Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah di Balik Megahnya Persiapan
Lonceng-lonceng perunggu di menara keraton mulai bertalu setiap pagi, menandakan hitungan hari menuju peristiwa paling bersejarah di Amarta, Pernikahan Agung dan Penobatan Sekar Arum menjadi Permaisuri. Seluruh sudut istana bersolek dengan kemewahan tak tertandingi, kain-kain gringsing langka di sampirkan di setiap pilar, dan wangi dupa kemenyan arab memenuhi udara, mencoba mengusir segala energi negatif yang ada.
Di Bangsal Kenacana, puluhan penjahit istana sedang mengerjakan Basahan—pakaian pengantin kebesaran—yang disulam dengan benang emas asli. Sekar Arum berkali-kali harus berdiri diam berjam-jam untuk dipasangkan kain tersebut. Di atas kepalanya, sebuah mahkota permaisuri yang baru saja dibersihkan oleh para tetua adat berkilauan terkena cahaya matahari.
Namun, di balik semua keindahan itu, Sekar merasakan beban yang luar biasa. Ia sering tertangkap melamun di studio lukisnya, menatap kanvas yang belum selesai. Ia merasa seolah-olah mahkota emas yang disiapkan untuknya jauh lebih berat daripada seluruh gunung di Amarta.
Di ruang kerjanya, Gusti Prabu Arya Wijaya tidak menunjukkan raut kebahagiaan yang semestinya. Meskipun laporan dari Menteri Logistik menunjukan kondisi rakyat yang semakin sejahtera, ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya—sebuah perasaan dingin yang merayap setiap kali angin malam berembus dari arah Gunung Lawu.
Arya berdiri di depan jendela, tangannya memutar-mutar gagang keris pusaka Kiai Naga Siluman. Matanya yang tajam menatap ke arah kegelapan hutan di luar tembok keraton.
“Seno,” panggil Arya tanpa menoleh.
Seno muncul dari balik bayangan, wajahnya tampak waspada. “Dawuh, Gusti Prabu?”
“Apakah ada kabar dari Lawu?” Tanya Arya, suaranya rendah dan sarat akan kecemasan. “Sejak Ibu Suri dan Nastiti diasingkan kesana, laporannya terasa terlalu… tenang. Seperti ketenangan di permukaan laut sebelum badai besar datang.”
Seno menunduk. “Laporan dari mata-mata disana mengatakan mereka menghabiskan waktu dengan meditasi dan berkebun, Gusti. Tidak ada pergerakan mencurigakan. Namun, hamba harus jujur… firasat hamba pun merasa ada yang tidak beres. Burung-burung gagak sering terlihat berputar di atas pesanggrahan mereka setiap senja.”
Arya menghela napas panjang. Ia teringat mimpi buruk yang menghantuinya selama tiga malam berturut-turut: Ia melihat Sekar di berdiri di tengah taman melati, namun perlahan-lahan bunga putih itu berubah menjadi kelopak hitam yang layu dan berbau darah. Di dalam mimpi itu, ia mencoba meraih tangan Sekar, namun tangannya justru menembus bayangan hitam yang dingin.
“Aku merasa seperti sedang berjalan menuju jebakan, Seno,” bisik Arya. “Pernikahan ini adalah simbol kemenangan rakyat, tapi aku takut harga yang harus dibayar terlalu mahal. Aku tidak peduli pada takhtaku, tapi jika seujung kuku pun Sekar terluka di hari itu…”
“Hamba akan melipatgandakan penjagaan, Gusti,” tegas Seno. “Hamba akan meletakkan prajurit terbaik di setiap sudut Bangsal Penobatan. Bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa terbang mendekati Nimas Sekar tanpa ijin hamba.”
Malam itu, Arya menyelinap keluar dari ruangannya untuk menemui Sekar di Keputren. Ia menemukan Sekar sedang duduk di beranda, menatap bulan sabit. Keduanya terdiam, saling menatap, menyadari bahwa kegelisahan yang sama sedang menari-nari di pikiran masing-masing.
Arya menggenggam tangan Sekar, merasakannya sedikit dingin. “Kamu merasa takut, Sekar?”
Sekar mengangguk pelan. “Bukan takut akan penobatan itu, Mas. Tapi takut akan kebahagiaan ini. Rasanya terlalu sempurna, hingga saya takut takdir sedang menyiapkan sesuatu untuk mengimbanginya.”
Arya menarik Sekar ke dalam pelukannya, mencoba memberikan kehangatan yang ia sendiri pun membutuhkannya. “Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan tanganku. Di hari itu, saat seluruh dunia melihatmu sebagai Permaisuri, ingatlah bahwa bagiku kamu tetaplah gadis pelukis yang menyelamatkan jiwaku.”
