SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.
Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik dengan Kevin
Rio berdiri perlahan. Ia merapikan seragamnya, memastikan kancing kemejanya tertutup rapat. Ia merasakan otot-otot di sekujur tubuhnya menegang, bersiap untuk beraksi meskipun otaknya masih berteriak untuk menahan diri. Ia berjalan keluar kelas, melangkah menuju koridor yang mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah berkumpul di kantin atau lapangan. Jalan menuju belakang gedung olahraga cukup jauh dan agak terpencil, melewati lorong samping yang jarang dilewati orang, di balik tumpukan kursi rusak dan gudang peralatan sekolah yang terbengkalai.
Saat ia berjalan melewati koridor itu, suasana udara berubah menjadi lebih dingin dan lembap. Di dinding-dinding tua itu, terlihat banyak sekali coretan, simbol-simbol, dan tulisan tangan yang sebagian besar berisi ancaman, nama kelompok, atau tanda wilayah kekuasaan. Semakin ia berjalan jauh, semakin Rio mendengar suara-suara samar, suara tawa kasar, dan langkah kaki yang berirama.
Sesampainya di ujung lorong, ia berhenti tepat di pintu besi yang terbuka setengah, yang mengarah ke halaman belakang GOR yang tertutup pagar tinggi dan rimbunan pohon-pohon tua. Di sana, di atas hamparan rumput kering dan tanah berdebu, sudah menunggu sekitar sepuluh orang pemuda.
Di depan barisan itu, berdiri Kevin dengan tangan bersedekap dada, tersenyum lebar saat melihat kedatangan Rio. Di sebelahnya ada Rian, dan ada pula wajah-wajah asing yang lebih tua, kemungkinan besar kakak kelas atau anggota inti kelompok Naga Hitam yang lain. Salah satu dari mereka, pemuda bertubuh sangat besar, kekar seperti petarung, dengan bekas luka panjang di pipi kiri, berdiri diam di samping Kevin dengan wajah datar namun mengerikan. Itu adalah Anto, salah satu petarung andalan Raka, yang dikirim untuk memastikan anak baru ini mendapat pelajaran yang cukup dan menjadi contoh bagi siswa lain.
"Wih, datang juga anak baru kita! Gue kira lo bakal lari atau ngadu ke guru," seru Kevin dengan nada mengejek, berjalan mendekati Rio yang berhenti sekitar lima meter di depan mereka.
"Gue udah janji bakal dateng. Gue gak pernah ingkar janji," jawab Rio tenang, matanya meneliti situasi sekeliling. Jalan keluar sudah terblokir. Mereka sepuluh orang, Rio sendirian. Kekuatan fisik mereka terlihat terlatih dan brutal.
"Bagus, bagus. Jadi lo punya nyali juga ya," kata Kevin, berhenti tepat di depan hidung Rio, menatap tajam ke atas ke arah mata Rio yang setinggi kepala Kevin. "Sekarang, langsung aja ya ke intinya. Di sini aturannya gini: buat anak baru, biar aman, biar gak dicari masalah, biar gak dipukulin di jalan pulang... lo harus bayar 'uang perlindungan'. Besarnya seratus ribu sebulan. Bayar di awal bulan. Terus... lo juga harus ikut gabung sama kita. Jadi anggota Naga Hitam. Kalau lo pinter ngelawan kayak yang gue denger, mungkin lo bisa jadi petarung, lumayan buat nambah pasukan kita."
Rio menggeleng pelan. "Gue gak punya uang segitu. Dan gue gak mau gabung sama siapa-siapa. Gue cuma mau sekolah. Tolong kasih tau ketua lo, Raka atau siapa aja... gue gak mau ngelawan, gue gak mau jadi musuh, tapi gue juga gak mau diperas atau disuruh-suruh."
Suasana di belakang GOR itu seketika hening senyap. Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun kering di tanah. Senyum di wajah Kevin perlahan hilang, digantikan oleh ekspresi marah yang mengerikan.
"Lo... ngomong apa barusan?" tanya Kevin pelan, menahan amarahnya. "Lo nolak? Lo nolak tawaran gue? Lo tau gak siapa gue? Lo tau gak siapa Raka? Lo pikir lo siapa berani nolak aturan kita?!"
"Gue nggak nolak hormat, gue cuma nolak ditindas dan dipaksa masuk geng. Ada bedanya," jawab Rio tegas, tetap mempertahankan pendiriannya.
"BRINGAS AJA ORANGNYA! GAK TAU DIRI!" teriak Kevin, kehilangan kendali emosinya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, persis seperti apa yang dilakukan Dimas di lorong tadi, bersiap menampar wajah Rio dengan sekuat tenaga di depan anak buahnya dan anak buah Raka. "DASAR ANAK KAMPUNG KURANG AJAR! INI BARU PERTAMA KALI LO KETEMU GUE DAN LO UDAH SOK KERAS KEPALA! GUE AJARIN LO CARA NGOMONG SAMA ORANG YANG LEBIH BERKUASA!"
Telapak tangan Kevin melayang cepat ke arah pipi kanan Rio. Kecepatan itu cukup cepat bagi siswa biasa, namun bagi Rio yang telah dilatih bertarung sejak kecil untuk mempertahankan diri di lingkungan keras tempat ia dibesarkan, gerakan Kevin itu terasa sangat lambat dan terbaca jelas.
Di detik terakhir, tepat sebelum kulit tangan Kevin menyentuh pipinya, kepala Rio bergerak sedikit ke samping, menghindari serangan itu dengan sangat halus dan akurat. Serangan Kevin melayang di udara, hanya menyentuh angin, membuat tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan karena momentumnya terlalu kuat.
