“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burn The Government
Lampu rotator darurat berkelap-kelip merah pekat, menyiram dinding-dinding batu Aula Utama kastil dengan warna distopia yang mencekam. Suara sirene meraung membelah malam Pasifik, beresonansi dengan deburan ombak badai yang menghantam tebing-tebing Isla de la Rosa. Di atas layar monitor dinding yang retak, koordinat taktis menunjukkan sekumpulan titik hijau yang bergerak dalam formasi baji.
Itu adalah armada gabungan kapal perusak siluman dan helikopter serbu milik militer pemerintah. Mereka tidak datang untuk melakukan negosiasi atau penjemputan diplomatik. Mereka datang dengan perintah pemusnahan massal atas nama "Operasi Pembersihan Stabilitas Global."
Di tengah aula yang dipenuhi mayat dan genangan darah yang mulai mendingin, para bos mafia mulai menunjukkan kepanikan yang nyata. Nikolai Volkov mengumpat dalam bahasa Rusia sembari memeriksa sisa amunisi di senapan taktisnya, sementara Alejandro berulang kali mencoba menghubungi jaringan satelit pribadinya yang kini telah lumpuh total akibat penguncian sinyal tingkat militer dari armada yang mendekat.
"Sialan!" Nikolai menggeram, matanya yang liar menatap layar monitor. "Itu adalah divisi taktis Angkatan Laut ke-7. Mereka membawa daya hancur yang cukup untuk menenggelamkan pulau ini ke dasar samudra. Aurelia, bajingan-bajingan di parlemen telah menggunakan keberadaanmu untuk melegitimasi pembantaian ini!"
Aurelia Vane tidak bergerak dari posisinya di dekat jasad Marcus. Pistol perak berukir mawar hitam di tangannya masih mengeluarkan asap tipis. Ekspresi wajahnya tetap sedingin es, namun matanya yang sehitam obsidian perlahan beralih dari layar monitor, terkunci lurus pada sosok pria yang berdiri di sampingnya, Kael Arden.
"Ini adalah akhir dari permainanmu di pemerintahan, Kael," suara Aurelia mengalir tenang, nyaris seperti bisikan angin di tengah badai, namun setiap katanya membawa beban yang teramat berat. "Wakil Perdana menterimu telah mengambil alih sisa kabinetmu. Mereka menggunakan absensimu malam ini, melabelimu sebagai pengkhianat negara yang bersekutu dengan sindikat kriminal global. Jika kau naik ke helikopter darurat sekarang dan menyerahkan diri kepada armada yang datang, kau mungkin bisa menyelamatkan kepalamu melalui pengadilan militer rahasia. Kau bisa mempertahankan sisa harga dirimu sebagai pejabat negara."
Aurelia melangkah maju, memotong jarak di antara mereka hingga aroma black rose miliknya kembali menusuk indra penciuman Kael, bersaing dengan bau mesiu yang pekat. Ia mengangkat tangan kirinya yang dingin, menyentuh kerah jas Kael yang telah koyak dan ternoda darah.
"Pilihlah, Perdana Menteri," bisik Aurelia dengan nada female dominance yang mengintimidasi, menguji batas akhir dari pria yang mengklaim telah menyerahkan jiwanya. "Negaramu... atau aku? Surga buatan parlemenmu yang megah itu, atau neraka berdarah bersamaku di pulau ini?"
Seluruh bos mafia di dalam ruangan menahan napas mereka, menatap Kael dengan pandangan menuntut. Di tangan Kael Arden, terletak keputusan yang bisa mengubah peta geopolitik dunia dalam hitungan menit. Sebagai kepala pemerintahan tertinggi, ia memegang kode akses enkripsi pertahanan berlapis yang mampu membatalkan atau mengacaukan rantai komando armada militer yang sedang menuju ke arah mereka.
Kael Arden menatap tangan Aurelia di kerah jasnya, lalu beralih menatap wajah wanita itu yang terpahat sempurna di bawah kilatan lampu merah darurat. Rasa sakit yang membakar saraf di bahu kirinya akibat luka tembak seolah tidak lagi berarti. Di dalam labirin otaknya, kalkulasi politik yang selama ini ia agungkan telah meleleh menjadi abu, digantikan oleh satu dorongan psikologis yang absolut, posesif, dan destruktif.
Kembali ke pemereintahan? Menyerahkan diri kepada sistem parlemen yang penuh dengan kemunafikan dan ular-ular politik seperti Frederick Vance? Menonton dari balik jeruji besi atau kursi pesakitan saat armada militer itu menghancurkan Aurelia dan kerajaan bawah tanahnya?
Tidak akan pernah.
Sebuah tawa rendah, dingin, dan dipenuhi oleh kegilaan yang matang perlahan keluar dari tenggorokan Kael. Sepasang mata elangnya menyala oleh api obsesi yang paling murni yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Ia mengangkat tangan kanannya, mencengkeram pergelangan tangan Aurelia dengan tekanan yang begitu kuat dan posesif, menegaskan bahwa wanita ini tidak akan pernah bisa melepaskan diri darinya, bahkan di ambang kehancuran sekalipun.
