NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Luka Yang Dibawa Pulang

Langkah kaki Cinta terasa sangat berat saat memasuki halaman rumahnya. Pandangannya mengabur karena air mata yang terus mendesak keluar. Begitu pintu depan tertutup, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi peduli jika Mamah mendengarnya. Cinta berlari menaiki tangga menuju kamarnya, lalu mengunci pintu dan menumpahkan segala sesak yang menghimpit dadanya di balik bantal.

Rasa sakitnya bukan hanya karena melihat Clarissa merangkul lengan Rian secara posesif, tetapi karena rasa tidak berdaya yang ia rasakan.

Ia merasa seperti seorang amatir dalam hal cinta yang tiba-tiba dilemparkan ke tengah arena pertempuran melawan seorang profesional. Clarissa memiliki segalanya, keberanian, kecantikan, dan sejarah bertahun-tahun yang tidak mungkin dihapus dalam semalam.

Tok... tok... tok...

"Cinta? Kamu sudah pulang, Sayang?" Suara lembut Mamah terdengar dari balik pintu. "Kenapa langsung masuk kamar? Makan siang dulu, yuk."

Cinta tidak menjawab. Ia mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar sedang terisak, namun isakannya justru semakin keras.

Pintu kamar yang tidak terkunci rapat itu perlahan terbuka. Mamah masuk dengan wajah cemas, lalu segera duduk di pinggir kasur saat melihat bahu putri semata wayangnya terguncang hebat.

"Astaga, Cinta... kenapa, Nak?" Mamah mengelus punggung Cinta dengan penuh kasih sayang.

Cinta bangun dari posisinya, wajahnya sembap dan hidungnya memerah. Ia langsung menghambur ke pelukan Mamah, mencari perlindungan yang paling aman di dunia ini.

"Mah... Clarissa pindah ke sekolahku. Dia satu kelas sama aku dan Rian."

Mamah tertegun sejenak, tangannya berhenti mengelus rambut Cinta. "Maksudmu... mantan Rian yang kamu ceritakan kemarin itu?"

Cinta mengangguk dalam pelukan Mamah. "Dia nekat sekali, Mah. Dia pindah dari Jakarta kesini cuma untuk mengejar Rian. Tadi di sekolah, dia terus-menerus menempel pada Rian. Bahkan tadi pas pulang, dia merangkul Rian di depanku dan bilang kalau mereka tidak bisa dipisahkan."

Mamah menarik napas panjang, lalu mengecup puncak kepala Cinta. Beliau membiarkan Cinta menangis sampai tenaganya habis. Setelah beberapa saat, Mamah menjauhkan sedikit tubuh Cinta dan menghapus air mata di pipinya.

"Dengar Mamah, Cinta," ucap Mamah dengan nada serius namun tetap lembut. "Menangis itu boleh, karena itu artinya hatimu hidup. Tapi jangan biarkan air matamu jatuh untuk sesuatu yang merendahkan harga dirimu."

"Tapi aku merasa kalah sebelum memulai, Mah," bisik Cinta lirih.

"Cinta, cinta itu bukan tentang kompetisi siapa yang paling cantik atau siapa yang paling lama kenal. Cinta itu tentang kenyamanan dan pilihan," nasehat Mamah.

"Tapi, jika keberadaan Clarissa di sana mulai merusak ketenanganmu dan membuatmu terus-menerus menangis seperti ini, saran Mamah satu yaitu mulai sekarang, hindari Rian."

Cinta menatap Mamah dengan bingung. "Hindari, Mah?"

"Iya. Bukan karena kamu kalah, tapi untuk melindungi hatimu sendiri," lanjut Mamah.

"Biarkan Rian menyelesaikan urusan masa lalunya tanpa ada kamu di tengah-tengah mereka. Jika Rian memang sungguh-sungguh menyukai kamu, dia akan tahu cara menjauhkan gangguan itu darimu. Tapi kalau dia membiarkan Clarissa terus menempel, berarti dia belum siap untukmu. Jangan jadi obat nyamuk atau penonton di drama orang lain, Nak. Kamu terlalu berharga untuk itu."

Nasehat Mamah seolah menjadi tamparan logika bagi Cinta. Benar kata Mamah, ia tidak seharusnya membiarkan dirinya tersiksa dalam ketidakpastian.

...****************...

Malam harinya, suasana hati Cinta masih mendung. Ia hanya duduk termenung di depan meja belajarnya tanpa menyentuh buku pelajaran sama sekali. Tiba-tiba, suara klakson motor terdengar dari depan rumah, disusul dengan teriakan yang sangat familiar.

"CINTA! TURUN! AYOK JALAN-JALAN!"

