Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Rentenir Datang
#
Seminggu setelah Alisha datang, hidup ku kembali ke rutinitas yang melelahkan. Bangun pagi, sholat subuh, nyuci baju langganan, jemur, angkat, setrika, antar, balik, urus Bapak, tidur.
Tapi ada satu masalah baru yang bikin tidur ku nggak nyenyak.
Hutang.
Hutang lima ratus ribu ke Pak Harto—rentenir kejam yang waktu itu aku pinjem buat obat Bapak. Sekarang udah jatuh tempo. Dan bunganya... ya Allah, bunganya udah jadi tujuh ratus ribu.
"Gimana aku bayar segitu banyak?"
Aku duduk di emperan kontrakan sambil ngitung uang di dompet lusuh. Seratus ribu. Cuma itu sisa uang dari nyuci baju seminggu.
Belum lagi bayar kontrakan—udah nunggak dua bulan. Bu Ria memang baik, tapi aku nggak bisa terus-terusan ngerepotin dia.
TOK TOK TOK!
Ketukan pintu. Keras. Kasar.
Jantung ku langsung dag-dig-dug. Aku tau ketukan itu siapa.
Aku buka pintu pelan. Dan...
Pak Harto. Berdiri di sana sambil ngerokok. Badannya gede. Perutnya buncit. Mukanya... serem. Di belakangnya ada dua cowok—preman nya. Tinggi, kekar, tattoo di lengan.
"Zahra. Akhirnya ketemu juga."
"P-Pak Harto... maaf... Zahra... Zahra belum bisa bayar sekarang..."
"Belum bisa bayar?" Pak Harto ketawa. Ketawa yang bikin bulu kuduk berdiri. "Zahra, kamu pikir aku badan amal? Udah seminggu lewat jatuh tempo. Bunganya udah naik jadi tujuh ratus ribu. Kamu mau bayar kapan?"
"Pak... Zahra lagi cari uang... Zahra janji minggu depan... minggu depan Zahra bayar—"
"Minggu depan mulu!" Pak Harto buang puntung rokok sembarangan. "Lu tau nggak gue capek denger janji? Lu bayar sekarang. Atau... atau gue ambil barang lu."
"Pak... Zahra nggak punya barang berharga... Zahra cuma punya baju-baju bekas... ember plastik... piring retak—"
"Gue nggak butuh barang sampah!" Pak Harto melotot. "Gue butuh uang! Sekarang!"
"Pak tolong... kasih Zahra waktu sebulan lagi... Zahra janji... Zahra janji bakal bayar lunas—"
"Sebulan?" Pak Harto senyum sinis. "Oke. Gue kasih lu waktu sebulan. Tapi... bunganya naik jadi satu juta."
"APA?!" Aku kaget. "Pak... itu... itu terlalu banyak—"
"Mau atau nggak? Kalau nggak mau, gue sita barang sekarang. Atau... atau gue ambil lu."
Ambil aku.
Maksudnya... maksudnya kayak dulu? Dijual?
"P-Pak... tolong... Zahra... Zahra nggak bisa—"
"Lu punya anak perawan kan? Masih seger. Pasti laku mahal di—"
PLAK!
Aku nggak sadar tanganku nampar Pak Harto. Keras.
Pak Harto diam. Pipinya merah. Matanya... gelap.
"Lu... lu berani nampar gue?"
"Zahra... Zahra bukan barang! Zahra bukan... bukan barang yang bisa Bapak jual!" Aku nangis. "Zahra... Zahra bakal bayar hutang Zahra! Tapi jangan... jangan perlakukan Zahra kayak gitu!"
Pak Harto pegang pipinya. Terus dia senyum. Senyum yang bikin aku takut.
"Oke. Gue kasih lu waktu sebulan. Tapi kalau lu nggak bayar... gue nggak cuma ambil barang lu. Gue bakar rumah kontrakan lu. Gue pastiin lu sama bapak lu... nggak punya tempat tinggal."
Dan dia pergi. Bareng dua preman nya.
Ninggalin aku berdiri sendirian di depan pintu. Gemetar. Nangis.
"Ya Allah... gimana... gimana aku dapet satu juta dalam sebulan?"
---
Malem itu, aku nggak bisa tidur. Cuma merem-melek di kasur tipis sambil mikir.