Sebelum Kevin sempat kembali menegakkan badannya, Rio bertindak. Ia tidak memukul, tidak menendang, ia hanya menggunakan teknik bela diri Aikido yang ia kuasai—menggunakan kekuatan lawan untuk melumpuhkan mereka. Dengan gerakan secepat kilat, tangan kanan Rio menangkap pergelangan tangan Kevin yang masih terulur, sementara tangan kirinya menekan siku Kevin dari bawah. Dalam satu gerakan halus namun kuat, Rio memutar lengan Kevin ke arah belakang tubuhnya, menguncinya sedemikian rupa hingga sendi siku itu terasa sakit luar biasa jika bergerak sedikit saja.
Kevin terkejut setengah mati. Ia menjerit tertahan, tubuhnya tertekuk ke bawah, punggungnya menempel pada dada Rio, lengannya terkunci mati dan terasa mau patah. Ia sama sekali tidak berdaya.
"AAAAAA! LEPASIN! LEPASIN SIALAN! SAKIT TAU!" teriak Kevin histeris, wajahnya memerah karena menahan sakit dan kaget.
Anak buah Kevin, termasuk Anto si berbekas luka, langsung bergerak maju serentak saat melihat pemimpin mereka terjebak.
"BERANI LO NGELAKUIN ITU SAMA KEVIN! MATI LO ANAK BARU!" teriak Anto, berlari besar menghampiri Rio dengan kepalan tangan yang sudah siap menghancurkan wajah Rio.
Rio tidak panik. Ia tidak ingin memukul mereka hingga terluka parah, itu akan berakibat fatal baginya dan ibunya. Tapi ia harus membuktikan satu hal: ia bisa bertahan. Ia melempar tubuh Kevin yang menjerit itu ke samping, tepat ke arah dua orang anak buah yang berlari di belakang Anto, membuat mereka bertiga jatuh berantakan ke tanah.
Saat Anto sudah berada di jarak dekat, kepalan tangan kanannya melayang ke arah rahang Rio dengan kekuatan penuh. Rio menundukkan kepalanya sedikit, menghindari pukulan itu, lalu dengan cepat mengayunkan lengannya sendiri, menepis lengan Anto ke samping hingga suara tulang berbentur terdengar nyaring. Sebelum Anto sempat mengubah serangan, kaki Rio melangkah masuk ke dalam ruang gerak lawan, dan dengan telapak tangan terbuka, Rio mendorong dada Anto tepat di ulu hati, dorongan yang dikendalikan dengan kekuatan pas, cukup untuk membuat napas Anto terhenti sejenak dan tubuh besar itu terdorong mundur hingga terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
"GUE NGOMONG UDAH BENERAN NIH! GUE GAK MAU NGELAWAN! TAPI KALAU KALIAN YANG NYERANG GUE, GUE GAK BISA DIEM AJA!" teriak Rio keras-keras, suaranya menggema di halaman belakang yang sepi itu, matanya menatap tajam ke arah mereka semua yang kini mulai ragu dan mundur selangkah.
Namun kemarahan dan gengsi mereka terlalu besar untuk berhenti begitu saja. Rian dan tiga orang lainnya langsung menerjang maju serentak dari arah kiri dan kanan, membawa kayu kecil dan batu yang mereka ambil dari tanah. Pertarungan pun pecah total.
Rio bergerak seperti bayangan di tengah kepungan itu. Ia tidak memukul dengan keras, ia tidak melukai dengan parah, ia hanya mengelak, memutar, menangkis, dan menjatuhkan lawan dengan teknik-teknik kuncian, sapuan kaki, dan gerakan menghindar yang sangat indah namun mematikan. Setiap kali ada tangan yang melayang, Rio sudah tidak ada di sana. Setiap kali ada kaki yang menendang, Rio sudah berada di samping mereka, menjatuhkan mereka ke tanah dengan gerakan halus namun tak terelakkan.
Suara teriakan, suara benturan tubuh, dan suara napas terengah-engah memenuhi udara. Dalam hitungan kurang dari dua menit, hampir semua orang yang menyerang Rio sudah tergeletak di tanah, ada yang memegangi lengannya yang terkilir, ada yang memegangi kakinya yang tersapu, ada yang terjatuh pusing, dan ada yang hanya duduk diam karena kaget melihat kemampuan anak baru ini.
Hanya Anto yang masih berdiri, napasnya memburu, matanya melotot penuh amarah dan kaget. Ia tidak percaya anak kurus kering yang terlihat tenang ini ternyata punya kemampuan bertarung setara atau bahkan di atas dirinya. Rio berdiri tegak sekitar dua meter di depannya, napasnya sedikit memburu namun tubuhnya tidak ada yang tergores sedikit pun. Seragamnya masih rapi, tidak ada noda darah, tidak ada luka.
"Sekarang lo ngerti kan?" tanya Rio, suaranya berat namun tenang. "Gue gak mau jadi musuh kalian. Tapi gue juga gak bakal jadi budak kalian. Gue cuma mau sekolah. Biarin gue tenang, gue bakal biarin kalian tenang."
Anto mengertakkan gigi, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia ingin sekali menerjang lagi, ingin sekali menghancurkan wajah Rio itu, tapi naluri bertahannya mengatakan bahwa jika ia melangkah satu langkah lagi, ia akan kalah telak dan dipermalukan di depan anak buahnya sendiri.