NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama di Mansion Virel

Mansion Virel berdiri megah di kawasan elite Jakarta Selatan. Tembok tinggi, gerbang besi hitam, dan taman yang dijaga 24 jam dengan kamera di setiap sudut.

Bagi orang luar, tempat ini seperti istana. Bagi Evelyn, rasanya lebih mirip penjara emas.

Koper kecilnya terlihat konyol di tengah lantai marmer yang mengkilap dan lampu kristal yang tergantung tinggi.

Bau kayu jati mahal dan lilin aromaterapi memenuhi udara. Semuanya sempurna, tapi tidak ada yang terasa seperti rumah.

“West Wing. Kamar paling ujung. Jangan ganggu Tuan Matthias setelah jam 10 malam,”

kata kepala pelayan dengan nada datar sebelum membungkuk dan pergi.

Suaranya formal, seolah Evelyn cuma tamu biasa, bukan istri.

Evelyn menghela napas panjang, Tangannya meremas gagang koper.

_Jadi ini hidup baruku. Mewah, dingin, dan sepi._

Malam itu, jam menunjukkan 23.17.

AC di kamarnya mati.

Teknisi bilang baru bisa datang besok siang.

Udara panas dan lembap Jakarta membuat tidurnya berantakan. Ia sudah coba nyalain kipas kecil, buka jendela, bahkan mandi air dingin dua kali.

Tetap saja, keringat menempel di punggung. Rasanya seperti dikurung di sauna.

Setelah berguling-guling selama satu jam, ia menyerah.

Kalau ia diam saja, besok pagi ia pasti bangun dengan sakit kepala dan mood ancur.

Dan kalau mood-nya ancur, Matthias yang bakal jadi sasaran omelannya.

Dengan langkah pelan, ia berjalan ke kamar utama di lantai dua. Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena kesal.

_Tok. Tok._

Suara ketukannya pelan, hampir tidak terdengar.

Pintu terbuka dalam tiga detik.

Matthias berdiri di sana dengan kaos hitam polos dan celana panjang.

Rambutnya sedikit acak-acakan, tanda baru selesai kerja. Tatapannya tetap dingin seperti biasa, tapi ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Lelah.

“AC kamarku mati,” kata Evelyn,

suaranya sengaja dibuat polos.

“Panggil teknisi besok pagi,” jawab Matthias singkat.

Suaranya serak, seperti baru bangun tidur.

“Tapi kan kita suami istri. Masa nggak boleh ganggu dikit?”

Sebelum Matthias sempat membantah, Evelyn sudah menyelinap masuk, membawa bantal dan selimut tipis di tangannya. Ia duduk di ujung kasur besar itu dengan wajah santai seolah ini kamar sendiri.

“Keluar,” kata Matthias datar.

“Nggak.”

Matthias menghela napas panjang.

“Evelyn, baca lagi kontraknya. Pasal tiga ayat dua. Tidak ada interaksi di luar jam kerja kecuali darurat.”

“Ini darurat. Aku mau mati kepanasan,” balas Evelyn sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya.

Matthias menatapnya lama.

Ada sesuatu di balik matanya yang dingin—lelah,Kecewa, mungkin juga. Akhirnya ia melempar selimut lain ke arah Evelyn.

“Ambil. Jangan lebih dari satu meter dari kasurku.”

Evelyn menangkapnya dengan senyum menang.

“Siap, Pak Suami.”

“Jangan panggil aku begitu.”

“Tapi lucu kedengerannya.”

Lampu dimatikan.

Ruangan jadi gelap, hanya menyisakan cahaya kota dari jendela besar setinggi dinding.

Dingin AC langsung menyapu ruangan, membuat Evelyn menghela napas lega.

Ia berbaring di lantai dengan selimut melilit tubuhnya. Dingin. Nyaman.

Dari atas, ia bisa mendengar napas Matthias yang pelan dan teratur. Pria itu tidak langsung tidur. Ia masih duduk di tepi kasur, menatap ke arah jendela.

“Kamu nggak takut aku ngapain-ngapain?” tanya Evelyn tiba-tiba, memecah keheningan.

“Tidak,” jawab Matthias singkat. “Kamu terlalu benci aku untuk itu.”

Evelyn terkekeh pelan. “Pintar juga kamu.”

Beberapa menit berlalu. Keheningan kembali menyelimuti.

“Aku nggak benci kamu,” katanya pelan, hampir seperti bisikan. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan.

Matthias tidak langsung menjawab.

“Tidur, Evelyn.”

“Selamat malam, Pak Suami.”

Matthias tidak menjawab lagi.

Tapi ia juga tidak menyuruh Evelyn keluar. Ia hanya merebahkan diri, membelakangi Evelyn, dan menutup matanya.

Di luar, hujan masih turun pelan, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang menenangkan.

Di dalam, dua orang asing berbagi satu ruangan, satu kontrak, dan mungkin… awal dari sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.

Evelyn memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Dan itu membuatnya takut.

---

*[Bersambung –]*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!