Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rusak?
Setelah membersihkan diri, Ashela merebahkan tubuhnya di kasurnya sendiri.
Kasur yang keras dan tidak beraroma cendana.
Ia menatap langit-langit kamar yang bocor. Uang bayaran dari hotel yaitu 1,5 juta yang dijanjikan masih ada di tasnya. Uang yang seharusnya menjadi berkah, kini terasa seperti uang haram yang dibayar dengan harga dirinya.
Ia memejamkan mata, namun yang muncul adalah wajah tegas Elvano.
Ashela tahu ia harus melupakan kejadian ini. Ia tidak tahu siapa pria itu, dan ia tidak ingin tahu.
Di matanya, pria itu adalah monster yang tidak sengaja ia beri makan, dan kini saatnya kembali ke realita.
Realita tentang hutang yang belum lunas, tentang perut yang harus diisi, dan tentang kehidupan yang tidak pernah berpihak padanya.
"Ini hanya mimpi buruk, Ashela. Mulai besok, semuanya akan kembali seperti biasa," bisiknya pada kegelapan kamar.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ashela tahu bahwa mulai hari ini, ia bukan lagi gadis yang sama. Ia telah membawa sesuatu dari pria itu, entah itu hanya memori yang menghantui, atau sesuatu yang lebih nyata yang sedang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Matahari semakin tinggi, menyinari debu-debu yang menari di kamar kosnya yang sempit.
Ashela akhirnya tertidur karena kelelahan yang luar biasa, tanpa menyadari bahwa di sebuah rumah sakit megah di pusat kota, seorang pria sedang terbangun dengan kemarahan dan kebingungan yang akan mengubah jalannya sejarah hidup mereka berdua.
Sakit yang luar biasa menghantam dahi Elvano Gavian Narendra saat ia mencoba membuka kelopak matanya.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela suite terasa seperti ribuan jarum yang menusuk saraf matanya. Ia mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk, seolah ia baru saja melakukan lari maraton selama berjam-jam tanpa henti. Namun, saat telapak tangannya menyentuh sisi ranjang yang dingin dan kosong, kesadarannya tersentak.
Ia langsung terduduk. Selimut sutra meluncur turun dari bahunya, menampakkan dada bidangnya yang penuh dengan bekas cakaran halus di beberapa bagian. Elvano mematung.
Matanya menyisir seisi kamar yang berantakan. Jas hitam mahalnya tergeletak di lantai seperti kain tak berharga, kemejanya robek di bagian kancing, dan di atas sprei abu-abu yang kusut itu, ia melihat noda kemerahan yang sudah mengering.
"Sial," umpatnya dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.
Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba memanggil kembali memori semalam.
Kepalanya berdenyut hebat. Ia ingat acara rumah sakit... ia ingat rasa haus yang tak tertahankan setelah meminum champagne yang diberikan oleh salah satu kolega bisnis ibunya... lalu panas. Panas yang membakar seluruh kewarasannya.
Lalu bayangan itu muncul. Samar, seperti puzzle yang terpotong-potong. Ia ingat seorang wanita. Ia ingat aroma segar yang menenangkan di tengah badai gairahnya. Ia ingat rambut panjang yang tergerai di atas bantal, rintihan lembut yang memanggil namanya, dan sensasi penyatuan yang begitu luar biasa yaitu sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Elvano adalah pria yang jarang menyentuh wanita karena standar kebersihan dan kedisiplinannya yang tinggi, namun semalam, ia merasa seperti binatang buas yang kehilangan kendali.
"Siapa?" bisiknya lirih.
Ia mencoba mengingat wajah wanita itu, namun yang ada hanyalah siluet di tengah remang cahaya lampu kota. Ia ingat bibir yang lembut, kulit yang seputih porselen, dan mata yang menatapnya dengan campuran antara rasa takut dan pasrah.