Satu juta. Dalam sebulan.
Kalau aku nyuci baju kayak biasa—dapet lima puluh ribu sehari—berarti... berarti aku butuh dua puluh hari kerja nonstop buat dapet satu juta. Tapi itu cuma buat bayar hutang. Belum buat makan. Belum buat obat Bapak. Belum buat kontrakan.
"Aku... aku harus cari kerjaan tambahan..."
Tapi dimana? Aku nggak punya skill apa-apa. Nggak bisa komputer. Nggak bisa bahasa asing. Cuma bisa nyuci baju.
"Mungkin... mungkin aku bisa nyuci lebih banyak? Cari langganan baru?"
Iya. Itu satu-satunya jalan.
---
Besok paginya, setelah sholat subuh, aku keluar rumah lebih pagi dari biasa. Bawa brosur tulisan tangan—kertas lusuh yang aku tulis pake bolpen:
**JASA CUCI SETRIKA**
**Murah, Bersih, Cepat**
**Hubungi: Zahra - 08123456XXXX**
Aku tempel brosur itu di pohon-pohon pinggir jalan. Di warung-warung. Di tiang listrik. Di masjid. Di mana aja yang bisa aku tempel.
Orang-orang pada ngeliatin aku aneh. Tapi aku nggak peduli.
"Yang penting... yang penting aku dapet uang..."
Siang itu, telepon genggam ku bunyi. Nomor nggak dikenal.
"Halo?"
"Halo, ini Zahra yang jasa cuci setrika?"
"Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?"
"Aku butuh cuci baju banyak. Kira-kira lima puluh potong. Bisa?"
Lima puluh potong? Itu... itu banyak banget. Tapi...
"Bisa, Bu. Kapan mau dijemput?"
"Sekarang. Aku kirim alamat ya."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Aku langsung lari. Ambil ember besar. Jalan cepet ke alamat yang dikirim.
---
Seminggu kemudian, aku kerja nonstop. Dari subuh sampe tengah malem. Nyuci, jemur, angkat, setrika, antar. Pulang, tidur dua jam, bangun, sholat subuh, kerja lagi.
Badan ku remuk. Tangan ku lecet-lecet. Mata ku perih. Tapi aku nggak bisa berhenti.
"Harus... harus dapet satu juta..."
Langganan baru dateng terus. Alhamdulillah. Tapi... tapi tubuh ku mulai nggak kuat.
"Zahra, kamu kurusan lagi." Bapak khawatir. "Makan yang banyak. Jangan kerja terlalu keras."
"Nggak apa-apa, Pak. Zahra kuat kok."
Bohong. Aku nggak kuat. Tapi aku harus pura-pura kuat.
"Zahra... kamu ada masalah? Cerita sama Bapak."
"Nggak ada, Pak. Zahra cuma... cuma lagi banyak kerjaan."
Bohong lagi.
Aku nggak mau Bapak tau soal hutang. Nggak mau dia stress. Jantungnya masih lemah. Kalau dia stress lagi... bisa fatal.
---
Sepuluh hari kemudian, uang ku udah terkumpul tujuh ratus ribu. Tinggal tiga ratus ribu lagi.
Tapi tubuh ku... tubuh ku udah nggak bisa diajak kompromi.
Kepala pusing. Mata berkunang-kunang. Badan lemes. Tangan gemetar.
"Zahra... kamu demam." Bu Ria pegang jidat ku. "Panas banget. Kamu harus istirahat."
"Nggak bisa, Bu. Zahra masih ada cucian yang harus diantar..."
"Zahra, kamu mau mati kelelahan?!"
"Zahra nggak akan mati, Bu. Zahra... Zahra cuma butuh... butuh tiga ratus ribu lagi... terus... terus Zahra bisa istirahat..."
"Tiga ratus ribu? Buat apa?"
"Buat... buat sesuatu, Bu. Penting."
Bu Ria natap aku sedih. "Zahra... kamu ada hutang ya?"
Aku diem.
"Zahra, cerita sama Ibu. Hutang berapa?"
"...satu juta, Bu. Sama rentenir. Kalau... kalau Zahra nggak bayar... dia... dia mau bakar kontrakan Zahra..."
