NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Keheningan yang mencekam mengunci ruang tengah apartemen. Udara yang biasanya sejuk kini terasa membeku di antara kami bertiga. Reyhan berdiri tegak dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan martabatnya di hadapan pria yang memegang kendali atas kota ini. Sementara itu, Charles berdiri kokoh di sampingku, tangannya yang berada di sandaran kursiku perlahan turun, mendarat di bahuku dengan remasan lembut yang protektif. Sentuhan tangan Charles yang hangat seolah menjadi pembatas fisik yang nyata, mempertegas kepada siapa aku kini menjadi milik.

"Saya ke sini untuk mengajar, Pak Charles," suara Reyhan akhirnya memecah kebeningan, mencoba terdengar profesional meskipun ada nada bergetar yang tak mampu ia sembunyikan. "Tugas saya adalah memastikan Andini tidak tertinggal dalam materi sastranya. Jika saya bertanya tentang keadaannya, itu karena saya peduli sebagai seseorang yang mengenalnya jauh sebelum... semua kemewahan ini ada."

Charles menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyuman tipis yang sama sekali tidak menyiratkan keramahan. Ia melepaskan tangan dari bahuku, lalu berjalan perlahan memutari meja belajar, melangkah dengan keanggunan seorang predator yang sedang menandai wilayahnya.

"Peduli adalah kata yang sangat subjektif, Tuan Reyhan," jawab Charles, suaranya terdengar datar namun bergaung penuh intimidasi. Ia berhenti tepat di seberang meja, berhadapan langsung dengan Reyhan. "Di duniaku, kepedulian yang melewati batas profesionalitas disebut sebagai gangguan. Aku mendirikan Yayasan Utama dan meminta Bu Sarah menyaring pengajar terbaik bukan untuk membawa masa lalu yang tidak relevan ke dalam rumahku."

"Rumah Anda?" Reyhan terkekeh getir, matanya sekilas melirik ke arahku sebelum kembali menantang Charles. "Tempat ini mungkin megah, Pak Charles. Tapi bagi saya, ini lebih terlihat seperti sangkar emas. Anda memanfaatkan kepolosan Andini saat dia tidak punya pilihan setelah kepergian kakek dan ayahnya."

"Kak Reyhan, cukup!" pekikku, tidak mampu lagi menahan diri. Aku bangkit berdiri dari kursi, membuat kedua pria itu menoleh ke arahku. Jantungku berdegup begitu kencang hingga dadaku terasa sesak.

Aku menatap Reyhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku menghargai kenangan kami, aku menghargai setiap puisi yang dulu kami tulis bersama di bawah pohon mahoni. Namun, kata-katanya yang merendahkan Charles terasa seperti serangan langsung terhadap perlindungan yang selama ini kudapatkan dengan susah payah.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di sini, Kak," ucapku dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan. "Kau tidak ada di sana saat rumahku disita. Kau tidak ada di sana saat media mengepungku dan sekolah memintaku pergi. Pria yang kau sebut pemilik sangkar emas ini... dialah yang berdiri di depanku saat semua orang menghakimiku. Jadi, tolong jangan bicara seolah-olah aku adalah korban di rumah ini."

Reyhan tampak tersentak, wajahnya berubah pias mendengar kalimat defensif yang keluar dari mulutku. Ia menatapku seolah aku adalah orang asing yang tidak lagi ia kenali. "Andini... kau benar-benar sudah berubah."

Sebelum aku sempat menjawab, Charles melangkah maju, memotong jalur pandang Reyhan terhadapku. Tubuh tegapnya yang dibalut setelan jas mahal sepenuhnya menyembunyikan diriku di belakang punggungnya.

"Aku rasa sesi perkenalan ini sudah lebih dari cukup," ucap Charles dingin, menyudahi perdebatan tanpa memberi ruang untuk negosiasi. Ia menoleh sedikit ke arah sudut ruangan. "Gunawan, antarkan Tuan Reyhan keluar. Dan hubungi Bu Sarah, katakan padanya aku meminta pengganti pengajar yang lebih memahami batasan tugasnya."

"Pak Charles, Anda tidak bisa memutus kontrak kerja saya begitu saja hanya karena Anda merasa terancam!" seru Reyhan, emosinya mulai terpancing.

Charles tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru merapikan ujung lengan kemejanya dengan gerakan yang sangat tenang, sebuah gestur yang menunjukkan betapa tidak berartinya perlawanan Reyhan baginya. "Aku pemilik Yayasan Utama, Tuan Reyhan. Aku bisa melakukan apa saja di dalam institusi yang kubiayai sendiri. Dan satu hal lagi... aku tidak pernah merasa terancam oleh seseorang yang hanya menjadi bagian dari masa lalu yang sudah selesai."

