NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04.00 WIB.

Suasana kamar masih gelap gulita dan sangat sunyi ketika Kanaya perlahan membuka matanya. Ia melirik jam digital di ponselnya yang menyala redup: 04.00 WIB. Hawa dingin khas pedesaan menembus sela-sela dinding kayu, membuat tubuhnya agak menggigil di balik selimut.

​Rasa ingin buang air kecil yang mendesak membuat Kanaya tidak bisa melanjutkan tidurnya. Di samping kanan dan kirinya, Mely dan Lisa masih terlelap sangat nyenyak, kelelahan setelah perjalanan panjang kemarin.

​Kanaya menghela napas pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia menyibak selimut dan turun dari kasur kapuknya. Ia merapikan rambut sebahunya yang agak berantakan, lalu meraih jaket tebalnya untuk menghalau dingin yang menusuk tulang.

​Saat melangkah keluar kamar, suasana ruang tengah benar-benar sepi dan hanya diterangi oleh lampu temaram yang menyala di dekat dapur. Posko KKN yang terpencil di tengah enam petak sawah itu terasa berkali-kali lipat lebih sunyi di jam-jam rawan seperti ini. Hanya terdengar suara derik jangkrik dari luar dan langkah kakinya sendiri yang bergesekan lembut dengan lantai.

​Kanaya berjalan agak berjinjit menuju bagian belakang rumah tempat kedua kamar mandi berada. Bulu kuduknya sempat meremang sedikit mengingat letak rumah ini yang jauh dari pemukiman warga. Sambil memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, ia mempercepat langkahnya menuju pintu kamar mandi, berharap bisa menuntaskan hajatnya dengan cepat sebelum sisa anggota kelompok satu lainnya bangun untuk memulai piket subuh.

Kanaya menarik napas lega setelah keluar dari kamar mandi. Namun, begitu ia melangkah ke dekat wastafel luar untuk mencuci tangan, suara grendel pintu kamar mandi tepat di sebelahnya berbunyi, disusul dengan pintu yang terbuka perlahan.

​Kanaya refleks menoleh, dan langkahnya seketika terkunci.

​Dari dalam kamar mandi sebelah, muncul seorang laki-laki yang mengenakan kaus oblong hitam dan sarung yang tersampir di bahunya. Wajahnya masih basah oleh air wudu, meninggalkan sisa-sisa dingin yang segar di kulitnya. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arman.

​Kedua mantan kekasih itu membeku di ruang belakang yang remang-remang. Suasana jam empat dini hari yang sunyi membuat deru napas mereka sendiri terdengar begitu jelas.

​Arman tampaknya sama terkejutnya dengan Kanaya. Langkahnya terhenti di ambang pintu, matanya menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah, canggung, dan kerinduan yang mendalam. Rambut sebahu Kanaya yang sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur membuat Arman teringat pada pagi-pagi di masa lalu yang pernah mereka lalui bersama.

​"Kanaya..." bisik Arman lirih, memecah keheningan. Suaranya yang serak khas bangun tidur terdengar begitu akrab di telinga Kanaya.

​Kanaya mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut oleh suasana mistis dini hari, melainkan karena kehadiran laki-laki di depannya ini. Mengingat kembali bagaimana Arman menjadikannya 'ATM berjalan' selama empat tahun hubungan mereka membuat rasa hangat yang sempat muncul di hatinya langsung menguap, berganti menjadi benteng pertahanan yang dingin.

​"Permisi," sahut Kanaya pendek, suaranya terdengar datar dan menjaga jarak.

​Tanpa menunggu balasan dari Arman, Kanaya langsung memalingkan wajahnya dan melangkah cepat meninggalkan area kamar mandi, kembali menuju ruang tengah yang temaram. Sementara itu, Arman hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar mandi, menatap punggung Kanaya yang menjauh dengan rasa penyesalan yang kembali mengiris hatinya di subuh yang dingin itu.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!