya menyeberangi laut menuju kota besar tujuan akhirnya.
Melihat hamparan laut luas yang biru dan tak bertepi itu, jantung Seruni berdebar kencang karena kagum sekaligus takut. Ia belum pernah melihat laut seumur hidupnya, belum pernah sejauh ini meninggalkan tanah kelahirannya. Selama dua hari dua malam ia berada di atas kapal, menahan rasa mual dan pusing karena ombak yang mengguncang tubuhnya terus-menerus, tidur di ruang sempit berisi orang-orang asing, dan makan seadanya. Di setiap detik yang berat itu, wajah Liam dan senyum orang tuanya selalu terbayang di matanya, menjadi penawar lelah dan rindu.
Akhirnya, pada hari ketiga perjalanan, kapal besar itu merapat ke dermaga batu yang luas dan ramai sekali. Seruni turun membawa barang-barangnya, tertegun mematung di tepi dermaga. Di hadapannya terbentang kota besar yang jauh lebih megah, lebih ramai, dan lebih indah dibandingkan apa pun yang pernah ia bayangkan. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh, jalanan penuh dengan orang-orang berpakaian bagus, pedagang berteriak menawarkan dagangan, dan suara kendaraan beroda banyak berjalan hilir mudik. Semuanya terasa asing, seram, dan membuatnya merasa sangat kecil, miskin, dan sendirian di tengah lautan manusia itu.
Namun Seruni ingat tujuannya. Ia mendekatkan diri pada seorang penjaga dermaga, bertanya dengan sopan namun gugup arah menuju kediaman keluarga Tuan Wijaya, keluarga bangsawan terkaya dan paling terpandang di kota itu, tempat ia akan bekerja selama lima tahun ke depan sesuai kontrak yang ditandatanganinya.
Perjalanan dari dermaga ke tempat tujuan kembali memakan waktu berjam-jam. Semakin jauh masuk ke dalam kota, semakin megah dan mewah bangunan-bangunan yang dilewatinya. Sampai akhirnya, kereta sewaan yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang raksasa yang menjulang tinggi, terbuat dari besi hitam kokoh dengan ukiran emas berkilauan. Di atas gerbang itu tertulis nama besar keluarga Wijaya. Di balik gerbang itu, terlihat hamparan taman luas yang indah, pepohonan rapi, dan bangunan rumah besar berarsalaman indah yang tampak seperti istana raja.
Seruni menelan ludah gugup, merapikan pakaiannya yang sederhana namun bersih, lalu memberanikan diri mengetuk pintu pagar samping. Seorang penjaga berpakaian seragam rapi keluar, bertanya keperluannya. Setelah menunjukkan surat kontrak dan surat pengantar dari Tuan Hadi, Seruni dipersilakan masuk dan dipimpin berjalan melewati taman indah itu menuju ke bagian belakang rumah, tempat tinggal para pembantu dan pekerja.
Di sana ia bertemu dengan Ibu Siti, kepala pembantu rumah tangga yang sudah tua, berwajah tegas namun terlihat bijaksana. Ia memeriksa surat-surat Seruni dengan teliti, lalu menatap gadis desa itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan mengukur.
"Jadi kau Seruni? Gadis desa yang mau bekerja lima tahun penuh ini?" tanya Ibu Siti dengan suara berat dan tegas. "Di sini aturannya sangat ketat, Nak. Jam kerja panjang, perintah harus dituruti tanpa membantah, tidak boleh sembarangan keluar masuk, dan harus jujur serta rajin. Kalau kau pikir ini mudah, lebih baik pulang sekarang. Tapi kalau kau sudah bertekad kuat, maka mulai detik ini kau adalah bagian dari pekerja di keluarga Wijaya."
Seruni mengangguk mantap, menatap mata tua itu dengan pandangan berani dan tulus. "Saya sudah bertekad, Ibu. Saya siap bekerja sekeras apa pun, seberat apa pun, demi menyelesaikan kewajiban saya. Saya akan patuh pada semua aturan."
Ibu Siti tersenyum tipis, sepertinya ia menyukai ketegasan dan ketulusan gadis muda itu. Ia mengangguk puas, lalu menunjuk ke arah bangunan sederhana di dekat dapur belakang.
"Baiklah. Mulai sekarang kau tinggal di sana bersama pembantu-pembantu yang lain. Istirahatlah hari ini untuk menyesuaikan diri. Besok pagi-pagi sekali saat ayam berkokok, kau sudah harus bangun dan mulai bekerja. Tugas pertamamu adalah membersihkan halaman belakang, menyapu pekarangan, dan membantu di dapur sampai sore. Pelajari cara kerja kami, jangan banyak bertanya, lihat dan tiru saja apa yang dilakukan yang lain."
Seruni menghela napas panjang lega sekaligus gugup. Ia meletakkan bungkusan barang-barangnya di atas kasur tipis di ruang tidur bersama itu. Ia melihat sekelilingnya, melihat wajah-wajah pembantu lain yang menatapnya dengan berbagai pandangan: ada yang ramah, ada yang dingin, ada yang penasaran. Di luar sana, matahari mulai tenggelam, langit kota berubah menjadi kemerahan yang sama indahnya seperti di desanya, namun rasanya sangat berbeda.
Seruni berjalan keluar ke beranda belakang rumah besar itu, menatap ke arah langit timur, ke arah tempat desa dan orang-orang yang dicintainya berada jauh di seberang sana. Di dadanya, rasa rindu yang luar biasa besar kembali menyergap, namun ia menguatkan hatinya.
"Ayah, Ibu... Liam..." bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca namun senyum kecil terukir di bibirnya. "Saya sudah sampai. Saya sudah mulai masuk ke dalam kehidupan baru ini. Lima tahun... saya akan jalani semuanya. Saya akan bekerja keras. Dan nanti... saat saya pulang... janji kita akan saya penuhi."
Sore itu juga, Seruni resmi menjadi bagian dari rumah besar keluarga Wijaya. Ia berdiri tegar di sana, seorang gadis desa sederhana yang bertekad baja, siap menempuh hari-hari berat, lelah, dan jauh dari orang terkasih, demi sebuah janji dan harapan masa depan yang indah. Di tempat baru yang asing ini, perjalanan besarnya baru saja benar-benar dimulai.