NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Matahari di Atas Rust

​Mobil mewah berwarna hitam itu meluncur pelan membelah jalanan distrik Rust yang masih berkabut. Asha menatap ke luar jendela, melihat deretan bangunan seng yang berkarat mulai diterpa sinar matahari pagi yang pucat. Bau logam basah dan asap kayu bakar merayap masuk lewat celah ventilasi, membangkitkan memori lama yang kini terasa sangat jauh.

​Di kursi kemudi, sang nelayan tua sesekali melirik melalui spion tengah, memperhatikan raut wajah V yang tampak tenang namun menyimpan kedalaman emosi yang tak terbaca. Perjalanan menuju makam ibunya bukan sekadar ziarah, melainkan sebuah pernyataan bahwa siklus penderitaan telah berakhir.

​"Kita hampir sampai, Nyonya V. Area pemakaman umum distrik Rust tampak lebih sepi dari biasanya pagi ini," ujar nelayan itu dengan suara rendah.

​Asha hanya mengangguk pelan, jemarinya mengusap kelopak bunga lili putih yang berada di pangkuannya. "Biarkan tetap seperti itu, Paman. Aku tidak butuh keramaian untuk bicara dengan seseorang yang telah lama menungguku kembali."

​Mobil akhirnya berhenti di pinggiran area tanah merah yang dipenuhi nisan-nisan kayu sederhana yang mulai melapuk. Asha melangkah keluar, merasakan alas sepatu mahalnya menginjak tanah yang sedikit becek karena sisa hujan semalam. Ia tidak peduli jika pakaian mewahnya terkena noda, fokusnya hanya tertuju pada satu gundukan tanah di sudut terjauh.

​"Kau ingin aku menemanimu ke sana, atau kau butuh waktu sendirian?" tanya nelayan tua itu sambil membukakan bagasi.

​Asha mengambil buket bunga lili tersebut dengan gerakan yang anggun namun penuh penekanan. "Tunggulah di sini, Paman. Pastikan tidak ada gangguan dari media atau siapapun yang mencoba mengikutiku dari pusat kota."

​Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sempit, melewati makam-makan tak bernama yang menjadi saksi bisu kemiskinan di distrik ini. Angin pagi berhembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tertata rapi. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti sedang mengupas lapisan-lapisan trauma yang selama ini menyelimuti jiwanya.

​Asha berhenti di depan sebuah nisan beton kecil yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ia berlutut di atas tanah, tidak mempedulikan noda cokelat yang mulai mengotori jas putih tulangnya. Bau tanah basah dan sisa-sisa dupa yang terbakar di makam sebelah memenuhi indra penciumannya.

​"Ibu, aku pulang. Bukan sebagai gadis malang yang selalu menangis karena ketidakadilan, tapi sebagai pemilik kota ini," bisik Asha dengan suara bergetar.

​Ia meletakkan bunga lili putih itu di atas pusara, membelai permukaan nisan yang dingin dan kasar. Kenangan tentang ibunya yang bekerja keras hingga jatuh sakit demi membiayai sekolahnya melintas seperti film pendek di kepalanya. Rasa sakit kehilangan itu masih ada, namun kini telah bertransformasi menjadi sebuah kebanggaan.

​"Pria yang menghancurkan kita sudah mendapatkan tempatnya di penjara yang paling gelap, Ibu. Arlan tidak akan pernah menyentuh tanah ini lagi," lanjut Asha.

​Suara isak tangis tertahan akhirnya pecah di tengah kesunyian makam itu, sebuah pelepasan emosi yang selama ini ia kunci rapat. Asha membiarkan air matanya jatuh bebas, membasahi nisan ibunya sebagai bentuk penghormatan terakhir atas perjuangan mereka berdua. Di bawah langit Rust, ia merasa benar-benar menjadi manusia kembali.

​"V, ada panggilan mendesak dari dewan direksi mengenai audit lingkungan yang baru saja kita luncurkan," suara nelayan tua terdengar melalui perangkat di telinganya.

​Asha menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan kembali suaranya. "Katakan pada mereka untuk menunggu sepuluh menit lagi. Aku sedang melakukan urusan yang jauh lebih penting daripada angka-angka mereka."

​Ia berdiri perlahan, merapikan pakaiannya yang sedikit kotor dengan gerakan yang sangat berwibawa. Asha menatap makam ibunya untuk terakhir kali, memberikan sebuah janji yang lebih kuat dari sekadar kata-kata. Ia tahu bahwa mulai saat ini, hidupnya bukan lagi tentang membalas dendam, melainkan tentang membangun warisan.

​"Tidur yang nyenyak, Ibu. Aku akan memastikan nama kita diingat sebagai pembangun, bukan sebagai korban," gumam Asha penuh tekad.

​Ia berjalan kembali menuju mobil dengan langkah yang lebih mantap dan kepala yang terangkat lebih tinggi. Nelayan tua itu menunggunya dengan ekspresi lega, seolah melihat sebuah beban besar telah terangkat dari bahu wanita muda itu. Mereka masuk ke dalam mobil, meninggalkan kesunyian makam menuju hiruk-pikuk kekuasaan.

​"Jadi, ke mana tujuan kita sekarang, Nyonya? Kembali ke Menara Neovault atau ke lokasi pabrik limbah yang baru?" tanya sang nelayan.

​Asha menyandarkan kepalanya pada jok mobil, menatap matahari yang kini sudah naik tinggi di atas distrik Rust. "Bawa aku ke pusat operasional pembersihan sungai. Aku ingin melihat secara langsung air itu mulai menjernih kembali."

