Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI LAMARAN TIBA
HARI LAMARAN TIBA. 20 MEI 2025.*
Langit cerah dari subuh. Awan putih berarak pelan, kayak lagi ngantri beli cilok. Tidak ada mendung. Tidak ada hujan.
Padahal sebulan lalu, rumah ini tiap malam kebanjiran air mata.
Kayak alam juga setuju: cukup sampai di situ. Jangan nambah lagi.
Rumah Bailla disulap.
Dari luar kelihatan biasa aja. Rumah mewah yang hampir saja disegel Bank. Tapi hari ini, pagarnya diikat pita biru muda.
Di dalam, MUA yang didatengin Pak Arya udah sibuk dari kemarin sore. Bunga palsu, kain tile, lampu tumblr, karpet merah tipis.
Di dinding, foto keluarga diganti pigura besar warna gold.
Foto Papi, Mami, Bailla waktu masih ada kata “liburan ke Ancol”. Waktu belum ada kata “bangkrut”.Waktu Bailla masih bisa senyum lebar tanpa mikirin utang.
Jam 9 pagi, tetangga udah berdatangan. Bu RT bawa kue lapis. Pak RW bawa kamera jadul. Anak-anak komplek duduk diteras, nungguin “calon tunangan Bailla Kakak”. Mereka kira bakal dateng cowok umur 25 tahun pake motor Nmax. Ternyata yang dateng rombongan Alphard hitam.
Suara mesin mobil Pak Arya masuk halaman. Halus. Kayak dia juga malu-malu. Keluarga inti turun duluan. Pak Arya, Arbil, Ara, Aya.
Di belakangnya, rombongan bawa seserahan. 7 kotak. Isinya buah, kue, alat sholat, perhiasan sederhana, sama satu kotak besar yang katanya “perlengkapan kuliah”. Pak Arya bilang, “Biar ga ada alasan bolos kuliah.”
Arbil pakai kemeja batik kepanjangan. Lengan digulung dua kali. Tangannya ga berhenti betulin kerah.“Kekecilan, Pak. Kayak baju SD,” gumamnya pelan. Pak Arya cuma nyengir. “Itu baju lo waktu kelas 1 SMA. Udah tinggi banget sekarang.”
Ara pakai dress pink. Jepit kupu-kupunya diganti pita putih. Dia udah latihan senyum di cermin 20 kali.
Aya juga pakai baju kembaran sama Ara. Tapi bajunya kebesaran. Tangannya genggam boneka Marsha yang rambutnya udah botak sebelah. “Biar gak deg-degan,” katanya serius. “Marsha juga deg-degan. Jadi kita deg-degan bareng.”
Di kamar, Bailla ngintip dari balik gorden. Jantungnya lari. Lari maraton. Dia pakai kebaya kutu baru warna biru muda. Pak Arya yang belikan. Diam-diam titip ke Mami minggu lalu.
“Biar serasi,” katanya waktu itu. Sederhana. Tapi pas di badan. Pas di keadaan.
“Udah siap, Nak?” Mami masuk kamar. Matanya udah berkaca.
“Sudah Mi. Ini udah selesai dandannya.” Bailla buka pintu.
Mami terpukau.
Anak yang dia rawat dari bayi, yang dia suapin bubur, yang dia marahin kalau bolos ngaji, sekarang berdiri di depannya.
Cantik. Anggun. Menawan.
“Kamu cantik sekali, Nak,” puji Mami sambil tersenyum terharu.
Tangannya ngusap sanggul kecil Bailla.
“Gadis Mami udah mau jadi istri orang.”
Bailla peluk Mami kenceng.
“Jangan nangis Mi. Nanti bedaknya luntur. Mahal ini.”
Mami ketawa. Ketawa yang basah.
Di ruang tamu, Papi duduk paling ujung. Pakai batik terbaiknya. Batik yang biasanya cuma keluar pas kondangan tetangga.
Di sampingnya, tamu undangan udah duduk rapi. Pak RT, Bu RW, Pak Haji, sama Zeze yang nyusup dari kampus pake dress biru.
Zeze bisik ke Bailla lewat WA: “Gue bawa tisu 2 bungkus. Lo nangis, gue lempar.”
Pak Arya salaman sama Papi.
Lama. Dua-duanya ga ngomong. Tapi jabatannya kencang. Kencang kayak dua laki-laki yang ngerti arti “janji” dan “utang budi”. Ga perlu kata-kata. Tangan mereka udah cerita semua.
“Bapak, Ibu,” suara Pak Arya pelan, tapi jelas. Seisi ruangan dengar. “Saya datang hari ini untuk meminang Bailla Zahira binti Bayu Samudra untuk menjadi calon istri saya, ibu dari anak saya kelak. Mohon kepada Bapak Bayu untuk mengizinkan dan memberikan restu kepada kami.”
Papi angguk. Tenggorokannya naik turun.