Pak Gunawan melangkah maju dengan sigap, berdiri di antara Reyhan dan meja belajar. "Mari, Tuan Reyhan. Silakan lewat sini."

Reyhan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, ia menyambar tas ransel kanvasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu besi apartemen berdentum menutup, membawa pergi gema masa lalu yang sempat mengusik kedamaian yang baru saja kubangun.

Begitu keheningan kembali menguasai ruangan, kekuatanku rasanya menguap begitu saja. Aku merosot kembali ke atas kursi, menunduk menatap jemariku yang gemetar di atas pangkuan. Aku merasa kacau. Pertemuan dengan Reyhan membuka kembali kotak pandora memori lama, namun di saat yang sama, aku menyadari betapa jauhnya aku telah melangkah dari dunia itu.

Charles membalikkan badannya, menatapku yang terduduk lemas. Ia tidak memarahi atau menginterogasiku tentang siapa Reyhan sebenarnya. Sebaliknya, ia berjalan mendekat, lalu berlutut di sebelah kursiku, membuat posisinya lebih rendah dariku—sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi seorang Charles Utama yang angkuh.

"Kau mengenalnya dengan baik?" tanyanya lembut, menepis semua nada dingin yang ia gunakan pada Reyhan beberapa menit lalu.

Aku mengangguk pelan, tidak berani menatap matanya. "Dia... dia kakak kelas yang mengajariku menulis puisi dulu, Charles. Dia cinta pertamaku saat aku masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa tentang rumitnya dunia. Tapi demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa dialah yang akan dikirim oleh Bu Sarah ke sini."

Charles meraih kedua tanganku yang gemetar, menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat. "Aku tahu. Aku tidak menyalahkanmu, Andini."

Aku mendongak, menatap matanya yang tajam namun kini dipenuhi oleh sorot pengertian. "Kau... kau tidak marah?"

Charles tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat akan kedewasaan. "Untuk apa aku marah pada masa lalu yang tidak bisa diubah? Setiap orang memiliki cerita sebelum mereka sampai di pelabuhan terakhir mereka. Reyhan adalah bagian dari duniamu yang dulu—dunia yang penuh dengan kesederhanaan dan puisi. Wajar jika dia terkejut melihatmu berada di sini."

Ia mengusap punggung tanganku lembut dengan ibu jarinya. "Tapi duniaku sekarang adalah duniamu juga. Aku tidak mengusirnya karena aku cemburu, Andini. Aku mengusirnya karena dia membawa keraguan ke dalam hatimu yang baru saja tenang. Aku tidak ingin ada siapa pun yang membuatmu merasa bersalah atas pilihan hidup yang kita ambil untuk bertahan."

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes juga, membasahi punggung tangan Charles. Pria ini, dengan segala rigiditas dan kedinginannya sebagai pebisnis, ternyata memiliki kepekaan yang begitu luar biasa terhadap jiwaku. Ia tidak egois; ia mengerti bahwa kepulanganku ke masa lalu hanya akan melukai diriku sendiri yang kini sudah terikat oleh takdir yang berbeda.

"Terima kasih, Charles," lirihku, merasakan kehangatan menjalar dari genggaman tangannya langsung ke lubuk hatiku yang terdalam. "Aku tidak ingin kembali ke masa lalu. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah kita mulai di sini."

Charles bangkit berdiri, lalu mengusap puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Kalau begitu, bersiaplah. Aku akan meminta Gunawan mencari pengajar baru yang tidak akan membicarakan hal lain selain struktur kalimat dan sastra. Hari ini, istirahatlah dulu dari belajarmu. Bagaimana kalau kita memasak makan malam bersama?"

Aku mendongak, mataku membelalak tidak percaya. "Kau? Memasak?"

Charles berdehem, sedikit salah tingkah sambil melonggarkan ikatan dasinya. "Aku bisa membaca buku resep secepat aku membaca laporan keuangan, Andini. Kurasa memotong sayuran jauh lebih mudah daripada menghadapi dewan direksi."

Tawa kecil akhirnya lepas dari bibirku, mengusir sisa-sisa awan kelabu yang sempat dibawa oleh kemunculan Reyhan. Di bawah langit siang yang perlahan mulai cerah, aku menyadari satu hal yang pasti. Reyhan mungkin adalah orang yang mengajariku cara menulis puisi tentang cinta, namun Charles adalah pria yang mengajariku bagaimana cara menjalani hidup yang sesungguhnya di dalam perlindungan cinta itu sendiri. Batas di antara dua dunia itu kini telah tertutup rapat, dan aku tidak lagi menyesali langkahku untuk menetap di dunia Charles.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!