​"Keputusan yang bagus. Masyarakat mulai membicarakan tentang perubahan warna air sungai sejak pagi tadi," lapor nelayan itu sambil mulai mengemudi.

​Mobil mewah itu melaju meninggalkan area pemakaman, membelah kerumunan warga distrik Rust yang kini mulai menatap kendaraan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Beberapa anak kecil melambai ke arah mobil, seolah merasakan ada harapan baru yang sedang melintas di depan mereka. Asha melihat semua itu dengan perasaan yang hangat, sebuah perasaan yang sudah lama ia lupakan.

​"Paman, apakah kau pikir orang-orang di sini akan benar-benar percaya bahwa Neovault telah berubah?" tanya Asha tiba-tiba.

​Nelayan tua itu tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada jalanan yang rusak di depan mereka. "Kepercayaan tidak dibangun dengan pidato di televisi, Nak. Mereka akan percaya saat mereka bisa meminum air sungai itu tanpa jatuh sakit."

​"Maka itu yang akan aku berikan pada mereka. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pengkhianatan terhadap rakyat kecil," tegas Asha.

​Sepanjang jalan menuju sungai, Asha terus menerima notifikasi tentang pergerakan saham Neovault yang mulai merangkak naik secara stabil. Investor global mulai melihat profil 'V' sebagai sosok pemimpin visioner yang memiliki integritas tinggi. Paradoks ini membuatnya tersenyum sendiri; ia menggunakan kegelapan untuk membawa cahaya kembali ke kota ini.

​"Kita sudah sampai di dermaga utama pembersihan, Nyonya V. Tim teknis sudah siap menyambut Anda," ujar nelayan tua saat mobil berhenti di pinggir sungai.

​Asha turun dari mobil dan langsung disambut oleh suara mesin-mesin penyaring air yang bekerja dengan ritme yang teratur. Bau menyengat dari limbah kimia mulai tergantikan oleh aroma air tawar yang segar, sebuah perubahan kecil namun sangat signifikan. Ia berjalan menuju tepian dermaga, menatap aliran air sungai Rust yang kini tidak lagi sehitam dulu.

​"Bagaimana progresnya hari ini? Apakah ada kendala pada filter utama di sektor selatan?" tanya Asha kepada kepala teknis yang mendekat.

​"Semua berjalan sesuai rencana, Nyonya. Jika kecepatan ini bertahan, dalam tiga bulan sungai ini akan sepenuhnya bebas dari logam berat," jawab teknisi itu bangga.

​Asha mengangguk puas, ia merasa setiap putaran mesin itu adalah bagian dari proses pembersihan jiwanya juga. Ia berdiri di ujung dermaga, tempat yang tidak jauh dari lokasi Arlan mendorongnya beberapa bulan lalu. Namun kali ini, ia berdiri di sana bukan sebagai korban yang ketakutan, melainkan sebagai penentu nasib sungai tersebut.

​"Nyonya, ada laporan dari penjara. Arlan menolak untuk makan dan terus meminta untuk bertemu dengan Anda," bisik asisten pribadinya yang baru tiba.

​Asha tidak segera menjawab, ia terus menatap pantulan matahari di atas permukaan air sungai yang mulai jernih. "Katakan pada sipir penjara bahwa aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang mati. Arlan Valeska sudah tidak ada dalam daftar urusanku."

​"Baik, Nyonya. Pesan Anda akan segera saya sampaikan kepada otoritas terkait," sahut asisten itu sebelum menjauh kembali.

​Nelayan tua mendekati Asha, berdiri di sampingnya sambil menikmati hembusan angin sungai yang kini terasa lebih nyaman. "Kau benar-benar sudah melepaskannya, bukan? Tidak ada lagi rasa penasaran akan penderitaannya di dalam sana?"

​"Melihat sungai ini kembali hidup adalah balasan yang jauh lebih memuaskan daripada melihatnya membusuk di penjara, Paman," jawab Asha tenang.

​Matahari kini bersinar sangat terik di atas distrik Rust, menerangi setiap sudut wilayah yang selama ini terabaikan oleh kemajuan pusat kota. Asha berdiri tegak di atas dermaga, membiarkan cahaya matahari membakar sisa-sisa kedinginan dalam hatinya. Ia adalah V, sang predator yang telah menemukan tujuan baru di atas reruntuhan masa lalunya.

​"Ayo kembali ke Menara, Paman. Masih banyak kebijakan yang harus aku tanda tangani untuk memastikan kota ini tidak akan pernah kembali ke kegelapan," ajak Asha.

​Ia melangkah kembali menuju mobil dengan penuh wibawa, meninggalkan sungai Rust yang terus mengalir membawa pergi kenangan buruk menuju samudera. Perjalanan balasan dendam ini telah resmi bertransformasi menjadi perjalanan pengabdian. Di bawah kendalinya, Neovault Metropolis bukan lagi tentang emas yang berlumuran darah, melainkan tentang masa depan yang berkilauan di bawah matahari.

​"Sejarah baru dimulai hari ini, Nyonya," gumam nelayan tua itu saat mobil mulai bergerak menjauh.

​Asha menutup matanya sejenak, merasakan kedamaian yang sesungguhnya merasuk ke dalam relung jiwanya. Ia telah memenangkan permainan ini dengan cara yang paling terhormat, mengubah kehancuran menjadi kebangkitan. Di atas distrik Rust, matahari terus bersinar, menjadi saksi bisu atas kelahiran kembali seorang wanita yang tidak bisa dikalahkan oleh kematian sekalipun.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!