Di kejauhan, guntur terdengar merambat dari arah pegunungan, meskipun langit di atas istana tampak bersih. Sebuah pertanda alam yang seolah mengamini firasat buruk sang Raja. Badai dendam dari Lawu kini hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menerjang keindahan yang sedang dibangun dengan penuh cinta tersebut.
Ular di Dalam Dinding
Kegelapan yang pekat menyelimuti lereng Gunung Lawu, namun di dalam hati Nastiti, kegelapan itu jauh lebih hitam. Sesuai rencana yang ia susun bersama Ibu Suri, malam itu bukan sekedar malam persiapan, melainkan malam penyusupan. Nastiti tidak akan menyerang dengan pasukan, ia akan menyerang seperti udara—tak terlihat namun mematikan.
Di pinggiran tembok belakang keraton yang berbatasan dengan saluran air tua, dua sosok bayangan bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Mereka adalah mantan telik sandi Adipati Cakraningrat yang paling setia, pria-pria yang kini tak lagi memiliki tuan selain dendam Nastiti.
Dengan bantuan seorang abdi dalem yang masih setiap pada Ibu Suri—seorang wanita tua bernama Ningsih yang telah bekerja di dapur istana selama puluhan tahun—mereka berhasil melewati celah keamanan. Ningsih membukakan pintu kecil yang biasanya digunakan untuk membuang abu dapur.
“Pastikan ini sampai ke tangannya,” bisik salah satu bayangan, menyerahkan sebuah botol pualam kecil yang dingin. “Ingat pesan Raden Ajeng Nastiti, ini harus terjadi di malam Midodareni.”
Ningsih membawa botol itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat cairan hitam pekat pemberian Ibu Suri—racun Upas Warangan yang telah dicampur dengan sari bunga kecubung gunung. Racun ini tidak membunuh seketika, ia akan melumpuhkan saraf, membuat korbannya seolah-olah meninggal dalam tidur karena henti jantung, tanpa meninggalkan jejak biru di bibir atau kuku.
Rencana Nastiti sangat keji. Ia ingin Sekar ditemukan tak bernyawa tepat di pagi hari penobatannya. Ia ingin kegembiraan rakyat berubah menjadi ratapan massal, dan ia ingin Arya melihat mempelainya terbujur kaku di atas tempat tidur yang penuh bung melati.
Malam Midodareni tiba. Sesuai adat, Sekar harus menjalani masa tenang dan tidak boleh bertemu dengan Arya. Keputran dipenuhi wangi bunga tujuh rupa. Sekar duduk di depan cermin, sementara Nyai Retno dan para abdi dalem lainnya sibuk menyiapkan lulur dan wewangian.
“Nimas harus beristirahat. Besok adalah hari yang panjang,” ucap Nyai Retno lembut.
Ningsih, si pengkhianat, masuk membawa nampan berisi segelas Wedang Melati hangat—minuman kesukaan Sekar. “Nimas, minumlah ini agar tidur Nimas lebih nyenyak dan wajah Nimas berseri esok pagi,” ucap Ningsih dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meski jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Gelas itu diletakkan diatas meja kecil di samping tempat tidur Sekar. Cairan di dalamnya tampak bening dan harum, menyamarkan maut yang bersembunyi di dalamnya.
Di luar kamar, Seno berdiri tegak. Insting ksatria-nya berteriak keras. Ia mencium sesuatu yang salah. Bukan bau racun—karena racun itu tak berbau—tapi ia melihat kegelisahan di mata Ningsih saat keluar dari kamar.
“Ningsih!” Panggil Seno dengan suara berat.
Langkah wanita tua itu berhenti. Tubuhnya kaku. “Ya, Gusti Seno.”
“Kenapa tanganmu bergetar? Dan kenapa kau tidak menatap mataku?” Tanya Seno, tangannya perlahan memegang hulu kerisnya.
Di dalam kamar, Sekar baru saja menjangkau gelas itu. Jemarinya menyentuh pualam dingin yang membawa maut. Ia mengangkat gelas itu ke bibirnya, aroma melati yang kuat memenuhi perasaannya. Di saat yang sama, Arya di ruang kerjanya tiba-tiba menjatuhkan cangkir tehnya hingga pecah berkeping-keping.
“Sekar!” Teriak Arya spontan, seolah ada ikatan batin yang memperingatkannya.
Gelas di tangan Sekar sudah miring, cairan maut itu tinggal beberapa mili lagi menyentuh lidahnya. Di luar, Seno mulai mendobrak masuk karena Ningsih tiba-tiba mencoba lari. Waktu seolah melambat, kematian sedang menari di ujung bibir sang calon Permaisuri, sementara dendam Nastiti di kejauhan tertawa di balik kabut gunung, menanti berita duka yang akan menghancurkan Amarta.