NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Umbi Gadung Mentah

Sumarni perlahan mengangkat mangkuk sup ayam yang mengepul hangat di hadapannya. Uap tipis membawa aroma gurih kaldu yang sangat menggugah selera.

Namun, tepat saat sendok perak itu hampir menyentuh bibir Dimas, gerakan tangan Sumarni mendadak kaku di udara.

Ada sesuatu yang salah.

Hidungnya yang tajam menangkap sekelebat aroma asing di antara harumnya bawang putih goreng dan irisan seledri.

Aroma langu yang tipis sekali, hampir tersamarkan. Tapi, memori tubuh asli Sumarni menolak lupa. Itu adalah bau umbi gadung mentah.

Ingatan masa lalu langsung berputar di kepalanya, tentang seekor kambing milik tetangga desa yang tewas kejang-kejang dengan mulut berbusa setelah tidak sengaja memakan sisa umbi gadung di kebun belakang rumah.

Detik berikutnya, layar sistem tiba-tiba berkedip merah di sudut pandangannya.

[Peringatan Bahaya! Deteksi Racun Ekstrak Umbi Gadung pada Makanan Target.]

[Efek: Kejang akut, sesak napas dalam beberapa menit, meniru gejala keracunan makanan basi.]

[Rencana Musuh: Menuduh Anda lalai mengurus makanan anak tiri, menyingkirkan Anda dari sisi Harjono.]

Darah Sumarni terasa dingin seketika. Seseorang sengaja menaruh racun ini untuk menjebaknya, tega memanfaatkan nyawa seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa hanya demi menyingkirkan dirinya dari rumah ini.

"Ibu, ayo suapi Dimas. Perut Dimas sudah bunyi krucuk-krucuk sejak tadi di kamar." Bocah itu mendongak, matanya yang bulat berbinar tidak sabar melihat sup hangat di depannya. "Dimas sudah sangat lapar."

Sumarni menarik napas dalam-dalam, menekan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Ia harus tetap tenang.

Tidak boleh ada kepanikan yang terlihat di wajahnya agar tidak memancing kecurigaan pelaku yang mungkin sedang mengawasi mereka dari luar paviliun.

"Tunggu sebentar ya, Le," ucap Sumarni selembut mungkin. Ia meletakkan kembali mangkuk sup itu ke meja dengan gerakan tenang, tanpa kepanikan sedikit pun.

"Supnya masih terlalu panas untuk mulutmu. Nanti lidahmu bisa melepuh. Ibu ambilkan kerupuk dulu di dapur belakang biar makannya lebih enak, ya?"

Dimas mengangguk patuh sambil tersenyum lebar. "Iya, Ibu. Pakai kerupuk biar kriuk-kriuk!"

Di dapur, senyum hangat Sumarni langsung lenyap. Ia bergerak cepat. Tanpa ragu, ia menuangkan seluruh isi mangkuk berisi sup beracun itu ke ember pembuangan di sudut dinding.

Bau langu gadung sempat menguar tajam sebelum ia buru-buru menyiramnya dengan air sumur yang diguyurkan melimpah hingga sisa sup itu tenggelam sepenuhnya ke saluran pembuangan luar.

Ia mengambil kain lap bersih, menggosok mangkuk porselen itu hingga kering dan tidak meninggalkan noda kuning sedikit pun.

Setelah memastikan aromanya bersih, ia meletakkannya kembali ke baki kayu bersama beberapa keping kerupuk.

Harjono melangkah masuk ke ruang tengah paviliun. Kemeja tenun tumpal emas yang Sumarni jahit kemarin malam melekat pas di bahunya yang tegap. Aroma tembakau cengkih yang akrab segera memenuhi ruangan, membawa rasa aman yang biasa ia bawa.

"Marni, bagaimana kondisi paviliun baru kalian?" tanya Harjono sambil memeriksa ujung kemeja barunya dengan puas. "Jahitan kemejamu ini sangat rapi, Mas suka memakainya."

"Sangat baik, Mas. Kami baru saja hendak makan siang," jawab Sumarni lembut. "Mas Harjono mau sekalian makan bersama kami?"

Harjono tersenyum tipis, lalu melirik ke arah meja. Mangkuk di meja tampak kosong bersih. Ia baru saja akan membuka mulut untuk bertanya mengapa mangkuk itu kosong ketika tiba-tiba suara langkah kaki yang tergesa-gesa meledak dari ambang pintu luar.

Sulastri menerobos masuk tanpa permisi.

Sulastri meremas sapu tangan katun dengan jemari gemetar. Di belakangnya, dua pelayan mengikuti dengan wajah serius yang dibuat-buat. Ia melirik seisi ruangan dengan cepat, seolah mencari sesuatu yang sudah ia pastikan ada di sana.

"Mas Harjono, untung kamu ada di sini!" Sulastri berteriak melengking, memecah ketenangan paviliun. Ia menunjuk lurus ke arah Sumarni dengan jari bergetar. "Mbok Darmi melihat sendiri dengan matanya! Marni memasukkan sesuatu yang berbahaya ke dalam sup Dimas tadi!"

Harjono menghentikan langkahnya. Wajahnya langsung berubah mendung dan rahangnya mengeras. "Jaga bicaramu, Sulastri. Jangan asal melempar tuduhan di rumahku."

"Nyonya Sulastri," kata Sumarni, nadanya rata dan tenang, "jika aku memang berniat mencelakai Dimas, untuk apa aku menghentikan tanganku sendiri sebelum satu suapan masuk ke mulutnya?"