"Negara?" Kael berbisik parau, suaranya terdengar begitu sensual sekaligus mengerikan di tengah raungan sirene kastil. "Aku menghabiskan seluruh usiaku untuk merangkak ke puncak pemerintahan hanya untuk menyadari bahwa hukum yang kubuat tidak lebih dari sekadar lelucon di hadapan pesonamu, Aurelia. Aku tidak butuh surga yang dibangun oleh sekelompok pengecut di parlemen."
Kael melepaskan cengkeramannya dari tangan Aurelia, lalu melangkah mantap menuju konsol komunikasi utama kastil yang berada di belakang podium takhta. Dengan gerakan mekanis yang sangat cepat dan presisi, ia meretas panel akses darurat menggunakan kode otoritas alfa tertinggi miliknya selaku Perdana Menteri, sebuah kode enkripsi biometrik yang tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun di dunia tanpa persetujuannya.
"Apa yang kau lakukan, Kael?" Nikolai Volkov berseru, melangkah maju dengan mata melebar saat melihat layar konsol mulai memancarkan barisan kode biner berwarna merah darah.
"Aku sedang membakar jembatan pulangku, Nikolai," jawab Kael tanpa menoleh, jemarinya terus menari di atas papan ketik virtual dengan kecepatan yang mengerikan.
Layar monitor utama di dinding kastil mendadak berubah. Formasi baji dari armada militer yang mendekat berguncang secara visual. Kael baru saja mengaktifkan protokol penolakan akses area tingkat tinggi, memancarkan gelombang interferensi elektromagnetik dari satelit militer yang ia kendalikan langsung ke arah koordinat armada pertahanan nasionalnya sendiri.
Tidak hanya itu, di hadapan para bos mafia yang terpaku dengan kengerian yang mendalam, Kael memasukkan perintah eksekusi untuk membuka seluruh dokumen rahasia, manifes korupsi, data spionase, dan skandal pencucian uang milik setiap anggota parlemen, jenderal militer, dan menteri kabinet dunia atas ke dalam jaringan publik internasional secara serentak.
ENTER.
Dalam satu ketukan jari Kael, sistem pemerintahan dunia atas mengalami keruntuhan struktural dari dalam. Pusat komando militer di ibu kota mendadak buta karena jaringan komunikasi mereka terputus, sementara bursa saham internasional langsung terjun bebas akibat kebocoran data taktis berskala global yang dilepaskan oleh Perdana Menteri mereka sendiri.
"Kael..." Aurelia melangkah mendekat ke belakang tubuh Kael, menatap layar yang kini menampilkan kekacauan massal pada negaranya. Untuk pertama kalinya, ada kilat kekaguman yang bercampur dengan rasa posesif yang mendalam di sepasang mata obsidian sang Ratu. "Kau benar-benar menghancurkan negaramu sendiri."
Kael membalikkan tubuhnya, menatap Aurelia dengan senyum predatornya yang paling sempurna. Jas hitamnya tergantung longgar, darahnya menetes dari balik perban, namun auranya begitu mengintimidasi hingga para bos mafia di ruangan itu secara refleks mundur satu langkah, menyadari bahwa pria di hadapan mereka kini telah melampaui batas kegilaan manusia biasa.
"Aku tidak sekadar menghancurkannya, Aurelia," Kael merengkuh pinggang Aurelia dengan tangan kanannya, menarik tubuh wanita itu dengan paksa hingga dada mereka saling berbenturan di tengah aula yang berdarah. "Aku membakar seluruh duniaku agar tidak ada lagi tempat bagiku untuk kembali. Detik ini juga, aku adalah buronan nomor satu di bumi. Aku telah menghancurkan takhta politikku, hanya agar aku bisa berdiri di samping takhtamu."
Kael mendekatkan wajahnya, membiarkan mata mereka saling mengunci dalam intensitas emosional yang begitu padat hingga oksigen di sekitar mereka terasa lenyap.
"Sentuh aku dengan kematianmu, Aurelia, dan aku akan memastikan seluruh dunia ikut terbakar bersamaku," bisik Kael penuh dengan kegilaan obsesi romansa yang teramat berbahaya. "Sekarang, para serigalamu sudah melihat... bahwa aku bukan lagi seekor anjing birokrat. Aku adalah monster yang kau ciptakan, dan aku siap merobek siapa saja yang menghalangi jalan kita."
Aurelia menatap lurus ke dalam manik mata Kael, merasakan degup jantung pria itu yang beritme cepat namun konstan penuh kepatuhan gila. Senyuman sensual yang paling mematikan terukir di bibir sang Ratu Dunia Bawah, mengunci takdir mereka berdua ke dalam pusaran kegelapan yang tidak akan pernah bisa dihentikan oleh hukum manusia mana pun. Permainan baru mereka di bawah bayang-bayang kehancuran pemerintahan baru saja dimulai.