Cinta mengintip dari jendela. Di bawah sana, Sarah sudah nangkring di atas motornya sambil melambaikan tangan dengan heboh. Cinta segera turun dan menemui sahabatnya itu.

"Sar, aku gak mood keluar," ucap Cinta lesu saat sampai di teras.

Sarah turun dari motor dan langsung menarik tangan Cinta. "Gak ada tapi-tapi! Aku tahu kamu lagi galau maksimal gara-gara drama di sekolah. Aku nggak mau sahabatku jamuran di kamar gara-gara mikirin hal itu. Ayok, kita cari udara segar! Aku yang traktir kopi di cafe baru dekat dermaga."

Cinta akhirnya pasrah. Ia mengganti pakaiannya dengan kardigan pink favoritnya dan naik ke boncengan Sarah. Angin malam yang membawa aroma laut sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

"Kita ke Cafe Tepi saja ya, katanya di sana live music nya enak," ujar Sarah sambil memacu motornya.

Sesampainya di cafe yang berada di pinggir jalan raya dermaga itu, suasana tampak cukup ramai. Lampu-lampu tumblr yang menggantung menciptakan suasana yang estetik dan nyaman. Sarah memilih meja di sudut yang menghadap ke jalanan.

"Nah, begini kan enak. Lupakan dulu soal mantan yang menyebalkan," ucap Sarah sambil menyodorkan daftar menu.

Namun, baru saja Cinta hendak membuka mulut untuk memesan, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal baru saja turun dari sebuah motor besar hitam di parkiran cafe. Jantung Cinta seolah berhenti berdetak.

Rian ada di sana. Dan tentu saja, Clarissa turun dari boncengannya sambil merapikan rambutnya yang indah. Clarissa tampak tertawa lebar sembari sesekali memukul pelan bahu Rian, sementara Rian tampak hanya diam namun tetap berjalan di sampingnya.

"Sar... Sar... lihat ke arah parkiran," bisik Cinta dengan nada panik.

Sarah menoleh dan langsung mendengus kesal. "Astaga! Sempit banget sih ini kota! Kenapa harus ketemu di sini lagi?"

Cinta segera menundukkan kepalanya, mencoba bersembunyi di balik daftar menu yang besar. Namun, sayangnya Rian memiliki mata yang sangat tajam. Saat berjalan menuju pintu masuk cafe, langkah Rian terhenti. Ia melihat ke arah meja pojok dan matanya langsung bertemu dengan punggung Cinta yang tampak kaku.

"Cinta?" panggil Rian pelan, namun cukup terdengar di tengah kebisingan cafe.

Rian hendak melangkah menuju meja mereka, namun Clarissa dengan cepat menahan lengannya. "Rian, ayo masuk. Katanya kamu mau temenin aku makan di sini."

Cinta yang merasa sudah ketahuan, segera berdiri dengan terburu-buru. Ia tidak sanggup jika harus menghadapi Clarissa lagi di tempat ini, apalagi melihat mereka berdua sedang kencan malam-malam begini.

"Sar, ayo pergi. Sekarang," ajak Cinta sambil menarik tasnya.

"Eh, tapi kita belum pesan kopi, Cin!" seru Sarah.

"Beli di tempat lain saja, ayo cepat!" Cinta sudah berjalan lebih dulu menuju parkiran motor.

Rian yang melihat Cinta pergi begitu saja, mencoba mengejarnya. "Cinta! Tunggu dulu! Aku bisa jelaskan—"

"Rian! Kamu mau ke mana? Aku nggak mau sendirian di sini!" Clarissa berteriak manja, ia setengah berlari mengikuti Rian dan kembali memegang erat jaket denim Rian, menghalangi cowok itu untuk mendekati Cinta.

Cinta sudah naik ke motor Sarah. "Sar, jalan! Cepat jalan!"

Sarah yang ikut kesal melihat tingkah Clarissa, langsung menyalakan mesin motor dan tancap gas, meninggalkan kepulan asap tipis di depan Rian yang hanya bisa berdiri mematung.

Di atas motor, Cinta memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata kembali menetes, terbawa angin malam yang dingin. Ternyata benar kata Mamah, ia harus mulai menghindari Rian. Karena setiap kali ia mencoba memberi kesempatan, kenyataan selalu menunjukkan bahwa Clarissa masih menjadi bayang-bayang yang terlalu besar untuk ia lewati.

Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, Cinta membuat keputusan bulat. Besok, ia tidak akan lagi menatap mata Rian di kelas. Ia akan kembali menjadi Cinta yang dulu, si sekretaris kelas yang dingin dan hanya peduli pada tugas, tanpa ruang sedikit pun untuk perasaan yang hanya membawa luka.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!