Tapi nama? Wajah yang jelas? Semuanya hilang ditelan kabut efek obat yang sialan itu.
Dengan amarah yang mulai memuncak, Elvano meraih ponselnya di nakas dan menekan satu tombol cepat.
^^^Elvano: [Ke kamarku sekarang. Lantai 18, kamar 1802. Jangan lewatkan satu detik pun!]^^^
Perintahnya pada asisten pribadinya, Yudha.
Sepuluh menit kemudian, Yudha sudah berdiri di depan Elvano dengan wajah tegang. Ia melihat bosnya yang biasanya selalu tampil sempurna dengan jas dokter yang rapi, kini hanya mengenakan bathrobe putih dengan mata yang merah karena amarah dan kelelahan.
"Siapa yang masuk ke kamarku semalam?" tanya Elvano dingin, nadanya seperti vonis mati.
Yudha menunduk. "Maaf, Dokter Elvano. Menurut laporan petugas keamanan, Anda naik ke kamar sendirian setelah tampak tidak sehat di ballroom. Saya pikir Anda hanya butuh istirahat."
"Aku tidak sendirian di ranjang ini semalam, Yudha!" Elvano memukul meja nakas hingga vas bunga di atasnya bergetar.
"Seseorang memberiku obat. Aphrodisiac. Dan ada seorang wanita yang berakhir di sini bersamaku. Aku mau kau cari tahu siapa dia. Sekarang!"
Yudha terkejut. "Obat? Dokter, saya akan segera memeriksa rekaman CCTV dan daftar staf yang bertugas di lantai ini."
"Bukan hanya itu," Elvano berdiri, berjalan menuju jendela besar dan menatap kota Jakarta yang sibuk di bawah sana.
"Cari tahu siapa yang menyentuh minumanku di pesta semalam. Aku tidak peduli apakah itu kolega ayahku atau bahkan orang dalam rumah sakit. Siapa pun yang berani menjebakku, pastikan mereka membusuk di penjara."
"Baik, Dokter. Saya akan segera melakukan penyelidikan tertutup agar nama baik keluarga Narendra tetap terjaga."
"Cari wanita itu, Yudha," suara Elvano melembut, namun penuh penekanan.
"Dia... dia masih suci semalam. Aku sudah merusak hidup seseorang karena kondisi sialan ini. Aku harus menemukannya."
Tiga jam berlalu. Elvano sudah berada di kantornya di rumah sakit, namun ia tidak bisa fokus pada satu pun dokumen medis di depannya. Pikirannya terus kembali ke ranjang hotel itu. Rasa kulit wanita itu masih tertinggal di ujung jarinya.
Bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan dampak sebesar itu padanya tanpa ia ketahui namanya?
Pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru. Yudha masuk dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Elvano tajam.
Yudha menggeleng lemah. "Ada masalah besar, Dok. Saya baru saja dari ruang kendali keamanan Hotel Grand Hyatt. Seluruh rekaman CCTV di koridor lantai 18 antara pukul 11 malam hingga pukul 6 pagi tadi... rusak."
Elvano mengerutkan kening. "Rusak? Bagaimana mungkin hotel bintang lima memiliki sistem yang rusak di saat yang bersamaan?" serunya dengan marah.
"Pihak IT hotel mengatakan ada gangguan pada server penyimpanan karena lonjakan arus listrik pendek semalam. Tapi bagi saya, ini terlalu kebetulan," jelas Yudha.
"Dan mengenai daftar staf... semalam adalah acara besar. Ada lebih dari lima puluh tenaga tambahan dari agen penyalur luar. Data mereka belum terintegrasi sepenuhnya di sistem hotel. Saya sudah mencoba melacak pelayan yang bertugas mengantar air ke kamar Anda, tapi supervisor mereka mengatakan ada beberapa orang yang langsung pulang subuh tadi tanpa melakukan checkout absen karena alasan sakit." lanjut sang asisten.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up