Sulastri tidak terhenti sedikit pun. Ia tampaknya sudah menyiapkan jawaban ini dengan sangat matang.

"Aku tidak asal bicara, Mas!" balas Sulastri cepat, nada suaranya naik satu oktav. "Mbok Darmi langsung berlari melapor kepadaku begitu melihat gelagat aneh perempuan ini! Dia langsung berlari ke dapur begitu kamu pergi! Aku kemari bukan untuk memicu keributan—aku ingin menyelamatkan Dimas sebelum terlambat! Aku seorang ibu, Mas Harjono, bagaimana bisa aku tinggal diam jika anakmu terancam bahaya?"

Kalimat itu mendarat dengan sangat berat di dalam ruangan.

Harjono terdiam. Pandangannya beralih dari Sumarni ke Sulastri. Kerutan di alisnya semakin dalam. Keraguan mulai mengaburkan tatapannya—keraguan seorang kepala keluarga di hadapan aduan pelayan senior yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumah itu. Mbok Darmi bukanlah orang baru, dan sulit bagi Harjono untuk mengabaikan kesaksiannya begitu saja tanpa bukti nyata.

Dimas memeluk pinggang Sumarni semakin erat karena takut mendengar pertengkaran orang dewasa di sekitarnya.

Sumarni tidak langsung menjawab.

Ia berdiri diam, membiarkan keheningan menguasai ruangan sejenak. Memang benar, argumen Sulastri masuk akal dan didukung reputasi pelayan tua yang dipercaya keluarga. Tanpa bukti fisik dari sisa sup, sulit mematahkan tuduhan itu. Jika ia menyangkal hanya dengan kata-kata kosong, Harjono yang sedang cemas pasti akan lebih condong mempercayai Sulastri demi keselamatan anaknya.

Namun, Sumarni mengingat detail kecil yang terjadi hanya beberapa detik saat Sulastri mendobrak pintu tadi. Kejadian yang begitu cepat hingga Sulastri sendiri mungkin tidak menyadarinya.

"Nyonya masuk ke ruangan ini dengan tergesa-gesa," kata Sumarni perlahan, menatap lurus ke dalam mata Sulastri yang mulai memancarkan binar kemenangan, "dan hal pertama yang Nyonya lakukan bukanlah melihat ke arah Dimas."

Sulastri tertegun, mulutnya yang setengah terbuka langsung terkatup rapat.

"Nyonya melihat mangkuk itu." Sumarni menunjuk meja kayu dengan tatapan matanya, tanpa perlu mengangkat jari. "Bukan anaknya yang katanya terancam bahaya. Tapi mangkuknya."

Ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Dua pelayan di belakang Sulastri bahkan menahan napas mereka karena tegang.

"Nyonya tidak bertanya apakah Dimas baik-baik saja. Nyonya tidak berjongkok untuk memeluk atau memeriksa kondisi anak yang katanya baru saja hampir diracuni." Sumarni melangkah maju satu tapak, suaranya tetap tenang dan dingin, bagai sedang membacakan catatan fakta yang tak terbantahkan. "Yang pertama kali mata Nyonya cari dengan begitu panik saat melintasi pintu... adalah mangkuk kosong ini."

Harjono perlahan membalikkan seluruh tubuhnya ke arah Sulastri. Tatapan matanya yang semula dipenuhi keraguan kini perlahan mengeras dingin bagai es.

"Seorang ibu yang benar-benar khawatir mendengar anaknya akan diracun," lanjut Sumarni, memotong keheningan dengan tajam, "pasti akan langsung berlari memeluk anaknya tanpa memedulikan hal lain. Tapi Nyonya? Nyonya langsung mencari mangkuk itu untuk memastikan apakah rencana Nyonya berhasil atau tidak."

Sulastri membuka mulutnya lebar-lebar, wajahnya memucat seketika. "Aku—aku tidak... aku hanya ingin memastikan bukti dari laporan Mbok Darmi—"

"Memastikan apa, Sulastri?!"

Suara Harjono memotong dingin. Nada suaranya rendah, berat, tanpa ragu sedikit pun, sanggup membuat dua pelayan di belakang Sulastri tersentak mundur ketakutan.

"Memastikan apakah Dimas sudah memakan racun itu? Atau memastikan apakah Marni sudah terjebak oleh permainan kotormu?"

Sulastri menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak kering. Jemarinya yang memegang sapu tangan gemetar hebat oleh rasa takut nyata yang mulai merayap naik ke seluruh tubuhnya. Sapu tangan katun itu terlepas dari genggamannya, jatuh tak bersuara ke lantai.

Tubuhnya sendiri mengkhianati seluruh skenario yang telah ia susun rapi. Detik pertama yang sangat krusial itu membongkar kebenaran yang tak terbantahkan: instingnya bukanlah insting seorang ibu yang cemas, melainkan seorang konspirator yang ingin melihat hasil kejahatannya.

Di sudut ruangan, pelayan pengikutnya perlahan-lahan menggeser langkahnya mendekati dinding. Mereka berusaha menjauhkan diri sejauh mungkin dari Sulastri agar tidak ikut hancur dalam amarah Harjono yang sebentar lagi meledak sepenuhnya.

Dimas mendongak ke wajah Sumarni, matanya penuh pertanyaan yang tidak terucap, namun ketakutannya kini telah mereda berganti rasa aman yang hangat.

Sumarni mengusap rambut bocah itu satu kali dengan lembut. Ia tahu, babak ini telah selesai, dan ia keluar sebagai pemenang tanpa harus mengotori tangannya sendiri.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!