“Saya merestui dan mengizinkan Bailla Zahira putri saya untuk menjadi calon istrimu. Kami titipkan Bailla, Arya. Dia keras kepala. Tapi hatinya... lembut. Jangan dibentak kalau dia salah. Diajarin aja. Kayak ngajarin Ara nulis.”
“Saya ingat, Pak,” jawab Pak Arya. Suaranya pelan. Tapi ada janji di sana.
Lalu giliran Aya.
Bocah 4 tahun itu maju, disuruh Arbil.
Dia sodorin boneka Barbie botaknya ke Bailla.
“Kak Bailla, ini buat kamu. Biar kalau kangen rumah, ada temennya.”
Bailla jongkok.
Air mata yang ditahan dari subuh akhirnya lolos satu tetes.
Dia terima boneka itu. “Makasih, sayang. Kakak simpan ya. Nanti kita main bareng. Barbie-nya kita beliin wig pink.”
Ara maju juga. Malu-malu. Nyodori gambar crayon.
Ada lima orang bergandengan: Pak Arya, Arbil, Ara, Aya, dan satu perempuan rambut panjang pakai kebaya.
Di atasnya tulisan miring: “Keluarga Baru.”
Bailla gak kuat. Dia peluk Aya dan Ara. Di pelukan itu, dia nyium bau bedak bayi dan sedikit bau crayon. Bau “anak”. Bau yang bikin dia inget, dia bukan cuma calon istri. Dia calon ibu.
Zeze, yang dateng diam-diam dari kampus, bisik-bisik dari pojok: “Anjir, Bailla. Ini lamaran apa sidang skripsi? Gue nangis.”
Acara inti berlangsung khidmat.
Pemasangan cincin berbalas pantun. Hantaran 99 macam.
Pak Arya nyerahin map cokelat sama kotak cincin ke Papi Mami. Lalu Papi serahin tangan Bailla.
“Bailla Zahira,” kata Papi. Suaranya serak.
“Papi lepas kamu ke orang yang Papi percaya.
Bukan karena Papi ga sayang. Tapi karena Papi sayang, makanya Papi mau kamu selamat.”
Bailla sungkem. Lama. Dia cium punggung tangan Papi yang biasa kerja keras. Asin. Air mata atau keringat, dia ga tahu.
Setelah itu sungkem ke Mami. Tak terasa air mata Mami menetes. Sambil memeluk Bailla tanpa satu pun kata yang diucapkan. Pelukan itu cukup. Pelukan itu bilang, Mami bangga. Mami ikhlas.
Pas berdiri, Pak Arya udah di depan dia. Tidak megang tangan.
Tidak ngerangkul. Dia cuma bilang, satu kalimat
“Bailla, makasih udah mau datang di kehidupan kami.
Saya janji, gak akan bikin kamu nyesel.”
Tidak ada “aku cinta kamu”. Tidak ada puisi.Tapi bagi Bailla, kalimat itu lebih berat dari ijab kabul. Lebih berat dari cincin perak di jari manisnya.
Siang itu, mereka makan bersama. Hidangan prasmanan. Nasi kuning, ayam bakar, sambel, lalap, kerupuk.
Ara nambah dua kali. Aya numpahin kuah, Bailla yang ngelap.
Ara bisik-bisik ke Bailla, “Kak, nanti ajarin aku kuncir rambut ya. Biar kayak kamu.”
Arbil duduk di pojok. Makan diam-diam.
Tapi pas Bailla lewat, dia nyodorin kerupuk ke piring Bailla. Diam-diam. Ga ngomong apa-apa. Cuma itu. Tapi cukup buat bikin Bailla ngerti, dia mulai luluh.
Selesai acara, tamu pulang satu-satu.
Foto prewedd di studio? Ga ada. Tapi ada foto HP Zeze:
Bailla duduk di lantai, Aya di pangkuan. Ara nyisir rambut Bailla sambil ngomong, “Kak, kencengin dikit. Sakit.”
Arbil pura-pura ga peduli, tapi ngasih kerupuk ke piring Bailla diam-diam. Pak Arya berdiri di belakang, foto. Senyum tipis.
Caption Zeze: 'Tim Keluarga Baru. 1 Calon Mama, 3 Calon Anak, 1 Calon Ayah yang Gak Pandai Gombal.'
Malamnya, setelah semua pulang, rumah kembali sepi.
Bailla buka kotak merah kecil.
Di dalamnya ada cincin perak. Sederhana. Tanpa berlian.
Pas di jari manis.
Hangat.
Dia tulis diari:
“20 Mei 2025.
Hari ini aku dilamar. Gak ada bunga. Gak ada lilin.
Ada boneka Barbie botak, gambar crayon lima orang bergandengan, sama janji laki-laki yang gak pandai gombal.
Aku gak tau ini awal bahagia atau awal luka baru. Tapi hari ini, aku gak ngerasa dijual. Aku ngerasa... dijemput.”
Di luar, akhirnya hujan turun. Rintik. Pelan.
Kayak restu.
------------------------