"YA ALLAH!" Bu Ria kaget. "Zahra kenapa nggak bilang dari awal?! Ibu bisa bantuin!"
"Bu udah bantuin Zahra banyak... Zahra nggak mau ngerepotin Bu lagi..."
"Zahra bodoh! Kamu ini... kamu ini keras kepala banget!" Bu Ria peluk aku. "Udah. Nanti Ibu kasih tiga ratus ribu. Kamu bayar hutang. Terus istirahat. Jangan kerja dulu."
"Bu... Zahra nggak bisa terima uang Bu—"
"Anggep itu pinjaman. Kamu bayar nanti kalau udah ada uang. Oke?"
Aku nangis. "Makasih, Bu... makasih..."
---
Tapi sore itu, sebelum Bu Ria kasih uang, aku harus antar cucian terakhir ke rumah Bu Sinta—langganan baru di seberang kota. Jauh. Butuh naik angkot dua kali.
Aku maksain jalan. Meskipun kepala pusing. Meskipun badan lemes.
"Harus... harus selesain ini..."
Angkot pertama. Penuh sesak. Aku berdiri sambil pegangan tiang. Badan goyang-goyang. Mata mulai nggak fokus.
Angkot kedua. Lebih kosong. Aku duduk di bangku belakang. Kepala bersandar di jendela.
"Bentar lagi sampe... bentar lagi..."
Tapi pas turun dari angkot...
Pandangan ku gelap.
Kaki ku lemas.
Badan ku jatuh.
BRUK!
"MBAK! MBAK NGGAK APA-APA?!"
Suara orang teriak. Rame. Tapi suaranya... jauh. Kayak di dunia lain.
"PANGGILIN AMBULANS! CEPET!"
"MBAK! MBAK BANGUN!"
Aku nyoba buka mata. Tapi... tapi berat banget.
"Ya Allah... Zahra... Zahra nggak boleh mati sekarang... Zahra... Zahra belum bayar hutang..."
Gelap.
Total.
Dan aku... aku nggak inget apa-apa lagi.
---
Pas aku sadar, aku udah di klinik. Ruangan kecil dengan dinding putih, kasur besi, infus nempel di tangan kiri.
"Zahra... Zahra bangun..."
Suara Bapak. Dia duduk di kursi sebelah kasur. Mukanya pucat. Tangannya gemetar.
"Bapak..."
"Alhamdulillah... Alhamdulillah kamu bangun..." Bapak nangis. "Zahra... kenapa... kenapa kamu nggak bilang kamu sakit? Kenapa kamu maksa kerja?"
"Zahra... Zahra harus kerja, Pak... Zahra... Zahra ada hutang yang harus dibayar—"
"HUTANG NGGAK PENTING KALAU KAMU MATI!" Bapak teriak. Keras. "Zahra... kamu... kamu satu-satunya yang Bapak punya... kalau kamu kenapa-kenapa... Bapak... Bapak nggak bisa hidup..."
Aku nangis. "Maaf, Pak... maaf... Zahra... Zahra nggak mikir..."
Dokter masuk. Dokter muda pake jas putih. Mukanya serius.
"Pasien Zahra Amanda?"
"Iya, Dok. Saya."
"Kamu kena kelelahan akut. Dehidrasi. Kurang gizi. Dan demam tinggi. Kamu... kamu harus istirahat total minimal seminggu. Kalau nggak... kondisi kamu bisa lebih parah."
Seminggu.
Seminggu nggak kerja berarti... berarti nggak ada uang masuk. Berarti... berarti aku nggak bisa bayar hutang.
"Dok... Zahra... Zahra nggak bisa istirahat... Zahra harus kerja—"
"Kamu mau mati?" Dokter natap aku tajam. "Kalau kamu terus maksa kerja... jantung kamu bisa bermasalah. Ginjal kamu bisa rusak. Dan... dan kamu bisa nggak bangun lagi. Kamu ngerti?"
Aku diem. Nangis diam-diam.
"...iya, Dok. Zahra ngerti."
Tapi di hati... aku nggak ngerti.
Gimana aku bisa istirahat kalau hutang menungguku?
Gimana aku bisa tenang kalau Pak Harto bisa dateng kapan aja?
"Ya Allah... tolong... tolong kasih jalan..."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 20